Bab 8. Apa Salah Bocah Kecil itu?

1290 Words
Mataku tak teralih dari sosok yang masih tenang dalam lelapnya. Tak menyangka sama sekali bahwa di balik raga yang tenang itu, bersemayam jiwa yang pernah bergolak. Sekalipun dengan terperangah yang susah payah kutekan, detail-detail cerita yang disampaikan oleh Bude Arum bisa terekam dengan jelas dalam ingatan. Dan kini semua berputar bak reka ulang kejadian. Masih tak bisa kumengerti, apa yang ada di benak orang tua Ayah, sampai tega dengan sengaja meninggalkan bocah berusia sepuluh tahun, di tengah keramaian dan lalu lalang orang-orang yang tak satu pun dikenalnya. Menurut Bude Arum, Eyang kakung yang biasanya sudah sampai di rumah bakda asar, kala itu baru menapakkan kakinya di teras rumah jelang magrib, dengan membopong bocah laki-laki dalam keadaan tak sadarkan diri. Saat itu Eyang kakung yang memiliki toko emas di salah satu stan pasar baru saja menutup tokonya. Dalam perjalanannya pulang, beliau menemukan seorang bocah sedang duduk meringkuk sendirian di sudut pasar dengan tubuh bergetar, menahan lapar yang membelit perut kecilnya. Wajahnya keruh, bekas usapan air mata dari mata yang memerah, nampak jelas tercetak di sana sekalipun tak terdengar lagi isaknya. Mungkin bocah kecil itu sudah lelah menumpahkan air matanya. Perlahan ketika Eyang kakung mendekatinya, segera saja bocah itu histeris. Berteriak memanggil-manggil kedua orang tuanya yang entah berada di mana. Tubuhnya kian hebat menggigil, namun tatapannya nyalang menatap orang-orang yang mulai berdatangan, merasa tertarik untuk mengetahui kejadian yang sedang berlangsung di sana. Salah satu di antara orang-orang yang mendekat itu, nampak seorang pria berotot yang biasanya bekerja sebagai kuli panggul di pasar itu. Dia mengatakan bahwa sekitar jam sembilan pagi melihat seorang wanita dengan penampilan lusuh menggandeng seorang bocah laki-laki. Kemudian berbicara pada bocah laki-laki tersebut lalu pergi meninggalkannya seorang diri di sana. Tak ada rasa curiga sedikit pun di benaknya kala itu, berpikir mungkin wanita tersebut hendak membeli beberapa keperluan dan meminta sang anak untuk menunggu sebentar di sana. Namun hingga siang menjelang, tak dilihatnya wanita itu kembali, sedangkan bocah laki-laki itu nampak sudah kebingungan, meski tak beranjak dari tempatnya duduk sedari pagi. Kepala kecilnya menoleh ke kanan dan ke kiri, menandakan dirinya menantikan kedatangan orang yang telah meninggalkannya tersebut. Dia pun juga sempat menawarkan diri untuk membelikan makanan atau minuman kepada bocah laki-laki itu, dia yakin pasti bocah kecil itu sekarang sedang kehausan dan kelaparan. Namun respon yang sama diterimanya, seperti yang sekarang sedang ditunjukkan oleh bocah itu. Merasa tidak memiliki keberanian untuk bertindak lebih jauh, akhirnya kuli panggul itu meninggalkan kembali bocah laki-laki yang kian pias itu. Sambil terus mengawasinya dari kejauhan. Beberapa abang becak pun membenarkan sekilas cerita yang disampaikan oleh kuli panggul itu. Hingga kemudian orang-orang yang memang mengenal baik Almarhum Eyang kakung, bersepakat menyarankan Eyang kakung untuk membawa pulang bocah laki-laki kecil itu. Namun tak serta merta bocah laki-laki yang kian pucat itu bersedia dengan senang hati mengikuti ajakan Eyang kakung. Dia terus saja histeris sambil terus memanggil-manggil ibunya, menendang dan memukul setiap tangan yang hendak menyentuhnya. Hingga dia kelelahan dan kemudian tak sadarkan diri. Cerita yang disampaikan Eyang kakung ketika telah merebahkan sosok kecil itu di kursi tamu mengejutkan seisi rumah. Eyang putri berkali-kali meminta Eyang kakung untuk membawa saja bocah itu ke kantor polisi saja. Apa yang akan terjadi jika beberapa hari kemudian muncul berita tentang kasus penculikan anak? Lalu keluarga kami akan dianggap sebagai sindikat penadah penculikan anak atau semacamnya lah. Tentu saja Eyang kakung yang memang memiliki jiwa sosial tinggi tidak akan berpikir sejauh itu. Pun dampak apa yang mungkin menyertainya. Perlu usaha keras untuk membujuk Eyang putri hingga akhirnya beliau terdiam dan tak lagi menentang keinginan Eyang kakung. Bahkan tanpa diminta pun, Eyang putri lantas bergegas melangkah ke belakang dan tak lama kemudian kembali sambil membawa seember air hangat dan kain waslap, menyeka penuh kasih tubuh yang terkulai lemas itu. Perlu beberapa minggu untuk menyembuhkan trauma yang dialami bocah kecil itu. Sepanjang hari dia hanya akan duduk di sudut rumah sambil terus menangis dan melempar benda apa saja yang berada di dekatnya. Makanan dan minuman yang dibawakan untuknya pun akan segera