Bab 4. Raka Berulah

1188 Words
Terlonjak aku dari duduk rebahku di sofa ruang keluarga demi mendengar suara daun pintu yang dibanting keras, kemudian disusul kemunculan sosok Raka dengan wajah yang mengeras. Tak kudengar ucapan salam darinya, dan kini ia terus saja melewatiku tanpa mau menoleh barang sejenak, kemudian menghilang di balik pintu kamarnya. Entah apa yang terjadi padanya. Seingatku tadi pagi dia memberitahuku bahwa dia akan pergi ke sekolah untuk mengikuti pembelajaran yang mulai kembali diselenggarakan di sekolah, meskipun dalam durasi waktu yang singkat. Sudah hendak kusuarakan protesku atas sikap tak sopannya itu, namun urung kulakukan saat sudut mataku kemudian menangkap bayangan ayah membuka daun pintu yang tadi berdebum keras. Tumben ayah pulang ke rumah di jam seperti ini? Bukan di jam istirahat kantor pula. Apa ada kaitannya dengan kedatangan Raka dengan wajah merahnya? Kembali harus kutahan rasa ingin tahuku begitu kulihat ayah mendudukkan dirinya di sofa single sambil memijit keningnya. Embus napas berat juga mengiringi. Dari raut wajahnya saja aku tahu bahwa ayah sedang menahan geram. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua? Segera kubawa kaki ini menuju dapur, mungkin segelas air putih bisa meredakan gelegak emosi yang sudah memenuhi rongga dadaa ayah. “Diminum dulu, Yah,” kuangsurkan segelas air yang kemudian langsung diteguk habis olehnya. “Sebenarnya ada apa, Ayah? Kenapa Ayah dan Raka pulang bersamaan dalam keadaan penuh emosi?” Mencicit suaraku menyuarakan tanda tanya besar yang bergelayut dalam hati setelah beberapa hitungan menit berlalu, gurat gusar di wajah ayah kulihat juga mulai sedikit memudar. Jika memang benar prasangku akan adanya kaitan antara kedatangan mereka bersama dengan emosi yang sempat meledak tadi, maka ini bukan hal yang remeh pastinya. “Tolong panggil adikmu kemari, Mbak. Ayah harus bicara dengannya.” Berat rasanya kaki ini melangkah menuju kamar Raka, dengan beribu pertanyaan yang enggan meninggalkan otak. Pun dengan kabut gelisah yang belum juga menipis dari hati. Namun tak ayal perintah ayah harus dilaksanakan. Perlahan kuketuk daun pintu yang tertutup rapat itu sambil lirih kupanggil namanya. Namun hingga tiga kali ketukan pun tak ada sahutan kudengar darinya. Apa yang sedang dia lakukan hingga tak mendengar panggilanku. Kucoba memutar handle pintu, pelan, penuh ragu. Sesuatu hal yang tidak pernah aku lakukan. Orang tua kami selalu menekankan akan pentingnya menjaga privasi masing-masing, apalagi sejak kami semua beranjak remaja. Tak ada lagi acara selonong masuk ke kamar masing-masing dari kami seenaknya. Terkunci. “Dek!” kali ini bukan lagi ruas jari yang kugunakan untuk mengetuk daun pintu kamar Raka, melainkan telapak tangan. “Kamu di dalam, ‘kan?” Kuulang sekali lagi, bahkan suaraku lebih nyaring dari sebelumnya. Dia baik-baik saja di dalam, ‘kan? Segera saja suara slot kunci diputar terdengar, diiringi daun pintu yang hanya dibukanya sedikit. “Apa, sih, Mbak? Ganggu aja.” Raka memalingkan wajahnya, enggan menatapku. Kutahan sejenak napasku demi melihat sisa air di sudut matanya. Dia bukan baru selesai menumpahkan air matanya, ‘kan? Teramat sangat aku berharap itu hanya sisa dari air mencuci muka. Bukan seperti yang aku sangkakan. “Ditunggu ayah di bawah. Ayah mau bicara sama kamu.” Mendengus Raka sambil keluar dari kamarnya, mengimitasi langkahku menuruni anak tangga. Dengusan yang jelas terdengar itu menguatkan pradugaku bahwa ada sesuatu yang terjadi di sini. Aura penuh intimidasi segera membekap kala kami sudah duduk kembali di depan ayah. Ayah memang jarang sekali meluapkan emosinya kepada kami, namun sekalinya itu terlepas, tak ada satupun dari kami yang sanggup bahkan untuk sekadar tetap menegakkan kepala. Dulu, ibu yang kemudian akan membujuk ayah untuk meredakan amarahnya. Namun kini. Ah ibu, aku sangat merindukanmu. “Sekarang beritahu ayah, apa mau kamu, Raka?” Suara berat ayah akhirnya mengurai tali jeri tak kasatmata yang sejenak mengikat erat daada kami. Sekalipun sorot intimidasi masih menghuni penuh bola mata ayah. Raka bergeming, bahkan tatapan matanya tak sedikitpun bergeser dari menatap pola karpet yang terhampar di bawah sofa. Hanya kedip kelopak matanya sesekali terlihat, menandakan bahwa ia masih tersadar. Oh Tuhan, rasa penasaran ini perlahan akan membunuhku. Ada apa sebenarnya ini? Seumur hidup baru kali ini aku merasa demikian frustrasi. Ayah yang tak pernah kujumpai memancarkan tatapan penuh intimidasi, dan Raka yang selalu jenaka. Ke mana perginya semua itu? “Ada apa, sih, sebenarnya ini, Ayah?” Kukais keberanian yang masih tersisa untuk mencari jawaban yang sedari tadi belum terjawab. Mendapati Raka yang tak menurunkan kadar kepala batunya membuatku mau tak mau harus berperan menjadi penengah kali ini. “Tanyakan kepada adikmu apa maunya, hingga harus ayah temukan dia di g**g Jala dengan rookok terselip di jarinya? Bahkan seragam sekolah masih dia kenakan.” Melotot sempurna kedua bola mataku. g**g Jala adalah tempat nongkrong anak-anak jalanan yang suka berbuat onar dengan sepeda motor mereka. Keberadaan mereka tentu sangat meresahkan. Sedang apa Raka di sana? Dengan merokok pula? Apa yang terluput dari pengetahuanku? Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa ini adalah Raka yang berulah, anak yang notabene selama ini terkenal manis. Prestasinya pun tak bisa dipandang sebelah mata. Olimpiade kimia menjadi ajang yang kerap menempatkan namanya dalam urutan juara. Apa sebenarnya yang terjadi padanya? “Dek.” Penuh lembut kucoba menyentuh sisi hatinya. Aku tahu, kepala yang membatu tak seharusnya dilawan dengan batu pula. Biarlah kutekan emosi yang sebenarnya mulai merambati hatiku. Masih segar dalam ingatanku akan perlakuan salah satu anak jalanan itu terhadap sahabatku, hingga meninggalkan trauma hebat kepadanya. Dan kini adikku terduga menjadi salah satu di antara mereka? Tak kan kubiarkan itu terjadi. “Beritahu mbak, ada apa dengan kamu, apa yang kamu lakukan di sana?” Kesabaranku nyaris habis menyaksikan Raka yang tetap mematung. Seolah hanya raganya yang tertinggal di sini. Bagaimana kami tahu apa yang menjadi kemauannya dengan bertindak seperti itu jika diam adalah pilihannya. “Jawab pertanyaan mbak, Dek. Kami ...” “Cukup, Rania.” Belum usai kalimat yang kuusahakan dengan tetap lembut meluncur dari bibirku demi membujuk Raka, saat kembali suara berat ayah terdengar. “Ini semua salah ayah. Ayah tahu kalau ayah bukan ayah yang baik buat kalian. Ayah minta maaf jika ayah tidak bisa memenuhi semua harapan kalian. Ayah tidak becus. Almarhum ibu juga pasti kecewa sama ayah. Maafkan ayah.” Memburu perkataan ayah. Tersentak nuraniku mendengar apa yang baru saja meluncur dari lisan ayah. Tak menyangka bahwa ayah memiliki pemikiran seperti itu. Dan Raka pun akhirnya menghentikan sikap kepala batunya, mengangkat kepalanya dari lantai yang sedari tadi dengan setia ia pandangi. Tak sedetik pun terlintas dalam benakku kalau laki-laki yang kini berjalan meninggalkan kami dengan kepala menunduk bukanlah ayah yang baik bagi kami. Sungguh, memang ayah hanyalah manusia biasa, tak luput dari khilaf itu sudah pasti, namun ia tetap yang terbaik bagi kami. Ia panutan kami. Mana mungkin kami menafikan semua yang sudah ayah berikan kepada kami dengan sepenuh kasih dan sayangnya. Bahkan dengan sangat aku tahu bahwa ayah sudah berusaha sedemikian keras untuk memenuhi apapun kebutuhan dan keinginan kami. “Ayah, ayah jangan bilang begitu. Rania enggak pernah berpikir seperti apa yang ayah ucapkan. Ayah yang terbaik bagi kami. Ayah ...” Berderap kakiku sambil tak henti air mata ini mengalir menyamai langkah cepat ayah menuju kamarnya. Tak kupedulikan lagi Raka yang masih tergugu di sofa. Urusan dengannya masih ada waktu lain. Tapi melihat sorot terluka dari mata ayah, tak akan pernah sanggup kubiarkan semua berlarut-larut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD