Hari pernikahan akhirnya tiba. Calon pengantin sedang didandani di ruangan yang berbeda meski masih berdekatan jaraknya. Tidak ada yang menemani masing-masing dari mereka karena yang lain juga sedang bersiap diri dan dihadang dengan beragam kesibukan. Maklum, pernikahan tidak melibatkan banyak orang hingga yang di sana kalang kabut dibuatnya.
Pernikahan akan dilangsungkan sesuai dengan keinginan Abikara dan Kala yakni tidak ramai dan hanya akad saja. Tidak ada pesta dan tidak banyak yang tahu pastinya. Sangat sederhana, tapi akan terkesan tertutup dan dianggap menyembunyikan hal buruk, seperti karena hamil di luar nikah misalnya. Bahkan tidak semua tetangga dihadirkan karena tetap ingin mencipta pernikahan yang tenang dengan tidak melibatkan banyak orang.
Keinginan untuk melangsungkan pernikahan secara sederhana tersebut tentunya membuat dua keluarga terkejut, terlebih lagi dengan keluarga Kala yang sebelumnya telah berkeinginan mengadakan pesta yang besar dan mewah. Keluarga Kala yang berkecukupan itu tentu tidak akan membiarkan pernikahan anaknya sederhana, terlebih lagi Kala sudah seperti anak tunggal yang hanya akan dinikahkan sebab adiknya tidak memungkinkan untuk melakukan hal serupa. Namun, keluarga juga tidak bisa berbuat lebih sebab keinginan dari tokoh utama dalam pernikahan jauh lebih penting untuk direalisasikan. Toh, mereka benar-benar mau menikah juga sudah merupakan suatu kehebatan.
Perempuan yang sebelumnya hanya terlihat memakai pakaian serba hitam atau kelabu, hari ini dia memakai pakaian berwarna putih. Warna yang tidak disukainya karena dia punya pemikiran bahwa putih hanya akan membuat dirinya terlihat berkulit gelap. Padahal, dia sangat cantik memakai kebaya putih itu dan kulitnya tetap terlihat cerah.
"Jangan yang merah, warna nude saja, Mbak!" pinta Kala ketika MUA ingin mengoleskan lip cream berwarna merah merona di bibirnya yang cantik itu meski jarang dilengkungkan, dia jarang tersenyum. Kala tidak menyukai segala sesuatu yang berlebihan. Dan menurutnya, warna lip cream yang akan dioleskan di bibirnya itu berlebihan, dia tidak mau. Padahal yang lain akan menganggap itu biasa, tidak berlebihan sama sekali.
"Tapi, nanti terlihat pucat, saya yang dimarahi yang lain karena akan dianggap tidak becus," ujar MUA yang sedang berusaha meyakinkan Kala.
Kala tidak memedulikannya, kali ini tidak ada yang boleh memberi warna norak dalam hidupnya. Dia beranjak dari duduknya dan mengambil lip cream yang biasa dia pakai. Dioleskan sendiri ke bibirnya karena tidak akan membiarkan lip cream milik MUA yang warnanya tidak disukai olehnya itu mewarnai bibirnya. Sementara MUA hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa mengelak lagi karena harus menghormati keinginan kliennya. MUA tersebut agaknya juga sedang bersiap untuk mendapat kritik yang kurang sesuai akibat kelakuan Kala.
Rias wajah akhirnya selesai, kini tinggal penataan rambut. Biasanya rambut lurus sebahu itu dikepang dua atau hanya dijepit dengan jedai. Bahkan, biasanya juga dibiarkan begitu saja hingga terkesan tidak pernah dirawat. Kali ini akan ditata semestinya hingga Kala terlihat semakin cantik. Jiwa perempuannya akan keluar pula, Kala pasti terlihat tidak seperti biasanya.
"Kamu kan sudah sepakat kalau hanya memberitahu teman dekatmu, tapi kenapa kado yang datang banyak seolah banyak pula yang tahu pernikahan ini!" gerutu Abikara tiba-tiba memasuki kamar Kala yang dijadikan ruang rias. Dia sudah selesai dirias tipis-tipis dan memakai pakaian yang semestinya. Ketika keluar dia mendapati banyak kado berdatangan, maka dari itu segera meminta penjelasan dari Kala yang barangkali tahu sebab mulanya.
Kala agak terkejut dengan kedatangan Abikara yang tiba-tiba itu. Dia juga jadi bingung kenapa bisa seperti yang dikatakan Abikara.
"Saya hanya memberitahu Dewi, dia juga tidak mengirimkan kado karena saya sudah melarangnya. Dewi juga tidak mungkin membocorkan hal ini ke teman-teman yang lain."
Ada sedikit keraguan di kalimat yang diucapkannya sendiri. Entah kenapa Kala jadi agak ragu dengan Dewi. Dia memang sudah berteman lama sejak semester satu, namun belum sempat bertemu secara langsung dan hanya tahu Dewi sekilas. Dan yang Kala tahu Dewi memang orang baik yang bisa diajak bekerja sama untuk menyembunyikan hal ini.
