Ada Babi!

1500 Words
Sudah sampai di salah satu kawasan perumahan yang menjadi tempat baru bagi Kala. Perempuan itu kembali melayangkan senyum ketika tadi memasuki perumahan yang dimaksudkan Abikara ataupun Ibunya ketika perbincangan kecil dulu. Dia mengamati dengan seksama rumah-rumah yang ada. Banyak rumah-rumah modern dengan tiga lantai, dua lantai, maupun satu lantai. Semuanya terlihat sederhana. Dan yang terpenting adalah suasananya yang asri dan tetap ada pepohonan hijau. "Rata-rata orang di sini sibuk. Mereka jarang ada di rumah. Tapi, aslinya mereka itu saling peduli." Abikara memberi pengantar bagi Kala yang akans menetap di sana setelah ini. Dia memberi tahu apa yang barangkali bisa membuat Kala nyaman nantinya, alias tidak perlu takut. "Nah, kalau ini rumahnya Pak Darto dan Bu Septi. Mereka sudah sepuh, tinggal berdua saja di sana karena anaknya sibuk," ucap Abikara memberitahu Kala. Dia juga melajukan mobil lebih pelan. Sementara Kala menganggukkan kepala saja sembari mengamati dengan seksama bagaimana kondisi wilayah di situ. "Kalau ini rumahnya Pak Fajar dan Bu Lina. Mereka paling kocak. Kalau ada libur pasti dangdutan," seru Abikara sembari menunjuk rumah selanjutnya yang bernuansa abu-abu. "Kalau depannya ini rumahnya Pak Adit dan Bu Sofia. Pak Adit ini sedang kacau karena menuruti Bu Sofia yang sedang hamil. Masih ngidam banyak hal sekalipun sudah hamil tua Bu Sofianya, sepertinya hanya ingin menghukum Pak Adit. Oh, iya, Pak Adit ini salah satu suami yang takut istri. Dia selalu curhat kalau Bu Sofia galak, makanya dia juga sering memutar lagu Bojo Galak." Mendengar cerita Abikara, tanpa disadari Kala tertawa kecil. Dia geli sekali mendengar kebiasaan tetangga barunya dan sekaligus hal lucu tentang mereka. "Nah, kalau yang ini tuh rumahnya Pak Genta sama Bu Nora. Mereka sama-sama sibuk, tapi tetap berusaha menjaga anaknya dengan baik. Sudah ada anak, namanya Angkasa. Anaknya nakal, usianya empat tahun lebih dikit. Dia memanggil saya...." Perkataan Abikara terhenti seolah dia tidak sanggup untuk mengatakannya lagi. Tentu hal itu membuat Kala bertanya pada Abikara karena jadi penasaran. "Kenapa tidak dilanjutkan?" "Ah, nanti kamu juga tahu sendiri. Menyebalkan pokoknya!" Pada akhirnya mobil sampai di halaman rumah Abikara. Senyum Kala kembali terlihat. Dia menatap lekat rumah yang bernuansa hitam minimalis itu. Akan menjadi tempat barunya. Dari luar saja Kala mampu menafsirkan bahwa rumah tersebut memang kecil dan tidak luas, namun sepertinya itu jauh lebih nyaman dibanding rumahnya sebelumnya. "Rumahnya tidak seluas rumahmu. Ini dua lantai juga, tapi yang terpakai lantai satu saja. Lantai dua hanya untuk bersantai, desainnya juga biasa. Ya, selamat datang, Kala." Entah kenapa hati Kala tersentuh mendengar ucapan selamat datang dari Abikara yang masih tidak disangka menjadi suaminya meski dalam status pernikahan kontrak. Terbuai akan ucapan Abikara, Kala sampai lupa bahwa dia harus segera turun juga membantu Abikara memasukkan barang ke dalam rumah. Ketika dia sampai di bagasi mobil, rupanya barang-barang sudah diturunkan. Tinggal dibawa saja ke dalam. Masih ada koper Kala sebab tadi Abikara membawa barang-barang yang sukar dibawa dan berat. Kala diminta membawa koper yang lebih nyaman dibawa. Namun, saat sudah memegang dua kopernya dan bersiap membawanya ke dalam, dia dihentikan oleh suara seorang anak kecil. Kala berusaha mencari sumber suara. "Ada babi ndak?" Begitu. Suaranya datang dari samping kanan rumah. Ada anak kecil yang berdiri malu-malu di balik tembok batas rumah. Sesekali dia memunculkan wajahnya membuat Kala ingin menghampirinya. Sebenarnya Kala tidak tahu apakah anak itu bertanya padanya atau tidak, namun anak itu sempat menatap Kala hingga bisa disimpulkan bahwa memang Kala yang ditanyai. Lagi pula tidak ada orang lain di sana setelah Kala celingukan ke sana ke mari. "Nggak ada babi di sini. Lagi pula untuk apa babi?" Kala bertanya dengan penuh keheranan. Dia bertanya tanpa mendekati anak itu karena tidak mau anak itu semakin ketakutan. Kala tahu karena anak itu tiap kali tidak sengaja bertatapan dengannya langsung bersembunyi lagi di balik tembok batas rumah. "Ada apa?" tanya Abikara yang baru saja keluar ingin mengambil barang-barang Kala lagi. Dia agak heran karena sepertinya Kala sedang berbicara dengan seseorang, tapi tidak ada orangnya. "Ada anak kecil mencari babi." Jawaban Kala itu agak membingungkan Abikara, namun sesaat kemudian lelaki itu lantas sadar apa maksudnya. Anak kecil yang bertanya pada Kala tadi kini tidak lagi bersembunyi di balik tembok batas rumah. Dia menampakkan diri sepenuhnya. Terlihatlah anak kecil yang memakai singlet putih dan celana pendek berwarna abu-abu. Rambutnya lucu juga, memiliki poni yang menutup setengah jidatnya. "Bohong! Itu ada babi!" ucap anak itu dengan lucunya sembari menunjuk ke arah Kala dan Abikara yang berdiri sejajar. "Siapa yang berbohong? Orang tidak ada babi kok di sini." Dan Kala masih kebingungan dengan perkataan anak itu, dia kembali memastikan di sekelilingnya. Tapi, tetap saja tidak ada babi seperti yang dimaksud anak kecil yang entah namanya siapa. Abikara mengusap wajahnya dengan kasar karena rupanya Kala tidak paham juga maksud anak kecil itu. Dia sendiri agak malu jika harus memberitahu Kala benarnya bagaimana. "Ada. Tepat di samping kiri kamu," ucap Abikara dengan malu. Selain itu dia juga agak kesal setelahnya karena menyebut dirinya sendiri babi. Tapi, sudahlah, perkataannya tadi agaknya mudah dipahami Kala dan akhirnya diharap bisa paham maksud babi itu apa. Dan mendengar perkataan Abikara itu, tentu saja Kala langsung menatap yang dimaksud babi sebenarnya. Sungguh, dia masih belum paham kenapa Abikara disebut babi oleh anak itu bahkan juga disebut oleh dirinya sendiri. "Aih! Kamu tidak paham?" Abikada bertanya, lalu ketika mendapat gelengan kepala dari Kala dia kembali menjelaskan. "Saya kan sering disebut Abi. Tapi, anak itu belum fasih pelafalannya, jadi dia memanggil saya babi." Anak kecil itu tidak terlalu paham apa yang sedang dibicarakan dua orang dewasa di hadapannya. Dia berdiri dengan mendongakkan kepala menatap keduanya dengan tangan yang masih membawa bingkisan. "Abi? Babi? Abi? Babi? Mas Babi?" Kala terpingkal-pingkal ketika sudah memahami apa itu babi. Rupanya itu kesalahan pengucapan anak kecil menyebut Abikara. Dia jadi terngiang-ngiang dengan panggilan anak tadi, lucu sekali. Seperti biasa ketika sedang kesal, Abikara berkacak pinggang. Dia membiarkan Kala tertawa sambil berpikir-pikir kenapa bisa terjadi demikian. Dia lalu bertanya kepada anak kecil itu, "Angkasa, kenapa kamu ke sini?" "Tadi Mama minta Ancaca ngasih donat ini ke Babi," ucap anak yang rupanya memang masih belum lancar pelafalan ucapannya. Dia sembari memberikan bingkisan yang ternyata adalah donat kepada