“Ayah hari ini lembur lagi?”
Pertanyaan yang sering kali kulontarkan akhir-akhir ini itu, hanya berbalas anggukan dari laki-laki panutanku, yang kini sedang duduk sambil mengenakan kedua sepatunya.
Nyatanya keadaan sangat banyak berubah. Apalagi sejak kalimat yang terlontar dari bibir Raka itu. Rumah ini telah benar-benar kehilangan warnanya.
Tak ada lagi sarapan pagi penuh kehangatan yang dahulu selalu tercipta di ruang makan ini. Hanya denting sendok dan piring yang saling beradu, menemani suap demi suap makanan masuk ke dalam mulut kami.
Pun tak ada lagi kebersamaan dalam makan malam yang dahulu selalu kami usahakan. Masing-masing larut dalam dunianya sendiri-sendiri.
Rizki yang semakin sering keluar rumah untuk sekadar berkumpul dengan teman-temannya. Raka pun lebih memilih asyik bersama dengan game online dan terus bergelung di dalam kamarnya. Dan ayah, lebih sering kembali ke rumah ketika jarum jam telah melewati angka sembilan malam.
Aku semakin merasa sepi.
Masih bisa kuingat dengan jelas. Setelah kepergian Raka malam itu, pun derit kursi yang Rizki tinggalkan dengan kasar. Sorot mata penuh gundah terpancar dari netra redup ayah, serta hela napas berat melengkapi kepala yang beliau sangga dengan kedua tangannya yang bertaut.
“Ayah jangan lembur terus dong, nanti kalau Ayah sakit gimana?”
Penuh harap aku meminta kepada ayah. Aku tahu bahwa lembur hanya alasan yang dikemukakannya untuk berlama-lama berada di luar rumah. Karena sepanjang yang aku tahu, ayah adalah manusia dengan manajemen waktu yang handal, sehingga akan jarang sekali pekerjaannya harus ia selesaikan dalam waktu lembur. Kalaupun terpaksa memang harus lembur, ayah lebih suka membawa pulang pekerjaannya. Aku lah yang akan dengan senang hati membantunya, nyatanya aku memiliki ketertarikan di bidang yang sama. Arsitektur.
Melakukan diskusi-diskusi kecil, menanyakan ini itu, memberi masukan-masukan sederhana, hingga membuat tak terasa waktu bergulir cepat melewati jam malamku. Ibu lah yang sering menegurku dengan sedikit keras, apalagi jika pada keesokan harinya aku malah tergopoh-gopoh mengerjakan tugas sekolahku sendiri di waktu subuh. Gara-gara terlalu asyik membantu pekerjaan ayah, aku malah lupa dengan pekerjaan rumahku sendiri.
Lalu ayah hanya akan menggeleng kepala dengan tatapan mata merasa bersalah. Namun karena kejadian seperti itu malah sering berulang, pada akhirnya ibu menyerah meskipun masih dengan sedikit menggerutu.
“Pekerjaan sedang banyak di kantor, jadi maaf kalau ayah sekarang sering lembur.”
“Kenapa enggak dibawa pulang saja aja, sih, Yah? Nanti Rania bantuin deh.” Masih berusaha dengan sangat aku membujuknya.
Ayah berdiri dan menatap lekat ke arah mataku, kemudian kurasakan tangannya membelai lembut kepalaku. Seraya tersenyum dia berkata, “Harus dikerjakan di kantor sambil diskusi dengan yang lain. Kamu baik-baik, ya, di rumah, ayah berangkat dulu.”
Aku menelisik ke dalam netranya, dan kutemukan kegelisahan di sana. Itu artinya, apa yang dikatakannya baru saja bukanlah hal yang sebenarnya.
Sungguh sangat ingin aku berteriak, menyuarakan pendapat yang hanya mampu kutahan dalam d**a yang kian menyesak. Mengapa keadaan harus begini berubah?
Aku merindukan acara menonton berita di televisi bersama, meskipun lebih sering televisi yang menonton kami berdebat.
Aku merindukan suara nyaring Rizki dan Raka yang berebut remote televisi. Yang satu ingin menonton pertandingan bola dan yang satu ingin menonton National Geography.
Aku merindukan dehaman ayah yang akhirnya membuat perselisihan itu terhenti secara sepihak dengan ayah sebagai pemenangnya.
Aku merindukan hal-hal remeh seperti itu, yang sekarang nampak sangat berharga. Tak bisa, kah, sedikit saja aku merasakannya kembali?
Namun apa dayaku? Selain mengangguk dan menatap punggungnya yang menjauh. Meninggal kekosongan yang kembali menyergap.
*****
“Keadaan ayahmu gimana sekarang nduk? Apa masih sering melamun sendiri?”
Pertanyaan dari Bude Arum, kakak perempuan almarhumah ibu, mengalihkan perhatianku dari menata kue dan nasi kotak untuk acara tahlilan empat puluh hari meninggalnya ibu.
Iya, tidak terasa sudah empat puluh hari kami hidup tanpa kehadiran ibu di tengah-tengah kami lagi.
Rasanya baru kemarin ibu masih sering meneleponku mengingatkan agar jangan sampai lupa makan. Tugas kuliah boleh menumpuk, tapi kesehatan harus tetap dijaga. Itu pesan yang selalu ibu ucapkan setiap akan mengakhiri sambungan telepon kami.
Rasanya baru kemarin ibu repot membawakanku bekal lauk kering yang bisa disimpan lama untuk dibawa kembali ke tempat kos.
Rasanya baru kemarin ibu menggedor pintu kamar untuk membangunkan aku yang kembali bergelung dalam selimut usai salat subuh saat libur semester. Anak perawan tidak boleh keduluan ayam, ora ilok kata orang jawa. Itu yang sering ibu ucapkan sambil terus mengaduk sayur saat melihat aku akhirnya menyerah dan bangun dari tempat tidur sambil terus menguap.
Semua kenangan akan kebersamaan kami berputar tanpa jeda, mengoyak kembali pertahanan yang belum seberapa kokoh ini. Air mataku menetes kembali tanpa permisi.
Benar lah kiranya pepatah yang mengatakan bahwa arti penting kehadiran seseorang baru bisa kita rasakan ketika ia telah pergi dan tidak mungkin kembali.
“Ayah sekarang jarang ada di rumah Bude, pulang selalu larut, katanya banyak kerjaan di kantor, jadinya sering lembur,” aduku padanya.
Bude Arum adalah kakak yang paling dekat dengan almarhumah ibu. Mungkin karena Bude Arum adalah satu-satunya kakak perempuan ibu dan tinggal di kota yang sama. Sedangkan ada dua lagi kakak ibu, laki-laki semua dan tinggal di kota yang berbeda.
Dulu semasa aku masih memiliki satu adik dan menjelang kelahiran Raka, kami sering menghabiskan waktu weekend di rumah Bude Arum. Bahkan ayah dan Pakde Rusdi, suami Bude Arum, mendirikan usaha bersama yang sekarang sepenuhnya di-handle ayah, setelah Pakde Rusdi memutuskan pensiun dini karena vertigo yang diidapnya sering kambuh.
Aku juga sangat dekat dengan Mbak Wahyu, anak kedua Bude Arum. Kami yang hanya berselisih usia satu tahun, dan tinggal satu kota pula, membuat kami menjadi lebih akrab dibandingkan dengan sepupu yang lain. Kami sering hang out bareng sebelum sama-sama sibuk kuliah.
“Loh, gimana to? Pakdemu bilang sekarang proyek lagi sepi kok, ya, karena pandemi ini.” Bude Arum merasa heran dengan situasi yang kuceritakan tidak sama dengan informasi yang diterima dari suaminya.
“Enggak tahu Bude, mungkin ayah enggak betah di rumah,” kulanjutkan keluhanku, berharap bisa memberikan sedikit kelegaan atas sesak yang menghimpit d**a.
“Tapi, ya, enggak bisa begitu loh nduk, dia enggak boleh egois sama dirinya sendiri. Jangan mentang-mentang dia merasa sedih terus kamu sama adik-adik kamu diteledorkan. Kamu sama adik-adik kamu, bude yakin lebih butuh kehadirannya sekarang.”
Kurasakan usapan lembut di punggung. Usapan yang dulu sering diberikan ibu kepadaku. Dan kerinduanku kian membuncah.
Setengah terisak aku menunduk, menyembunyikan perih yang aku yakin sangat jelas tergambar di wajahku.
“Kamu yang sabar, ya, nduk. Nanti bude bicarakan sama Pakdemu, siapa tahu Ayahmu masih mau mendengarkan pendapat kami, meskipun sekarang situasinya sudah berbeda.”
“Jangan berpikir begitu Bude, meskipun ibu sudah tiada, tapi bukan berarti pertalian keluarga kita jadi terputus, ‘kan? Rania yakin Ayah juga enggak akan berpikir seperti itu, kok.”
Tak bisa kubayangkan jika keluarga Bude Arum sudah tidak mau lagi peduli pada kami. Lalu kemana kami akan berkeluh-kesah?
“Iya, Bude tahu. Tapi kami juga tidak bisa mencampuri terlalu dalam urusan pribadi ayahmu. Meskipun kamu, Rizki dan Raka pasti masih kami anggap anak kami sendiri nduk, dan selalu itu.”
“Iya Bude.” Hanya itu yang bisa aku katakan. Mendapati kenyataan yang memang sudah berubah, semakin membuat lubang di hati ini membesar.
“Atau apa mungkin yang dulu dialami ayahmu kembali datang ya?”
Kualihkan dengan sangat perhatianku dari kue yang kutata. Menatap dengan penuh Bude Arum yang sekarang nampak berpikir keras, hingga kedua alis tebalnya menyatu. Namun hingga beberapa saat Bude Arum tak jua menyelesaikan keperluannya tentang menebak sebuah kemungkinan.
“Ayah kenapa, Bude?” Dengan tidak sabar aku menanyakan ada apa yang sebenarnya, apa yang pernah terjadi pada ayah.
“Ah semoga saja tidak.” Bude Arum hanya menggumam, tak memedulikan pertanyaanku.