Dari awal sebenarnya Kala juga tidak ingin memberitahu, hanya saja dia sempat salah bicara dan justru memancing rasa penasaran. Jadilah Kala bercerita padanya. Dia berharap bahwa Dewi adalah orang yang berada di pikirannya, yakni sepenuhnya orang baik.
Sedang Abikara kini masih terhenyak mendengar perkataan perempuan yang masih ditata rambutnya dan tidak terlihat seperti apa wajahnya karena terhalang penata rambut. Abikara jadi bingung sendiri kenapa banyak kado yang berdatangan sementara yang tahu pernikahan ini sedikit, bahkan teman Kala yang diberitahu hanya satu orang. Sedang Kala terus saja yakin bahwa kado-kado itu tidak ada yang dari temannya karena hanya Dewi yang dia beritahu dan sedari awal sudah dilarang untuk tidak memberi apapun pada Kala.
"Lalu, dari mana kado-kado itu? Sekarang ada yang mengirim karangan bunga juga, tuh." Abikara semakin bingung ketika melirik ke luar rumah di mana memang ada karangan bunga yang baru saja datang diangkat oleh beberapa orang suruhan.
"Mana saya tahu!"
Sebenarnya Kala juga heran kenapa ada banyak yang mengirimkan kado dan bahkan karangan bunga, padahal tidak ada yang tahu pernikahan ini selain keluarga dan satu teman dekatnya, Dewi. Sepertinya Ayahnya yang tidak memenuhi janji, dia pasti juga memberitahu rekannya yang lain meskipun tidak diminta untuk hadir di pernikahan. Biar, lah, sudah telanjur pula. Tidak ada waktu juga untuk memperbincangkan hal ini. Setelahnya, Abikara bergegas meninggalkan ruangan itu. Dia agaknya masih penasaran dan mencoba mencari tahu hal yang membingungkannya.
Tak berselang lama. Acara sederhana yang diadakan di taman rumah keluarga Pak Bagas pun dimulai. Tak berselang lama pula Kala dan Abikara telah sah menjadi sepasang suami istri. Keduanya terlihat kosong, tapi lambat laun tersadar dan mulai menerima ketika orang sekitar berseru.
Tangan Abikara yang kekar meski usianya tidak lagi muda itu dikecup Kala. Ini kecupan seorang istri yang diharapkan orang sekitar akan selalu seperti ini sampai kapan pun. Sebagai bentuk hormat dari istri kepada suaminya pula, katanya. Tapi, bagi Kala ini hanya sebuah drama yang dijalankannya karena suatu tuntutan. Kala mencium tangan Abikara hanya untuk memenuhi keinginan orang sekitarnya yang kemudian menciptakan senang untuk mereka.
"Santai saja! Lagi pula siapa yang mau berlama-lama mencium tangan Mas Abi!" bisik Kala ketika Abikara terlihat tidak nyaman setelah tangannya dikecup olehnya. Dia jadi kesal karena Abikara sok-sokan jijik, padahal harusnya dia yang begitu. Kala pun rasanya ingin sekali menggigit tangan Abikara supaya kesakitan.
"Risih!"
"Emang Anda saja yang risih? Saya juga risih!" Kala tidak kalah galak. Dia bahkan juga tidak segan-segan melototkan matanya pertanda dia kesal, meski apa yang dilakukannya itu tidak berlangsung lama.
Perkataan yang tadi tidak ditanggapi, Abikara mendapat kode dari Ibunya untuk mengecup kening Kala. Demi Ibunya, dia pun segera melakukannya. Dengan cepat, membuat Kala terkejut karena tidak ada aba-aba sebelumnya. Hampir saja dia menampar bibir Abikara karena kejadian itu. Tapi, beruntungnya, dia tidak melakukannya sebab melihat Ibunya yang seolah mewanti-wanti untuk tidak melakukan hal buruk dan juga memalukan.
Berlangsung tidak lama dan benar-benar sederhana sesuai dengan perintah pengantin, terkesan tidak serius juga padahal yang terjadi adalah hal yang tidak main-main. Seolah memang ada yang direncanakan pula dari keduanya hingga jika tidak dipatuhi keinginan tersebut, rencana mereka akan kacau. Ah, biar menjadi urusan mereka saja. Lagi pula para keluarga sudah sangat senang karena pernikahan dilangsungkan meski tidak sesuai dengan ekspektasi sejak awal. Sederhana juga tidak masalah, yang berlebihan justru juga tidak sepenuhnya baik.
Kala yang termasuk kategori manusia introvert itu segera mandi dan beristirahat di kamarnya. Dia merasa lelah sekali meski hanya melayani tamu yang merupakan keluarga dekat dan itu pun jumlahnya sedikit. Tapi, tetap saja jiwanya lelah. Dia paling tidak bisa berinteraksi dengan banyak orang sekalipun keluarganya sendiri. Kala akan selalu merasa lelah jika berinteraksi dengan terlalu banyak orang. Maka dari itu dia memilih untuk sendiri dan jarang bersosialisasi.
"Kita malam ini di sini dulu, besok sore baru ke rumahku," ucap Abikara setelah masuk ke kamar Kala dan tidak lupa menutup pintunya. Dia memberitahu hal itu karena dirasa penting. Sedari awal dia dan Kala tidak ada obrolan terkait mau tinggal di mana setelah menikah. Abikara sendiri tentu tidak akan berlama-lama tinggal di rumah mertuanya sekalipun nyaman tempatnya, dia tidak enak karena takut merepotkan. Agaknya, banyak juga yang perlu diperbincangkan dengan Kala mengingat setelah ini juga akan terus berurusan dengan perempuan itu.
Dia baru tahu kalau Kala tidur setelah mendekat ke ranjang. Abikara berkacak pinggang dan menatap perempuan yang wajahnya terlihat lelah itu tertidur pulas. Tidurnya cantik sekali, miring ke kanan dan memeluk guling. Tidurnya tidak pecicilan. Semakin sadar Abikara ketika melihat Kala yang rupanya benar-benar masih muda dan usianya terlampau jauh darinya. Banyak hal yang tentu bertentangan dan menyulitkan ke depannya. Apapun itu, Abikara berharap dia tidak akan terlalu kesulitan menjalani hubungan yang tidak pernah terduga sebelumnya.
Lama dia menatap perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Abikara segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Akhirnya dia terbebas dari jas yang membentuk lekuk tubuhnya dan membuatnya tidak nyaman. Itu merupakan pakaian yang selalu dihindari Abikara selama ini. Namun, karena pernikahan, maka dia merelakan diri mengenakannya.
Dia melupakan hal yang sangat penting yaitu handuk dan alat mandi. Tadi hanya dibawakan dua pasang baju untuk malam ini dan juga besok pagi. Tidak ada alat mandi yang bisa dipakainya. Perihal sabun dan sampo dia bisa memakai milik Kala, tapi untuk sikat gigi bagaimana? Lelaki itu mencoba membuka laci yang ada di bawah cermin. Ternyata isinya adalah stok perlengkapan mandi dan ada sikat gigi baru di sana. Ah, orang kaya memang berbeda. Tidak akan dibiarkan pusing seperti Abikara yang terkadang kebingungan kehabisan sampo ataupun yang lainnya dan tidak tahu bagaimana mendapatkan secara cepat.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Abikara kembali dibingungkan harus bagaimana setelah ini. Kala pun belum bangun, masih tidur dengan posisi awal. Entah kenapa bisa seperti itu, tidur tanpa petingkah.
Akhirnya dia duduk di kursi menghadap meja belajar Kala dan membuka ponselnya. Ramai sekali chat yang diterimanya dan isinya sangat mengejutkan yakni berupa ucapan selamat atas pernikahannya. Sial, dia hanya memberitahu Aziz. Ternyata teman dekatnya itu tidak bisa diam, yang lain diberitahu juga sekalipun sudah diberi wejangan untuk tetap diam sebab Abikara membiarkan semuanya tahu dengan sendirinya.
"Banyak sekali kata-kata pemberontakan dan luapan kekesalan di sini," celetuk Abikara ketika menyadari bahwa ada tulisan-tulisan di meja belajarnya Kala yang dia yakini sebagai pemberontakan dan luapan kekesalan yang sekaligus menjadi pembelaan diri anak itu.
Ada pernyataan pula bahwa dia tidak akan menikah? Apa sebabnya? Abikara penuh tanya. Dia lantas menghubungkan hal ini dengan perkataan Ibunya yang katanya dia dan Kala akan saling membantu. Apakah saling membantu untuk hati yang kacau? Tidak tahu jelasnya seperti apa, Abikara akan mencari tahu detailnya perlahan. Jujur, dia merasa bahwa yang terjadi dengan Kala bukan hal biasa.
"Abi... Kala...."
Seruan seseorang di balik pintu membuyarkan pemikiran Abikara. Dia segera menghampiri dengan membukakan pintu terlebih dahulu. Rupanya Bu Kusuma yang datang.
"Sudah bersih-bersih, Abi? Kala bagaimana?" Bu Kusuma bertanya sembari menelisik ke dalam kamar. Rupanya anaknya sedang tidur.
"Sudah, Kala sepertinya juga sudah bersih-bersih. Tapi, dia tidur. Mungkin kelelahan," jawab Abikara dengan sopan. Lebih tepatnya, dia terlihat canggung dengan perempuan yang sebenarnya harus dianggap seperti Ibunya sendiri.
"Biarkan saja, lah. Nanti kalau sudah maghrib, keluar, ya. Kita makan malam bersama."
Rupanya untuk memberitahu hal itu. Bu Kusuma segera meninggalkan kamar dan membiarkan pengantin baru itu istirahat sebentar.