Abikara. "Hanya untuk Babi? Untukku bagaimana? Babi kan tidak sendiri, Babi punya teman," tutur Kala menggoda anak itu sekaligus menggoda Abikara. Dan hal itu membuat Abikara menarik salah satu kepang Kala bermaksud memberi hukuman karena ikut-ikutan memanggil Babi. "Kenapa malah ikutan manggil saya Babi, sih?" "Sedang membahasakan anak itu, kok. Kalau memang mau saya panggil Babi ya nggak papa." Kala menyahut dengan tawa yang sebisa mungkin dia tahan. Puas sekali membuat Abikara semakin kesal. "Makasih, Angkasa. Sampaikan makasih juga ke Mama kamu, ya?" "Okay, Babi. Donatnya buat Babi doang, bukan untuk yang lain." "Dasar pelit!" Kala melipat tangannya di d**a bermaksud membuat dirinya menakutkan, tapi yang ada anak kecil itu tidak seperti bayangannya. "Tidak ada donat untuk orang yang berbohong!" Anak itu menjawab Kala sembari menunjukkan jari telunjuknya dan menggoyangkannya pertanda tidak ada. Rupanya anak bernama Angkasa tersebut masih menganggap bahwa Kala tadi membohongi dirinya dengan berkata tidak ada Abikara. Padahal Kala tidak bermaksud demikian, dia sungguh tidak tahu siapa yang dimaksud Angkasa tadi. Ah, anak kecil memang masih sukar untuk mengerti sesuatu. "Hey! Tadi kan aku belom paham babi yang kamu maksud itu apa. Sekarang aku sudah paham kalau babi yang kamu maksud itu suamiku." Kala menyahut dengan tawa yang kembali terlepas. Kata terakhirnya sempat membuat Abikara terlena, tapi Kala tidak tahu. Abikara hanya tersenyum mendengarnya. Benar-benar sederhana, tapi untuk hal tersebut tidak lagi pantas disebut sederhana. "Sudah-sudah. Angkasa, kenalin, ini Tante Kala. Mulai sekarang kamu bisa bermain dengannya." Abikara memperkenalkan Kala kepada anak yang bernama Angkasa itu. Dia hampir lupa bahwa harus mengenalkan Kala pada Angkasa, pun sebaliknya. "Ndak mau main sama Lala!" "Kala, bukan Lala!" ralat Kala dengan santai. Dia jadi gemas sekali mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Angkasa. Ingin rasanya selalu menjahilinya. "Lala tukang boong!" Anak itu menjulurkan lidahnya, kemudian berlari ke rumahnya. Tentu Kala agak kesal dibuatnya, tapi dia juga senang karena menemukan hal lucu di tempat barunya. Agaknya Angkasa adalah salah satu orang yang akan membuatnya betah. "Dia tuh aslinya senang karena punya teman baru. Tapi, gengsi, makanya gitu." Abikara memberitahu Kala bahwa apa yang dikatakannya itu sungguh realita. Abikara memang terbilang baru juga mengenal Angkasa, tapi dia sudah terlalu paham anak itu bagaimana. "Di sini banyak anak kecil nggak?" "Kenapa?" "Takut aja kalau banyak yang seperti Angkasa. Pasti aku kewalahan karena seneng terus." Jawaban dari Kala itu membuat Abikara tenang. Rupanya Kala suka anak kecil. Tadinya takut sekali kalau Kala tidak menyukai dan akhirnya tidak betah tinggal di sana. Dua orang yang masih tergolong pengantin baru itu segera menuju ke rumah. Mereka kembali melanjutkan aktivitas yang sempat terhenti sebab kelucuan Angkasa. Awalnya Kala tertarik untuk menaiki tangga yang berada di sebelah kanan yang terhubung dengan lantai dua. Namun, dia tidak bisa karena harus segera membantu Abikara membawa barang-barang masuk. Rumah Abikara sangat unik hingga Kala ingin menjelajah secepatnya. Aih, kini Kala malah asyik mengamati sudut demi sudut rumah. Dia hanya membawa koper tadi, padahal masih banyak barang yang perlu ditata sedemikian rupa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD