Bab 3. Tak Penting Lagi

1215 Words
“Mau kemana kamu?” tanyaku begitu melihat Rizki sudah memanggul cariernya, melangkah melewati taman yang dahulu selalu dirawat dengan sepenuh hati oleh almarhumah Ibu. Berderet bunga mawar, bunga kesayangan ibu, yang ditanam di dalam pot-pot, kemudian ditata sedemikian rupa hingga membentuk gelombang di sepanjang pinggir taman. Di sudut kiri taman ada juga tanaman bunga melati yang sangat rimbun daunnya, ketika berbarengan saat mekar kelopaknya, maka harumnya bahkan bisa tercium dari jarak lima meter. Ada juga pot-pot yang digantung, makin membuat kesan teduh di rumah ini, dan pohon cemara yang menjulang di pojok lain taman yang kerap kali mengeluarkan bunyi desau kala angin meniup cukup kencang daun-daunnya. Sesibuk apapun ibu pasti akan menyempatkan waktu di pagi hari untuk menyirami bunga-bunga kesayangannya itu. Apalagi jika tiba di hari minggu, agenda rutinnya adalah memangkas daun-daun yang sudah mengering. Hingga siapapun yang melewati taman kami akan mengatakan bahwa taman ini dirawat oleh seorang expert. Kalau rumput jepang yang sudah waktunya dipangkas memang diserahkan kepada Pak Min, sopir ayah yang terkadang merangkap jadi tukang pangkas rumput. Namun sayang tak ada satupun dari anaknya yang menuruni hobinya tersebut. Termasuk juga aku, yang sekarang mau tak mau harus melanjutkan tugas merawat taman ini. Mana mungkin kami membiarkan peninggalan ibu terbengkalai. Di sini juga salah satu tempat yang masih bisa kami hirup jejak kasih ibu. Pohon kelengkeng pun sudah mulai nampak bakal buahnya di sana-sini. Lima sampai enam bulan lagi mungkin sudah akan bisa kita nikmati buahnya. Kemarin-kemarin jangankan bisa bertahan sampai enam bulan, setiap hari akan ditemukan kulit buahnya berserakan di bawah pohon. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Rizki dan Raka yang setiap hari berebut buah yang bahkan belum benar-benar ranum. Kemudian ibu akan kembali mengeluh akibat ulah mereka yang enggak mau membuang kulit di tempat sampah. “Naik,” awab Rizki singkat tanpa perlu repot menoleh ke arahku. Bertaut kedua alisku, “Sudah pamit ayah?” Seingatku tadi pagi di waktu kita sarapan bersama, yang lebih didominasi oleh suara denting sendok dan garpu beradu dengan piring daripada percakapan kami, tak kudengar jika dia meminta ijin kepada ayah untuk naik gunung. “Apa bakal dicariin sekalipun aku enggak pulang satu tahun?” Rizki menghentikan langkahnya sejenak, meskipun tatapannya masih menyorot lurus ke depan. “Ngomong sembarangan aja, sih. Gimana pun kita tetap harus hormat sama ayah, jangan jadi anak durhaka, deh.” Segera kuletakkan selang air dan berjalan mendekat ke arahnya. Matahari sudah mulai beranjak menuju peraduannya, satu jam lagi pasti azan magrib akan terdengar. Sedangkan tak kulihat seorangpun datang untuk menjemputnya. Memangnya dia mau naik ke gunung mana? Sudah menjadi hobi Rizki mendaki gunung bersama teman-temannya, minimal enam bulan sekali. Sesuatu yang menjadi hobinya semenjak mengenakan seragam putih abu-abu. Bahkan dia pernah terpilih menjadi ketua ekstrakurikuler pencinta alam saat di kelas XI. Meskipun pelanggan hukuman skorsing masih sering disandangnya. Dulu ibu akan dengan sangat panjang lebar dan membuat berbagai macam alasan sekiranya rencana itu gagal. Namun justru kegagalan terjadi di pihak ibu ketika adu argumentasi itu berakhir dengan izin ayah penuh keterpaksaan. “Entar kirim pesan aja, deh. Kalau sempat.” Suara berdesis segera terdengar begitu telapak tanganku, tanpa berhitung detik lagi sudah mendarat dengan mulus di lengannya. “Kebiasaan, nanti kalau terjadi sesuatu sama kamu gimana?” Berdecak Rizki mendengar omelanku. “Enggak usah bawel, deh. Kayak nenek-nenek aja. Lagian siapa juga yang bakalan peduli kalau seandainya aku tersesat di hutan atau nyungsep masuk jurang sekalian? Sekalipun mati juga mungkin enggak ada yang bakal peduli.” Mendelik mataku mendengar perkataan Rizki yang enggak lagi pakai saringan. Bagaimana jika ada yang mengaminkan perkataannya. Bukankah perkataan adalah