Bissmillahirrahmanirrahim
Kringggg ... Kringggg ...
Bel telah berbunyi pertanda masuk. Hari pertama belajar setelah melewati masa orientasi sekolah. Mungkin belajar kali ini di awali perkenalan. Menerima siswa-siswi baru memasuki sekolah pelita harapan. Zafira mendapati kelas 10 Ipa 2, sebenarnya dia ingin masuk Ipa 1, tapi ya sudahlah, masih kelas Ipa juga.
Dia sudah duduk di kursi paling depan, tiba-tiba seorang perempuan yang berjilbab sama dengannya sebahu mengakhiri kearahnya.
"Hai, kenalin gue Fanny!" katanya sambil mengulurkan Gubernur. Zafira pun menahannya dengan uluran tangan.
Dia tersenyum sembari mengatakan. "Hai! Gue Zafira Adelia Herlambang anak dari Fajar Herlambang putri pewaris tunggal Perusahaan Herlambang Corp dan Helena Herlambang." Kata Zafira dengan embel-embel putri pewaris Herlambang.
Sedangkan Fanny, dia melongo suara mendengar Zafira yang berkerja sombong itu. Ternyata Zafira ini anak orang kaya, pikir Fanny.
"Okey, kita temenan, gue boleh duduk disini?" tanya Fanny sambil menoleh tempat duduk kosong yang ada di samping Zafira.
Lalu Zafira mengangguk. "Dengan senang hati," jawabnya lalu tersenyum.
Selain memiliki sifat childish Zafira juga memiliki sifat mudah bergaul dengan siapa saja. Dia orang yang mudah akrab dengan komunitas. Termasuk laki-laki.
Kemudian, Zafira dan Fanny duduk berdua dibangku paling depan. Banyak siswa-siswi yang baru saja duduk karena sebentar lagi kelas akan dimulai.
"Hai, kenalin gue Sindy," ucap siswi berbadan tinggi, hidung mancung dan memakai jilbab seperti Zafira itu memperkenalkan dirinya.
"Gue Zafira," kata Zafira meminta siswi yang melanjutkan ke arahnya.
"Gue Aurel!" ucap salah satu teman Sindy yang Zafira yakini Aurel adalah orang non-muslim. Terlihat dari cara berpakaiannya yang tidak menggunakan jilbab dan memakai rok selutut dan lengan pendek.
"Zafira, senang berkenalan dengan Lo, sekarang kita teman," kata Sindy.
Lalu, mereka pun berteman. Zafira memandang memandang agama dalam pertemanannya. Karena perbedaan tak menjadi masalah untuk berteman. Jika mereka baik, maka Zafira pun akan baik pula.
"Selamat Pagi anak-anak!" sapa seorang guru lelaki berkaca mata min yang baru saja memasuki kelas.
Lantas semua murid yang sapaan guru tersebut.
"Baiklah, perkenalkan nama bapak Hasan Basri, kalian bisa panggil saya Pak Basri, saya menjadi wali kelas 10 Ipa 2," tutur Pak Basri.
"Iya Pak!" seru murid yang ada di kelas.
"Oke mungkin kali ini diawali perkenalan dulu, silakan perkenal diri masing-masing dari mulai pojok sana," kata Pak Basri yang menunjuk ke arah pojok kanan.
Satu persatu mereka memperkenal diri mereka kepada teman-teman barunya. Kini, saatnya Zafira yang memperkenalkan dirinya.
“Perkenalkan nama Gue Zafira Adelia Herlambang, gue putri dari Fajar Herlambang Direktur Utama di Perusahaan Herlambang Corp dan Helena Herlambang. Gue putri pewaris tunggal dari keluarga Herlambang,” ucapan Zafira berhasil membuat teman-teman sekaligus wali kelasnya melongo menatapnya. Sedetail itukah ia memperkenalkan dirinya? Atau dia ingin menyombongkan keluarganya? Ah sudahlah, tidak usah dipikirkan.
"Wah, ada putri pak Fajar Herlambang di Sekolah ini, bapak kenal dengan pak Fajar. Dia pengusaha sukses sejagat raya," kata pak Basri lupa perkataan Zafira.
"Iya Pak, Papa saya memang orang kaya," jawab Zafira.
Semua teman-teman sekelasnya hanya memperhatikan Zafira. Disini, hanya Zafira yang berani memperkenalkan keluarganya. Yang lain hanya memperkenalkan nama dan asal sekolah saja. Berbeda dengan dirinya.
"Ya sudah, kita mulai saja pelajaran pertama," kata Pak Basri memberikan materi tentang pelajaran yang dia ajarkan.
***
Seorang lelaki berkaos putih dan celana training sedang memantulkan bola basketnya, menggiring bola itu sampai pada ringnya, lalu dia memasukkan bola tersebut hingga masuk.
Si ketua osis yang terkenal dengan ketampanan sekaligus ke-solehannya membuat para siswi merebutkan dirinya. Bukan hanya itu, sikap yang dinginnya membuat para siswi gemas saat melihat sikapnya yang dingin, namun datar. Selain ketua osis, dia juga berubah sebagai ketua basket di sekolah Pelita Harapan. Siapa lagi kalau bukan Muzakki Adithya Gautama atau yang biasa dipanggil Zakki. Lelaki berwajah tampan yang membuat para siswi antri untuk melihatnya.
Saat ini, dia sedang berada di lapangan basket sendirian. Zakki adalah siswa kelas dua belas semseter satu.
Sejak kelas 10 dia memang sudah memasuki keranjang Estrakulikuler. Masa jabatannya tinggal beberapa minggu lagi, karena dia akan melaksanakan ujian akhir sekolah dan ujian lainnya untuk menentukan lulus atau tidaknya murid.
Zakki adalah murid teladan bagi para siswa. Sebab, dia selalu melaksanakan salat dhuha. Dia juga salah satu siswa yang paling dicari di Sekolah Pelita Harapan. Ketampanannya lah yang membuatnya populer. Namun, Zakki tak pernah besar kepala atau sombong, karena memiliki wajah tampan. Baginya memiliki wajah tampan membuat dirinya risih, karena banyak para siswi yang memandangnya.
Zakki juga memiliki sikap cuek terhadap perempuan, namun itu tak sejalan dengan Mama dan adik perempuannya. Dia sangat menyayangi dua wanita itu.
"Zakki!" panggil seseorang dari luar lapangan. Kemudian, Zakki menoleh ke sumber suara.
Gadis berjilbab itu pun menghampiri Zakki yang sedang berdiri di depan ring sambil menggenggam bola basket.
Zahra Naomi, teman sekelas Zakki yang berasal dari jepang. Namun, Zahra sudah lama menetap di Indonesia karena ikut dengan sang Papi untuk pengaturan perusahaan.
Zahra suka Zakki karena Zakki lelaki yang soleh. Dia menyodorkan sebotol air mineral untuk Zakki.
"Ini minum buat kamu, pasti kamu capek," ucap Zahra kemudian tersenyum memandang Zakki.
Zakki yang merasa risih mendapat tatapan seperti itu, dia lantas menundukkan kepalanya.
"Terima kasih," ucapnya setelah mengambil air mineral yang diberikan Zahra.
"Kamu sendirian?" tanya Zahra lagi. Namun, Zakki hanya mengangguk.
Zakki berjalan menuju deretan kursi yang ada di lapangan untuk penonton. Dia duduk di salah satu kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Dia menenggak air mineral itu sampai tandas. Sedangkan Zahra, sedari tadi dia hanya mengikuti Zakki.
Zahra duduk di samping Zakki, sebenarnya Zakki merasa sangat risih dengan Zahra. Namun, dia juga tidak bisa mengusir Zahra, karena ini sudah baik padanya.
Zakki juga kagum pada Zahra, dia mampu menjalani masa hijrahnya. Zahra adalah seorang muallaf. Yang Zakki tahu, Mamanya Zahra seorang Kristen Katholik, namun Papanya Islam. Disinilah Zahra, dia ikut dengan sang Papa karena dia ingin menganut agama islam. Sejak perpisahan Sang Papa dengan Mamanya, Zahra sangat jarang berkunjung ke negara kelahirannya yaitu Jepang.
Zakki juga merasa nyaman saat mendengar pemandangan indah itu. Ya, sudah tiga tahun Zakki dan Zahra berteman. Namun, perasaan Zahra berbeda dengan Zakki. Jika Zahra menyimpan sebuah harap agar dijadikan pacar Zakki. Akan tetapi, Zakki hanya menanggap Zahra sebagai teman saja. Tidak lebih.
Zakki juga paham, dia harus menuntun pesan agar tak lagi salah dalam memilih.
"Aku mau ke kantin," kata Zakki beranjak dari duduknya. Namun, Zahra memandang kepergian Zakki. Zahra sangat berharap, Zakki harapan perasaan yang tumbuh ini. Bukan hanya sebagai sahabat tapi lebih dari itu.
"Sampai kapan kamu peka terhadap perasaanku Zak?" tanya Zahra pada dirinya sendiri.
Zakki berjalan dengan langkah cepat, dia memutuskan untuk ke arah kantin.
Brukkk!
Tiba-tiba dia tidak sengaja menabrak seseorang. Namun, tatapan berhenti pada sosok yang dia tabrak tadi. Matanya tak berkedip, Astaghfirullah, Zina mata Zak!
Lantas dia menggelengkan sebuah kepala, menepis segala pikirannya.
"Maaf!" hanya kata itu yang Zakki ucapkan. Lantas dia memasuki kantin. Tak baik untuk kesehatan jantungnya. Maka dari itu, dengan cepat Zakki menghindari sosok yang dia tabrak itu.
Entah mengapa jantungnya merasakan gejolak aneh. He dia sedang ... jatuh cinta. Mungkin.
***