Vibes

1071 Words
"Oke kalau gitu, nanti malam saya telepon lagi. Ada yang perlu saya bicarakan penting dengan Mas Layvi." balas Yesha, sebetulnya wanita itu bisa saja meminta nomor pribadinya, tapi ia juga ragu. Apa itu terlihat sopan untuk orang yang baru saling kenal?. Waktu terasa lama berjalan, berkali-kali sepasang matanya melirik kearah jam dinding. Pekerjan yang menumpuk pun tidak membuat fokus Yesha berubah. Ia masih begitu harap-harap cemas menunggu malam demi menelpon Layvi lagi. Wanita itu hampir frustasi dengan perasaanya sendiri, jika sebelum bertemu Layvi ia tak akan pernah sekalipun memikirkan orang lain, tapi mengapa baru satu kali bertemu pria itu ia seakan sudah melupakan segalanya. "Letta... saya mau keluar dulu!" ucap Yesha dengan menenteng tas kerjanya, percuma juga ia kerja kalau fokusnya hanya berpusat ke kabar laki-laki itu. "Eeh... tumben baru jam 4 udah pulang, lo gak lagi sakitkan?!" teriak Letta, tapi tidak dipedulikan oleh Yesha. Wanita itu tetap pergi berlalu. Iya melajukan mobilnya ragu, MAP di ponselnya sudah menunjukkan arah ke pusat service AC tersebut. Tapi apa ia pantas kesana langsung demi menemui Layvi. 'Aahkk.. peduli apa, toh... ia hanya ingin bilang terima kasih sekali lagi'. Yesha menarik nafasnya dalam sebelum masuk, tapi ia dibuat heran dengan ribut-ribut disana. "Gak mungkin Layvi mukul orang karena sengaja, ini pasti ada yang salah!" pekik Krisna tidak terima. "Iyah gue setuju sama lo Bro, kasihan anak itu mana sekarang bos pecat dia lagi!" jawab Morgan dengan muka ditekuk tujuh. "Tunggu.. apa maksudnya?!" Yesha sudah tidak peduli dengan penilaian Morgan juga Krisna. Ia hanya butuh penjelasan dari apa yang ia dengar. "Heemmm... Ibu siapa?!" tanya Krisna curiga. "Tolong ceritakan saja, apa yang terjadi dengan Layvi?!" tanya Yesha serius, Tiba-tiba ia merasa semua ini masih ada sangkut paut dengan kejadian tadi malam. "Layvi di pecat, bahkan sekarang ia ditahan dikantor polisi. Ada seseorang yang melaporkannya, Ia bilang Layvi melakukan kekerasan padanya." Jelas Morgan. Mendengarnya membuat Yesha begitu marah, ia tahu siapa dalang dibalik semua ini. Tak lain pastinya Barry, Yesha sampai mengepal tangannya kuat. Ia sangat tidak terima perlakuan Barry terhadap Layvi, tanpa menunggu Yesha langsung ke kantor polisi demi meluruskan semuanya. Ia melajukan mobilnya sangat cepat, sampailah wanita itu di kantor polisi terdekat. “Pak... saya ingin menemui tahanan yang bernama Layviandi, semalam katanya ia dibawa ke kantor polisi disini." ucapnya dengan mimik wajah yang serius. “Maaf tapi anda siapanya Pak Layviandi?” tanya Pak Polisi curiga. “saya yang akan menjamin kebebasan Layviandi” jawab Yesha mantap. Atas ucapannya, ia diijinkan bertemu Layvi didalam sel tahanan, lelaki itu sedang terduduk lesu, pandangannya lurus ke depan seakan menerawang masa depannya. Melihatnya membuat Yesha begitu tidak tega. “Mas...” panggilnya pelan, tapi sudah mampu menyadarkan Layvi akan kehadiran Yesha. “Ibu...!” kaget Layvi, ia tak menyangka wanita sibuk seperti Yesha mau menemuinya di dalam tahanan. Layvi langsung memarani Yesha menatap wanita itu intens dengan wajahnya yang babak belur karena sempat dipukuli oleh orang suruhan Barry semalam. Airmata wanita itu jatuh saat menatap balik wajah Layvi, tangannya spontan terjulur ke bibir Layvi yang sedikit mengeluarkan darah. “Maaf... “ desisnya seraya menunduk. "Ini bukan salahmu!" balas Layvi lirih, ia masih bisa menahan saat semalam dipukuli, tapi saat melihat air mata Yesha. Layvi merasa langsung hanyut dalam kesedihan. "Aku akan membalasnya untukmu!" sahut Yesha dengan matanya yang memerah. "Jangan... tidak baik untukmu menyimpan dendam." jawab Layvi dengan senyum yang dipaksakan, karena sungguh bibirnya masih terasa linu dan kaku akibat pukulan. Yesha menatap Layvi dengan tatapan sulit dipercaya, ia kira, manusia seperti Layvi hanya ada di negeri dongeng. "Kamu bercandakan?!" sarkasnya. Layvi menggeleng. Karena ia tak ingin Yesha semakin masuk kedalam masalahnya. Spontan Yesha semakin mendekat dan berbisik kearah Layvi “Kamu bisa disini selamanya jika tak ingin balas perbuatannya" desis Yesha Kuat, Layvi masih nampak diam membuat Yesha begitu geram dengan lelaki itu. “Tunggu... lagipula kamu bisa langsung membela dirimu, kamu bisa membantah semua tuduhan Barry padamu semalam?” “Tidak Bu, kalau pengakuanku nantinya akan membuat Ibu malu dan susah, lebih baik saya diam!” tulus Layvi dengan Yesha semakin tidak percaya, ia melongok sesaat tidak paham apa yang menjadi jalan pikiran lelaki didepannya. Setelahnya Yesha pergi dari hadapan Layvi, bisa gila jika ia terus berlama-lama dengan laki-laki berhati malaikat itu. Biar semua ini jadi urusan dirinya, Pikir Yesha. Sebentar saja ia sudah bisa membebaskan Layvi tentunya dengan uang sebagai jaminannya. "Ayok...!" ajak Yesha ke Layvi. "Ayok kemana Bu, dan kenapa saya bebas?!" tanya lelaki itu masih melongo heran. "Kamu mau hidup begini terus di injak-injak dan dituduh atas kesalahan yang tidak kamu lakukan?!" tekannya tajam, Layvi hanya menggeleng lemah. Membuat Yesha menarik tangannya kuat. Sampai lelaki itu seakan terhuyung dibelakang Yesha. Yesha membukakan pintu mobilnya untuk Layvi dan mendorongnya duduk dibangku depan. "Kamu boleh baik, tapi keadilan tetap harus ditegakkan!" tambahnya berapi-api sambil ikut naik kedalam mobil. Tujuan wanita itu adalah menampar wajah Barry saat ini juga. Ia tidak peduli jika Barry melaporkan dirinya juga ke polisi Layvi yang sudah duduk didalam mobil terus memperhatikan Yesha yang terlihat begitu marah. Wanita itu bahkan kesulitan menstarter mobil karena terlalu marah. "Biar saya saja Bu!" Spontan Layvi memegang tangan Yesha mendekat kearah wanita itu. Dan ajaib! hanya mencium lekat aroma tubuh Layvi membuat Yesha seakan melupakan amarahnya. Aroma yang begitu memberikan ketenangan kepada siapapun yang didekatnya. Kini debaran jantungnya yang tidak bisa Yesha hindari. Karena Layvi masih terus mendekatkan wajahnya tepat didepan wajah Yesha. "Bu....?!" panggil Layvi mengatensi Yesha yang seakan diam terpaku. "Aahkk.. sorry, kalau gitu ini kuncinya!" sahut Yesha memberikan kunci mobilnya, setelahnya ia keluar dari mobilnya untuk bertukar tempat. Layvi sudah duduk dibangku setir siap mengantarkan Yesha kemanapun wanita itu mau. "Kita mau kemana, Bu?!" tanya Layvi ditengah aktivitas menyetirnya, dan Yesha yang selalu curi pandang kearah Layvi. "Oooh.. kita kekantor Barry...!" titah Yesha "Barry...!" Spontan Layvi memberhentikan mobilnya, ia ingat Barry adalah lelaki yang memasukkannya kedalam penjara. "Kenapa berhenti?" tanya Yesha tak suka. "Ibu kesana bukan untuk menyerang balikkan?" Layvi justru tidak menjawab dan ikut bertanya dengan nada tak suka. "Kalau iyah kenapa ?" Rasanya baru kali ini Yesha mendapat penolakan atas perintahnya, dan itu membuatnya badmood. "Enggak-enggak saya tidak mau, jika Ibu melakukan itu untuk saya lebih baik jangan Bu!" "Disini saya yang memberikan perintah!" tekannya, seraya melipat kedua tangannya di atas d*da. Layvi yang melihat Yesha cemberut jadi tertawa sendiri. Karena ekspresi wanita itu begitu lucu dimatanya. "Pppffftt..." "Kenapa ketawa ?" tanya Yesha ketus. "Ibu lucu kalau lagi marah!" Jujur lelaki itu tanpa sadar, membuat Yesha tersipu malu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD