Telat Empat Menit

1501 Words
Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa ada sesuatu di balik pernikahan Abikara dan Kala digelar sederhana. Bukan karena keduanya berjiwa introvert. Bukan karena menghemat biaya. Karena tidak mau banyak orang tahu bahwa mereka adalah sepasang suami istri, bisa jadi. Banyak hal yang sungguh di luar dugaan. Akan tetapi hal tersebut tentunya masih bisa diatasi meski dengan cara yang tidak semestinya. Dosa atau tidaknya agaknya juga tidak akan diperkarakan lagi. Buruk atau tidaknya dampaknya nanti juga tentu tidak akan dipermasalahkan kembali. Apapun konsekuensinya akan diterima. "Kita harus bertemu, Kala." "Untuk apa? Buang-buang waktu saja!" "Membicarakan hal penting. Besok jam 16.00 di restoran ayam goreng yang paling dekat dengan rumahmu." "Nggak mau. Besok Kala sudah mati, nggak bisa bicara. Temui saja jasadnya di rumah, bukan di restoran ayam goreng." "Bicara dulu denganku, baru mati!" Percakapan melalui pesan singkat itu membuat Abikara kesal. Meski demikian, Abikara tentunya menganggap perkataan Kala itu bercanda dan ditanggapi bercanda pula olehnya. Tapi, Abikara juga tentunya memikirkan sebab kenapa perempuan itu bisa berkata demikian. Tepat seminggu sebelum pernikahan digelar, Abikara saat itu dilanda kebingungan. Dia enggan untuk melangsungkannya, tapi di sisi lain dia juga tidak bisa menolak keinginan orang tuanya, terutama Ibunya. Kenapa makhluk di dunia harus berpasangan sedangkan sendiri jauh lebih menyenangkan? Pertanyaan itu terus saja muncul meski Abikara sendiri tahu jawabannya. Dia sungguh mencintai kesindirian meski ketika berada pada situasi yang kurang berkenan, dia juga merasakan ketidaknyamanan. Namun, itu bukan hal yang parah, tetap bisa dinikmati sedemikian rupa oleh dirinya. Hal konyol pun akhirnya terlintas di pikirannya. Dia meminta Kala menemui dirinya yang ingin mengutarakan sesuatu. Kekonyolan itu perlu sekali diketahui oleh Kala karena akan melibatkan perempuan itu. Bahkan, perempuan itu akan sama-sama menjadi tokoh utama seperti Abikara nantinya. Jarak ke rumah Kala dua jam, tapi Abikara tidak memedulikannya dan memilih untuk meninggalkan sejenak pekerjaannya mengoreksi tugas-tugas mahasiswanya. Hari ini itu saja jadwalnya, tidak ada jadwal mengajar. Oleh karenanya, ini adalah waktu yang tepat untuk menemui Kala. Abikara menjanjikan untuk bertemu sekitar jam empat petang. Sebenarnya mau di pagi atau siang, namun Kala yang tidak bisa karena rupanya masih ada kelas. Meskipun online, Abikara sendiri juga tidak mungkin mengganggu Kala dan memintanya untuk meninggalkan kelas sejenak. Hal ini tidak diketahui langsung dari Kala, melainkan Abikara mencari tahu sendiri. Benar, dari operator program studi yang tentu paham jadwal masing-masing mahasiswa. Hal yang mudah bagi Abikara untuk melakukannya. Namun, yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah kenapa Abikara mau repot-repot untuk itu? Agaknya memang sangat penting hingga semuanya harus dipersiapkan dengan baik. Ketika sampai, Abikara agak kesulitan menemukan Kala. Dia mengira bahwa Kala belum datang. Atau dirinya saja yang belum terlalu menghafal wajah Kala hingga belum menemukannya juga. Dan tidak disadari bahwa Kala sudah berada di kafe yang dijanjikan. Abikara rupanya ingat dengan wajah Kala yang terbilang orang baru dalam hidupnya. "Telat empat menit! Kalau saja lebih satu menit lagi saya tinggal!" seru Kala. Dingin seperti biasa. Dia juga terlihat santai, tapi tentunya tetap kesal karena orang yang menjanjikannya tidak datang sesuai janjinya sendiri. Meskipun empat menit, tapi Kala memang tidak bisa memaklumi jika sudah berhubungan dengan waktu. Seruan itu tentu membuat Abikara lekas menilik jam tangan digitalnya untuk memastikan jam berapa sekarang. Pukul 16.04, benar kata Kala. Tidak disangka bahwa Kala ternyata orang yang sangat perfeksionis terkait waktu. Dia agak merasa bersalah karena datang tidak tepat pukul 16.00. Sebenarnya Abikara sendiri juga seperti itu orangnya, dia sangat disiplin. Entah kenapa ketika ada orang lain yang bersikap itu kepadanya, dia agak tidak terima. Dia lantas berpikir apakah ketika dirinya yang bersikap seperti itu, orang lain juga akan merasa hal yang sama? Entahlah. Abikara tidak akan memusingkan hal ini. Abikara tidak menanggapi perkataan Kala, dia justru segera memesan makanan dan minuman. Kala saja makan, masa dirinya tidak, begitulah alasannya. Setelah memesan makanan yang diinginkannya, baru dia kembali menghampiri Kala. Dia sebenarnya agak bangga dengan dirinya sendiri yang rupanya mampu memperkirakan waktu hingga bisa datang jam empat meskipun telat empat menit. Padahal tadi juga macet sekali, tapi dia bisa mengatasinya. "Seminggu lagi bukan? Kamu sendiri sebenarnya apa senang menikah dengan dosen sepertiku?" Lelaki yang saat itu memakai kaus putih dipadukan dengan kemeja flanel hitam yang dijadikan outer membuka pembicaraan. Abikara langsung menanyakan hal yang menurutnya memang penting untuk ditanyakan. Dia penasaran betul dengan Kala yang ternyata juga mau-mau saja dinikahkan dengan lelaki tua seperti dirinya. Padahal harusnya Kala menolak dan bagi Abikara pernikahan sudah pasti batal. Tapi rupanya pernikahan masih saja berlangsung yang itu berarti Kala juga menyetujuinya. Dia menatap lekat perempuan yang saat itu memakai pakaian serba hitam dan memakai bucket hat berwarna cream. Sedang asyik menyantap burger, lalu memberikan gelengan kepala menanggapi pertanyaan Abikara. Lelaki yang mendapat gelengan kepala itu sedikit tidak sabar mendengar Kala bersuara karena baginya gelengan kepala tidak cukup untuk menjelaskan semuanya. Abikara tentu mau jawaban yang berupa kata kemudian tersusun menjadi kalimat, lalu diucapkan oleh bibir tipis itu. "Seperti apa senang? Apa senang tercipta dari paksaan?" Kala berkata setelah burger yang hampir habis setengah diletakkan kembali ke piring, dia lalu menyeruput minuman soda miliknya. Jika sudah berkaitan dengan senang, Kala kurang suka. Suasana hatinya agak memburuk, maka dari itu dia menghentikan sejenak aktivitas sebelumnya. Kurang dipahami maksud Kala itu bagaimana. Abikara hanya jadi tahu bahwa Kala orangnya sangat cuek, dingin, dan sejenisnya. Orang itu juga seperti mati rasa. Entahlah, Abikara tidak mau menebak lagi Kala itu orangnya yang benar bagaimana. "Tunggu sebentar!" Abikara bergegas ketika pesanannya sudah selesai dan siap diambil. Harusnya memang ditunggu sejenak di tempat menunggu makanan, tapi dia memanfaatkan waktu untuk berbincang dengan Kala. Bagi Abikara, tidak boleh ada waktu yang terbuang sia-sia. Maka dari itu dia memanfaatkan waktunya menunggu tadi dengan baik. Dalam hal waktu, Abikara dan Kala memang cocok. Namun, jodoh tidak hanya dikarenakan satu hal saja bukan? "Lalu, kenapa kamu tidak menolaknya? Atau mungkin kamu sudah menolak, tapi tetap dipaksa. Kenapa tidak melakukan pemberontakan? Bukankah anak seusiamu sangat gencar melakukan hal itu?" Abikara kembali mengajak berbincang sembari menikmati burger miliknya sendiri. Sama seperti Kala yang lebih suka memakan burger di restoran ayam goreng itu dibanding menikmati ayam gorengnya. Sembari makan, dia juga terus menatap perempuan yang semakin asyik menikmati burgernya seolah tidak tahu bahwa ada orang yang menantinya berbicara. Sepertinya Kala juga sengaja terus menerus mengisi mulutnya dengan burger supaya tidak ada aktivitas lain seperti berbicara selain mengunyah. Tidak ada jedanya perempuan itu makan. Ingin rasanya Abikara merebut burger itu dan meminta Kala segera mengosongkan mulut biar bisa lekas bicara. Namun, Kala terlihat menyenangkan ketika makan, Abikara agak takut menghentikannya. Kesal sudah menunggu lama dan tidak mendapat sahutan apa pun, Abikara berhenti dari aktivitasnya. Dia bermaksud menahan tangan kanan Kala supaya tidak bisa menyuapkan burger lagi ke mulutnya. Namun, yang ada malah perempuan itu mengaduh kesakitan seolah ada luka yang tidak sengaja disentuh Abikara. "Sialan!" Kala mengibaskan tangan kanannya seolah mengusir rasa sakitnya. Dan saat itu pula tidak sengaja terlihat oleh Abikara bahwa ada lebam di sana yang sangat memilukan, pantas saja hanya tersentuh, tapi kesakitan. Abikara merasa bersalah, namun dia juga tidak patut disalahkan sepenuhnya sebab tidak tahu apa yang terjadi. Harusnya memang meminta maaf meski tidak salah sepenuhnya, tapi Abikara canggung dan bibirnya justru kaku terdiam. Perempuan itu lekas menetralkan mulutnya setelah tidak diisi lagi. Agaknya Kala tahu apa yang diinginkan Abikara hingga lelaki itu bersikap tidak sabaran seperti tadi. Kala pun akhirnya siap berbicara setelah sakitnya juga sudah tidak terasa lagi. "Sepenting apa saya memberitahu Anda? Ah, penting sekali agaknya sampai tidak sabar menantikan saya bicara. Ya, cuma manusia bodoh yang tidak berusaha menolak. Benar juga kata Anda bahwa anak seusia saya sedang gencar melakukan pemberontakan. Sudah saya lakukan, tapi apa yang ada? Usaha saya selalu dikacaukan mereka. Sampai kapan pun saya hanya akan menjadi b***k yang mematuhi Tuan dan Nonanya. Saya tidak berhak bertingkah seperti yang saya inginkan ataupun saya senangi!" Kala berbicara panjang lebar dengan penuh penegasan. Topi yang dikenakan perempuan itu dilepas hingga tampaklah rambutnya yang selalu pendek, tapi tetap cantik. Dia menyisir rambutnya dengan jarinya seolah sedang mengusir sesuatu. Tentunya kekesalan. Tapi, dia juga terlihat lega usai mengatakannya pada Abikara yang sungguh terlampau ingin tahu. Dia sendiri sebenarnya sangat tertutup orangnya. Kali ini Kala sungguh mengatakannya dengan jelas. Maka dari itu dia merasa lega. Di mata Abikara, perempuan itu terlihat putus asa dan Abikara paham betul kondisi yang menyebabkannya. Dia jadi yakin bahwa usaha untuk menggagalkan pernikahan sudah mati-matian dilakukannya, tapi tetap saja kacau dan tidak berhasil. Agaknya tidak mungkin juga Kala menerima pernikahan dengan mudah karena Kala sendiri juga pasti tahu beragam hal yang berbeda hingga tidak mungkin bersama. Penolakan dan pemberontakan pasti diupayakannya. "Ah, nggak penting!" Kala beranjak dari duduknya dan segera menggapai topi dan ponselnya untuk dibawa pergi. Emosinya semakin memuncak. Kala tidak mau semakin emosi dan sulit mengontrol diri di tempat umum itu. Lelaki di hadapannya memberi kode untuk tidak pergi dan kembali seperti semula. Sudah pasti Abikara tidak akan membiarkan Kala pergi sebelum apa yang dia inginkan tersampaikan dengan baik. "Saya belum meminta kamu pergi. Tetap di tempat!" gertak Abikara dengan tatapan yang tajam. Kala menuruti, dia tersenyum meski sebenarnya siapapun juga tahu kalau anak itu sedang kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD