KEMBALI LULUH OLEH SORAYA

1372 Words
Tepat pukul satu malam Kanaya baru sampai di kediamannya, ia lantas meletakan barang bawaannya dan menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke atas ranjang. Kanaya tidak mengerti dengan jalan pikiran kekasih Mahesa. “Ah! Wanita itu benar-benar menjengkelkan! Aku sudah setuju dengan kontrak itu, tapi dia masih saja ingin mengusikku.” Kanaya mendengus kasar, semua sungguh diluar prediksinya. Saat pikirannya terfokus pada Soraya, denting ponsel membuat Kanaya melupakan kekasih dari Mahesa tersebut. Ting ‘Hai, Nona Kanaya Anandita Kusuma.’ Kedua sudut bibir Kanaya terangkat saat melihat pesan tersebut, dia tahu siapa pengirimnya. ‘Jack!’ Pesan balasan itu membuat Jack terhenyak. “Ahahah, dia tahu namaku dengan begitu mudah, sepertinya kali ini aku berhadapan dengan wanita yang tidak bisa dianggap remeh.” Jack meletakan ponselnya, ia tidak berniat untuk membalas kembali. Cukup ia tahu jika Kanaya bukanlah orang biasa seperti Soraya. “Dia pasti terkejut karena aku bisa tahu namanya.” Kanaya tersenyum sambil menggerakan kepalanya. Gadis itu melirik jam dindingnya sejenak dan bangkit untuk membersihkan diri. Ia harus segera tidur, meskipun waktu istirahat yang ia miliki hanya tersisa 3 jam. Sedangkan di apartemennya, Mahesa tidak berhenti untuk bisa menghubungi kekasihnya. Dua jam sejak panggilan terakhirnya, Soraya dengan sengaja menghindar, ia tahu jika Mahesa pasti akan murka padanya. “Sora, kali ini kamu benar-benar keterlaluan!” Mahaesa meremas ponselnya. “Jika terjadi sesuatu pada Kanaya, sudah pasti aku yang kena getahnya.” Mahesa tahu benar jika kakeknya itu tidak mungkin membiarkan Soraya lepas begitu saja jika terjadi sesuatu pada Kanaya. Sejak pertemuan pertamanya dengan Soraya, Wirata langsung berkata tidak pada Mahesa. ‘Wanita seperti dia tidak pantas untuk menjadi istrimu.’ Ucapan Wirata masih terus terngiang di telinganya. Namun rasa cinta dan kepuasan yang selalu Soraya berikan membuat Mahesa merasa berhutang budi dan perlu menjaga hubungan mereka, tidak peduli jika Wirata terus menentangnya. Sampai dini hari, Soraya masih tak menjawab panggilan Mahesa. Akhirnya ia menyerah dan memilih untuk memejamkan matanya sambil menahan rasa sakit akibat pukulan Alexa. “Aku harus menemui Sora besok, aku tidak ingin semua rencanaku gagal hanya karena dia tergesa-gesa.” Mahesa akhirnya memilih tidur meski kepalanya dipenuhi dengan emosi. belum lagi rasa sakit di wajahnya. Pikirannya terus berkelana, ia heran kenapa Soraya tidak mau menjawab panggilannya. Jika biasanya Mahesa akan belingsatan dan mencarinya, maka tidak untuk malam ini. Saat Mahesa pusing, Soraya justru sedang bersenang-senang dengan rekan sesama model di sebuah kelab malam. Ia ingin merayakan malam kehancuran Kanaya, karena setelah itu tidak lama lagi ia akan menjadi Nyonya Mahesa. “Lo kenapa ngajak kita parti, Raya?” teriak temannya. “Gue lagu mau aja berbagi kebahagiaan sama kalian. Dah! Nggak usah banyak tanya, yang penting malam ini kita happy!” Soraya mengangkat tinggi gelas minumannya sambil tertawa. Ia tidak terlalu banyak minum karena besok memiliki jadwal penting. Meskipun Mahesa sudah bicara agar tidak menjebak atau berurusan dengan Kanaya, ia tetap nekat dan tidak peduali dengan dampak yang akan ia rasakan. Bahkan Soraya dengan sengaja mengabaikan semua panggilan kekasihnya itu dan bersenang-senang. Pukul dua dini hari, Soraya pulang ke apartemannya dengan sedikit sempoyongan. Ia tertawa puas seakan semua usahanya untuk menyingkirkan Kanaya sukses. “Ahahah, wanita itu pasti tidak akan berani menyombongkan dirinya lagi.” Soraya melempar tubuhnya ke atas sofa panjang. Sesekali ia meracau dan menghina Kanaya. Saat kesadarannya hampir hilang, pintu apartemen dibuka dengan kasar, membuat Soraya duduk dan membuka matanya lebar. “Jack, itu kau?” Soraya terkekeh. “Bagaimana? Apa kau puas dengan wanita itu? Kanaya! Ya, namanya sungguh jelek.” Namun tidak ada jawaban dari pria itu, kecuali cengkraman yang kuar hingga membuat Soraya kelabakan. “A-apa kau gila? Jack! Lepaskan aku.” “Dia bukan wanita sembarangan, Soraya!” desis Jack. “Kau harus membayar sepuluh kali lipat karena aku gagal mendapatkan apa yang ku mau!” Jack melepaskan cengkraman pada rahang Soraya dengan kasar, membuat sang model tersungkur karena tidak bisa megendalikan tubuhnya sendiri. “Aku tidak akan membayarmu seperpun!” Soraya menunjuk Jack dengan sorot mata yang tajam. “Baik! Jika tidak ada uang, maka akan ku jadikan kau wanita