2. Zafira Adelia Herlambang

981 Words
Bissmillahirrahmanirrahim         Seorang siswi sedang berdiri menghadap tiang bendera Sekolah. Papan nama yang menggantung di lehernya bertuliskan 'Saya Terlambat' membuat dirinya menunduk malu. Terlebih dia adalah siswi baru di sekolah pelita harapan yang membuat dirinya malu. Terlambat adalah hal yang paling tidak dia sukai. Namun, karena dia kesiangan jadilah terlambat. Papan nama yang ada didepannya itu ia jadikan sebuah penghalang untuk menutupi wajahnya, bukan hanya karena malu tapi juga panas.    Matahari menyorot membuat dirinya sedikit meringis. Sudah sejam dia berdiri di depan tiang bendera, membuat kakinya lemas. Dia menghentakkan kakinya, kesal.    "Huh  ... sampai kapan gue di hukum kayak ginih," keluhnya sambil menghela nafas gusar.     Tiba-tiba sebuah tangan kekar mengangkat papan nama miliknya sehingga wajah yang tadi menunduk kini mendongak karena ada seseorang yang membuat dirinya mendongakkan kepalanya.     "Saya tunggu diruang osis!" katanya dengan nada dingin. Lantas berjalan menuju ruang osisi.        Zafira yang melihat itu mendadak kesal dengan ketua osis kutub itu. Wajah datarnya, nada dinginnya membuat Zafira tak suka dengannya. Tampan sih, tapi sayangnya Zafira tak menyukai lelaki itu.      Zafira melangkah cepat mengikuti lelaki tadi. Dia berjalan di belakang ketua osis itu, namun keningnya menabrak sesuatu yang membuatnya berhenti. Dia mendongak dan ternyata sebuah punggung lelaki itu yang dia tabrak. Allahu... kenapa bisa menabrak sih... dalam hatinya merutuki kebodohannya. Melihat wajah datarnya membuat Zafira menunduk kembali.      "Kenapa diam?" tanya lelaki itu lalu diam kembali.     Sejujurnya Zafira tidak suka dengan nada dinginnya itu. Zafira lebih menyukai lelaki yang romantis dan tidak dingin seperti lelaki itu tentunya.      "Maaf kak," lirihnya. Hanya itu yang bisa Zafira katakan.       "Silakan masuk!" serunya dan Zafira pun memasuki ruang osis. Tidak hanya mereka saja yang berada didalam ruangan. Namun, ada kakak-kakak osis lainnya. Dan itu membuat Zafira menahan malu. Sebab, papan nama itu masih setia menggantung di lehernya. Ada yang memandangnya tak suka dan ada yang sedang menahan tawa karena melihat dirinya terlambat. Zafira jadi kesal melihat itu.      "Kalian lanjutkan tugasnya, biar saya yang introgasi siswi ini," kata lelaki yang bername tag Muzakki Adithya G. Ketua osis sekaligus ketua basket di sekolah pelita harapan.        "Silakan duduk!" Zafira hanya mengangguk. ***       Zafira terus menggerutu kesal karena kejadian tadi pagi. Kini dirinya mendarat tubuhnya di sofa ruang keluarga. Melempar tasnya asal, lalu merebahkan tubuhnya.     "Kenapa sih harus terlambat," ucapnya dengan nada kesal. Dia kesal karena sudah terlambat. Terlebih dia sangat kesal dengan ketua osis yang sok alim dan sok tampan itu. Apa-apaan mempermalukan seorang Zafira didepan kakak-kakak osis yang lainnya. Zafira berhasil dibuat malu oleh lelaki yang Zafira ketahui namanya Muzakki.     Pertama kalinya dia bertemu lelaki yang super dingin plus datar dan menyebalkan itu. Zafira cukup diam saat lelaki itu mempermalukannya.     "Kenapa sih Za?" tanya Helena--Mama Zafira yang baru saja duduk di sofa dekat Zafira.          Zafira mengubah posisinya yang tadi tiduran sekarang menjadi duduk.       "Aku kesal aja Ma, hari pertama masuk sekolah malah kena hukuman, udah dibuat malu sama ketua osis kutub lagi," ucap Zafira penuh kekesalan.    Mamanya tertawa. "Lagian siapa juga yang bangunnya kesiangan?" tanya Mamanya membuat Zafira meringis kesal. "Padahal Mama sudah bangunkan, tapi kamunya yang susah dibangunin" lanjut Mamanya.     Zafira mencebikkan bibirnya. "Tapi kan gak mempermalukan Zafira juga Ma," rengeknya membuat Mama Helena menggeser duduknya di sebelahnya.    "Memang dia nyuruh apa ke kamu?" tanya Mama Helena pada Zafira.     Kemudian Zafira menceritakan semua yang terjadi saat di sekolah tadi.      "Bacakan surah Al-Mulk ayat ke sepuluh" kata Muzakki yang menyuruh Zafira membacakan ayat Al-Quran.      Zafira membulatkan matanya. Sumpah demi apapun Zafira tidak hafal. Yang dia hafal hanya surah Al-ikhlas, An-Nas dan Al-Falaq. Surah tiga kul saja yang dia hafal.     "S--saya ... tidak hafal kak," jawab Zafira pelan tapi masih terdengar.     Lelaki itu menghembuskan nafasnya. Lalu mengambil Al-Quran yang ada di rak buku. Karena ruang osis pun memiliki rak khusus untuk menyimpan buku-buku anggota osis jika mereka sedang mengerjakan tugas membuatnya mudah untuk mencarinya.     Muzakki menyodorkan Al-Quran yang ada di genggamannya.      "Silakan baca ini," ucapnya sembari menunjukkan ayat yang dia sebutkan tadi.     Dengan nafas yang tidak teratur, jantungnya berdegup kencang. Zafira melantunkan ayat sepuluh dari surah Al-Mulk itu. Dengan suara pelannya, dia mengalunkan surah Al-Mulk. Bacaan yang dia lantunkan masih terbata, sebab Zafira masih belajar. Itu pun harus di marahi oleh mama dan papanya baru dia mau belajar Al-Quran. Jika tidak, maka Zafira tidak akan belajar itu.     Setelah selesai, akhirnya Zafira bernafas lega. Dia hanya takut banyak tajwid yang salah di lafalkan. Karena untuk masalah tajwid, Zafira masih belum mengerti. Apalagi hukum Mad. Zafira bingung dengan tanda baca Mad, karena dalam Ilmu tajwid hukum Mad memiliki cabang. Mad Far'i yang memiliki 13 cabang itulah yang membuat Zafira kesulitan untuk belajar tajwid. Makhrojnya pun kurang, apalagi tahsinnya.    "Jadi gitu Ma, Za disuruh baca Al-Quran. Mana bacaan Za kurang bagus didengar sama kakak-kakak osis lagi," kata Zafira setelah menceritakan masalah tadi.     "Bagus dong Za, itu artinya ketua osis kamu, ingin tahu apa kamu bisa baca atau tidak," jawab Mama Helena sambil mengganti channel tvnya.       "Tetap aja Za malu Ma, karena Za jarang banget ngaji," kata Zafira pelan.      "Itu artinya Za harus rajin ngaji lagi," balas Mamanya yang masih fokus pada siaran tv kesukaannya.     Zafira hanya diam menanggapinya. Dia jarang sekali mengaji, membuka Al-Quran saja dia jarang apalagi melantunkan ayatnya. Zafira terlalu banyak bermain dengan teman-teman di Mall, sehingga membuatnya lupa walau hanya satu ayat dia bacakan.     Zafira memang masih awwam dalam Ilmu agama. Jilbabnya pun masih asal-asalan dan tak menutup dadanya. Walaupun Mamanya berjilbab Syar'ii, tapi dia enggan seperti Mamanya. Dia bilang ribetlah, gerahlah. Padahal bukan itu yang menjadi masalahnya. Karena berjilbab menutupi aurat bukan malah memperlihatkan aurat. Karena banyak sekali perempuan di luar sana yang memakai jilbab tapi masih saja memperlihatkan tubuhnya. Apalagi yang memakai celana jeans ketat, padahal pakaian muslimah itu yang longgar bukan ketat. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD