"Tidak mau di sini lebih lama?" tanya Pak Bagas kepada Abikara ketika mereka berkumpul di meja makan.
Pertanyaan tersebut tentu terdengar lucu di telinga Kala. Pak Bagas sendiri pasti juga merasa demikian, terlihat dari dirinya yang langsung menatap Kala dengan tatapan sendu. Bagi Kala, bahkan pertanyaan itu harusnya tidak ditanyakan dan tidak ada di benak Pak Bagas.
"Iya, kenapa buru-buru?" timpal Bu Kusuma. Dia sembari menyeruput teh hangatnya. Perempuan itu terlihat benar-benar menginginkan Abikara dan Kala lebih lama di sana. Maksudnya terlihat tulus, sedangkan Pak Bagas tadi tidak tahu.
Bu Kusuma dan Pak Bagas sebenarnya sudah selesai sarapan, namun mereka masih berada di meja makan karena menikmati teh hangat dan menemani Abikara serta Kala sarapan. Dua orang itu tadinya sudah diminta lebih awal untuk sarapan bersama, tapi tidak bisa. Karena sedang bersiap.
Lagi pula ketika mengajak tadi terlalu pagi, Abikara yang bahkan jarang sekali sarapan tentunya menolak. Biar perutnya tidak kaget katanya. Sementara Kala hanya mengikutinya. Agaknya Kala akan kesulitan untuk hal ini sebab dirinya sudah terlatih sarapan. Apakah nanti dia yang justru harus meminta Abikara untuk sarapan saja? Atau harus dia yang mengalah? Atau bagaimana nantinya?
"Saya nanti sore ada janji, besok juga tidak libur mengajar harus banyak istirahat sekalipun mengajarnya tidak terlalu berat karena online. Sesekali saya dan Kala pasti akan datang kemari."
Begitu jawaban dari Abikara, jawaban yang sesuai dengan realita nantinya, tidak dibuat-buat. Dia terlihat canggung terhadap kedua mertuanya makanya tidak ada sapaan Pak atau Bu ketika berbicara. Sebab dia juga tidak tahu harus menyapa seperti apa. Dia sendiri bahkan tidak tahu Kala memanggil mereka apa karena anak itu tidak banyak bicara. Bahkan selama bertemu dengan Kala, Abikara tidak pernah mendengar perempuan itu memanggil Ibu ataupun Ayahnya. Tidak ada pembicaraan antara mereka yang terdengar oleh Abikara.
Akhirnya masa yang dinantikan Kala pun tiba. Dia sudah menggendong ranselnya dan tidak lupa membawa kopernya ke bawah. Dibantu dengan Abikara tentunya untuk membawa barang yang lain. Semuanya pun segera ditata dengan rapi supaya benar-benar muat di mobil Abikara.
"Ada yang ketinggalan nggak?" Abikara bertanya pada Kala untuk memastikan. Dia tidak mau ada yang ketinggalan dan nanti harus mengambilnya jika Kala hanya menginginkan barang itu.
"Nggak."
Di sisi lain, Pak Bagas dan Bu Kusuma disibukkan memindahkan kado-kado untuk pengantin baru itu ke dalam mobil. Awalnya kado-kado tersebut ingin dibiarkan saja karena terlalu banyak. Mobil hampir tidak muat karena barang Kala sendiri juga cukup banyak. Bu Kusuma juga membawakan beberapa bahan makanan untuk mereka berdua, jadi mobil sangat penuh. Bahkan tadi hampir sukar ditutup.
"Jaga diri baik-baik. Tetap kuliah dengan benar. Seringlah datang menjenguk Papa dan Mama," ucap Bu Kusuma setelah Kala mencium tangannya bermaksud pamit. Dia juga memberi peluk untuk Kala. Peluk yang tentu selalu disuka keduanya meski jarang dilakukan.
"Datang untuk menjenguk Mama, bukan yang lain," jawab Kala dengan nada rendah supaya yang lain tidak mendengarnya. Dia tahu bahwa jawaban itu akan membuat Bu Kusuma sedih, tapi dia juga tidak mungkin untuk berbohong bukan? Itu sudah jawaban jujur dan yang sesuai dengan Kala.
Meski Kala berharap tidak ada yang mendengar, Abikara ternyata mendengar dengan samar apa yang diucapkan Kala dengan Ibunya. Dia akhirnya tahu kalau Kala memanggil orang tuanya dengan sebutan Papa dan Mama. Lalu, muncullah sebuah pertanyaan kenapa hanya Mamanya yang disebut Kala tadi. Tidak mungkin kalau Abikara salah mendengarnya.
Kala kemudian masuk ke mobil terlebih dahulu membiarkan Abikara yang gantian berpamitan. Ya, Kala tidak melakukan hal yang sama kepada Ayahnya seperti yang dia lakukan kepada Ibunya. Dia hanya melakukan kontak mata sejenak tadi seolah sudah sebagai wakil segalanya dan agaknya Pak Bagas sendiri paham maksudnya. Dari situ Abikara menyimpulkan pula bahwa yang tadi didengarnya tidak salah, Kala hanya menyebut 'Mama'.
Dan dari situ bisa disimpulkan bahwa ada sesuatu antara Pak Bagas dengan Kala. Hubungan mereka bisa diasumsikan sedang tidak baik. Tapi, sejauh ini selalu diusahakan untuk baik-baik saja dan tidak menimbulkan banyak tanya bagi orang sekitar.
Tak berselang lama, akhirnya mobil dilajukan Abikara secara perlahan meninggalkan rumah tersebut. Terdengar hembusan napas lega dari Kala. Perempuan itu pun memperlihatkan senyumnya sejenak sebelum akhirnya kembali berwajah datar. Hal itu kembali membingungkan Abikara yang sempat melihat Kala sejenak tadi.
Akhirnya. Akhirnya. Akhirnya.
Begitulah yang berseru dari diri Kala. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa hal seperti ini datang untuknya. Jika ditanya senang atau tidak, maka dia akan menjawab senang. Tapi hanya senang karena pergi dari rumah. Bukan yang lain.
Ya, bagaimana bisa senang untuk hal seperti statusnya yang bertambah secara cepat? Harusnya kan hanya mahasiswi, tapi kini bertambah menjadi istri pula. Entah apa yang terjadi pada masa depannya nanti, dia ingin tidak memedulikannya karena sudah telanjur letih dengan keadaan yang ada.
"Di rumah belum banyak perabotan. Kamar tidur baru ada kasur dan lemari, belum ada meja atau kursi sebagai pelengkapnya. Untuk lemari pendingin, mesin cuci, sofa, dan yang lain sudah saya pesan, tapi belum datang. Mungkin nanti sore datangnya," celetuk Abikara, berusaha membuat suasana hening di mobil sirna seketika.
Perlu dipahami lagi bahwa Abikara ini sebenarnya berbanding terbalik dengan Kala. Lelaki itu tidak suka sepi, dia lebih suka ramai dan tentunya ramai karena obrolan. Abikara banyak bicara, tapi dalam artian yang positif. Meski demikian, agaknya Abikara juga jauh lebih senang jika orang lain yang memulai pembicaraan. Tapi, tentunya dia tidak akan mendapat hal itu dari Kala.
"Nanti saya punya kamar sendiri, kan?" Kala yang diajak berbicara akhirnya membuka mulutnya pula meski sebenarnya enggan. Dia sungguh lebih senang untuk diam dan hanya mendengarkan orang lain berbicara.
Kala menanyakan hal itu juga untuk membuat dirinya jauh lebih lega. Jujur saja, dia tidak mau jika sekamar dengan Abikara.
"Tentu. Kamu bisa mendekorasi kamarmu sendiri nanti. Di sana baru saya sediakan kasur dan lemari pakaian. Meja belajar akan datang bersama perabotan yang lain."
Rupanya Abikara tetap memperhatikan perkuliahan Kala. Buktinya saja dia juga memesankan Kala meja belajar. Sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, begitu batin Kala. Tapi, dia tidak percaya sepenuhnya sebab yang pernah dia lakukan sebelumnya yakni percaya akan sesuatu justru membuat dirinya semakin kacau. Dia akan kembali membiarkan semesta berbuat semaunya.
"Tapi, kalau kamu mau satu kamar dengan saya nggak papa," lanjut Abikara yang dia sendiri sudah tahu bahwa tidak akan ada tanggapan dari Kala.
"Jarak rumah Anda ke kampus berapa jauh?"
"Wah, kalau jaraknya tidak tahu berapa kilometer. Tapi, dari rumah ke kampus sekitar dua puluh menit. Itu kalau jalanan lancar. Ya, anggap saja tiga puluh menit."
Seperti itulah Kala. Dia memang sesekali mengajak orang berbicara, tapi enggan menatapnya. Hal ini berbanding terbalik pula dengan Abikara yang jika diajak berbicara, maka dia akan mengamati orang yang mengajaknya berbicara dengan seksama.
"Berarti bukan di Tembalang?"
"Bukan."
"Ini nanti kita melewati kampus?"
"Tidak. Beda jalur. Sebentar lagi, kita lurus sementara kampus belok ke kanan."
Abikara menjawab pertanyaan-pertanyaan lucu dari Kala dengan santai. Dia sebenarnya paling tidak suka ditanyai hal yang sepele baginya. Namun, entah kenapa menjawab pertanyaan dari Kala yang notabennya adalah orang yang tidak banyak bicara membuatnya senang sekalipun pertanyaannya terlalu mudah baginya dan bahkan sebenarnya tidak perlu diberi jawaban.
"Kamu belum pernah ke kampus?" Kali ini Abikara yang melontarkan pertanyaan, tepat ketika lampu lalu lintas sedang berwarna merah.
Dia berharap bahwa perempuan yang duduk di sampingnya itu menatap dirinya. Tapi, tetap saja Kala enggan menatapnya dan terus menatap ke arah depan. Tidak apa, dia berusaha memahami Kala meski sebenarnya kurang nyaman karena baginya yang namanya obrolan itu melibatkan dua orang yang tentu saling tatap pula supaya semuanya lebih jelas.
"Belum. Hanya melewatinya saja, tidak benar-benar masuk," jawab Kala sembari membuka masker berwarna hitamnya karena merasa sesak. Dia agak malu juga sebab merasa bahwa hanya dirinya yang belum pernah ke kampus sebab beberapa temannya ada yang sudah mencoba ke sana. Makanya, tadi suaranya tidak terlalu keras.
"Kapan-kapan saya ajak ke kampus. Setidaknya sudah mengenali tempatnya sebelum benar-benar kuliah offline nantinya."
Ada tawa geli dari Abikara setelah mengetahui keadaan yang benar-benar menggelikan baginya. Dia sendiri tidak menyalahkan Kala, hanya keadaannya yang memang membuat semuanya terasa lucu. Kala yang hampir dua tahun berkuliah sama sekali tidak tahu bagaimana kondisi kampusnya sebab pandemi covid-19 yang mewajibkan untuk belajar dari rumah. Agaknya memang bukan Kala saja yang belum pernah datang ke kampusnya secara langsung, tapi banyak mahasiswa lainnya yang bernasib sama.
"Kamu tuh kenapa kalau ngobrol nggak natap rekanmu? Nggak asyik kalau gitu," ucap Abikara. Dia terpaksa berkata seperti itu karena sudah mulai merasa tidak nyaman. Dia sedang meredam ketidaknyamanan itu.
"Nggak usah ngobrol sama saya kalau gitu."
Abikara tertawa kesal mendengar perkataan Kala yang semakin dingin. Benar, Kala rupanya memang orang yang sangat dingin. Kala akan terasa hangat ketika dia sedang menemukan hal senang untuknya sendiri, seperti semalam ketika Abikara menyampaikan bahwa paginya akan segera ke rumahnya.
Perjalanan kemudian dilanjutkan. Mobil dilajukan dengan hati-hati dan diusahakan untuk membuat penumpangnya merasa nyaman. Sudah hampir memakan waktu dua jam lamanya yang itu berarti sudah hampir sampai di tempat tujuan. Ada yang sudah tidak sabar. Sebenarnya tidak sabar sedari semalam. Ehm, mungkin sedari pertemuannya dengan Abikara yang dulu mendapat jawaban kalau dia akan diajak tinggal di rumah lelaki itu. Ah, hanya Kala yang tahu bagaimana suasana hatinya saat ini. Dari mimik wajahnya sendiri tidak terlihat dia sedang bersuasana apa.