Keesokan harinya, tepat pukul delapan pagi Kanaya sudah duduk di balik meja kerjanya. Jemarinya menari dengan lincah di atas keyboard, memeriksa beberapa file dan surel yang sempat tertunda karena urusannya dengan Mahesa.
Helaan napas Kanaya sedikit kasar, sejujurnya dia ingin menolak perjodohan dengan Mahesa. Selain karena sifatnya yang terlalu sombong, Kanaya juga tidak ingin di cap sebagai perebut kekasih orang. Seperti yang dia tahu, jika Mahesa ingin menikahi Soraya, model baju kurang bahan yang selalu menunjukkan lekuk tubuhnya.
“Sekarang hari-hariku akan selalu suram,” gumamnya pelan. Setiap ingat Mahesa maka mood nya selalu saja berubah drastis.
“Permisi, Bu ...”
“Ya, ada apa, Citra?”
“Ada tamu yang ingin bertemu dengan ibu. Katanya ingin membahas kerja sama mengenai pembangunan lahan kosong.”
Kanaya diam sejenak, “Persilahkan dia masuk, dan tolong bilang ke bagian pantry buatkan dua gelas kopi dan antarkan ke ruangan saya.”
“Baik, Bu.”
Sekretarisnya itu keluar, Kanaya segera membereskan pekerjannya dan berniat untuk mematikan layar di depannya. Tidak sopan saat ada tamu penting layar itu masih menyala.
Namun belum selesai Kanaya mematikan laptopnya, pintu terbuka dan suara pria yang tidak asing langsung menyapanya dengan nama lain.
“Selamat pagi, Bu Anindita?” sapa seseorang.
Gerakan tangan Kanaya terhenti, suara yang menyapanya begitu lembut dan khas. Kanaya mengenal suara itu. Suara yang akhir-akhir ini mengangunya. Saat menutup laptop dan mendongakkan kepalanya, Kanaya dan Mahesa sama-sama terkejut.
“Mahesa!”
“Kanaya!”
Kanaya membuang buka sejenak dan kembali menatap Mahesa yang sekarang ada di depannya. Ini urusan pekerjaan dan Kanaya harus bisa bersikap profesional.
“Mari kita duduk di sofa, itu akan lebih nyaman.” Kanaya berdiri dan berjalan mendahului Mahesa menuju sofa.
“Jadi ...” baru saja Mahesa akan bicara, pintu ruangan Kanaya kembali terbuka, membuat fokus keduanya hilang.
“Permisi, Bu, Pak. Ini minumannya.”
“Terima kasih.”
Citra meletakkan kopi itu dengan anggun, dengan sudut matanya dia memperhatikan Mahesa yang menurutnya dia adalah sosok sempurna.
“Citra! Bisa tinggalkan kami berdua?” Kanaya angkat bicara melihat sikap aneh sekretarisnya itu.
“I-iya, Bu, kalau begitu saya permisi.”
Tanpa ba-bi-bu Kanaya langsung menyambar minuman berkafein itu dan menyesapnya sedikit. Kopi adalah jenis minuman yang rutin Kanaya konsumsi, gadis itu merasa lebih tenang setelah kafein masuk dalam tubuhnya.
Diam-diam Mahesa memperhatikan calon tunangannya. Ada kekaguman yang tidak bisa dia ungkapkan pada sosok Kanaya. Jika saat pertemuan pertama Kanaya terlihat sederhana, namun sejak pertemuan kedua sampai hari ini pandangan Mahesa sedikit berubah pada Kanaya.
Rambutnya di tata dengan begitu rapih, makeup yang menempel di wajahnya begitu pas dan pakaian serta aksesoris yang Kanaya gunakan semua merek ternama. Bahkan Mahesa bisa membandrol berapa harga kalung yang melingkar di leher gadis itu.
‘Ternyata dia memiliki selera yang bagus!’ batin Mahesa.
“Baiklah Pak Mahesa, jadi apa yang ...”
“Ma-he-sa! Panggil saya dengan nama itu tanpa embel-embel ‘Pak’. Saya belum setua itu sampai kamu memanggil saya pak.”
Kanaya tersenyum tipis. “Maaf, saya pikir karena ini dalam ranah pekerjaan embel-embel seperti itu sangat penting. Tapi tidak masalah jika anda memang tidak menyukai itu.”
“Jadi apa yang akan kita bahas sekarang?” Kanaya kembali bicara.
Mahesa lantas menyodorkan sebuah dokumen mengenai tanah dan beberapa konsep bangunan yang akan di bangun di sana. Awalnya Mahesa merasa canggung saat berhadapan dengan Kanaya, namun pembawaan gadis itu yang santai dan friendly, membuat Mahesa bisa bersikap wajar.
Siapa sangka, Mahesa tanpa sadar terus saja memperhatikan Kanaya yang bicara dengan mata yang fokus pada dokumen dan beberapa gambar yang ada di sana. Kali ini Mahesa benar-benar terpana pada sosok cantik yang ada di hadapannya.
“Apa penjelasan saya jelas, Mahesa?”
“Ah, ya, bagaimana?”
Kening Kanaya berkerut dalam saat melihat Mahesa gelagapan, mirip pencuri yang tertangkap basah. Kanaya ingin mengumpat kali ini, namun dia tetap menahan diri dan bersikap tenang.
“Saya sudah menjelaskan semuanya. Keuntungan dan kerugian yang bisa kita dapatkan di sana dan beberapa hal yang harus kita antisipasi. Seperti kecelakaan kerja, pencurian bahan dan beberapa hal lainnya.”
“Ya, ya, saya akan mendiskusikannya lagi dengan pihak kontraktor. Dan saya yakin kerja sama ini akan berjalan dengan lancar.” Mahesa tidak menyangka jika ia akan seperti ini berhadapan dengan Kanaya. Wanita yang diawal pertemuan telah ia rendahkan harga dirinya.
‘Lancar dia bilang? Aku sibuk menjelaskan saja dia malah bengong!’ batin Kanaya.
Kanaya hanya mengangguk, dia ingin menyudahi pertemuannya pagi ini dengan Mahesa. Kepalanya sedikit berdenyut nyeri saat mengingat perkataan Wirata mengenai dia dan Mahesa yang akan selalu dekat karena pekerjaan.
‘Astaga! Ucapan mereka ternyata tidak main-main,” Kanaya membatin.
Mahesa yang siang nanti sudah memiliki jadwal makan siang bersama Soraya terlihat gelisah. Dia ragu untuk mengakhiri pertemuan ini saat melihat Kanaya yang terus saja menatapnya dengan serius.
“Jadi pertemuan kita hari ini cukup ya, Mahesa? Saya rasa semuanya sudah jelas.” Kanaya menutup berkas tersebut.
“Cukup dan jelas! Mungkin minggu depan kita akan kembali bertemu untuk membahas hal yang lainya setelah saya meninjau lapangan.”
Kanaya mengangguk setuju, dia tidak bisa menolak untuk urusan pekerjaan, ia tentu saja harus bisa bersikap profesional. Banyak orang yang bergantung hidup pada perusahaan milik keluarganya. Jika Kanaya egois, akan banyak pemutusan kerja dan mereka menjadi pengangguran dan Naya tidak ingin itu terjadi.
“Baiklah, kalau begitu aku permisi, calon tunanganku.” Mahesa mengerling nakal, membuat mata Kanaya terbelalak dengan tingkah m***m Mahesa.
Kanaya menggeleng pelan, jika melihat tingkah pria itu Kanaya merasa yakin akan terjadi sesuatu yang gila jika sampai dia menyanggupi pertemuan yang Mahesa minta.
“Tunggu!”
Mahesa berbalik, “Ya, ada apa, Nona Kanaya? Apa anda mulai nyaman dengan kehadiran saya.”
“Jangan salah paham.” Kanaya tersenyum tipis. “Maaf, tapi saya menolak pertemuan kita nanti malam. Waktu dan tempatnya sungguh tidak pantas, Mahesa. Jangan anda pikir karena kita akan bertunangan, anda bisa berpikir untuk berbuat macam-macan dengan saya!”
Mahesa yang sudah sampai di ambang pintu kembali mendekati Kanaya yang berdiri di dekat sofa.
“Sebentar, saya tidak mengerti apa maksud dari perkataan anda.”
Jika bisa, rasanya Kanaya ingin mengacak wajah Mahesa detik ini juga dan mengatainya dengan panggilan pria m***m. Namun karena ingin menjaga nama baiknya, Kanaya hanya membalas dengan perkataan seperti biasanya.
“Saya tidak tahu apa alasan anda mengajak saya bertemu di Alian hotel jam 12.00 malam! Tapi bisa saya pastikan jika rumah saya akan terbuka 24 jam untuk anda, jika memang ingin bertemu dengan saya.”
“Alian hotel? Jam 12 malam?” Mahesa benar-benar bingung dengan perkataan Kanaya, dia bahkan tidak ingat sudah membuat janji temu dengan calon tunangannya itu.
“Ya! Saya punya bukti jika anda berusaha mengelak.” Kanaya berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil ponsel pintarnya. Dengan cepat dia membuka chat nya bersama Mahesa.
Mahesa terkejut saat melihat pesan itu benar-benar berasal dari ponselnya. Namun dia tidak bisa mengingat kapan pernah mengirimkan pesan itu.
‘Soraya! Apa mungkin Soraya yang melakukan ini?’
“Ah, saya sepertinya melupakan sesuatu. Itu pesan yang saya kirim pada Soraya, dia ingin menginap di sana untuk urusan pekerjaan.”
“Benarkah?” Gelagat Mahesa menunjukkan jika dia sedang berbohong dan Kanaya tahu itu. “Tapi sudahlah, setidaknya saya tidak berpikiran negatif lagi sekarang.”
“Iya, kalau begitu saya permisi, sampai jumpa minggu depan.” Mahesa melambaikan tangan sekilas dan pergi.
‘Aku harus memperingatkan Sora, dia tidak boleh mengusik Kanaya.’
“Ck! Kalian salah memilih lawan!” gumam Kanaya.