Mau Bunuh Diri

1500 Words
Pada akhirnya Kala tidak melanjutkan keinginannya untuk meninggalkan tempat tersebut. Bukan karena makanan dan minumannya belum habis, tapi karena memang dia ada sedikit rasa penasaran dengan Abikara yang menahannya. Selain itu, Kala juga enggan untuk kembali ke rumahnya sebab sama saja hanya menemui kacau. "Ternyata benar bahwa tugas saya hanya menuruti keinginan orang lain." Seru Kala dengan kekehan kecil di akhir kalimatnya. Dia menertawakan dirinya sendiri yang memang lucu. Apa yang dikatakannya itu memang seolah benar sebab selama ini Kala memang hanya merasa bahwa dirinya hidup untuk memenuhi keinginan ataupun kesenangan orang lain. Ini bukankah hal yang lucu dan harus ditertawakan? Berbeda dari Kala, Abikara tentunya kurang memahami benar dengan perkataan Kala. Meski demikian Abikara bisa menebak bahwa sebelumnya Kala juga diminta untuk menuruti keinginan orang lain dan kini diminta untuk menuruti keinginan Abikara. Entahlah. Anak seusia Kala memang kadang sukar ditebak apa maunya. Mereka sedang gencar pula untuk berusaha bebas dan selalu merasa bahwa selama ini hidup penuh dengan kekangan. Perbedaan usia antara Kala dan Abikara tentunya menjadi masalah utama. Entah bisa diatasi atau tidak. Tapi, jelasnya, sesuatu yang semesta rancang sudah pasti bisa dinikmati meski akan kewalahan dan bingung pula bagaimana caranya menikmati. "Cepat, apa yang akan Anda inginkan dari saya? Apa lagi yang ingin Anda katakan? Mau menyalahkan saya karena tidak berhasil menggagalkan pernikahan? Tenang, saya masih akan berusaha untuk menggagalkannya. Saya usahakan untuk berhasil!" Hanya itu yang ada di pikiran Kala sekarang. Dia merasa bahwa Abikara juga ingin membatalkan pernikahan. Dosen yang baik dalam segala halnya itu mana mungkin menikahi mahasiswinya yang kurang dalam segala halnya. Pasti Abikara juga menanti usaha yang harus dilakukan Kala hingga kemudian sungguh berhasil. Dari Abikara sendiri masih penasaran dengan langkah yang dilakukan perempuan itu sebelumnya hingga gagal. Dia juga tentunya penasaran dengan langkah selanjutnya yang dikatakan Kala dan diyakini akan berhasil menggagalkan pernikahan. Agaknya langkah tersebut sangat riskan. Abikara agak khawatir. Kala sempat berdecak kesal ketika sudah menunggu cukup lama, tapi Abikara belum juga mengatakan apa maunya. Dan ketika decakan kesal itu terdengar, Abikara baru sadar kalau dia harus segera melanjutkan pembicaraannya dengan Kala. "Jangan digagalkan. Jalani saja, bukankah kamu hidup untuk menuruti keinginan orang lain? Aku pun sama!" Perempuan itu tertawa kecil mendengarnya. Senyum dan tawa Kala sedari tadi terlihat cantik sekalipun terselip kekesalan, Abikara tetap menyukainya. Lelaki itu sendiri berkata seperti tadi karena memang sudah putus asa juga. Di sini posisi Kala dan Abikara benar-benar sama. Keduanya tersudut dan terus menerus diminta untuk memenuhi keinginan serta kesenangan orang lain. Mereka bukan berarti tidak pernah mengusahakan untuk senang dan ingin sendiri. Hanya saja usaha mereka selalu kalah. Bahkan terbilang sia-sia sebab orang lain rupanya jauh lebih berkuasa. "Kita penuhi ingin mereka. Kita tetap menikah, tapi hanya satu tahun," ucap Abikara yang menghentikan tawa Kala. Begitulah inti yang ingin disampaikan Abikara hingga meminta untuk bertemu dengan Kala. Dia ingin mengajak Kala untuk tetap memenuhi permintaan orang sekitar, namun hanya beberapa saat. Tidak selamanya sebab keduanya harus bisa bebas dan mengusahakan senang serta ingin mereka sendiri. "Kenapa hanya satu tahun? Harusnya kan seumur hidup!" Begitu kata Kala. Dia terkejut juga dengan Abikara yang entah kenapa bisa punya pemikiran seperti itu. Padahal harusnya Abikara paham bahwa pernikahan itu seumur hidup, bukan direncakan lama kelangsungannya. "Hah?" Kaget dengan perkataan Kala. Abikara sangat tidak menyangka bahwa Kala justru mengajak selamanya menuruti keinginan orang sekitar. Padahal apa yang ditawarkan Abikara sangatlah menguntungkan keduanya, terutama bagi Kala sendiri yang masa depannya sungguh masih panjang. "Kita senangkan mereka seumur hidup. Tanggung kan kalau hanya satu tahun." Perempuan itu benar-benar pasrah. Dia seolah tidak punya gairah lagi untuk hidup ketika hal yang tidak diinginkan justru diinginkan oleh orang lain dan harus dipenuhi olehnya. Maka dari itu dia akan mendedikasikan hidupnya untuk orang lain. Biar sekalian. Lagi pula jika tidak demikian maka dia justru nantinya akan dihadapkan dengan hal lain di mana masih berupa hal sama, yakni memenuhi keinginan dan kesenangan orang sekitarnya. "Padahal saya sudah siap mati, dengan begitu kan tidak akan ada pernikahan. Anda tidak perlu khawatir. Tapi, kenapa tadi justru melarang? Anda kan yang ngebet banget nikah sama anak seusia saya? Tapi, tadi malah memojokkan saya yang paling senang karena menikah dengan Anda?" Kala kembali tertawa kecil. Dia menatap lelaki yang baginya tidak menarik sama sekali, bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Mr. Gu di drama My Liberation Notes yang sangat disukainya. Dan lelaki itu malah berlagak bahwa dia akan disukai banyak orang termasuk dirinya hingga melayangkan pertanyaan pertama tadi. Sungguh, Kala tidak suka dengan perkataan Abikara yang justru seolah menganggap bahwa Kala memang ingin menikah dengan Abikara hingga tidak melakukan usaha membatalkannya. Padahal Kala sama sekali tidak mau dan tentunya sudah beragam cara dilakukan untuk membatalkan pernikahan. "Jangan mati! Justru akan memperumit keadaan." Awalnya Abikara terkejut dengan perkataan Kala. Dia sendiri yakin bahwa akan ada hal konyol yang dilakukan anak seusianya. Abikara menghentikan karena nantinya justru akan memperumit keadaan. Dirinya bisa saja disalahkan atas kematian Kala nantinya. Dan yang jelas Ibunya akan sangat sedih karena sudah telanjur menyukai Kala. Maka dari itu Kala tidak boleh mati. Namun, sekarang, apakah Kala memang orang yang berani? Apa Kala sungguh akan menepati perkataannya itu? Entahlah, Abikara merasa Kala bisa saja melakukannya. Anak seusia itu memang pikirannya masih kacau, ada sesuatu yang menarik perhatiannya pasti akan diupayakan. Dan yang terjadi pada Kala saat ini seperti itu. "Dalam setahun pernikahan, saya berjanji akan membiarkan dirimu bebas melakukan apa yang kamu inginkan dan senangi. Saya tidak akan menuntutmu menjadi istri yang semestinya. Kita hanya menikah untuk senangnya mereka, selebihnya kita hanya dosen dan mahasiswi. Jika sudah setahun, saya akan berusaha melepasmu dan berkata kepada mereka bahwa kita sudah berusaha menjalani dan ternyata memang tidak cocok," tutur Abikara berharap penuh Kala paham. Semuanya sebenarnya sangat dipahami oleh Kala. Abikara memang terkenal sebagai seorang dosen yang selalu bisa membuat mahasiswanya paham dengan segala halnya. Meski ini bukan pelajaran pun, Kala bisa memahami dengan baik karena penyampaian Abikara yang santai dan jelas. Herannya, Kala tidak tahu kenapa Abikara tetap ingin melanjutkan pernikahan. Sebabnya pasti bukan hal sepele, bukan juga karena perkataan Kala tadi tentang bunuh diri. "Bagaimana? Setuju, kan?" Sebenarnya