berhamburan mengotori lantai. Lalu Eyang putri lah yang dengan segera membersihkan lantai kembali dan membawakan makanan dan minuman baru, yang tak jarang berakhir dalam keadaan sama. Hingga kemudian dia lelah dan tertidur. Pun dalam tidurnya di malam hari, yang juga didahului dengan susah payah untuk membuatnya terlelap, tak satu malam pun terlewatkan dari dia yang terbangun dengan histeris di tengah malam. Menangis dan meraung. Kemudian Eyang putri akan tergopoh-gopoh menghampirinya, memeluknya erat hingga dia tenang dan terlelap kembali. Sungguh masa-masa yang sulit kala itu. Apa salah bocah kecil itu untuk diabaikan dan ditinggalkan? Hingga kemudian di suatu hari, bocah kecil itu bergumam menyebut satu nama. Hadinata. Nama yang kemudian Eyang kakung dan Eyang putri percayai sebagai nama dari bocah kecil itu. Keadaan Hadinata kecil berangsur membaik. Sekar kecil yang kala itu berjarak lebih tua dua tahun darinya, di mana dia juga yang sering membantu Eyang putri menenangkan histeria Hadinata kecil, menjadi orang terdekatnya kemudian setelah Eyang putri dan Eyang kakung. Jalinan pertemanan dalam balutan status persaudaraan angkat di antara keduanya ternyata juga membawa andil yang cukup besar dalam proses penyetabilan emosi Hadinata kecil. Hingga kemudian perasaan trauma itu terendap dalam. Kehidupan terus berjalan makin baik. Hadinata tumbuh dalam limpahan kasih sebuah keluarga sempurna. Prestasi-prestasi pun kerap kali ditunjukkannya. Namun tak disangka trauma itu menyeruak kembali kala orang-orang yang berjasa dalam hidupnya pergi, kembali meninggalkannya. Bukan karena pengabaian, namun roda kehidupan Eyang kakung yang berhenti berputar karena takdir usia, dan tak lama kemudian disusul Eyang putri yang tak ingin berjauhan terlalu lama dengan Eyang kakung. Kembali Hadinata yang beranjak remaja mengalami perasaan ditinggalkan. Ia merasa kembali sendiri, terabaikan. Padahal ada Arum dan Sekar remaja yang setia di sampingnya. Tetapi nyatanya tak mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Eyang kakung dan Eyang putri. Tepat satu bulan setelah berpulangnya Eyang kakung dan Eyang putri, Hadinata remaja mulai menunjukkan perilaku tak biasa. Hadinata sering merasa kesal berlebihan kala gagal mendapat nilai sempurna. Dia bahkan sering merobek kertas ujiannya seketika diterima dari tangan guru. Sikap yang sangat bertolak belakang dengan sikap santun yang dahulu sering ditunjukkannya. Dia pun kerap kali berakhir di ruang BP, kala menggebrak meja akibat tidak terima pendapatnya disanggah dalam diskusi-diskusi kelompok. Hingga puncaknya surat peringatan akan dikeluarkan dari sekolah akibat perangai buruknya yang makin tak terkendali, melayang ke rumah. Tak ada yang menyadari semua itu. Semua berpikir itu adalah kenakalan remaja yang sedang berproses mencari jati diri. Hingga kemudian Sekar remaja menyadari munculnya gejala trauma itu ketika mendapati Hadinata terisak pelan dalam tidurnya di suatu malam. Bahu-membahu Sekar dan Arum yang kala itu sudah berkuliah membangun kepercayaan diri Hadinata yang nyaris amblas. Perasaan diabaikan merenggut senyum di wajah Hadinata, merenggut sikap optimisnya dan memunculkan perasaan was-was yang berlebihan. Prestasinya menurun drastis dan kesehariannya menjadi seorang penyendiri. Itulah yang kemudian mendasari pilihan Sekar, Ibu kami, untuk berkuliah di jurusan Psikologi. Perlu waktu lama bagi Sekar untuk meyakinkan Hadinata bahwa ia tak sendirian. Ia bukan manusia terabaikan. Alasan itu juga lah yang lantas membuat Sekar meminta Hadinata untuk berkuliah di kampus yang sama. Kelekatan yang terjadi kemudian, menimbulkan percik-percik rasa yang bukan lagi berdasar perasaan kasih persaudaraan. Perasaaan nyaman dan saling bergantung membuat mereka akhirnya memutuskan untuk menikah begitu Hadinata, Ayah kami, berhasil menyelesaikan kuliah arsitekturnya. Keputusan yang awalnya ditentang oleh keluarga besar Ibu. Namun apa daya, keberatan mereka tidak berlandaskan hukum apapun. Hingga kemudian pernikahan itu terjadi. Kususut pelan air mataku yang tak mau terhenti barang sejenak. Menyadari betapa besar arti kehadiran Ibu bagi Ayah. Jika dulu ada tangan Ibu yang menawarkan kehangatan genggaman untuk Ayah, sekarang tangan siapa yang sanggup menyelamatkan Ayah dari kubangan trauma masa kecilnya itu? Laki-laki cinta pertamaku, yang kini terbaring tak berdaya karena cinta pertamanya telah pergi meninggalkannya. Sanggupkah aku? ****** Segini dulu, ya. Update lagi kalau udah 100 love. Jangan lupa follow akunku, juga IGku @sayocamar_165
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD