Kesunyian semakin mendera setelah berlalunya ayah ke dalam kamarnya. Makan malam dan sarapan pun dilewatkannya. Hanya tersisa aku dan Raka yang menikmati makan dalam diam. Masakan Mbok Nah yang biasanya membuat cacing-cacing dalam perutku berpesta pora, mendadak hambar di lidah.
“Kamu masih belum mau cerita, Dek? Ngapain kamu di sana?”
Tak tahan aku dengan kesunyian ini. Lagipula masalah ini juga harus segera diselesaikan. Setelah kegagalanku membujuk ayah, aku juga tidak mau masalah ini terus mengambang.
Belum lagi masalah Rizki yang melenceng dari janjinya. Ini sudah hari kelima sejak dia pamit kala itu. Entah di mana dia sekarang. Telepon selulernya pun tidak bisa dihubungi. Membuat aku semakin uring-uringan saja.
Arrgh ... Bisa-bisa aku terserang penyakit darah tinggi kalau terus begini. Enggak kebayang gimana sabarnya ibu dulu menghadapi kelakuan kami semua. Baru sekarang aku merasakan, betapa banyak beban yang harus ditanggung orang tua kami, khususnya ibu.
Ibu yang juga wanita karier, namun tak sekalipun lengah terhadap tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga. Kami mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang utuh, berlimpah malah.
Ibu, sempurna bagi kami.
“Lama-lama kamu nyebelin tau enggak, sih, Dek? Ditanyain bukannya dijawab malah diam aja. Kamu pikir mbak paranormal yang bisa tau isi hati sama pikiran kamu?”
Kenapa mendadak Raka jadi bisu dan tuli gini, sih? Padahal dulu tak satupun rahasia yang enggak terbagi antara kami. Masih dia suapkan sesendok demi sesendok nasi goreng seafood kesukaannya ke dalam mulut, tanpa menghiraukan nada suaraku yang mulai meninggi.
Memang, sih, gurat wajahnya sudah enggak sekaku kemarin, namun bungkamnya lama-lama membuat frustasi.
“Aku enggak ngapa-ngapain di sana,” jawabnya acuh.
“Heh, enggak ngapa-ngapain gimana? Kamu tentu tahu, kan, itu tempat apa? Lagi bukannya kamu kemarin pamit mau ke sekolah, kenapa ada di sana?” tanyaku beruntun tak puas atas jawaban singkatnya.
Terkejut aku mendengar denting keras sendok dan garpu yang sengaja diletakkan dengan kesal. “Dibilangin enggak ngapa-ngapain, kok. Ya, aku lagi apes aja, sekalinya ada di sekitar sana, ketemu sama ayah,” bersungut Raka seraya menyandarkan badannya di kursi, kedua tangannya ia lipat penuh kesal di depan d**a.
Sungguh pengin aku jitak juga, sih, Raka ini. Cerita, kok, setengah-setengah. Enggak tahu apa kalau kepalaku ini nyaris meledak memikirkan spekulasi-spekulasi yang berseliweran liar di otakku.
Memejam erat kedua mataku menahan emosi sekiranya enggak meledak sekarang. “Oke, kalau begitu untuk apa kamu ada di sekitar sana?”
“Sepeda motor temanku macet pas di sekitar sana, kehabisan bensin. Terus dia lagi jalan balik, tuh. Sepertinya ada yang jual bensin enggak jauh dari sana. Jadi, ya, daripada aku ikutan balik mending aku duduk, dong, di pinggir jalan. Puas?” jawabnya sewot.
Menaik sebelah alisku, enggak bisa sepenuhnya percaya pada penjelasannya. Rasanya mungkin enggak, sih, kalau hanya begitu kejadian yang sesungguhnya? Mengingat respon dari ayah kemarin. “Benar cuma begitu?”
Berdecak kesal Raka menanggapi sikap tidak curigaku. “Nyesel tau enggak, sih, aku cerita. Tau gini mending aku diam terus sekalian, biar salah pahamnya tambah gede.”
Rasa bersalah segera mendera batinku. Harusnya aku hargai Raka yang sudah mau menjelaskan situasi yang mungkin memang benar demikian. Bukankah Raka memang selalu jujur kepadaku.
“Sori, deh, kalau begitu, mbak cuma masih enggak bisa percaya sepenuhnya sama cerita kamu. Kalau kejadiannya cuma begitu, ngapain ayah sampai marah seperti itu? Terus masalah rokok itu gimana? Kamu enggak lagi belajar jadi anak bandel, ‘kan?”
Melotot sempurna bola mata Raka mendengar kalimat bernada menuduhku, “Aku masih ingat pesan almarhumah ibu, Mbak. Aku juga sudah janji sama ibu bakalan tetap jadi anak yang bisa dibanggain.”
Merebak bulu-bulu halus di sekujur tubuhku, enggak menyangka sama sekali bahwa Raka masih setia memegang janjinya kepada almarhumah ibu.
“Soal rokok, ya, punya teman aku itu. Dia nitipin ke aku sementara, secara dia beli bensin, kan? Kenapa enggak dibuang aja? Ya, karena baru juga dia bakar, masih belum habis seberapa. Eman, sih, kata dia. Ya, aku enggak bisa larang dia dong buat enggak ngerokok, itu urusan dia kali,” makin sewot saja Raka menceritakan akar permasalahan yang enggak jelas ini.
Napas kasar aku embuskan, mulai bisa menebak kenapa situasinya jadi begini runyam. “Dan pasti kamu kemarin enggak cerita begini, kan, ke ayah? Kamu pasti diam aja ketika ditanya ayah, ‘kan? Lalu ayah akhirnya bergulat dengan prasangkanya sendiri, ‘kan?” berondongku sambil menunjuk ke wajahnya.
Raka mengedikkan bahunya malas. Kenapa, sih, kaum lelaki di keluarga ini enggak pernah bisa bicara dari hati ke hati?
Sudah hendak kusemburkan kembali kalimat-kalimat tuduhan yang sudah terangkai indah di otakku, ketika suara piring jatuh mengejutkan kami. Sepertinya berasal dari kamar ayah.
Berderap langkah kami menaiki tangga menuju kamar ayah. Apa yang terjadi dengan ayah? Semenjak semalam ayah tak mau keluar dari kamarnya. Bahkan untuk makan malam saja aku meminta Mbok Nah mengantarkan ke kamar ayah. Satu kebodohan yang segera aku sesali. Harusnya aku sendiri yang mengantarkannya.
“Ayah ... Ayah kenapa? Buka pintunya, Ayah!”
Ketukan, tidak, lebih tepatnya gedoran kami lakukan di pintu kamar ayah sambil terus memanggilnya. Berkali-kali handle pintu kami putar, namun tak jua mau terbuka. Kenapa harus dikunci, sih?
“Ka, kunci serep di mana, sih?”
“Mana aku tau, tanya Pak Min kali.”
Segera saja Pak Min datang dengan tergopoh-gopoh begitu mendengar teriakan kami.
“Pak Min, kunci serep di mana? Tolong ambilin!”
Belum juga Pak Min beranjak untuk mencari kunci serep, Mbok Nah sudah terbirit-b***t menghampiri kami sambil membawa apa yang kami butuhkan. “Ini, Non.”
Bersyukur kami punya Mbok Nah yang sering tanggap dengan keadaan di rumah ini. Itu juga yang membuat ibu begitu menghargai Mbok Nah. Bahkan Mbok Nah sudah kami anggap sebagai bagian dari keluarga ini.
“Makasih, Mbok.” Tanpa menunggu lama segera saja kumasukkan anak kunci dan merangsek masuk ke kamar ayah.
Seketika mata kami terbelalak melihat ayah yang terkulai lemas, terduduk di sisi tempat tidur. Nampan yang pasti tadinya berada di atas nakas sudah tergeletak di bawah, begitupun isinya, sudah berhamburan mengotori lantai.
“Ayah!!” pekik kami serentak lalu membantu ayah untuk berdiri dan membaringkannya pelan di atas ranjang.
Astaga! Panas segera merambati kulit kami kala bersinggungan dengan kulit ayah. Segera kuambil tambahan selimut dari dalam lemari untuk menyelimuti tubuh ayah yang menggigil.
“Ayah ... Ayah, kenapa?”
Hanya lenguhan yang menjadi jawabnya. Sejak kapan ayah demam. Semalam Mbok Nah enggak mengatakan apapun selepas ia mengantarkan makanan ke kamar ayah.
“Kita bawa ke rumah sakit aja, Mbak.”
Tanpa pikir panjang segera kuangguki saran Raka dan menyuruh Pak Min menyiapkan mobil untuk segera membawa ayah ke rumah sakit. Selama ini jarang sekali ayah sakit, sekalinya sakit paling cuma pusing atau masuk angin.
Sambil menunggu Pak Min menyiapkan mobil, kusiapkan beberapa keperluan ayah yang sekiranya diperlukan di rumah sakit nanti. Kubuka laci-laci nakas untuk mencari keberadaan dompet ayah, kartu identitas pasti akan diperlukan nanti.
Gerak tanganku terhenti kala kutemukan sebotol obat di dalam laci nakas. Beradu pandangan kami mencoba menerka tentang obat apakah di dalam botol ini. Sepertinya bukan obat untuk sakit kepala atau obat flu. Mungkin lebih tepatnya seperti obat ... tidur?
Milik siapa ini? Apakah milik ayah? Untuk apa ayah mengkonsumsi obat ini?
Berbagai spekulasi berkelebat di dalam benak kami. Tak mau terlalu jauh berasumsi, segera saja kumasukkan botol obat itu ke dalam tas yang sudah kuisi dengan keperluan ayah, siapa tau bisa kutanyakan sekalian nanti kepada dokter di rumah sakit. Keadaan ayah lebih penting daripada mencari jawab atas prasangka kami.
Segera saja Raka membopong ayah dibantu Pak Min menuju mobil yang telah siap. Mobil berjalan dengan kecepatan penuh, entah mengapa atau sebuah keberkahan yang sangat kami syukuri, jalanan cukup lengang pagi ini.
Dudukku sungguh enggak tenang di depan ruang IGD menunggu kabar tentang kondisi ayah yang sedang diperiksa oleh dokter di dalam. Pun demikian Raka yang terus saja menunduk, sepertinya sesal melingkupi hatinya. Entah ini berkaitan atau tidak, nyatanya sakit ayah bertepatan setelah kejadian Raka yang kami sangka sedang berulah.
“Keluarga pasien Hadinata?”
Sontak kami mendekat ke arah perawat yang memanggil nama ayah kami, berharap kabar baik yang akan disampaikannya.
“Gimana keadaan ayah saya, Suster?”
“Kondisi pasien sudah stabil, tapi harus dirawat dulu beberapa hari, untuk mengetahui kondisi selanjutnya. Segera urus administrasinya, ya.”
Aku mengangguk seraya bergegas menuju ruang administrasi untuk mengurus kepindahan ayah dengan napas sedikit melega. Untunglah kondisi ayah sudah membaik.
Begitu ayah sudah berbaring dengan nyaman di ruang rawat inap VVIP, segera saja kulangkahkan kaki menuju apotek, berharap petugas di sana bisa membantuku mengentaskan tanya yang memenuhi hati akan keberadaan botol obat itu.
“Ada yang bisa dibantu?” sapa ramah seorang bapak dengan kacamata yang bertengger di ujung hidungnya.
Penuh ragu kukeluarkan botol obat itu dari dalam tas selempang, dengan merapal harap semoga obat dalam botol itu hanya sekadar vitamin atau sejenisnya lah.
“Begini, Pak, saya mau bertanya kira-kira obat ini untuk apa, ya?” kuulurkan botol obat itu kepadanya. Setengah memicing ia teliti beberapa butir yang telah dikeluarkannya dari dalam botol. Matanya menelisik bolak-balik antara aku dan butir-butir obat itu.
“Sebentar, ya, saya tanyakan lebih jelasnya kepada apoteker di dalam.”
Pikiranku semakin berkelana jauh, prasangka-prasangka negatif kembali mondar-mandir di benak. Obat apa sebenarnya itu?
“Maaf sebelumnya, kalau boleh tau siapa yang mengkonsumsi obat ini?” tanya bapak petugas apotek itu setelah beberapa saat kembali dari dalam ruangan.
“Kenapa, Pak? Apa obat itu berbahaya?” tanyaku memburu menanggapi pertanyaannya yang kurasa berbalur penuh curiga.
Kembali dia menatapku, sepertinya ingin mencari jawab dari dalam bola mataku. “Ini obat anti depresan, dosisnya memang masih ringan, tapi kalau dikonsumsi dalam jangka panjang bukan tidak mungkin pasien akan membutuhkan dosis yang lebih tinggi, begitu secara singkatnya.”
Jantungku serasa melorot sampai ke lantai mendengar jawaban yang enggak aku duga sama sekali itu.
Siapa sebenarnya yang mengkonsumsi obat itu? Sepanjang pengetahuan dan perasaanku, bukan ibu yang membutuhkan obat itu. Setahuku ibu baik-baik saja dalam masa hidupnya.
Apakah ayah?
Kenapa ayah membutuhkan obat anti depresan?
Ada apa dengan ayah?
============
Jangan lupa tap love, ya.
Follow juga Akunku.
Juga IGku @sayocamar_165