Abikara membawa nampan berisikan banyak makanan untuk dijadikan santap malamnya bersama Kala. Dia tadinya mau makan malam bersama yang lain di pekarangan rumah, namun yang lain justru memintanya untuk makan bersama Kala dan akhirnya Abikara memilih makan di kamar. Di sana terlalu ramai, dia kurang suka keramaian.
Dan herannya, perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya itu masih tertidur dengan posisi semula. Yang berbeda hanya kemunculan keringat di dahinya. Heran, padahal udara sedang dingin dan bahkan AC juga sudah menyala.
Enggan membangunkannya, Abikara segera menyantap makanan yang dibawanya tadi. Makanan malam itu adalah nasi goreng dan juga sate. Bukan sisa makanan pernikahan tadi, melainkan makanan baru yang mana baru saja dibuat pula oleh pedagang yang diminta datang ke rumah.
Kata mertuanya tadi untuk syukuran kecil karena pernikahan. Jadi, mertuanya memanjakan beberapa keluarga yang masih tinggal di sana dengan makan malam sederhana yang terpenting kebersamaannya.
"Kala... Bangun...."
Abikara berseru di tengah makannya. Dia berseru karena menyaksikan Kala mulai terusik tidurnya. Ya, perempuan itu merintih ketakutan. Abikara jadi tidak tega mendengar rintihannya. Dia lekas berhenti dan menghampiri ranjang Kala. Digoyang bahu istrinya itu dengan perlahan supaya lekas bangun.
Tentu saja Abikara mulai ketakutan karena Kala tak kunjung mau bangun, padahal sudah diusik sedemikian rupa. Keringat di dahi Kala semakin banyak, rupanya itu pertanda takut. Pasti mimpi buruk. Abikara terus berushaa membangunkan Kala karena kasihan.
"Hah!"
Akhirnya Kala terbangun. Seperti biasa, dia menggenggam sesuatu untuk meredakan takutnya. Dan kali itu yang digenggam adalah tangan Abikara.
"Kenapa? Mimpi buruk?" Abikara jadi bergidik sebab tangannya digenggam begitu kuat seolah takut yang dirasa Kala begitu besar. Lelaki itu menebak bahwa Kala baru saja bermimpi buruk. Sebenarnya Abikara tidak terlalu penasaran dengan yang terjadi, tapi entah kenapa pertanyaan seperti tadi terlontar.
Tidak menjawab, Kala tentu saja masih bingung dengan yang membuatnya takut hingga terbangun. Terlebih lagi saat menatap dosennya ketika pertama kali matanya terbuka. Dia hanya berkedip dan memandang Abikara yang mulai berusaha melepas genggaman tangannya serta pergi menjauh.
Sial, tidak hanya mimpinya yang buruk, tapi kehidupan nyatanya juga buruk. Dia benar-benar menikah dengan dosennya sendiri. Ah, dia harus bersuasana hati seperti apa? Senang? Tentu tidak? Kesal? Harusnya iya!
"Cepat makan, setelah itu kemasi barangmu. Besok pagi kita ke rumahku," ucap Abikara ketika sudah menghadap makanannya lagi. Dia baru berkata karena lupa mengabari Kala jauh-jauh hari untuk berkemas. Harusnya memang memberitahu lebih awal supaya orang yang dimintanya berkemas tidak merasa diburu-buru.
Mendengar perkataan Abikara itu, Kala langsung beranjak dari ranjangnya. Dia bergegas mendekati Abikara dan menikmati makan malamnya. Sungguh, Abikara jadi terheran dibuatnya. Perempuan yang tadi terlihat ketakutan berubah menjadi ceria dengan senyum yang lebar pula. Entah apa yang sudah menyebabkannya.
"Kenapa tidak malam ini saja? Setelah saya selesai berkemas?"
"Kenapa sangat antusias? Rumah saya tidak mewah, tidak seluas rumah kamu. Tidak ada apa-apanya. Saya sendiri yakin jika kamu tidak akan betah di sana."
Heran. Begitulah kata yang menggambarkan Abikara saat ini. Dia tidak tahu kenapa Kala begitu antusias. Takutnya dia nanti kecewa karena ekspektasinya tidak terealisasi. Sungguh, Abikara begitu takut jika tidak bisa membuat Kala betah tinggal bersamanya sebab rumahnya benar-benar belum terisi apapun.