Abikara yakin bahwa Kala akan menyetujui idenya sebab banyak memberi dampak positif nantinya. Namun, dia tetap saja menanyakannya. Lebih tepat pula jika disebut bahwa dirinya tidak sabar mendengar jawaban Kala yang setuju. Abikara akan pergi setelah Kala mengiyakan. Setelahnya dia juga akan tenang. Mungkin hanya sedikit. "Tidak! Saya tetap tidak mau menikah dengan Anda. Saya akan bunuh diri malam ini!" Penuh tekad. Kala tersenyum tipis menatap lelaki yang merupakan dosennya itu. Pikirannya benar-benar kacau. Dan yang Abikara tarik setelah cukup kenal dengan Kala, dia paham bahwa anak itu memang bisa melakukan apa saja termasuk hal konyolnya. Abikara tetap harus melangsungkan pernikahan jika cara untuk menggagalkannya hanya dengan Kala bunuh diri. "Kala…." Kini giliran Abikara yang tertawa kecil menghadapi anak yang usianya benar-benar jauh darinya begitu pula cara pikirnya. Dan sebenarnya Abikara agak terkejut pula dengan Kala yang entah kenapa tidak menyetujui dengan mudah tawarannya tadi. Cara pikirnya sungguh berbeda hingga mungkin tidak terpikir dampak apa saja yang didapatkan nantinya jika benar-benar menyetujui. "Apa kamu tidak berpikir kalau kamu mati, nanti orang-orang mengira kalau aku yang menyuruhmu?" Memang benar dengan anggapan Abikara itu, namun Kala agaknya tidak terpikirkan sebelumnya. Dan dia tetap saja bertekad untuk bunuh diri. Tidak perlu mengasihani Abikara sebab dirinya sendiri juga perlu dikasihani. Sama-sama perlu dikasihani, tidak perlu mengasihani. "Saya tidak peduli itu. Beneran bodo amat!" "Kala…." Abikara hampir saja meledak amarahnya. Dia berusaha untuk menahannya karena takut jika dia marah Kala akan semakin menjadi-jadi. Jelasnya, Abikara harus berhati-hati jika berhadapan dengan anak seusia Kala. Begitulah yang Abikara pelajari dari orang yang sempat dekat dengannya. Di sisi lain, perempuan itu menghela napas. Dia tidak mengerti lagi mengapa lelaki di hadapannya itu tetap menginginkan pernikahan. Padahal ada cara supaya hal menggelikan itu tidak terjadi. Dan cara itu adalah dengan Kala bunuh diri. Sungguh, Kala sangatlah bersedia untuk bunuh diri. Dia bersiap merelakan dirinya supaya hal bodoh yakni pernikahan tidak dilangsungkan. Barangkali memang ada cara lain selain bunuh diri, namun cara tersebut tentunya hanya akan menghentikan pernikahan. Kala ingin berhenti dalam segala halnya sebab dia yakin jika memang nanti pernikahan dibatalkan dan dirinya tetap hidup, maka dia akan terus dituntut untuk memenuhi keinginan dan kesenangan orang lain. Sungguh, Kala sudah lelah dengan semuanya. Dia ingin lekas mengakhirinya. Agaknya ini akan lebih panjang. Sudah banyak waktu yang dihabiskan Abikara, namun perempuan di hadapannya belum mengerti pula dengan kondisi yang ada. Kala justru memperumit keadaan. Ini benar-benar di luar dugaan pula sebab sebelumnya Abikara hanya terbayang bahwa Kala akan mengikuti sarannya yang sebelumnya telah diprediksi hanya akan memberikan dampak positif bagi keduanya. Nyatanya Kala justru enggan dan bersikeras untuk melanjutkan rencana konyolnya. Abikara bingung harus bagaimana lagi menghadapinya. Semesta agaknya juga tidak membiarkan hal yang dari awal sudah rumit ini dipermudah meski tidak sepenuhnya. Semakin rumit keadaannya yang ada. Semesta seolah tidak mau berpihak pada Abikara ataupun Kala. Entah selamanya tidak mau, atau belum mau hingga nantinya bisa berpihak. Jika memang seperti itu, kapan semesta berpihak pada mereka berdua atau satu di antara mereka?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD