KUCING-KUCINGAN

1282 Words
“Kakek, tunggu! Sebaiknya kakek di sini saja, biar aku yang ke sana. Oke!” Kanaya tersenyum manis dan melirik Mahesa yang semakin mendekati kerumunan para wanita tersebut. “Ahaha, jangan bilang kalau kamu sengaja memberitahu dia kalau kita di sini?” Alvaro mengangguk, ia merasa mengerti dengan jalan pikiran anak muda tanpa tahu apa yang terjadi. Kanaya hanya mengangguk dan segera berjalan mendekati Mahesa. Ia langsung sigap menarik tangan pria itu, sedangkan teriakan Soraya mengambang karena Mahesa menjauh bersama wanita lain. “Sayang—siapa wanita itu, beraninya dia menarik Mahesa?” api cemburu langsung membakar Soraya, ia tidak terima Mahesa bersama wanita lain. “Kanaya!” seru Mahesa, ia cukup terkejut melihat keberanian calon istri tersebut. “Apa-apaan ini?” “Jangan mengajak saya berdebat, saya dan kakek sedang disana menikmati ice cream, jadi jangan macam-macam. Kecuali anda siap semua terbongkar sebelum di mulai.” Kanaya melirik Alvaro kemudian melempar senyum lebar. “Beritahu dia untuk menjauh!” perintah Kanaya. “Jangan sampai—“ “Iya sayang, aku akan memintanya pergi.” Mahesa langsung merogoh ponselnya dan menghubungi Soraya yang sekarang menjauh dari kerumunan. Kanaya mendadak mual ketika panggilan sayang itu keluar dari bibir Mahesa. Ia mendelik malas melihat tatapan Soraya yang tajam tertuju padanya dari jarak yang tidak terlalu jauh. “Hallo, Sora, maaf aku tidak bisa ke sana, ada kakek Kanaya, ini bahaya!” “Hah! Kenapa jadi gini sih? Jadi kamu lebih milih sama dia. Terus gimana sama belanjaan aku?” teriak Soraya. “Akan aku transfer sekarang juga. Jangan marah ya.” Tutt ... Mahesa menghela napas dalam, setelah mentransfer uang pada Soraya, ia lantas berjalan bersama Kanaya menuju meja dimana Alvaro duduk sambil tersenyum ke arahnya. “Apa kabar, kek?” sapa Mahesa basa-basi. Mulai sekarang ia harus terbiasa bersikap layaknya calon suami yang baik di depan Alvaro ataupun Wirata. “Baik, bahkan sangat baik.” Alvaro bisa merasakan perubahan Mahesa yang lebih hangat daripada pertemuan pertama mereka. “Apa kamu baru saja selesai meeting?” tanya Alvaro, bukan tanpa alasan ia bertanya demikian karena dari pakaiannya saja masih lengkap memakai jas. “Ah, ya, meeting. Tadinya aku mencari sesuatu tapi malah bertemu kalian di sini, sungguh kebetulan. Ternyata kalau jodoh pasti bertemu.” Mahesa kikuk, bingung ingin berkata apa. ‘Salah bicara matilah kau!’ batin Kanaya. Ingin rasanya Kanaya melempar ice cream miliknya ke wajah Mahesa, bisa-bisanya dia bicara begitu manis padahal kelakuannya sungguh pahit dan menjengkelkan. Mahesa terlibat beberapa obrolan kecil dengan Alvaro mengenai bisnis, semakin lama pria itu merasa gelisah karena Soraya tidak lagi membalas pesannya. “Aku permisi ke toilet sebentar.” Mahesa langsung bangkit dan berjalan cepat. Ia terus menghubungi Soraya dan mengajaknya bertemu di sekitar toilet. Namun Mahesa di abaikan. Ia menggerutu, tidak menyanga jika akan bertemu dengan Kanaya dan kakeknya. Dari sekian banyak mall, kenapa mereka juga harus berada di tempat yang sama. “Angkat, Sora! Kamu dimana?” gumam Mahesa. “Aku di sini!” seru Soraya dengan wajah ditekuk, ia kesal bukan main. “Kenapa kamu milih sama dia sih? Bukannya kamu ke sini buat minta maaf dan menghabiskan waktu berdua sama aku. Kita jadi harus bermain kucing-kucingan kayak gini.” Protesnya sambil melipat kedua tangan di d**a. “Kita pulang sekarang juga!” “Ini diluar prediksi aku sayang, jangan marah ya.” Mahesa meraih tangan kekasihnya tersebut. Namun Soraya justru menepisnya. “Udah sana! Aku mau pulang saja, percuma di sini kalau kamu bersama wanita lain.” “Nanti malam aku akan datang.” “Tidak perlu! Aku akan pergi bersama teman-teman, nikmati saja momenmu bersama Kanaya. Jangan lagi pedulikan aku!” Soraya pergi dengan drama, ingin sekali Mahesa pergi namun ia tidak bisa melakukan itu karena Alvaro akan curiga dan bisa saja hal ini di sampaikan pada Wirata. “Sial! Kenapa juga harus bertemu dengan Kanaya dan kakeknya?” Mahesa menggerutu sambil kembali menemui dua orang yang sudah menggagalkan kebersamaannya bersama Soraya. Saat kembali, kening Mahesa berkerut karena ia tidak melihat Alvaro di sana. Ia lantas duduk berhadapan dengan Kanaya yang terlihat begitu manis dengan rambut dikucir asal dengan poni depan sedikit berantakan. “Dimana kakek mu?” tanya Mahesa kembali seperti biasa. Memasang wajah tidak bersahabat. “Pulang, ada tamu penting dan ingin bertemu langsung dengannya. Dimana Soraya?” tanya Kanaya santai. “Dia juga sudah pulang. Soraya marah besar karena aku terpaksa harus bersamamu di sini.” Mahesa melirik arloji di tangannya kemudian bangkit dari duduknya. “Aku akan kembali ke kantor, kau bisa pulang sendiri kan?” “Tentu, aku bukan anak kecil seperti kekasihmu yang harus ditemani kemanapun dia pergi. Bahkan harus ditemani saat tidur malam. Menjijikan.” Kanaya berdiri dan langsung pergi meninggalkan Mahesa tanpa berpamitan. “Kenapa jadi gini? Harusnya aku yang meninggalkannya, bukan sebaliknya. Arrghhh!” Mahesa berjalan tergesa menuju parkiran, ia merasa hari ini cukup sial karena bertemu dengan Kanaya. Setelah meninggalkan Mahesa, gadis cantik itu tidak langsung pergi dari mall tersebut. Ia justru berkeliling dan mencari pakaian yang ia sukai. Setiap hari ia bekerja keras, jadi tidak ada salahnya jika hari ini ia menghamburkan uang cukup banyak. Saat berada di sebuah toko perhiasan ternama, ia melihat deretan kalung yang beberapa saat lalu menjadi buah bibir karena dipakai oleh salah satu k-pop yang cukup terkenal. “Pantas saja banyak orang yang mengincarnya, barang ini sangat cantik jika dilihat secara langsung. Tapi aku tidak terlalu suka.” Seorang wanita berseragan serba hitam dan rapi datang menghampiri Kanaya. “Ada yang bisa saya bantu, Nona?” “Saya ingin melihat koleksi terbaru.” Kanaya melihat sekeliling yang cukup tenang. “Mari, Nona, koleksi terbaru kami ada di sana.” Wanita itu berjalan lebih dulu sampai mereka berhenti di sebuah meja kaca, di dalamnya terdapat beberapa cincin gelang dan kalung yang begitu menarik minat Kanaya. “Saya ingin melihat yang ini.” Kanaya menunjuk sebuah kalung berbentuk ular bermata diamon. Dengan sigap wanita bersarung tangan itu mengeluar kotak tersebut dan membiarkan Kanaya melihat detail kalung tersebut. “Anda ingin mencobanya, Nona?” tawar pelayan tersebut. Kanaya hanya mengangguk, saat kalung itu sudah terpasang di lehernya ia melihat ke arah cermin. Benda berkilau itu semakin kontras saja berada di leher jenjangnya. “Saya menyukai kalung ini.” Kanaya mengusapnya pelan dan meminta wanita itu melepaskan kembali kalungnya. “Baik, nona, mohon tunggu sebentar saya akan menyiapkannya.” Kanaya duduk dengan santai sambil menikmati sebuah salad buah yang disediakan pihak toko tersebut. Tidak berselang lama masuk dua orang yang cukup mencuri perhatian Kanaya. Ia langsung menyipitkan matanya melihat wanita yang tidak lain adalah Soraya menuju ke arah meja yang sama. “Ada yang bisa saya bantu, Nona Soraya?” pelayan lainya mendekat, ia sudah mengenal Soraya karena sering datang bersama Mahesa. “Saya ingin kalung ini!” “Maaf, Nona, kalung ini sudah milik Nona Kanaya dan baru saja selesai pembayarannya. Anda bisa memilih koleksi terbaru kami yang lainnya.” Soraya melihat pada Kanaya yang duduk dengan anggunnya, ia memberikan senyum tipis dan mengejek pada model itu. Tidak puas dengan itu, Kanaya bangkit dari duduknya dan mendekati Soraya. “Kamu!” Kata Soraya dengan suara tertahan. “Hai, apa kita saling mengenal?” Kanaya kembali tersenyum tipis, ia sudah siap mengambil perhiasan tersebut. “Pelakor murahan! Kamu tidak pantas memakai kalung diamon itu.” Soraya masih tidak terima. “Oh ya? Tapi saya sudah membelinya. Byee~” Soraya yang tidak terima kalah oleh Kanaya langsung menyusul calon istri kekasihnya itu dan berniat menjambaknya dari belakang. Namun sayang, sosok Kanaya tiba-tiba saja hilang dari pandangannya. “Kemana dia? Tidak mungkin dia bisa pergi cengan cepat?” “Sudahlah, Sora, jangan memancing perhatian banyak orang. Karirmu bisa dalam masalah.” Temannya berbisik pelan. “Sebenarnya siapa dia?” “Musuhku!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD