Bab 3 — Kaca Rias

1176 Words
Di depan meja rias, Febby baru saja selesai di rias. Cantik, memang dia cantik, hanya saja sedih baginya harus menikah dengan pria yang baru ia temui. Lebih tepatnya, pria penagih hutang. Atau Febby bisa menyebutnya sebagai tempat peminjam uang, bisa juga Febby memanggilnya penguntit, stalker dan sebaginya. Maklum, selama ini tidak ada yang mau menguntit kehidupan Febby, kecuali pria ini. Febby duduk di depan meja kaca rias, memandangi potret dirinya sendiri. Febby ingin menangis, walau terpaksa menikah, setidaknya ini adalah upacara sakral. T**idak di sangka, pada akhirnya aku menjadi seorang istri. Ku kira dengan mendatanginya secara baik-baik, bisa mendamaikan perseteruan hutang piutang ini. Nyatanya, harapan tak sesuai kenyataan. Pada akhirnya aku yang menjadi seorang wanita yang di paksa menikah. Apalah daya ku, hidup menjadi wanita yang lemah. Tak ada yang bisa ku andalkan saat ini. Di depan meja rias, malangnya nasib kini ia ratapi di depan cerminan diri itu. Siapa yang akan bahagia dengan pernikahan dadakan secara paksaan ini. Walau Febby tak bisa mengelak, toh dia juga tak punya pilihan lain. Seandainya dalam waktu tiga bulan ini dia bisa mendapatkan uang sebanyak sembilan puluh enam milyar itu, mungkin kejadian tidak seperti ini. Febby butuh kakaknya juga adiknya sebagai wali dalam pernikahan ini. Namun sayang, jika Febby mengingat kejadian sehari yang lalu, mungkin berat baginya untuk di lupakan. Kak intan, Iqbal. Hari ini aku akan menikah. Di manapun kalian berada, aku harap kalian baik-baik saja. Maafkan aku jika tidak memberitahu kalian mengenai pernikahan ini, semoga kalian bisa hidup sukses. Tanpa di sadari air matanya sudah jatuh. Febby hanya bisa meratapi diri sendiri, kenapa bisa dia menuruti paksaan debt kolektor itu. Seharusnya dia tidak ada di sini, tidak menikah, bahkan tidak sesedih ini. Berpisah dari keluarga, di tinggal Ayah dan Ibu, kini di hari pernikahannya pun tak ada satu sanak saudara pun yang hadir. Pintu kamar Febby perlahan terbuka, dari kaca dia melihat pria itu datang kembali menemuinya. Namun kali ini nampak berbeda, dia mengenakan jas hitam rapi. "Sudah siap?" Febby tak menjawabnya, dia masih termangu pada kesedihan. Daniel mendekatinya, memang seharusnya dia datang. "Kenapa tidak menjawab ku? Tidak suka dengan pernikahan ini?" "Bukan tidak suka, tapi kenapa hutang harus di bayar dengan cara seperti ini." Febby menoleh kearahnya sekilas, jujur, dia tidak berani menatapnya. "Jika bisa membayar hutang sembilan puluh enam milyar dalam satu jam, aku akan membatalkan acara pernikahan ini." Febby sudah menduga, dia benar-benar kejam. Perkataannya memang membunuh, skak mat, bahkan Febby tak mampu lagi menjawab kata-katanya. "Aku bersedia menjadi istri anda," katanya pasrah. "Asal aku bisa membayar semua hutang Papa, aku rela melakukan semua ini." Raut wajahnya sendu, tak kuasa dia harus menahan cobaan seperti ini. "Apakah aku memaksa?" "Tidak. Justru aku harap dengan pernikahan ini, aku bisa melunasi hutang-hutang mendiang Papa ku." Daniel mendekatinya, lalu membisik di telinga. "Selamanya hutang Suryo tidak akan bisa lunas. Terimalah kenyataan, kalau kamu menjadi bidak catur keluarga mu." "Dan selama ini pula kamu akan memperlakukan sebagai bidak catur? Seperti itu?" Febby menimpali kata-kata Daniel. Kata kejam memang sudah sering di dengar setiap kali orang-orang menggosipi dirinya. "Selama kamu menurut, aku jamin, kamu tidak akan sengsara. Aku memperlakukan satu tingkat di atas bidak catur." "Semisal kacung?" "Tidak?" Daniel menggeleng. "Jadi wanita di ranjang ku!" Jleb! Kata-katanya sangat enteng untuk di ucap. Seakan wanita yang ada di sisinya hanya menjadi mainannya saja. Kecewa, Febby sangat terpukul atas apa yang menimpanya. Tidak menyangka saja, dia akan berakhir seperti ini. Pada akhirnya dia menjadi korban pembayaran hutang. Febby menitikkan air matanya, haruskah semua di bayar dengan tubuh? "Jangan menangis. Aku tidak mau di hari pernikahan ku rusak karena air mata tak berarti." Daniel menempelkan dagunya di pundak Febby, menatap wajah gadis itu dari kaca rias. "Aku menangis bukan karena bersedih, tapi karena aku bahagia. Bahagia akan menjadi istri orang." Mendadak Daniel memutarkan tubuh Febby, lalu mendudukkannya di meja rias. Daniel mendongak wajahnya, dia pendek, sebal jika menghadapi wanita super bogel. "Setelah ini, kamu akan menikmati neraka yang sesungguhnya." Dengan senang hati aku akan menerimanya. Bahkan sekeras apapun kamu akan memperlakukan aku nanti, aku pasrah. Asal engkau tak melecehkan keluarga ku. Dari lubuk hati yang paling dalam, sungguh, Febby ingin rasanya mengiris denyut nadi. Atau melompat dari gedung tinggi sekalian. Nasib yang malang terus menimpa keluarganya secara bertubi-tubi, seperti tiada akhir. Dari luar pintu, seseorang membuka pintu tanpa mengetuk lebih dahulu. "Acara hampir di mulai, apa kalian sudah siap?" "Kami akan segera turun," jawab Daniel. Melirik ke arah pintu sekilas. "Ini waktunya memamerkan kebahagiaan di depan umum. Tersenyum bahagia-lah walau terpaksa. Semua wanita ku harus bahagia saat ada di samping ku." "Aku mengerti." Daniel menggandeng tangan Febby, keluar dari kamar. Kemudian menuruni anak tangga yang di lapisi karpet biru agak keungu-unguan. Kalau di ingat-ingat, sebenarnya Febby kemarin pingsan karena di bius oleh debt kolektor. Setelah itu dia tidak tahu di mana, tiba-tiba terbangun dari tidurnya ada di kamar orang lain. Semua sudah terjadi, tidak ada yang bisa mengulangi waktu kemarin. Bukan hidup di jaman Siti Nurbaya atau pun jaman juragan-an, tapi di abad modern. Seakan takdir telah menuliskan, bahwa kehidupan Febby harus berakhir seperti ini. Setelah menuruni beberapa anak tangga, beberapa flash kamera menyilaukan mata kedua pasangan yang akan menikah ini. Cekrek! Cekrek! Suara itu terasa menangkap setiap langkah Febby yang menggandeng tangan Daniel. Di hadapannya, banyak orang yang sudah menantikan kedatangan mereka berdua. Febby kaget, dalam waktu satu jam sudah siap menggelar acara pernikahan yang besar seperti ini. Siapa? Kapan? Itulah yang membuatnya bingung. Secepat itu dia melakukannya hanya dalam waktu satu jam. "Semua ini sudah aku siapkan dua hari yang lalu. Tidak perlu menebak-nebak kapan aku melakukannya." Daniel tahu, pasti wanita itu sedang menahan seribu pertanyaan di benaknya. Walau belum tentu benar, setidaknya mendekati rasio hampir benar. Dia sudah merencanakan semua ini. Pasti sudah lama dia mengetahui keberadaan kami. Di hadapan semua orang, sanak saudaranya, Febby memaksakan tersenyum. Dia ingin menunjukan bahwa dialah wanita paling bahagia di dunia ini. Menikah dengan pria sempurna. Apapun, harapan Febby hanya satu. Semoga keputusan yang dia ambil ini, adalah jalan terbaik yang pernah dia lalui. "Ibu dan Ayah ku akan segera tiba. Bersikaplah sopan di hadapan mereka, jangan pasang wajah sedih. Aku jijik melihatnya," di pelaminan, Daniel membisik. Gaun putih itu menjuntai di lantai, dengan buket bunga di tangan, Febby menyambut kedatangan sang calon mertua. Di taruhnya sebentar buket bunga tadi, dia mengekori Daniel yang mencium tangan ayah dan Ibunya. "Ini istri ku, Ayah, Ibu," katanya memperkenalkan Febby pada kedua orang tua. "Febby, Om, Tante," Febby memperkenalkan diri, rasanya canggung. Ya, dua orang tua itu terlihat seperti bukan orang-orang kelas menengah, tapi konglomerat tajir. "Jangan panggil Om dan Tante dong sayang. Panggil saja Ayah dan Ibu. Kami ini mertua mu," sahut Ibu Daniel. "Oh, iya. Bu." "Cantik calon istri mu. Kalian pasangan yang serasi," puji Ibu Daniel. Febby tersenyum, tidak berharap di puji, hanya saja, pujian itu sangat ramah. BERSAMBUNG Budayakan menghargai karya orang lain. Jika suka kasih like dan komentar. Jika tidak suka, nggak usah di baca. Budayakan jangan Plagiarisme, sulit menulis ide cerita. Happy reading, semoga alurnya tidak membosankan. Secara bahasnya CEO. Yes, karena Kalau nulis novel azab, mana ada yang baca.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD