Soraya menatap nyalang managernya, tidak mungkin ia mengambil langkah sejauh itu dan melepas masa emasnya sebagai model.
“No! Itu ide yang buruk, Fit.” Soraya menggeleng.
“Gue sih terserah, tapi menurut gue hanya itu satu-satu cara agar Mahesa tetap ada buat lo sampai kapanpun!” Fita meracuni Soraya semakin jauh. Tidak ada yang salah untuk berjuang demi masa depan cerah menurut Fita.
Bukan Soraya tidak berpikir sejauh managernya, namun ia masih bimbang mengenai Wirata. Tua bangka itu tidak mudah untuk dibujuk meskipun dengan iming-iming seorang cicit.
“Kamu nggak tahu gimana kakeknya Mahesa, Fit. Aku khawatir seandainya aku hamil dan dia memaksa aku menggugurkan kandunganku itu akan sia-sia saja.”
Fita tertawa. “Di sini tuh gue yang terlalu pintar atau lo yang bodoh sih, Raya? Mikir dong, masa lo nggak ngerti arah tujuan gue kemana.”
“Tahu ah, aku mumet, mana semalam Jack menyiksaku. Aku ingin ke spa dulu.” Soraya bangkit, ia belum siap memikirkan bagaimana kehidupannya nanti. Ia hanya akan menikmati semua yang ada sekarang.
“Kalau lo udah nemu jawabannya, kasih tahu gue. Gue juga ada janji sama seseorang. Bye.” Fita pergi lebih dulu, tidak lama Soraya pun ikut menyusul, meninggalkan apartemen tersebut.
Sedangkan di kediamannya, sekarang Kanaya baru saja keluar dari ruangan gym pribadinya. Keringat membanjiri wajah cantiknya, ia terlihat semakin seksi setelah berolahraga.
Kanaya langsung menyambar i-pad miliknya dan memeriksa jadwal yang sudah Citra kirim. Ia malas pergi ke kantor dan akan memilih berkerja dari rumah.
“Yes! Aku bisa bersantai, tidak ada meeting atau pertemuan penting hari ini.” Kanaya tersenyum senang, ia manusia normal yang membutuhkan waktu bersantai tanpa pekerjaan.
Tubuhnya mulai terasa dingin, ia langsung pergi berendam sejenak dan bersiap untuk sarapan pagi bersama Alvaro. Entah apa yang terjadi, namun hari ini Kanaya merasa jika ia lebih baik ada di rumah saja bersama sang kakek.
“Pagi, Kek …”
“Pagi. Jam berpapa kamu kembali tadi malam?” Kanaya langsung disambut dengan pertanyaan yang membuatnya bingung, pasalnya ia lupa tidak melihat jam.
“Naya tidak terlalu memperhatikan jam, tapi yang jelas lewat tengah malam.” Gadis itu terkekeh, jika biasanya Alvaro akan sibuk menanyakan apa urusannya keluar tengah malam, pagi ini justru berbeda.
“Kakek harap tadi malam adalah malam terakhir kamu seperti ini, Naya.” Alvaro menatap cucunya begitu dalam, menyiratkan kekhawatiran yang begitu besar.
“Maksud kakek ijin keluar malamku akan di cabut?” Sebagai jawabannya, Alvaro hanya mengangguk singkat sambil tersenyum. “Why?”
“Maksud aku, pasti ada alasan khusus kenapa kakek sampai mengambil keputusan ini. Benar kan?” Sebenarnya Kanaya lebih dari tahu alasan dibalik larangan Alvaro, namun ia ingin tahu bagaimana cara kakeknya itu menyampaikan keinginannya, meskipun hal tersebut belum bisa Kanaya penuhi.
“Kakek hanya takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.” Hanya itu yang diucapkan Alvaro.”Kamu akan segera menikah.”
“Serius? Nggak lucu kek, bercandanya. Kenapa baru sekarang kakek melarang aku? Selama ini kakek percaya padaku, selain karena ada Alexa, kemampuanku juga tidak pernah kakek ragukan.”
“Kakek tahu, tapi rasanya kakek ingin kamu menjalan kehidupan normal selayaknya gadis pada umumnya.” Alvaro hanya menghela napas dalam.
“Itu artinya kakek tidak percaya dengan kemampuan yang aku miliki.” Tekanan itu sengaja Kanaya berikan, ia ingin Alvaro mengerti jika larangan itu cukup menganggu menurutnya.
“Naya harap kakek mengerti dan memikirkan kembali ucapan kakek. Naya bukan anak kecil lagi, itu sebabnya kenapa aku sudah di hadapkan pada sebuah hubungan yang serius.” Tekannya.
Alvaro hanya diam, terdengar jelas helaan napas berat dari pria tua tersebut dan ini membuat Kanaya harus bisa meyakinkan sang kakek jika semua akan baik-baik saja.
“Kakek masih ragu?” Alvaro menggeleng, ia menyentuh punggung tangan cucu kesayangannya itu dan tersenyum. Perkataan Kanaya berhasil menyadarkan Alvaro, jika ia sudah dewasa dan mampu mempertanggung jawabkan semuanya.
Alvaro dan Kanaya melanjutkan sarapan pagi mereka tanpa banyak bicara. Hanya denting sendok dan garpu yang memecahan keheningan yang terjadi di meja makan tersebut. Jika masalah perjodohan Kanaya tidak bisa menolak, maka untuk kebebasannya ia akan berjuang lebih keras.
“Maafkan kakek, itu hanya ungkapan dari seorang kakek yang sangat mengkhawatirkan cucunya.”
“Naya mengerti. Tidak ada orang lain yang akan menyayangi aku seperti kakek.” Kanaya sedikit berkaca-kaca, setelah kepergian orang tuanya ia hanya memiliki Alvaro.
“Kek, hari ini aku mengambil cuti. Bagaimana kalau kita jalan-jalan? Sepertinya menyenangkan jalan di mall bersama kakek.”
Alvaro terkekeh, “Apa kamu yakin? Kalau ada orang yang mengatakan hal yang tidak-tidak bagaimana?”
“Maksud kakek?”
“Ya~misalnya seperti, anak jaman sekarang doyanya sama kakek-kakek ya, atau gadis sekarang sukanya jadi simpanan sugar daddy.” Kata Alvaro.
“Aku enggak peduli, biarlah orang mau berkata apa, yang pasti kebenarannya tidak seperti itu. Benar kan, Kek?” Alvaro mengangguk bangga.
Sebenarnya jika dilihat dari postur tubuh, untuk pria paruh Alvaro masih cukup gagah dan menawan. Namun kulit dan rambut tetap saja tidak bisa berbohong. Ucapan kakeknya sangat lucu menuru Kanaya, ia lebih baik dipanggil simpanan sugar daddy dari pada dipanggil sebagai calon istri Mahesa.
Selesai sarapan, Kanaya besiap, begitu pula dengan Alvaro. Karena akan jalan bersama gadis remaja, tentu saja Alvaro tidak mungkin memakai pakaian khas kakek tua. Kali ini kakek tua itu tidak ingin membuat cucunya malu.
***
Setibanya di pusat perbelanjaan, Kanaya mengajak kakeknya berbelanja sepatu, tas dan juga jam tangan. Beruntung ia masih suka jalan santai bersama tetangga kompleknya, hingga berjalan di mall bukanlah masalah besar bagi Alvaro.
“Kakek nggak mau beli yang lain?” tanya Kanaya. Ia sudah membawa beberapa barang belanjaan.
“Kakek ingin pergi ke toko pakaian muslim. Rasanya kamu nggak punya gamis dan sebagainya.” Alvaro terkekeh melihat perubahan wajah cucunya.
“Hanya untuk berjaga-jaga, siapa tahu nanti kamu suka atau ada acara harus pakai kerudung.”
“Oke deh, aku setuju.”
Kakek dan cucunya itu mulai memilih beberapa pakaian, juga hijab yang senada. Beberapa kali Alvaro tertawa melihat tingkah konyol cucunya.
“Ah, akhirnya selesai juga. Kita makan ice cream yuk, Kek.”
Alvaro hanya bisa mengangguk pasrah, entah kapan terakhir kali ia pergi seperti ini dengan cucunya itu. Ia merasa jauh lebih muda sekarang. Saat sedang menikmati ice cream, dari sebuah store terlihat beberapa wanita berkerumun sambil memegang ponsel dan mengejar seseorang.
Mata elang milik Kanaya tidak lepas dari pemandangan tersebut, ia semakin menjamkan penglihatannya karena nama seseorang dipanggil heboh.
“Sora, Sora! Tolong dong, foto, foto!” teriak seorang wanita muda.
“Sora, foto sebentar!”
Tiba-tiba kerumunan mulai terlihat tenang, ternyata Soraya mulai mengajak mereka untuk berfoto bersama dan ada beberapa dari mereka yang mmeinta selfi berdua saja. Dalam hati Kanaya mengakui jika Soraya memang cukup cantik dan tinggi, tapi sangat di sayangkan karena wanita itu sepertinya sudah putur urat malu.
“Ada apa?” tanya Alvaro.
“Eh, buka apa-apa, tadi aku hanya melihat orang-orang berkerumun kirain da baku hantam. Jiwa ini tiba-tiba meronta kek.” Kanaya tersenyum lebar, membuat mata Alvaro membulat sempurna.
“Ingat! Kamu akan menikah sebentar lagi, jangan aneh-aneh. Kalau Mahesa kabur karena takut istrinya galak bagaimana?” Alvaro geleng kepala, sejak kecil sifat cucunya itu tidak berubah, suka dengan hal yang menantang.
“Ya bagus dong, dia itu lemah.” Katanya dalam hati, meskipun ia tidak suka dengan Mahesa tapi Kanaya akan berpura-pura demi kakeknya.
Saat ia kembali memalingkan muka ke arah lain, Kanaya tanpa sengaja melihat siluet Mahesa yang mendekat ke arahnya. Hatinya mulai berontak, sekarang ia ada dalam posisi membingungkan.
‘Apa gue bongkar aja sekarang kebusukan Mahesa? Tapi gimana kalau kakek murka dan lepas kontrol di sini?’
“Kek, kayaknya aku tadi lihat Mahesa.” Kanaya akhirnya mengambil sebuah keputusan.
“Dimana?” Alvaro mulai mengedarkan pandangannya ke arah tempat para wanita yang masih berkerumun tersebut.
“Kakek mau kemana?” Kanaya panik karena melihat Alvaro berdiri.
“Tentu saja menghampiri calon suamimu.”
“Mati kau, Mahesa!”