Langkahku gontai menyusuri koridor rumah sakit menuju kamar rawat ayah. Berbagai prasangka tak mau menyingkir barang sekejap dari otakku. Berkelebat rentetan-rentetan peristiwa beberapa tahun belakangan, namun tak ada satu indikasi pun yang menggambarkan gelagat ayah membutuhkan obat anti depresan itu.
Ingatan tentang perbincangan-perbincangan bersama almarhumah ibu pun tak ada yang bisa kugunakan untuk mencari rekam jejak di masa lalu. Apakah ibu juga mengetahui tentang hal ini, namun dirahasiakannya dari kami, anak-anaknya?
Kepada siapa hal ini harus kukonfirmasi?
Pintu kamar yang tiba-tiba terbuka menyeretku kembali dari pengembaraan kisah-kisah di masa lalu. Entah sudah berapa lama aku terpaku di depan kamar rawat ayah.
"Ngapain, Mbak, bengong di situ?" Raka berdiri di ambang pintu, jaket sudah dikenakannya.
Tergeragap aku masih belum sepenuhnya mengembalikan jiwa yang sempat berkelana tadi ke dalam raganya, "Mau ke mana, kamu?"
"Cari cemilan di kantin, bosan aku enggak ngapa-ngapain di kamar," jawabnya sambil berlalu melewatiku.
Kulongokkan kepala melewati daun pintu, ragu masih menguasai hati akan bagaimana aku bersikap di depan ayah. Bukan tidak mungkin ayah bisa membaca gerak tubuhku, ‘kan?
Napas lega kuembus kala mendapati ayah masih terlelap dalam istirahatnya, dokter bilang bahwa ayah juga mendapat suntikan obat penenang agar bisa beristirahat dengan tenang untuk sementara waktu.
Perlahan kulangkahkan kaki memasuki kamar inap ayah, lalu pelan kuletakkan tas selempang di atas sofa yang tersedia dalam kamar rawat ini. Tanpa menimbulkan suara yang mungkin mengganggu tidurnya, kulangkahkan kaki mendekati ranjang. Kupandangi wajah teduh ayah dalam diam, wajah yang tak mengguratkan sama sekali adanya kegelisahan di sana.
Atau aku yang tak pandai membaca situasi?
Lika-liku pertama mengemban amanah ibu sepertinya enggak akan mudah untuk ditunaikan.
Masih segar dalam ingatan pesan yang ibu sampaikan saat melakukan panggilan video, yang tak pernah kusangka itu adalah komunikasi kami yang terakhir. Tak terasa kembali air mata ini meluncur bebas membelah kedua pipi.
"Ibu titip ayah dan adik-adikmu, ya, Mbak. Ibu yakin kamu mampu menjaga adik-adikmu. Sesekali temani ayahmu ngobrol, ayah paling suka kalau didengar, sekalipun obrolan-obrolan receh."
Saat itu keningku berkerut karena setauku malah ayah yang lebih sering diam mendengar celoteh kami daripada menceritakan tentang dirinya. Tapi sekarang, jangankan saling mengobrol, nyatanya jarak yang terbentang di antara kami demikian jauh.
"Ibu jangan bilang gitu dong, Ibu pasti segera sembuh, kok. Kita pasti bisa segera kumpul lagi," jawabku kala itu di antara isak yang tertahan.
Siapa yang sanggup melihat wanita kesayangannya bicara terbata-bata, dengan ventilator yang tersemat di hidung. Andai saja diperkenankan, sudah aku terobos dinding kaca itu untuk menggenggam erat jemari ibu, memberinya semangat untuk bertahan, tak peduli jika virus k*****t itu juga akan singgah di tubuhku.
Menggeleng lemah kepala ibu. "Sepertinya waktu ibu sudah tak lama lagi, d**a ini semakin terasa sesak, napas ibu juga semakin pendek."
Meraung aku di depan kamar rawat ibu, kenapa harus ibu yang mengalami semua ini? Tuhan, tak bisa kah, Kau tukar posisi kami? Aku yakin aku akan lebih bisa bertahan jika virus s****n itu singgah di tubuhku.
Ketukan di pintu membuyarkan kilas balik perih yang susah payah aku redam di dalam hati. Tak lama masuk Bude Arum bersama Pakde Rusdi membawa parsel buah di tangannya.
"Assalamu'alaikum, Nduk," sapa Bude Arum sambil meletakkan parsel itu di atas nakas rumah sakit.
"Wa'alaikumsalam, Bude, Pakde," jawabku sambil menyalim takzim mereka.
"Bude kok tau kalau ayah di rawat di sini?" tanyaku penuh heran, siapa kira-kira yang memberi kabar keluarga Bude Arum kalau ayah masuk rumah sakit. Karena aku bahkan belum sempat menyentuh ponselku untuk memberi kabar siapa pun.
Bagaimana juga aku bisa ingat dengan benda pipih itu, kalau sedari tadi otakku terus berkelana tak tentu rimba, memikirkan benda bulat-bulat kecil di dalam botol itu.
Menghela napas pendek Bude Arum sambil membelai kepalaku, "Kamu itu kalau ada apa-apa, mbok ya, ngabari bude to nduk. Minimal kirim pesan kalau kamu ndak sempat telepon. Untung saja tadi bude sama pakde menyempatkan diri mampir ke rumahmu sepulang kami menghadiri undangan pernikahan anak teman bude. Eh, lha kok sampai sana cuma ketemu Mbok Nah yang beritahu kalau ayahmu di bawa ke rumah sakit tadi pagi. Coba kalau kami tadi ndak mampir, bisa jadi sampai ayahmu pulang kami ndak tau apa-apa," gerutu Bude Arum yang semakin membuat dadaku sesak, hingga tak tahan mengalir kembali air mata yang gegas kuseka sebelum pintu dibuka tadi.
Segera saja Bude Arum merengkuh tubuhku dalam pelukan hangatnya. "Maaf Bude, Rania terlalu kalut, enggak sempat ngabari siapa-siapa," aduku di antara sesenggukan.
"Yo wes, sudah ndak apa-apa. Sekarang bagaimana keadaan ayahmu? Kenapa kok bisa sampai dirawat di sini?"
Akhirnya mengalirlah semua cerita yang terjadi hari-hari belakangan saat kami sudah berpindah duduk di sofa, khawatir percakapan kami akan membangunkan ayah.
Dimulai dari Rizki yang pergi naik gunung dan hingga sekarang belum juga pulang tanpa pamit kepada ayah, sampai kejadian Raka kemarin.
Tentang keinginan ayah untuk menikah lagi kurasa belum tepat jika kuceritakan juga kepada Bude Arum sekarang. Kalau Bude Arum sampai tahu, bukan tidak mungkin seluruh keluarga besar almarhumah ibu juga akan segera tahu. Aku dalam kebimbangan besar akan hal itu.
Sudah hendak kuceritakan tentang penemuanku akan botol obat itu serta penjelasan yang aku terima dari petugas apotek, namun ragu segera menderaku. Apakah tidak mengapa bila hal ini diketahui oleh keluarga besar almarhumah ibu? Kira-kira bagaimana reaksi mereka jika mengetahui hal ini?
"Kira-kira apa ini juga ada kaitannya dengan keadaan ayahmu di kantor, ya?" gumaman Bude Arum menyentakku dari lamunan penuh dilema.
Satu sisi aku membutuhkan seseorang untuk tempat berbincang mengenai kondisi ayah yang kemungkinan besar, benar mengkonsumsi obat itu, namun sisi hatiku yang lain meragu. Bagaimanapun ini adalah aib ayah.
"Kenapa dengan ayah di kantor, Bude?"
Saling berpandangan Bude Arum dan Pakde Rusdi sejenak sebelum terdengar hela napas penuh bebannya, "Kata beberapa pegawai di sana yang melapor pada pakde saat menyambangi kantor, mereka bilang kalau beberapa hari ini ayahmu sering menyuruh mereka untuk lembur di kantor, padahal tidak banyak pekerjaan yang menuntut mereka untuk lembur. Dan yang lebih aneh lagi, pekerjaan ayahmu sering kacau, desain-desain gambar banyak yang tidak sesuai dengan permintaan klien. Sebenarnya apa yang terjadi pada ayahmu?"
Tercengang aku mendapati hal ini. Astaga, mengapa keadaan jadi sebegini kacau?
Ibu yang berpulang mendadak, Rizki yang kembali berulah, dan sekarang ayah yang terbaring sakit. Apa lagi kejadian yang hendak menimpa keluarga kami? Apa aku akan sanggup menghadapinya? Mungkin sebentar lagi gelombang sesak akan segera menggulungku ke dalam pusaran keputus-asaan.
"Kamu yang sabar, ya, Nduk. Bude yakin kamu akan kuat menghadapi ini semua, ingat pesan almarhumah ibumu," ucap Bude Arum seakan bisa membaca keruhnya hati lewat sorot mataku.
Suasana hening kemudian tercipta, masing-masing dari kami tenggelam dalam alam pikiran sendiri, sambil terus memandang ke arah sosok yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Sampai ketukan di pintu kembali terdengar yang tak lama kemudian menampilkan sosok bersnelli disertai beberapa orang di belakangnya.
"Selamat sore."
Serentak kami mendekat kembali ke arah ranjang untuk mendengarkan penjelasan dokter yang sekarang masih sibuk memeriksa ayah, juga membaca rekam medis yang dibawa oleh perawat yang menyertainya.
"Keadaan Pak Hadinata sudah stabil, hasil laboratorium juga sudah keluar dan tidak ada indikasi penyakit yang membahayakan. Sepertinya Pak Hadinata hanya terlalu memforsir tubuhnya dan mungkin sedikit ada beban pikiran. Kita lihat perkembangan kondisinya dalam satu atau dua hari ke depan, jika tidak ada gejala lain yang muncul, maka lusa pasien sudah bisa dirawat jalan. Begitu, ya."
Segera saja dokter bersama perawat meninggalkan kamar rawat ayah begitu selesai memberikan penjelasan yang sangat melegakan bagi kami.
Seketika aku teringat pada botol obat itu. Gegas kusambar tas yang tadi kuletakkan di atas sofa dan berderap menyusul langkah dokter sebelum terlalu jauh. Meninggalkan Bude Arum dan Pakde Rusdi yang menatapku bingung.
"Permisi dokter," ucapku dengan napas yang memburu.
Kukeluarkan botol obat itu dari dalam tas dan segera kutunjukkan kepadanya, "Maaf, saya menemukan obat ini di dalam laci nakas ayah, apakah ini ada kaitannya dengan keadaan ayah sekarang?"
Bertaut kedua alis dokter itu setelah mengamati butir-butir obat di dalamnya. "Kalau begitu akan saya konsultasikan dulu dengan psikiater, ya," ucapnya sambil menyerahkan kembali botol obat itu kepadaku.
Serasa seember air dingin mengguyur tubuhku.
Ya Allah, apakah yang aku takutkan akan menjadi kenyataan?
*****
Jangan lupa tap love-nya, ya.
Juga follow akun dan IG-ku @sayocamar_165