"Anda sebenarnya seperti laki-laki lain kan yang menginginkan tubuh seorang perempuan untuk dinikmati setiap malamnya? Maka dari itu menginginkan saya menikah dengan Anda? Baik! Saya akan menikah dengan Anda, saya tidak akan bunuh diri. Nikmati tubuh saya!"
Nada Kala tidak tinggi, dia paham di mana posisinya saat ini yang mengharuskan dirinya tidak berisik supaya tidak mengganggu yang lainnya. Namun, rupanya usahanya untuk tidak menaikkan nada itu gagal, tetap saja terdengar oleh banyak orang.
"Nikmati saja tubuh saya!"
Dan ketika itu mulut Kala segera ditutup dengan telapak tangan Abikara. Lelaki itu tersenyum dan menundukkan kepala kepada beberapa orang sekitar yang menatap mereka. Dia harus meminta maaf karena Kala telah mengganggu ketenangan mereka saat makan.
Sedang Kala justru segera menggigit telapak tangan yang menutupi mulutnya itu, sebenarnya tidak hanya mulut melainkan juga hidung hingga Kala sesak napas. Setelah Abikara mengaduh dan melepas telapak tangannya, Kala lantas berkata, "Tadi menyuruh saya untuk tidak bunuh diri, tapi nyatanya malah Anda mencoba membunuh saya."
"Hah? Apa maksudnya?" Abikara tidak juga menyadari bahwa telapak tangannya tadi menutupi hidungnya.
"Anda tidak hanya menutup mulut saya, tapi juga hidung saya. Sesak napas! Sialan emang!"
Barulah Abikara tahu sebab Kala berbicara seperti tadi. Pantas saja tadi Kala buru-buru menghirup udara bebas. Rupanya Abikara telah berbuat salah padanya.
"Ah, sudahlah!"
Belum saatnya untuk memulai pembicaraan lagi. Keduanya membiarkan suasana agak tenang dan tidak ramai supaya pembicaraan terdengar jelas.
Abikara sendiri heran kenapa bisa Kala menyamakan dirinya dengan lelaki lain yang hanya ingin menikmati tubuh perempuan. Padahal Abikara sebelumnya tidak pernah punya pemikiran seperti itu. Entahlah. Jika dipikirkan, pemikiran Kala liar juga
Beberapa saat kemudian barulah Abikara memulai kembali. Dia masih bersikeras menjelaskan kepada Kala supaya benar-benar bisa dipahami.
"Apa kamu tidak berpikir kalau tetap bunuh diri, maka saya akan menjadi tersangka karena pasti semua berpikir saya yang menyuruhmu bunuh diri. Dan pasti Ibu saya sangat sedih kalau kamu benar-benar mati karena tidak ada yang mau menikah dengan saya."
"Minta cari perempuan lain kan bisa," sahut Kala dengan cepat.
Abikara sungguh kesal dengan perkataan perempuan itu yang terdengar ringan sekali. Dia lantas bingung harus bagaimana lagi menjelaskan pada Kala bahwa bunuh diri bukan jalan yang tepat untuk menggagalkan pernikahan.
"Begini, saya tidak tahu bagaimana hidupmu sebelumnya sampai kamu punya pemikiran untuk bunuh diri. Tapi, yang jelas itu bukan hal yang mudah. Bunuh diri itu bukan cara untuk mengakhiri segalanya."
Lagi dan lagi Abikara memberi pengertian pada Kala. Dia berharap kali ini bisa dipahami dengan baik dan Kala menggagalkan rencananya untuk bunuh diri itu.
Keduanya jadi tidak nafsu lagi menghabiskan burger di meja, hanya minuman bersoda yang dihabiskan. Kala sendiri jadi kesal dengan suasana yang ada. Sudah banyak temannya yang memberi nasihat dalam berbagai hal, tapi tidak ada yang sampai menyentuh seperti nasihat Abikara.
"Tolong sekali. Jika hanya bisa digagalkan dengan cara kamu bunuh diri, mending kita langsungkan saja pernikahannya. Tapi, itu tadi. Saya memberi kamu kesempatan satu tahun, jika memang tidak bisa dilanjutkan, saya akan membebaskanmu. Sungguh."
Perempuan itu memicingkan mata dan berkata, "Kenapa dari perkataan Anda terkesan kalau setahun itu masa percobaan, bukankah di awal tadi memang masa kita bersama? Jadi, memang diharuskan untuk berlangsung selama setahun saja. Tapi, kenapa malah terkesan pula bahwa Anda menginginkan saya lebih lama?"
Mati. Benar kiranya bahwa perkataannya bisa diartikan seperti maksud Kala. Ah, Abikara agaknya mulai menginginkan Kala. Tapi, bisa juga kalau Abikara hanya menginginkan Kala tetap hidup supaya keadaan tidak rumit, bagaimanapun juga bunuh diri harus dicegah.
Beberapa saat kemudian Kala membiarkan Abikara salah tingkah dan mungkin sedang menyiapkan jawaban untuk menyangkal. Kini Kala justru terpikirkan hal yang menurutnya penting untuk ditanyakan kepada Abikara.
"Nanti kalau kita menikah, saya tinggal di rumah Anda, kan?" Kala bertanya seperti anak kecil hingga membuat Abikara agak gemas mendengarnya. Itu pertanyaan yang hampir lupa ditanyakan untuk mendapat jawaban kepastian.
"Tentu tidak. Kamu tinggal di panti asuhan dan saya tinggal di rumah saya sendiri." Abikara menjawab dengan tawa yang mati-matian disembunyikan. Sungguh, dia jadi ingin tertawa dengan pertanyaan Kala juga jawaban darinya sendiri.
"Mana bisa! Saya kan akan menjadi istri Anda, kenapa tinggal di panti asuhan. Tinggal di rumah Anda juga dong!"
Dan yang ada Kala malah menanggapi dengan serius. Abikara jadi semakin gemas untuk menggodanya. Dia hampir saja tertawa lepas, tapi untungnya bisa ditahan dengan baik olehnya.
"Loh, itu tahu, kenapa harus bertanya?"
"Saya tadi kan memastikan. Siapa tahu kita nanti tetap tinggal di rumah saya. Entah kenapa saya jadi ragu kalau Anda dosen."
Abikara berdecak kesal. Baru kali ini ada yang meragukan bahwa dirinya dosen karena kurang memahami maksud Kala yang sebenarnya itu bagaimana. Padahal karena kesalahan kecil. Sial. Lelaki itu kemudian mengambil laptop yang ditaruh di ranselnya. Dia membuka aplikasi Microsoft Word dan membuat file baru. Segeralah dia menuliskan "Surat Perjanjian Abikara dan Sandykala."
Begitu judulnya, dia memperlihatkannya pada Kala. Abikara merasa bahwa hal itu cukup penting dilakukan. Salah satu sebabnya adalah untuk membuat Kala semakin yakin untuk menikah dengannya dalam waktu satu tahun. Abikara akan membuat Kala merasa bahwa hal yang akan dilakukan itu memberi dampak positif untuk keduanya.
Perempuan itu menganggukkan kepalanya setelah membaca tulisan di layar, lalu dia bergumam, "Berarti kita tidak menikah karena perjodohan, tapi istilahnya menjadi menikah kontrak."
"Benar sekali. Saya akan menuliskan hal-hal yang akan kita lakukan nanti yang menjadi keuntungan kita masing-masing." Lelaki itu berkata sembari menuliskan sesuatu di bawah judul yang ditulisnya tadi.
Sandykala tidak boleh bunuh diri untuk menggagalkan pernikahannya bersama Abikara.
"Ha-ha-ha, apakah itu menguntungkan untuk Anda? Ah, hal seperti itu? Baiklah, Mas Abi…."
Perempuan tengil itu meledek Abikara. Dia masih saja tidak paham kenapa Abikara terus saja melarangnya bunuh diri. Dan jika hal tersebut tidak dilakukan, maka Kala merasa bahwa tidak ada untungnya untuk Abikara. Kala jadi semakin tertantang untuk ikut serta menuliskan sesuatu di perjanjian tersebut.
Di sisi lain, Abikara tersenyum tipis saat perempuan yang kini mengutik laptopnya memanggil namanya dengan sapaan biasa. Tapi, entah kenapa Abikara merasa bahwa panggilan dari Kala berbeda. Terdengar berbeda dan menyenangkan ketika Kala yang menyebut.
Abikara harus membantu perkuliahan Sandykala, dia harus membuat nilainya A semua.
Rupanya Kala menulis itu di bawah peraturan pertama yang dituliskan oleh Abikara. Tentunya Abikara terkejut, tapi tidak bisa dipungkiri pula bahwa itu memang akan menguntungkan Kala nantinya. Meski demikian Abikara tetap tidak akan mengabulkannya karena itu hal yang tidak benar.
"Mana bisa! Saya tidak bisa curang seperti itu. Hapus!"
"Tapi, itu menguntungkan saya!"
"Kamu harus berusaha sendiri. Saya mana bisa meminta dosen lain untuk memberi kamu nilai A sementara jika kamu hanya pantas mendapat nilai di bawahnya. Itu dosa!"
"Bukan seperti itu maksud saya. Anda membantu saya untuk tugas-tugas atau UTS, UAS, pokoknya supaya bisa dapat nilai A. Bukan meminta dosen yang lain untuk memberi nilai A pada saya," sangkal Kala dengan penjelasan yang entah jelas atau tidak bagi Abikara.
Tulisan Kala tadi sungguh dihapus Abikara, lelaki itu sebenarnya paham dengan maksud Kala setelah diberi penjelasan. Namun, tetap saja dia merasa bahwa itu tidak perlu ditulis dalam perjanjian mereka. Dia kemudian menuliskan ‘Abikara tidak akan menuntut Sandykala menjadi istri yang semestinya. Begitu pula yang harus dilakukan Sandykala terhadap Abikara, dia tidak boleh menuntut Abikara menjadi suami yang semestinya.’
"Itu baru menguntungkan kita!" ucap Abikara setelah tulisan itu diperlihatkan pula pada Kala.
Giliran Kala yang berdecak, dia kemudian mengambil alih laptop Abikara dan menuliskan sesuatu di bawahnya.
Teman-teman Sandykala tidak boleh tahu kalau dia menikah dengan dosennya sendiri.
Abikara membaca dengan seksama. Hal itu wajar saja memang jika diinginkan Kala. Maklum, anak seusia Kala jika menikah apalagi dengan dosennya pasti akan menjadi perbincangan tiada henti.
"Okay! Tapi, teman-temanku berhak tahu kalau kamu istriku, ya? Itu kalau keadaannya mendesak saja." Abikara mengiyakan permintaan Kala meski dirinya yakin bahwa ke depannya tetap akan sulit menyembunyikan pernikahan itu di mata teman-teman Kala.
Kembali dengan pembuatan perjanjian. Abikara dan Kala saling berdebat mempertaruhkan hal-hal yang bertolak belakang. Abikara ingin A, tapi Kala ingin B. Begitu seterusnya hingga tidak disadari bahwa petang sudah berganti malam.
"Tunggu sebentar, saya masih lapar, mau pesan lagi," ucap Abikara sekaligus pamitan dengan Kala.
"Ya. Semoga Anda juga peka, ya."
Ketika Abikara berdiri, Kala rupanya memberi kode padanya. Perempuan itu berlagak meminum coca colanya lagi padahal sedari tadi tahu bahwa sudah habis. Kala ingin dibelikan lagi rupanya. Itu lucu sekali, Abikara jadi tersenyum. Dia lalu benar-benar beranjak ketika Kala menyudahi kodenya.
Pada akhirnya Abikara membelikan makanan dan minuman lagi pada Kala. Dia datang dengan nampan berisikan dua gelas coca cola dan dua porsi ayam beserta nasi. Disambut dengan baik oleh Kala minumannya, dia kehausan ternyata.
"Saya tidak ada uang cash, boleh ke shopeepay atau gopay saja gantinya?" tanya Kala sembari melirik pembayaran makanannya.
"Ngapain diganti? Udahlah, makan saja."
Ternyata Kala bermaksud untuk menitip memesan saja hingga kemudian berencana mengganti uangnya. Padahal Abikara juga berniat untuk membelikannya, tidak harus diganti.
"Makasih." Kala mengucap dengan malu-malu. Dia sebenarnya agak tidak nyaman ketika dibayari Abikara, ya meskipun tidak ada salahnya jika dibayari sebab Abikara juga yang memintanya bertemu.
Ada yang unik dari keduanya. Mereka sama-sama mengepalkan nasi yang sebenarnya sudah berbentuk kepalan dan dibalut dengan kertas khusus. Lalu, setelah dirasa semakin padat, kertas tersebut dibuka setengah supaya ada bagian untuk pegangan dan tangan tidak kotor nantinya. Nasi itu digigit layaknya menggigit suatu burger, lalu tangan satunya memisahkan daging ayam terlebih dahulu, baru disuap.
"Kenapa kamu makannya gitu?"
"Anda sendiri kenapa?"
Cara makan mereka yang sama tentu menimbulkan tanta terkait alasan mengapa menyukai cara makan seperti itu. Pastinya karena lebih nyaman, tangan tidak akan sepenuhnya kotor, dan terkesan elegan.
"Suka bagian d**a ayam? Kenapa?" Kala bertanya bermaksud membuag suasana tidak dingin, tapi nyatanya tetap saja suasana dingin sebab Kala sendiri orangnya juga dingin. Perempuan itu heran kenapa Abikara memesan ayam goreng yang bagian d**a.
"Ya. Enak saja, tidak banyak tulang dan tentunya lebih banyak daging. Menyusahkan saja kalau banyak tulang, makannya jadi lama."
Tapi, beberapa orang justru lebih menyukai ayam yang bagiannya banyak memiliki tulang. Ada sensasi tersendiri saat memisahkan tulang dari dagingnya. Kala sendiri juga seperti itu, tapi bukan berarti dia tidak menyukai bagian d**a ayam.
"Paha ayam juga tulangnya sedikit. Hanya ada tulang besar dan tulang kecil. Dagingnya juga banyak," sangkal Kala. Lebih tepat pula jika dia sedang menyampaikan pendapatnya mengenai bagian ayam yang disukainya.
"Dagingnya tidak sebanyak bagian dada."
"Tapi, enak. Ada pegangannya dan bisa langsung gigit. Kalau bagian d**a susah pegangnya."
"Saya lebih suka bagian d**a, sih."
"Aih, sepertinya Anda kurang bisa menikmati bagian paha ayam."
"Aih! Kenapa malah meributkan bagian ayam mana yang paling enak? Sudahlah. Cepat habiskan. Kita harus segera melanjutkan diskusi penting!" seru Abikara untuk menghentikan percakapan mengenai hal yang agak tidak penting. Meski demikian Abikara merasa bahwa obrolan anehnya dengan Kala ini justru menyenangkan.
Benar, hal kecil memang terkadang justru memberi senang yang berlebih. Sudah lama pula Abikara tidak mengobrolkan hal kecil yang terbilang tidak penting juga sebab dia sebelumnya terlalu lama mengurung diri dalam banyak hal. Sebenarnya banyak orang di sekitarnya, namun belakangan ini dirinya memang membatasi unguk bersosialisasi. Sangat melelahkan, hingga akhirnya harus dibatasi.