“Ah, kenapa aku malah memikirkan dia? Sungguh tidak bermanfaat,” gumam Kanaya sebelum menyesap capuccino dingin yang ada di hadapannya.
Sore ini gadis cantik itu me time di sebuah kafe, seorang diri dan hanya memperhatikan beberapa muda-mudi yang tertawa bersama. Rasanya Kanaya ingin kembali ke masa itu, di mana tidak ada beban atau pun tanggung jawab yang harus ia pikul seperti sekarang.
Setiap perkataan Alvaro selalu saja mengingatkannya akan tanggung jawab dan ratusan jiwa yang menggantungkan hidup mereka. Maka dari itu Kanaya selalu berusaha sebaik mungkin dalam bekerja.
Minumannya telah habis, Kanaya lantas menyimpan selembar uang di bawah gelas dan pergi meninggalkan kafe tersebut. Penat dalam kepalanya sedikit berkurang, sekarang saatnya untuk Kanaya kembali kerumah dan berendam. Sepertinya itu akan membuat otot-ototnya kembali rileks.
Selama perjalanan, Kanaya hanya duduk dengan earphone menempel di telinganya sambil menutup mata. Baru saja Kanaya hampir terlelap, tiba-tiba suara sopir pribadinya membuat Kanaya kembali membuka mata.
“Kita sudah sampai, Nona.”
“Ya, terima kasih.”
Kanaya berjalan gontai memasuki rumah, hari ini ia lelah. Setelah Mahesa pergi, masih banyak hal yang harus dia kerjakan, karena terlalu sibuk Kanaya sampai melewatkan makan siangnya dan hanya memakan roti sebagai pengganjal perut.
Begitu Kanaya masuk, beberapa asisten langsung mengambil alih bawaannya, sedangkan Kanaya sendiri di giring menuju ruang keluarga, di mana Alvaro sedang bersantai, menyaksikan pertandingan liga voli kesukaannya. Sesekali wajah keriput itu bersorak, dia senang karena poin terus di dapat jagoannya.
“Sore, Kek?”
“Naya, kamu sudah makan?” tanya Alvaro.
Kanaya hanya menggeleng dan menyandarkan kepalanya di pundak sang kakek.
Tanpa banyak bicara, Alvaro lantas mematikan televisi dan bangkit sambil mengulurkan tangannya. “Kakek juga belum makan. Ayo …”
Wajah lelah Kanaya berubah seketika saat menerima uluran tangan sang kakek. Kanaya dan Alvaro kemudian bergandeng tangan menuju meja makan, layaknya sepasang kekasih beda usia. Keduanya terkekeh kecil. Mungkin jika mereka makan di luar, beberapa orang akan menilai jika Kanaya adalah seorang sugar baby. Menggelikan.
“Siapkan meja makannya, aku dan kakek akan makan sekarang.” Pinta Kanaya pada salah satu pelayannya.
“Baik, Nona.”
Tidak lama kemudian meja sudah dipenuhi oleh makanan, yang hampir semua adalah makanan kesukaan Kanaya. Matanya berbinar seketika, rasa lapar yang awalnya hanya sedikit sekarang jadi berlipat ganda.
“Emm! Cacing di perutku langsung berontak, Kek.” Gadis itu terkekeh sambil mengisi piringnya.
“Ya sudah, makan apa pun yang kamu mau, sayang.”
“Kakek juga makan.” Kanaya langsung mengisi piring Alvaro.
“Cukup Nay! Kakek sudah tidak bisa makan sebanyak itu.” Diusianya sekarang, Alvaro menjaga semua makanan yang masuk demi bertahan dan melihat cucu kesayangannya itu tumbuh dewasa.
Kanaya hanya mengangguk dan lanjut mengisi piringnya sendiri. Cucu dan Kakek itu makan dengan lahap, bahkan Kanaya terlihat seperti orang kelaparan sekarang. Entah kapan terakhir kali melihat Kanaya makan selahap ini.
Meskipun berada dalam satu rumah, sangat jarang untuk Kanaya bisa merasakan momen seperti ini, kebanyakan waktunya ia gunakan untuk mengurus pekerjaan dan sesekali keluar untuk menikmati cappuccino kegemarannya.
“Permisi Nona, baru saja ada kurir yang datang dan memberikan ini, nama pengirimnya Mahesa.” Kanaya melirik asisten rumah tangga yang sekarang sedang memegangi buket bunga besar dan sebuah kotak dengan logo yang sangat diakenal.
“Simpan ke kamarku saja.”
Kanaya berdeham pelan saat Alvaro menatapnya sambil tersenyum tipis. Jujur saja, Kanaya merasa muak, bagaimana bias Mahesa bersikap sok romantis dengan mengirimkan bunga dan kado.
“Kakek bahagia melihat kalian berusaha untuk bisa dekat. Meskipun kakek akui, jika cucu Wirata sepertinya menyebalkan dan sedikit arogan,” Alvaro terkekeh geli, teringat pertemuan pertama mereka malam itu.
“Tapi kakek berharap kalian akan berjodoh,” sambungnya lagi.
“Sejujurnya Naya tidak berharap lebih dari hubungan ini, tapi kalau memang dia jodoh yang Tuhan gariskan, Naya bisa apa?” Gadis itu hanya mengedikan bahunya.
Kanaya menyisakan sedikit makanan di piringnya, ia langsung kehilangan napsu makan dan moodnya rusak seketika. Kanaya langsung mengalihkan topic perbincangannya dengan Alvaro agar tidak ada lagi pembahasan mengenai Mahesa dan rencana pertunangannya.
Selesai makan malam, kakek dan cucunya pergi ke ruang keluarga, sesekali terdengar tawa Kanaya saat mendengarkan kisah cinta sang kakek. Rasanya menyenangkan berada di masa itu, semua serba susah tapi hal kecil sekalipun bisa membuat orang bahagia.
“Kalau nanti kamu dan Mahesa sudah menikah, tempat atau negara mana yang akan kalian pilih untuk bulan madu?” Pertanyaan Alvaro membuat Kanaya terkejut, bagaimana bisa pergi bulan madu jika bertemu saja tidak ingin.
“Naya mau mandi dulu, nanti kita bicara lagi, Kek.” Kanaya benar-benar menghindari obrolan yang berbau nama Mahesa.
“Ya sudah, mandi yang bersih. Jangan sampai Mahesa mengeluh karena punya istri cantik tapi kok bau.” Godanya.
“Kakek! Jangan sebut lagi nama itu, aku malas mendengarnya.”
Alvaro hanya tersenyum, dia tahu benar jika sampai sekarang cucunya itu masih belum bisa menerima hubungan yang sudah ia siapkan. Namun besar harapannya untuk melihat Kanaya dan Mahesa menyatu.
Saat memasuki kamar, mata Kanaya seketika tertuju pada paket yang Mahesa kirim untuknya. Hatinya berdegup kencang, dia gelisah dan kesal saat melihat kelakuan Mahesa yang tidak tahu malu. Berani-beraninya Mahesa mengirim itu kerumahnya, hingga membuat Alvaro memiliki harapan besar atas hubungan palsu mereka.
“Untung saja kakek tidak melihat logo ini,” Kanaya menarik kotak itu dan membukanya pelan. “Ini toko pakaian dalam wanita ternama, pasti kakek akan tahu jika melihatnya.”
Kotak terbuka dan hal pertama yang Kanaya lihat adalah sebuah kertas putih tipis yang lembut. Kanaya menariknya cepat, matanya seketika terbelalak saat melihat lingerie hitam, dengan bra rajut dan segitiga yang hanya berupa tali dengan hiasan kuku-kupu untuk bagian belakang. Sedangkan bagian depan terdapat tali dengan tiga manik-manik berbentuk bulat.
“Oh my …” mulut Kanaya menganga lebar, jantungnya ikut berdebar kencang saat melihatnya. Ia jadi malu sendiri saat membayangkan jika setiap malam harus memakai kain tipis ini di depan Mahesa setelah mereka menikah.
“Tidak! Aku tidak akan sudi memakain kain itu.” Kanaya langsung melempar lingerie tersebut.
Kanaya memijit keningnya yang tiba-tiba terasa pusing, ia mengumpat kasar dalam hati saat melihat isi kotak tersebut. Kanaya membuang napasnya kasar, dia kesal dan jijik pada Mahesa. Sungguh, tidak pernah terbayangkan dalam benaknya jika Mahesa akan mengirimkan ini kerumahnya.
‘Mahesa!!’ batin Kanaya geram.
Tidak ingin dibuat semakin kesal, Kanaya segera menutup kotak itu dan melemparnya ke keranjang sampah yang ada di sudut meja kerjanya. Kanaya tidak pernah menyangka jika ia akan memiliki calon seperti Mahesa, pria dengan kadar m***m yang cukup besar.
Mahesa sudah melewati batasnya, Kanaya harus membuat pria itu mengerti jika dia tidak suka disamakan dengan kekasihnya yang terbiasa menggunakan pakaian kurang bahan. Ia mengambil tas yang tergelat di atas meja, lantas mengeluarkan ponsel, berniat untuk memarahi kelancangan Mahesa.
Ting
Sebuah pesan lebih dulu masuk saat ponsel itu sudah menyala sempurna. Kanaya merasa aneh, tidak pernah ada nomor tanpa nama yang mengirimkan pesan adanya. Rasa penasaranya terjawab sudah ketika melihat sebuah foto kamar hotel mewah, dengan meja bundar yang sudah tertata rapi.
‘I waited for you here.’
‘Don’t torture me for imagining you.’
Tangan Kanaya mengepal kuat saat membaca pesan itu, ia merasa kesal dan murka. Namun ingatannya kembali saat melihat ekpresi Mahesa ketika Kanaya menolak untuk datang.
“Ada yang ingin bermain-main denganku rupanya!” Kanaya menatap ponselnya dengan marah. Pikirannya langsung tertuju pada Mahesa dan Soraya yang kemungkinan akan menjebaknya.
“Baiklah! Ayo kita mulai permainannya!”