Kembali dengan pembuatan perjanjian. Keduanya antusias untuk melanjutkan setelah mengisi perut. Ah, sebenarnya hanya Abikara sebab Kala terlihat lesu malahan. Dia kekenyangan.
"Kamu mau menulis apa lagi? Lekas tulis!" seru Abikara sembari menyodorkan laptopnya yang telah kembali menyala pada Kala.
"Bentar, mikir dulu." Kala menyahut sembari meneguk minumannya. Dia tidak tahu harus menuliskan apa lagi. Sepertinya sudah tidak ada yang harus ditulis menurutnya, tapi dia tidak akan membiarkan begitu saja. Takutnya ada hal penting yang tidak ditulisnya hingga di kemudian hari menyulitkan dirinya.
Di sisi lain, Abikara mengambil alih laptopnya dan menuliskan sesuatu di sana. Dia seolah menahan tawa membuat Kala bertanya dalam diam apa yang membuat Abikara seperti itu. Kala pun segera menelisik. Dan dengan cepat pula Abikara menjauhkan laptopnya supaya Kala tidak bisa melihat apa yang ditulisnya.
"Nanti dulu! Belum selesai."
Kala hanya diam ketika Abikara berkata seperti itu. Namun, dia tentunya sudah memiliki banyak rencana jika Abikara menuliskan hal macam-macam. Bisa habis Abikara di tangan Kala.
Abikara dan Kala saling berdebat mempertaruhkan hal-hal yang bertolak belakang. Abikara ingin A, tapi Kala ingin B. Begitu seterusnya hingga tidak disadari bahwa petang sudah berganti malam.
Perbedaan tersebut terus saja dipikirkan keduanya. Entah bagaimana ke depannya, tapi jelasnya Kala maupun Abikara merasa bahwa akan sulit menjalaninya. Usia, pikiran, sikap, dan lain sebagainya benar-benar bertentangan. Tapi, tidak tahu semesta akan bagaimana.
"Apa ini? Abikara dan Sandykala akan melakukan hubungan badan jika keduanya sepakat? Abikara dan Sandykala berhak menambah masa kontrak jika ada suatu hal?"
Kala bertanya-tanya tentang dua hal yang ditulis Abikara. Dia agak kesal juga jadinya karena sepertinya Abikara memang merupakan lelaki di pikirannya. Dia juga yakin bahwa Abikara akan ingkar janji. Kala sendiri kurang paham hubungan badan dalam pernikahan itu apakah wajib atau tidak, dan untuk ranahnya ini yakni pernikahan kontrak apakah berlaku?
"Anda sungguh menginginkan tubuh saya? Ah, tubuh ini? Apa yang menarik?"
Perempuan itu melirik tubuhnya sendiri yang diyakininya tidaklah menarik. Dia mengira bahwa Abikara bisa menuliskan hal itu sebab tertarik dengannya sedari awal. Namun, tubuh Kala tidaklah menarik sama sekali, dia tidak kurus dan tidak gemuk. Sedang. Tidak ada bagian tubuh yang menggoda. Bahkan kalaupun dibuka, dia sendiri kesal sebab terdapat luka yang memilukan dan selalu dia tutupi.
"Memang tidak ada yang menarik. Ini untuk berjaga-jaga saja siapa tahu kamu yang justru tertarik dengan tubuh saya dan akhirnya mau melakukan hubungan suami istri."
Jawaban itu tentunya candaan bagi Abikara, namun bagi Kala tidak. Kala menganggap hal itu serius. Semakin kesal dia dibuatnya. Tubuh Abikara juga tidak menarik sama sekali, mana mungkin Kala tertarik.
"Tubuh kek gitu aja pedenya minta ampun!" lirih Kala yang terdengar oleh Abikara, namun tidak dihiraukan dan Kala pun tidak peduli. Dia justru kembali menanyakan hal yang belum sempat dipastikannya.
"Lalu, apa maksudnya menambah masa kontrak? Bukankah kalau satu tahun selesai, berarti kita sudah selesai pula. Untuk apa ditambah?" tanya Kala.
"Kita tidak tahu apa yang terjadi nanti. Bisa saja kita saling jatuh cinta, kalau iya kan kita tidak akan pernah bisa pisah."
Begitu tutur Abikara yang mudah dimengerti Kala. Perempuan itu sendiri yakin bahwa dia tidak akan jatuh cinta pada Abikara karena hatinya sudah mati. Takutnya tidak akan berganti pula menjadi cinta. Sungguh, hal itu tidak akan pernah terjadi.
Kala sendiri tidak tahu harus bagaimana menanggapinya. Dia hanya diam dan menatap ke sembarang arah seperti sebelumnya. Sedang Abikara terus menatap Kala seolah berpikir apakah yang ditulisnya tadi sungguh wajar ditulis? Pentingkah sebenarnya?
"Ah, sudahlah! Biarkan nanti mengalir begitu saja!"
Abikara jadi kesal dengan idenya sendiri. Dia menyudahinya dengan menutup segera laptopnya dan kembali memasukkannya ke ransel. Sementara Kala segera berkemas dan hendak pulang karena dirasa tidak ada yang perlu dilakukan lagi.
"Pulanglah. Tapi, ingat, jangan bunuh diri!" Abikara mewanti-wanti Kala untuk tidak melakukan apa yang dikatakannya dari awal.
"Padahal saya sudah lupa hal itu. Tapi, terima kasih sudah mengingatkan. Saya mau bunuh diri saja!"
Kala menanggapi dengan sengit. Dia seolah menantang Abikara juga. Perempuan itu bahkan semakin ingin membuat Abikara kesal setelah melihat raut wajahnya ketika ucapan Kala selesai tadi. Dia kemudian pergi terlebih dahulu membuat Abikara semakin kelabakan.
"Kala! Jangan bodoh!"
Abikara berjalan dengan cepat mengimbangi langkah Kala. Dia khawatir Kala melakukan bunuh diri meski tadi sudah sempat mengiyakan untuk tidak melakukannya.
"Bunuh diri atau tidak, itu bukan urusan Anda!" goda Kala. Entah kenapa dia senang sekali melihat Abikara yang semakin cemas.
"Tadi kamu sudah berjanji untuk tidak bunuh diri dan tetap akan menikah dengan saya!"
"Mana ada? Yang tadi kan cuma omongan biasa, bukan janji!"
Ketika mendengar kekehan kecil dari Kala di akhir kalimatnya meski hampir tidak terdengar, Abikara cukup lega. Anak itu rupanya hanya menggodanya saja. Ah, sepertinya Kala juga orang yang akan bertindak sesuai perkataannya. Abikara agaknya tidak perlu mengkhawatirkan lagi.
Pada akhirnya Kala meninggalkan tempat itu terlebih dahulu. Dia berkendara dengan hati-hati. Dari pertemuannya dengan dosen itu, yang bisa ditarik adalah Abikara mengajak Kala untuk menikah kontrak, jadi tidak ada istilah lagi meinkah karena perjodohan. Diusahakan satu tahun, setelah itu mereka bebas. Sudah cukup untuk membuat lingkungan senang. Kala menyadari bahwa itu adalah langkah yang tepat selain dirinya harus bunuh diri.
Abikara meninggalkan tempat itu tidak berselang lama dari Kala. Tanpa disadari, Abikara mengemudikan mobilnya dengan jarak jauh mengikuti Kala. Jujur saja dia takut jika Kala sungguh akan bunuh diri. Maka dari itu Abikara berkeinginan untuk memastikan Kala pulang dengan selamat sampai rumah.
Beberapa saat kemudian Kala menyadari bahwa Abikara mengikutinya. Dia tahu bahwa di belakang itu adalah mobil Abikara. Segeralah dia menepi dan segera turun untuk menghentikan mobil Abikara.
"Anda mengikuti saya? Untuk apa? Apa yang Anda inginkan? Bikin tidak nyaman saja!" Begitu kata Kala kepada orang yang tidak mau turun dari mobil dan hanya menurunkan kaca mobilnya.
"Saya temani kamu sampai rumah. Sudah malam."
Ucapan Abikara itu tidak dihiraukan Kala. Bagi Kala, Abikara hanya takut dirinya bunuh diri, makanya diawasi dengan dalih mau ditemani sampai rumah.
"Saya tidak akan bunuh diri, tenang saja. Anda tidak perlu mengawasi saya!"
Kala segera melanjutkan perjalanannya lagi. Dia melajukan motornya dengan cepat karena kesal dengan tingkah Abikara. Sedangkan Abikara sendiri bingung harus bagaimana. Pada akhirnya dia tetap menemani Kala dari kejauhan dan tentu kali ini dipastikan supaya Kala tidak tahu keberadaannya.