"Anda pikir saya hanya akan hidup di rumah mewah ataupun luas? Tidak. Saya bisa hidup di mana saja. Lagi pula, bagaimanapun kondisi fisik suatu rumah tidak terlalu penting? Lebih penting suasananya bukan?"
"Suasananya juga tidak enak. Dekat kuburan Cina!" sahut Abikara dengan cepat.
"Tidak peduli. Yang penting saya pergi dari rumah ini."
Baru saja habis tiga tusuk sate, perempuan berusia dua puluh tahun itu bergegas mendekati lemari bajunya. Segeralah dia mengambil koper yang berada di salah satu bagian lemari itu. Dengan cepat dia memindahkan baju-bajunya yang sudah terlipat itu ke dalam koper. Langsung penuh satu koper, dan di lemari bajunya masih banyak sekali.
Di sisi lain Abikara tidak memedulikan lagi. Dia mengamati istrinya sembari melanjutkan makannya. Diperhatikan dengan seksama betapa cepatnya perempuan itu berkemas. Bahkan, dia melipat baju yang tergantung dengan cepat dan dimasukkan segera ke dalam koper. Total ada dua koper yang diisikan pakaian, di lemarinya masih banyak. Sepertinya sengaja ditinggal karena berjaga-jaga kalau datang lagi ke mari.
"Kata Ibu Anda, tetangga di sana baik. Apa benar?" tanya Kala tanpa menatap orang yang ditanyainya. Kini dia sedang asyik memindahkan barang-barang kecil seperti alat tulis dan make up ke dalam suatu container box.
"Katanya rumahnya baru selesai dibangun tiga bulan yang lalu? Katanya Anda diam-diam membangunnya, yang lain baru tahu pas sudah jadi? Katanya desainnya juga Anda sendiri yang rancang? Katanya—"
"Katanya Ibu saya, kamu diam saja!" Abikara segera memotong perkataan Kala. Dia baru tahu kalau Kala punya sisi cerewet. Tapi dia rasa cerewet itu muncul akibat antusias perempuan yang ingin segera pergi dari rumahnya. Entah apa alasannya, tapi jelasnya perempuan itu terlihat sangat senang karena benar-benar akan keluar dari rumahnya yang sudah dianggap seperti sarang macan hingga harus ditinggalkan segera.
"Saya sudah selesai. Mau ditaruh di mobil sekarang?" tanya Kala kemudian ketika topi-topi dan totebag miliknya terkemas rapi. Itu barang terakhirnya yang akan dibawa.
Perempuan itu kemudian kembali mendekati lelaki berkacamata yang ketika acara tadi tersiksa sebab harus melepasnya. Ya, lelaki itu rabun jauh, sama seperti Kala sebenarnya. Tapi, Kala masih rendah hingga tidak terlalu tersiksa ketika melepas kacamata.
"Aih, kamu ini kenapa sangat antusias? Saya bilang besok kan berangkatnya. Taruh di mobilnya juga besok saja."
Sungguh, Abikara hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Kala yang tidak lagi tersenyum. Sepertinya perempuan itu memang susah senyum, Abikara hanya melihat senyum tulusnya tadi ketika dia berkata bahwa besok akan ke rumahnya.
"Besok pagi, kan? Jam berapa?"
"Jam delapan."
"Okay!"
Tahu apa yang terjadi selanjutnya? Kala menuju ke kamar mandi untuk sikat gigi dan membasuh muka. Dia kembali ke ranjang dan bersiap untuk tidur lagi. Tapi sebelum benar-benar tidur, perempuan itu berkata, "cepat tidur juga, Mas, biar besok tidak kesiangan!"
Abikara cuek. Dia lekas mengembalikan nampan yang masih ada makanannya Kala dan sisa minumannya juga. Dia kembali dibingungkan harus bagaimana setelah ini sebab di luar sudah sangat sepi, padahal tadi ramai tak terkendali. Para tetangga juga diajak ke rumah dan dipersilakan untuk menikmati sate dan nasi goreng. Tapi sekarang sudah kembali semuanya.
Ah, Abikara lupa tidak membawa rokok. Dia juga tidak mungkin sebenarnya merokok di kamar Kala yang AC-nya menyala. Mau tidur tapi bingung juga tidur di mana. Tapi, Abikara kepikiran untuk tidur bawah, samping ranjang Kala yang ada karpet cukup tebal. Sebenarnya ada kursi yang empuk di pojok kamar yang sedari tadi dijamahnya, tapi dia tidak mungkin tidur di sana.
Lelaki itu justru masih asyik duduk di kursi dan bermain dengan ponselnya. Bukan bermain game, tapi bermain Twitter. Abikara itu raja Twitter. Ha-ha-ha, bisa terbilang seperti itu karena hari-harinya bermain Twitter dan mengeposkan sesuatu.
Dia sesekali menatap Kala yang sesekali pula terasa gelisah, padahal kasur yang dia tiduri sangat nyaman. Entah apa yang membuatnya gelisah juga takut seperti tadi. Sesaat kemudian perempuan itu bangun dan duduk bersandar di ranjangnya.
"Kenapa belum tidur?" Kala bertanya sembari memastikan jam berapa sekarang, rupanya sudah jam dua belas malam.
Sudah tiga jam Kala tertidur, dan berarti sudah tiga jam pula Abikara bermain Twitter. Lelaki itu agak terkejut dengan pertanyaan perempuan yang ternyata sudah bangun. Dia tadi sedang asyik membaca tweet temannya yang menyindir dirinya.
"Mau tidur di mana memangnya? Kasurnya kan kamu penuhi," jawab Abikara dengan santai tanpa menatap Kala pula.
"Tidurlah kalau begitu. Saya tidak bisa tidur lagi."
Kala kemudian bangun. Bukan ke kamar mandi, tapi malah keluar dari kamarnya. Entah apa yang diperbuatnya. Abikara tentu tidak menaruh perhatian padanya, dia justru menerima tawaran Kala untuk tidur di ranjangnya. Lumayan masih ada beberapa jam untuk tidur. Ah, setelah merebahkan tubuhnya di ranjang, Abikara semakin paham wangi dari tubuh Kala. Parfumnya dominan wangi vanilla, manis sekali.
Tidak lama kemudian Kala kembali ke kamarnya, namun tidak dengan tangan kosong melainkan dengan secangkir kopi di tangan kanan dan sepotong kue gulung yang diletakkan di atas cawan dipegang dengan tangan kirinya. Perempuan itu kemudian mengambil kacamatanya dan tidak lupa iPad miliknya. Duduklah dia di kursi berjenis beanbag di pojok kamarnya menghadap kopi dan kue gulung yang telah diletakkan di atas meja sebelumnya.
"Aih! Malas sekali!"
Perempuan itu mengeluh sebab tidak ada film ataupun drama yang menarik untuk ditonton malam itu. Dia meletakkan iPadnya dan segera menyeruput kopi yang sudah dipastikan rasanya adalah macchiato latte.
Begitulah Kala di tengah malamnya. Perempuan itu selalu terbangun dan tidak bisa tidur kembali sampai pagi. Alasan bangunnya pun selalu sama, dipenuhi dengan takut. Sebenarnya takut yang dirasanya tidak hanya ketika tidur, tapi juga ketika dia terjaga. Takutnya begitu besar, bahkan membuat dirinya berulang kali mengakhiri hidup karena tidak sanggup lagi jika dilanjutkan. Sudah sangat lelah.
Harusnya orang seperti Kala memang mendapat peluk, tapi peluk itu tidak datang untuknya. Entah bersembunyi di mana. Bahkan peluk dari keluarganya pun tidak didapatkannya sekalipun mereka semua tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Kala. Ya, begitulah kehidupannya. Tidak sepenuhnya menyenangkan, bahkan senangnya pun jarang sekali terlihat.
Setelah ini semoga saja ada hal baik untuknya. Semoga senang datang untuknya. Takutnya juga semoga lekas menghilang. Tidak sepenuhnya hilang tidak apa, yang terpenting dia tidak terlampau takut.
Perempuan itu berhak bebas dari segala hal yang membelenggu selama ini. Dia berhak menjadi manusia yang semestinya.