pamuasku!” Jack yang sadar sepenuhnya tentu saja mampu mengalahkan Soraya dengan mudah. Ia menarik semua kain yang menutupi tubuhnya dan melempar Soraya ke atas ranjang sebagai bayaran karena telah membuat Jack malu di hadapan seorang wanita. Teriakan Soraya menggema karena kelakuan Jack yang menuntaskan hasratnya dengan berutal. Ia sama sekali tidak peduali dengan Soraya yang sekarang menjerit ataupun mendesah. Satu hal yang pasti, Jack harus merasa puas. Tanpa peduli dengan Soraya yang kesakitan, Jack yang merasa puas pergi begitu saja. Ia tidak akan bertahan di tempat itu karena tahu jika apartemen yang Soraya tempati sekarang adalah milik Mahesa. “Mahesa sungguh bodoh jika memilih wanita seperti dia.” *** Pukul delapan pagi, Mahesa bersiap, dia tidak sabar lagi untuk menemui Soraya dan membahas apa yang terjadi semalam pada Kanaya. Bukan bermaksud membela calon istrinya, namun ia ingin hubungannya dengan Soraya aman, meskipun dia menikah dengan Kanaya. Mahesa sangat yakin jika ia tidak akan jatuh cinta pada Kanaya dalam waktu singkat. “Kenapa pintunya tidak terkunci?” gumam Mahesa saat tiba di depan unit milikya. Mahesa merangsek masuk, semua terlihat rapi dan tidak ada tanda-tanda kerberadaan orang asing di sana. “Mahesa, kapan kamu datang?” Fita, manager Soraya yang ternyata menyapa pria itu. “Dimana Soraya? Aku ingin menemuinya, ini penting.” “Sora dengan mandi, tunggulah sebentar.” Fita sengaja membuatkan minuman lebih dulu agar Mahesa tidak sadar jika Soraya cukup lama keluar dari kamarnya. “Apa semalam dia bersamamu? Semalaman aku sulit untuk menghubunginya.” Mahesa mendengus kasar, ia masih kesal rupanya. “Jangan coba-coba untuk membohongiku atau melindungi Soraya.” Wanita berusia 40 tahun itu hanya tersenyum, begitu tenang seakan semua baik-baik saja. Pengalaman menjadi manager seorang model sudah membuat ia belajar banyak hal. “Dia semalam berada di kelab malam, dia kesal karena kamu marah padanya. Jelas?” Fita meneguk teh buatannya. “Jangan terlalu keras padanya! Saat dia pergi, kau akan menyesal, Mahesa.” Kali ini Mahesa tidak menjawab. Atensinya teralihkan pada pintu kamar yang terbuka, menampilkan Soraya yang sudah terihat segar dan cantik yang memamerkan lekuk tubuhnya. “Aku ada jadwal penting, lebih baik kamu pulang!” “Kita harus bicara dulu, Sora. Ini penting!” Mahesa memegang tangan Soraya pelan, meksipun marah ia tidak bisa meledak pada sang kekasih. “Bicara apa? Mengenai Kanaya? Iya?” “Sora, dengar! Kanaya adalah wanita pilihan kakek, jika sampai dia menemukan bukti kamu melakukan sesuatu yang membahayakannya hubungan kita menjadi taruhan. Aku tidak mau hubungan ini hancur hanya karena kamu terburu nafsu untuk menyingkirkan Kanaya.” Soraya membuang muka, sebenarnya ia muak mendengar nama itu. Wanita yang entah berasal dari mana tiba-tiba datang dan merusak semua rencananya. “Aku takut kamu berpaling dariku. Aku melihat kamu berbeda setelah bertemu dia.” Soraya memeluk Mahesa dan mengedipkan matanya pada Fita. “Aku takut kehilangan kamu. Hiks.” Mahesa memperat pelukannya dan mengusap punggung Soraya dengan lembut, ia sudah salah menduga sikap sang kekasih. “Maaf Sora, aku tidak sadar jika sikapku mulai berubah. Jujur! Aku sedikit tertekan, apalagi kakek dengan sengaja membuat kami bekerja sama dalam sebuah proyek yang cukup besar.” Soraya mengepalkan tangannya. ‘Ternyata kakek tua itu benar-benar ingin menyingkirkanku.’ Soraya membatin. “Tolong jangan bersikap gegabah lagi!” Soraya mengangguk manja. “Hesa, aku punya satu permintaan.” Soraya melepas pelukanya dan mendongak. “Apa itu?” “Bagaimana jika kita—“ ucapan Soraya terjeda karena ponsel Mahesa berdering. “Sebentar.” Mahesa melepaskan pelukannya dari sang kekasih. “Ya! Aku akan segera ke sana.” “Maaf, Sora, aku harus berangkat sekaran, ada sedikit masalah di kantor.” Mahesa mengecup kening Soraya. “Nanti malam aku datang, kita bisa bicara sepuasnya.” “Hati-hati.” Mahesa bergegas pergi, setelah pintu tertutup barulah Soraya duduk dan mengumpat kasar. “Sialan! Semalam Jack benar-benar menyiksaku, Fit. Aku tidak tahu apa yang dilakukan wanita itu sampai Jack datang dengan marah.” “Kayaknya lo harus bisa menjerat Mahesa dulu, ikat dia!” Fita yang sering kecipratan uang dan barang mahal dari Soraya tentu saja tidak ingin mereka berpisah. “Caranya?” Soraya duduk dengan wajah serius. “Kau harus hamil!” ucap Fita dengan tegas. Namun hal itu membuat Soraya terbelalak. “Apa kamu tdak waras, Fit?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD