Kuekori langkah Bude Arum menuju kantin rumah sakit, setelah tadi beliau memaksaku untuk menyingkir sejenak dari kamar rawat Ayah.
Sebenarnya teramat enggan aku meninggalkan kembali lelaki panutanku yang masih tampak tenang dalam tidurnya itu. Apa yang dikatakan dokter tadi semakin mengguncang batinku. Tak ingin lagi aku berjauhan dengannya walau sekejap.
Sungguh kalimat-kalimat tanya semakin berdengung nyaring dalam otakku, saling tumpang tindih akan apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah. Namun seberapa pun usahaku mencari jejak-jejaknya di masa dulu, tak kutemukan seutas benang merah pun untuk bisa kupintal menjadi lembaran cerita yang mungkin terjadi pada suatu masa. Dugaan akan ketidak-pekaan diriku pun terhadap kondisi keluargaku sendiri makin menenggelamkanku dalam kubangan gundah.
Namun melihat aku yang masuk kembali ke dalam kamar rawat Ayah dengan tatapan kosong, dan termenung entah berapa lama, membuat Bude Arum akhirnya menyeret langkahku kembali keluar dari ruangan itu.
Kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru kantin rumah sakit yang tampak lengang siang ini. Seingatku tadi Raka pamit hendak ke sini, tapi tak kutemukan di sudut manapun keberadaannya. Ke mana lagi dia?
"Duduk, Nduk, ada yang mau bude ceritakan. Lagipula kamu juga perlu mengisi perut kamu. Sudah lewat jam makan siang, bude yakin kamu lupa untuk makan siang. Iya, 'kan?" perintah Bude Arum begitu kami sudah memilih tempat duduk yang sekiranya pas untuk tempat berbincang kami. Aku hanya mengangguk malas, entah mengapa sepertinya cacing-cacing di perutku saat ini sangat tenang, mungkin sedang berdemo mogok makan.
"Bude tadi sempat mendengar perbincangan kamu dengan dokter dari kejauhan. Maaf kalau Bude kamu anggap terlalu ikut campur. Tapi perlu kami tekankan bahwa kalian sudah kami anggap seperti anak kandung kami sendiri, sama dengan Mbak Wulan dan Mas Reno. Jadi kami tidak bisa membiarkan kalian menghadapi masalah ini sendirian," terang Bude Arum panjang lebar.
Sementara aku terus bergeming. Tak tahu harus bersikap bagaimana. Semua keadaan ini begitu kusut, belum bisa kupahami sepenuhnya.
"Semoga saja dugaan Bude dan Pakde salah. Tapi kalau kami boleh tahu, apa yang belum kamu ceritakan kepada kami?” Bude Arum kembali bertanya kala tak didapatinya respon apapun dariku.
“Jangan malu untuk menceritakan apapun, Nduk. Jangan disimpan sendiri, berbagi lah dengan kami, siapa tahu kita bisa mencarikan jalan keluarnya bersama."
Usapan lembut dari tangan yang mulai nampak beberapa kerut di sana itu, entah mengapa serasa mengalirkan kesejukan melalui pori-pori kulitku.
Tertengadah kepalaku yang sedari tadi kubiarkan terus tertunduk, menatap lekat pada pola abstrak dari kain penutup meja kantin ini.
Lalu penuh ragu aku keluarkan lagi botol yang menjadi sumber kegundahanku itu. "Rania menemukan ini di laci nakas Ayah tadi pagi saat kami hendak membawa Ayah ke sini Bude," kuangsurkan botol itu mendekat ke arah Bude Arum.
"Obat apa ini, Nduk?" tanya Bude Arum sambil memutar-mutar botol dan menelisik ke dalam isinya.
Percakapan kami terjeda saat pemilik kantin datang mengantarkan pesanan kami. Namun entah mengapa, soto ayam yang mengepulkan asap panasnya itu pun tak mampu memancing para penghuni perutku untuk menuntaskan aksi berdemonya.
"Menurut petugas apotek itu obat anti depresan, Bude. Mungkin saja itu milik Ayah, dan tadi setelah Rania tunjukkan kepada dokter, dokter bilang akan dikonsultasikan dengan psikiater."
Gerak menyuap Bude Arum terhenti di udara, bahkan sendok yang dipegangnya pun kembali ia letakkan di atas mangkuk.
Tak nampak aura terkejut dari wajah Bude Arum, sepertinya berita ini bukan hal baru di rungunya. Kenyataan di depan mata ini semakin menguatkan pradugaku bahwa aku memang tidak mengetahui sepenuhnya kondisi keluargaku.
Berdeham sebentar Bude Arum lalu menyesap pelan teh hangat pesanannya. Kemudian disingkirkannya mangkuk soto ayam yang belum tandas isinya itu dari hadapannya. Rupanya beliau juga kehilangan selera makan mendengar berita yang baru saja kusampaikan itu.
Digenggamnya lembut kedua tanganku yang makin lama kurasa tak memiliki daya, bahkan untuk memegang sendok pun aku lemah.
"Sepertinya kamu memang harus tahu cerita ini, Nduk. Kamu sebagai anak tertua yang sekarang mau tak mau menjadi sandaran adik-adikmu. Dan kamu juga mendapat amanah dari almarhumah Ibumu untuk menjaga adik-adikmu, juga Ayahmu, 'kan?"
Mengangguk lemah kepalaku. Bukan aku tak merasa sanggup untuk menjadi seperti apa yang Ibu minta, hanya saja ternyata tak semudah seperti yang aku bayangkan.
Kupikir cukup lah dengan mengerjakan rutinitas yang dulu sering dilakukan Ibu, dan memastikan semua kebutuhan adik-adik dan Ayah tetap terpenuhi. Nyatanya itu belum cukup. Banyak kubangan-kubangan yang ternyata tak kusangka memerosokkan kaki kami dalam menapaki perjalanan hidup.
Dan kurasa ini baru di awal saja.
"Ini tentang sebuah cerita di masa lalu. Cerita yang hanya almarhumah Ibumu dan Bude yang tahu. Kalau Pakdemu, ya, baru tahu beberapa hari belakangan ini, saat bertanya tentang keanehan pada Ayahmu. Terpaksa Bude akhirnya bercerita kepada beliau.”
Menghela napas sebentar Bude Arum sebelum melanjutkan cerita yang nampak tak sederhana ini.
“Kenapa Pakde Warto dan Pakde Wahyu tidak tahu? Karena kejadian ini terjadi setelah mereka bekerja di luar kota dan jarang sekali pulang ke sini. Ibumu pikir juga tidak penting untuk menceritakan hal ini pada mereka, toh Ayah dan Ibumu baik-baik saja sampai saat itu. Dan Bude harap kamu bisa bersikap bijak setelah mengetahui cerita ini."
Bude Arum menjeda ceritanya kembali sekian menit sambil matanya menyorot tajam ke manik mataku. Seakan mencari titik pantul untuk mengukur seberapa besar kesiapanku menerima cerita yang akan disampaikannya.
"Ini tentang Ayahmu, Nduk. Kamu tahu, ‘kan, kalau Ayahmu itu yatim piatu dan anak semata wayang?"
Mengangguk penuh ragu kepalaku. Memang informasi tentang keluarga Ayah sangat minim sekali yang kami ketahui. Setahu kami bahwa Kakek dari pihak Ayah—yang masih memiliki kekerabatan dengan Eyang kakung, Kakek dari pihak Ibu—bersama Nenek, mereka sudah meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas saat Ayah masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Setelah kepergian mereka, Ayah lantas diasuh oleh Eyang kakung dan Eyang putri.
Saat kami menanyakan tentang sepupu-sepupu Ayah ataupun saudara-saudara yang lain, Ayah dan Ibu selalu saja mengalihkan keingintahuan kami dengan cerita-cerita yang lain. Sehingga kami merasa tak memiliki saudara lain selain saudara dari pihak keluarga Ibu. Sejak itu kami tak lagi menanyakan tentang keberadaan keluarga besar Ayah.
Bude Arum menghela napasnya berat seraya bergumam lirih, "Maafkan aku Sekar, kalau aku harus menceritakan cerita yang sesungguhnya ini kepada anakmu."
Semakin berdenyut kepalaku mendengar gumaman Bude Arum.
Tentang cerita yang sesungguhnya? Itu artinya ada cerita yang ditutup-tutupi.
Atau cerita yang diubah alurnya?
Dan sepertinya itu adalah sebuah rahasia besar. Rahasia apa itu?
"Sebenarnya kami tidak tahu apakah Ayahmu itu seorang anak yatim piatu atau kah anak semata wayang. Juga apakah Kakek-Nenekmu meninggal dunia dalam kecelakaan seperti yang diceritakan Ayah dan Ibumu selama ini atau bagaimana, kami tidak tahu sama sekali."
Hah? Maksudnya bagaimana? Bukankah cerita yang kami tahu bahwa mereka masih ada hubungan kekerabatan. Lalu di mana keluarga Ayah sekarang?
Bude Arum mengangkat telapak tangan kanannya begitu aku hendak menyuarakan tanya, pertanda tak ingin aku menyela cerita yang belum diselesaikannya.
"Karena kami tidak mengenal mereka, pun kami tidak ada hubungan kekerabatan. Tiga puluh sembilan tujuh yang lalu, Ayahmu dibawa pulang oleh Almarhum Eyang kakung dari pasar dalam keadaan menggigil dan histeris."