doa. “Aduh, sakit, Mbak!” Segera saja dahi mulusnya mendapat hadiah sebuah jitakan. “Bisa, ‘kan, kalau mau ngomong itu dipikir dulu? Serepan kamu itu enggak di jual di toko kelontong kalau kamu mau tahu. Ngerti enggak, sih, kalau dikhawatirin? Ngomong seenak jidat aja,” dumelku panjang lebar. Sekalipun kerap kali kami selisih pendapat, tapi tetap aja aku sayang sama dia, kok. Gerutuan panjangku hanya dia tanggapi dengan memutar bola matanya jengah. Salahku juga sih, berharap apa aku pada bocah yang memang terbiasa berlaku sesuka hatinya ini. “Mbak doang, ‘kan, yang khawatir? Ya udah, deh, aku pamitnya ke Mbak aja,” ucapnya enteng sambil membenarkan letak carier di punggungnya. “Ya enggak bisa gitu juga dong. Kamu enggak mikirin gimana khawatirnya perasaan ayah?” Mencebik bibir Rizki mendengar perkataanku, “Oh ya? Mbak yakin kalau ayah bakalan khawatir? Mbak ngehalu aja, nih. Sekarang itu yang dipikirin ayah, tuh, cuma dirinya sendiri.” Kali ini bukan lagi kepala dan tangannya yang menjadi sasaran kekesalanku, tapi ujung kakiku dengan senang hati menyapa mesra tulang keringnya. “Aduh, bar-bar banget, sih, Mbak kamu sekarang. Lama-lama aku babak belur tau dekat kamu. Aku berangkat, deh, keburu malam. Lusa juga aku udah balik, kok. Enggak usah lebay, deh.” Tak lagi mengindahkan keberatanku, Rizki memasang topi gunungnya dan segera menghilang di balik pagar rumah. Tak ada lagi yang bisa aku katakan untuk menahan laju langkah kakinya. Apa yang dikatakan adik keras kepalaku itu tidak sepenuhnya salah. Sekarang ayah lebih senang menyibukkan dirinya di luar rumah. Entah apa yang dilakukannya di luar sana.   *****   Suasana sarapan pagi ini semakin hening saja, menyerupai saat mengheningkan cipta pada waktu upacara bendera. Ayah yang duduk di ujung meja makan, tanpa suara terus saja menikmati suapan demi suapan dalam diam, sekalipun tatapannya sesekali mengarah ke kursi kosong di sampingku, kursi yang biasanya ditempati oleh bocah yang sekarang entah berada di puncak gunung mana. Sementara aku, berusaha dengan keras menelan hasil kunyahan gigi-gigi yang sepertinya tak jua mau halus. Bagaimana gigi-gigiku bisa mengerjakan tugasnya dengan maksimal jika otakku tak bisa menginstruksikan perintah dengan benar. Ia terlalu sibuk memikirkan alasan apa yang akan disampaikan kepada bibirku jika ayah bertanya tentang keberadaan Rizki. Mengharapkan Raka yang saat ini tak ubahnya mirip kanebo kering untuk membantu mencari alasan seperti berharap melihat pelangi di malam hari. Enggak mungkin. “Adikmu, kok, enggak ikut sarapan Mbak? Kemana dia?” Tuh, ‘kan, apa yang kukhawatirkan akhirnya kejadian juga. “Eh, ehm ... itu Yah, anu ...” Menaik sebelah alis ayah mendapati jawaban tergagapku. Percayalah bahwa aku paling tak bisa mengarang indah untuk sebuah kebohongan. Bukankah kebohongan satu harus ditutupi oleh kebohongan yang lain? Belum lagi jika akibat dari kebohongan itu berujung nestapa. There is no white lie. “Itu ... ehm ... Rizki naik gunung.” Mencicit akhirnya jujur juga aku katakan dimana keberadaan Rizki. Sepersekian detik kutangkap keterkejutan dari raut wajah Ayah. Salah besar jika kita beranggapan bahwa di balik sikap cuek seorang ayah tidak terbersit kekhawatiran, sekalipun hanya seujung kuku. Mereka hanya kerap kali tidak menampakkannya. “Kapan dia berangkat? Ke gunung mana?” “Kemarin sore, Yah. Aku enggak tau Rizki ke gunung mana. Apa dia enggak beritahu Ayah?” Tak ada jawab yang diberikan Ayah, hanya hela napas yang nampak ia tahan. Dan wajah itu semakin mengguratkan sendu. Berada dalam situasi bagiku seperti ini lebih menyeramkan daripada harus menyusuri lorong kampus menuju ruang perpustakaan seorang diri pada jam-jam malam. Seketika aliran darahku serasa membeku mendengar kalimat yang kemudian terucap lirih dari lisan ayah. Kalimat yang menerjunkan bebas aku ke lembah gundah. “Apa ayah sudah sebegitu tidak pentingnya untuk mendapat kata pamit dari kalian?” ======= Jangan lupa tap "love" dan follow akun aku, ya. Follow IGku juga @sayocamar_165.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD