SAYA KANAYA, JADI SAYA BAIK-BAIK SAJA

1449 Words
“Sial! Kenapa mereka terus menolak harga yang aku berikan? Tidak bisa! Mereka harus setuju agar kerja sama ini cepat selesai.” Mahesa terus mancari cara dan menyelesaikan beberapa pekerjaan lainnya yang menumpuk hingga sore hari, sampai akhirnya lupa untuk menemui Soraya dan membahas mengenai hotel Alian yang dikatakan oleh Kanaya. Sedangkan Soraya, wanita itu justru sedang menunggu detik-detik kehancuran Kanaya. Orang suruhannya tidak pernah gagal, bahkan saat membantunya membuat beberapa kasus hingga namanya Soraya semakin melejit di dunia modeling. “Ah, aku yakin wanita itu akan suka rela menerima semua tawaranku dan Mahesa.” Soraya meneguk wine yang ada dalam gelasnya kemudian tertawa. Ia melirik jam dinding, sekarang sudah pukul 21.00 malam, itu artinya waktu kehancuran saingannya itu semakin dekat. Ia melihat ponselnya, kemudian terbersit niat untuk menghubungi orang suruhannya. “Hallo, bagaimana? Apa semua sudah siap?” “Bagus! Aku tunggu hasilnya dan bersiaplah untuk mendapat bayaran besar dariku.” Panggilan itu berakhir, sekarang Soraya tidak perlu lagi bersusah payah mencari cara agar bisa menikah dengan ladang uangnya. “ATM berjalanku.” Gumamnya sambil memejamkan mata. Sementara itu, Kanaya benar-benar sudah hilang kesabaran, dia harus mengakhiri ini agar Mahesa dan kekasihnya mengerti jika ia bukanlah orang yang bisa mereka bodohi. "Kamu ingin saya datang, maka itu yang akan terjadi!" Sorot mata Kanaya berubah bengis, ia benci dengan semua hal yang mengusik ketenangannya. Sebelum larut malam, Naya bersiap dengan pakaian formal dan membawa tas khususnya. Setelah semuanya dirasa cukup, Naya menghubungi seseorang, dia yang akan menjaga dan menjadi perisainya. "Kita bergerak sekarang!” hanya itu saja yang terucap dari bibir Kanaya dan panggilan terputus. Diam-diam, tanpa Kanaya sadari Alvaro menatap kepergian cucunya tersebut. Bukan hal baru jika Kanaya keluar malam dan Alvaro sama sekali tidak khawatir, cucunya gadis yang cerdas dan selalu berpikir dengan matang sebelum bertindak. Selain itu ada seseorang yang akan menjaganya. 'Kamar nomor 375.' Pesan baru masuk ke ponsel Kanaya dari orang yang sama, yang memintanya datang memakai baju sialan itu. Kedua sudut bibir Kanaya terangkat lantas ia membagikan pesan tersebut pada bodyguardnya. Tepat pukul 23.00 malam, Kanaya sudah berdiri di depan kamar 375. Namun malam ini ekspresi Kanaya berbeda, terlihat dingin dengan sorot mata yang tajam.. 'Jika kamu sudah sampai, masuklah.' Kanaya tersenyum kecut saat membaca pesan tersebut. Ia merangsek masuk dan langsung disambut dengan cahaya ruangan yang tamaran, dengan sosok pria yang duduk membelakanginya. "Saya tidak punya banyak waktu! Jadi katakan sekarang apa tujuan anda meminta saya datang atau saya akan pergi." Kanaya menatap pria itu tanpa ekspresi. "Selamat datang sayang ..." Ucapan menjijikan itu langsung menyapa indra pendengaran Kanaya, membuat telinganya terasa gatal. 'Dia bukan Mahesa,' batin Kanaya. Alih-alih takut, Kanaya justru tersenyum manis, berjalan dengan anggun menuju kursi, kemudian duduk dan menatap pria itu tajam sambil membaca situasi. "Siapa kau?" tanya Kanaya. “Tentu saja aku adalah pria yang harus kau layani!” Mendengar itu tawa Kanaya meledak, dia seperti mendengar sebuah lelucon lucu yang begitu menggelitik perutnya. "Apa saya tidak salah dengar? Saya bahkan tidak mengenal anda, berani sekali anda mengatakan hal tidak sopan seperti itu." Kanaya terkekeh, entah apa yang ia anggap lucu di sana. Namun pria itu justru tertawa membalas kekehan Kanaya. "Kau sudah jauh-jauh kemari, tidak mungkin aku mengijinkanmu pulang tanpa aku cicipi." "Saya bukan makanan, ingat itu!" tegas Kanaya Pria itu menjadi tidak sabar, dia berbalik, menunjukkan wajah aslinya. Kanaya akui, pria itu cukup tampan, bahkan dia terlihat seperti pria idaman kaum wanita. Namun sayang, pria sempurna seperti dia menjadi sosok menjijikkan. "Kau tidak akan bisa menyentuhku, Tuan!" Kanaya bangkit dan mendekati pria itu. Posisi mereka berhadapan, tanpa rasa takut Kanaya menatapnya tajam. Pria itu terkejut saat melihat mata elang milik wanita yang akan jadi mangsanya. Dia juga tidak menyangka jika wanita yang Soraya kirim adalah wanita yang berbeda, bukan seperti yang sudah-sudah. "Mari kita selesaikan semuanya detik ini juga!" ucap Kanaya. “Apa maksudmu?” tanya pria tersebut. “Aku hanya ingin tahu siapa yang menyuruhmu, Mahesa atau Soraya?” Kanaya mengeluarkan uang dari dalam tasnya. “Berapa dia membayarmu?” "Apa maksudmu, Nona?" Selain uang, Kanaya juga mengeluarkan beberapa alat yang ia bawa. Ia mengangkat alat kejut listrik sambil terkekeh. Lalu saat Kanaya mengeluarkan beberapa botol berisi cairan berbeda warna, Jack tertarik dan kembali bertanya. "Kau pasti tahu benda apa ini?" tanya Kanaya, ia sengaja ingin menggertaknya. "Apa itu cairan merica?" tanya pria itu. "Apa kau tidak ingin bertanya botol ini berisi apa?" Kanaya mengangkat dua botol itu sambil menyeringai. Terlihat jelas wajah pria itu sedikit berubah. "Ini air cabai jalapeno murni dan obat bius! Saya memesannya dari teman lama di Melbourne. Apa anda ingin mencobanya?" tawar Kanaya sambil terkekeh kecil. "Ck! Jangan main-main, Nona. Sekarang silahkan pergi dan lupakan pertemuan ini. Maaf atas pesan-pesan yang saya kirimkan pada anda." Pria itu sadar jika perempuan yang ada di hadapannya bukanlah perempuan biasa. Melihat sikapnya yang dingin dan misterius, Kanaya merasa tertarik pada sosok tersebut. Ada sesuatu yang istimewa pada pria itu. “Mari kita bekerja sama!” Perkataan Kanaya seperti pertanyaan, namun justru ia bersikap seakan itu adalah perintah yang harus patuhi. “Kerja sama seperti apa yang anda maksud?” “Mudah! Katakan siapa yang meminta anda melakukan ini dan mengirimkan benda-benda tidak berguna itu. Saya yakin anda tidak akan menyesal telah bekerja sama dengan saya.” "Itu bukan urusan anda, Nona! Lebih baik sekarang anda pergi, sebelum saya berubah pikiran." "Tentu saja menjadi urusan saya, karena sekarang saya ada di sini." Kanaya kembali membereskan barang-barangnya. “Apa model bernama Soraya dalang di balik semua ini?” tanya Kanaya, namun pria itu hanya diam. “Sudah kuduga!” gumamnya pelan. “Diamnya anda adalah jawaban. Soraya adalah kekasih dari calon suami saya.” Dalam keheningan yang tercipta beberapa saat, tiba-tiba suara tawa meledak. Ini sungguh konyol, kenapa Tuhan menciptakan manusia sebodoh mereka yang hanya ingin bersama satu pria, sampai nekat berbuat segila ini. “Hidup tidak selamanya bisa sesuai dengan yang kita inginkan. Maka dari itu saya hanya menjalani takdir yang Tuhan gariskan.” Kanaya berkata dengan bijak. “Siapa namamu?” Jack berdiri saat melihat Kanaya sudah hampir membuka pintu. “Kamu akan tahu siapa saya.” Kanaya melirik meja bundar, ia dengan sengaja meninggalkan kartu nama miliknya, perasaannya mengatakan jika suatu hari nanti mereka bisa bekerja sama. Mungkin. Setibanya di lobi hotel, Kanaya berjalan beriringan bersama seorang wanita berpakaian serba hitam, dengan sorot mata yang tajam. Keduanya hampir saja berpisah, namun Mahesa datang dengan wajah cemas dan langsung menarik tangan Kanaya, membuat sang bodyguard langsung menyerang Mahesa. BUGH Brukkk Mahesa tersungkur dengan sudut bibir dan dagu yang berdarah. Wanita itu hampir saja kembali menerjang Mahesa, jika Kanaya tidak menghentikannya. “Al, stop! Dia adalah Mahesa.” “Maafkan saya, Nona. Dia menarik anda tiba-tiba, saya pikir dia—” “Tidak masalah, aku mengerti. Kamu boleh pergi sekarang, aku akan bicara dengan Mahesa sebelum pulang.” Alexa mengangguk. “Ayo bangun, saya malu menjadi pusat perhatian banyak orang.” Kanaya mengulurkan tangannya. “Pukulannya begitu kuat. Siapa dia?” “Alexa! Dia sahabat dan bodyguard saya. Jika anda macam-macam, maka bersiaplah menjadi samsak untuknya,” ucap Kanaya santai. “Setelah kita menikah dia harus kamu pecat!” Kanaya tertawa kecil, “Siapa anda, sampai saya harus melakukan semuanya yang anda kehendaki?” “Sa-saya—” Mahesa tergagap, belum memiliki hubungan resmi dia sudah berani memberi perintah. “Jangan lupa kalau kita sudah menikah semua keputusan ada di tanganku!” “Apa anda sudah tidak sabar untuk menyandang gelar sebagai seorang suami dari wanita yang anda tolak, Tuan Mahesa?” ucap Kanaya, ia sengaja secara terang-terangan mengejek Mahesa “Apa kau baik-baik saja?” Mahesa langsung mengalihkan perbicangan mereka. “Apa anda mengkhawatirkan saya?” Kanaya mencondongkan tubuhnya pada Mahesa. “Saya Kanaya, jadi saya akan baik-baik saja!” Kanaya mengerlingkan satu matanya dan meninggalkan Mahesa begitu saja. Mahesa berlari kecil mengejar Kanaya dan meraih tangan calon tunangannya itu. “Apa yang terjadi di dalam sana?” “Anda ingin tahu?” Tanya Naya penuh penekanan. “Kenapa tidak anda tanyakan saja pada Soraya, wanita yang anda cintai itu.” Wajah Mahesa berubah pias saat nama sang kekasih disebut. Malam ini dia datang untuk menyelamatkan Kanaya dari pria suruhan Soraya, setelah susah payah dia bertanya pada kekasihnya itu. “Kenapa anda sangat tegang, Mahesa? Benar bukan, jika So-ra-ya yang membuat rencana ini dan menjadikan saya sebagai umpan untuk memuaskan hasrat seseorang.” “Anda dan Soraya salah memilih musuh! Jika kalian pikir saya lemah, itu sebuah kesalahan besar!” Kanaya menatap Mahesa, membuatnya terkejut saat melihat bola mata milik Kanaya. “Kamu salah sangka.” Mahesa tidak ingin masalah ini sampai diketahui oleh kakeknya, maka Soraya akan mendapat masalah karena itu. “kita tidak sedekat itu, sampai anda bicara aku-kamu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD