GUBRAK!! Suara daun pintu itu terdengar terbuka sangat keras. Seseorang dari luar membanting pintu ini hingga mengejutkan dua orang wanita yang sedang berbicara.
"Celaka Kak," teriak remaja yang membanting daun pintu ini pada kedua saudarinya. "Mereka datang," katanya memberitahu dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Mereka siapa?" tanya Febby, wanita yang tengah berbincang di ruang tamu sepetak bersama saudarinya, Intan.
"Mereka," dia menunjuk ke arah luar pintu kontrakan, wajahnya terlihat cemas dan takut. Peluhnya mengalir deras, kedua saudarinya itu ikut merasakan aura takut dari ekspresi remaja pria ini. "Mereka, Debt Collector itu ada di depan. Mereka sedang menuju ke sini."
"Apa? Mereka sudah di sini?" Intan, selaku kakak tertua begitu kaget mendengar berita dari adiknya. "Bagaimana mereka bisa tahu keberadaan kita?"
"Ini bukan waktunya untuk bertanya bagaimana mereka bisa tahu keberadaan kita. Tapi kita harus lari sekarang." Febby, sebagai adik intan juga sebagai kakak dari remaja bernama Iqbal ini, mengajak keduanya pergi secepat mungkin.
Sebelum pria-pria berbadan besar itu menemukan mereka, Febby membawa kedua saudaranya kabur melalui pintu dapur rumah sepetak yang mereka sewa selama tiga bulan ini.
Di rumah kecil yang mereka pikir aman bahkan para penagih hutang itu mungkin tidak akan tahu persembunyian mereka, namun? Nyatanya tempat persembunyian mereka kini sudah terendus.
Keempat pria penagih hutang berbadan besar itu tahu saat ketiga anak itu kabur melalui pintu belakang. Mereka tidak mau kehilangan anak-anak itu lagi, atau akan sulit menemukan mereka jika kehilangan ketiga anak-anak itu hari ini.
Mereka mengejar ketiganya. Tidak peduli apapun yang terjadi, keempat pria berbadan gemuk berotot ini harus mendapatkan salah satu dari mereka.
"Bby, istirahat sebentar. Perut kakak rasanya sakit," Intan merasa tidak kuat untuk berlari lebih jauh lagi. Tepat di belakang rumah kontrakan mereka adalah areal tanah kosong yang di penuhi rumput dan alang-alang.
Tidak jauh dari tempat intan yang sedang mengambil nafas, berdiri bangunan besar bekas gedung pembangunan yang di tinggalkan oleh para pekerja.
"Kita bersembunyi di sana saja kak," Iqbal menyarankan. Dia menunjuk gedung berlantai sepuluh tingkat itu pada kedua saudarinya.
"Aku akan memapah kakak," kata Febby. "Yang terpenting adalah, kita harus menghindar dari kejaran orang-orang itu."
Intan menurut saja, dia tidak kuat lagi untuk berlari. Sejujurnya intan hampir tidak bisa melihat jalan, sebab matanya terkena myopia.
Di bangunan yang hampir terlihat bobrok, bahkan masih bisa di lanjutkan pembangunannya jika memungkinkan. Di sana, ketiga kakak beradik itu bersembunyi di balik sebuah triplek besar.
"Aku rasa kita aman di sini," Iqbal, selaku pria pengganti sang ayah, merasa agak lega melindungi kedua kakaknya.
Nafas ketiganya masih tersengal-sengal, bahkan terdengar sulit di tarik. Seolah oksigen di bumi ini hampir tidak ada untuk di hirup.
"Kita harus memikirkan ide selanjutnya. Jangan sampai mereka menemukan kita." Walau Febby bicara dengan nafas yang memburu dan keringat sudah membanjiri keningnya, dia masih sempat memikirkan ide.
"Apa nggak sebaiknya kita kembali ke Kanada saja kak?" Iqbal menyahut, seraya menyarankan idenya. "Sebelum rumah di Kanada di ketahui oleh pria itu, ada baiknya kalau kita secepatnya menjual rumah peninggalan ayah itu. Toh, kita masih bisa mencari tempat tinggal baru."
Ketiganya sedang duduk, mengambil nafas. Intan selaku kakak tertua juga penanggungjawab pengganti sang ayah, sudah memikirkan hal ini. "Tapi, bagaimana caranya kita kembali ke Kanada. Uang saja tidak punya, makan untuk besok saja kita tidak tahu dapat uang dari mana. Tidak ada lowongan pekerjaan yang mau menerima Kaka bekerja. Kita kekurangan uang saat ini!" Katanya memberitahu.
Febby memegang bahu kakaknya yang tertunduk lesu itu, lalu mengusapnya lembut. "Kita nggak boleh nyerah kak, yang terpenting adalah bisa kembali ke Kanada, kita pikirkan hal selanjutnya." Febby diam-diam senada dengan pikiran adiknya, Iqbal.
"Kakak tahu, Bby," jawab Intan, menatap Febby cemas. "Dari mana kita uang buat terbang kesana. Untuk tiga orang pergi ke Kanada bukan perkara yang mudah. Saat ini biaya penerbangan menjadi kendala kita kesana."
Iqbal mengerti keluhan Kakaknya, Intan. Walau sebenarnya Iqbal ngebet ingin ke Kanada, tapi setelah mendengar kata-kata kakaknya, ada benarnya juga. Saat ini mereka butuh uang.
Apalagi dia sendiri harus putus sekolah, mana ada jaman sekarang lowongan pekerjaan yang menerima lulusan SMP. Walau Iqbal sempat mengenyam pendidikan di Kanada dan tiga bulan ini berhenti sekolah, namun tidak ada gunanya juga dia menahan diri untuk melanjutkan pendidikannya. Kecuali dia bekerja serabutan, terbilang kasar untuk ukuran remaja yang tak pernah bekerja keras itu.
Semula ini terjadi karena kematian sang Ayah yang mendadak tiga bulan lalu. Hal ini memaksa ketiganya yang sedang menempuh pendidikan di negeri daun maple ini, harus kembali. Setelah mengetahui kebenaran bahwa sang ayah meninggalkan hutang yang banyak, mau tak mau, seluruh aset di bekukan.
Pendidikan mereka tidak bisa di lanjutkan karena tidak ada biaya lagi. Sebelumnya, biaya sekolah Iqbal, Biaya kuliah Febby dan juga biaya kuliah sang kakak tertua, intan, di jamin oleh sang ayah. Namun kini, kematian ayah yang secara tiba-tiba ini, membuat ketiganya harus putar otak bagaimana caranya bertahan hidup di tengah persaingan global seperti ini.
Iqbal merogoh koceknya, dari saku celana jeans-nya, dia mengeluarkan segepok uang receh yang teremat-remat. Lusuh, uang itu hampir tidak bisa di kenali fisiknya. "Aku hanya ada uang segini. Hasil mengamen tadi," katanya. Dia memberikan uang receh itu pada intan, berharap kakaknya mau menerima.
Alih-alih Intan akan menerima, justru kakaknya itu menatapnya sinis. "Sudah berapa kali sih Kakak harus bilang. Jangan ngamen lagi. Kenapa kamu begitu ngeyel sih, selalu membangkang," dia mengomel. Selaku kakak yang bertanggung jawab, Intan tidak aku adik-adiknya melakukan hal ini lagi.
Sudah cukup bagi Intan harus mengomelinya. Sudah berkali-kali dia melarang mengamen, tapi anak itu tetap melakoninya.
Iqbal tertunduk, dia tak bisa membantah ucapan kakaknya. "Aku mengerti kak. Lain kali aku akan menuruti perkataan kakak," dia berkata menurut. Patuh pada kakaknya, Iqbal paham. Sebenarnya Intan takut jika dia tertangkap oleh Debt collector, tidak tahu nasibnya seperti apa? Hidup selamat atau berakhir pada kematian yang tragis. Oleh karena itu dia melarang adiknya menjadi pengamen.
"Kakak melakukan ini karena kakak sayang pada kalian. Kakak nggak mungkin membuat adik-adiknya sengsara seperti ini," Intan menjelaskan. Lalu dia merangkul kedua adiknya yang duduk di sebelahnya. "Kakak nggak mau kalian kenapa-kenapa. Itulah kenapa kakak nggak mau kalian melakukan pekerjaan membahayakan seperti ini."
Intan menangis, wanita ini tidak bisa terus-terusan memantau adiknya. Jujur, bahkan dirinya sendiri saja sulit di urus. Seringnya dia menabrak pohon saat berjalan, semua itu karena myopia yang meradang di matanya.
Bahkan kacamatanya saja di jadwalkan harus ganti lensa akhir Minggu ini. Namun tidak kesampaian, karena uang saja tak cukup untuk pergi ke optik.
Mereka berpikir bahwa ide bersembunyi di balik triplek tipis yang menutupi diri mereka itu, aman.
Namun, nyatanya ke empat Debt collector itu berhasil menemukan mereka.
"Nah, mau lari kemana lagi kalian?" kata salah seorang Debt collector berbadan sangat besar. Mengerikan. Itulah yang di rasakan oleh Intan dan Febby.
Keempat pria agak gemuk itu menggiring mereka, tidak memberikan celah untuk kabur.
"Kalian jangan macam-macam, aku akan memukul kalian jika berani mendekat," Iqbal mengancam. Menggunakan sebilah pipa besi, dia ingin menakut-nakuti pria-pria berbadan besar itu.
Anak ini ingin melindungi kedua saudarinya, apapun yang terjadi. "Cepat pergi, jangan mendekat!"
Melihat ancaman Iqbal tak berarti, ke empat pria ini saling melempar pandangan, lalu tertawa terbahak-bahak. "Kamu pikir sedang menakut-nakuti anak kecil-kah?" kata salah satu pria. Kemudian memandang temannya lagi yang berdiri dekat dengan Iqbal. Mengisyaratkan agar menangkap anak itu dengan gelengan kepala.
Iqbal tidak tahu jika dia akan di tangkap, bahkan dia tidak sempat melakukan perlawanan. Pada akhirnya Iqbal harus berada di tangan Debt collector itu.
Intan memeluk adiknya, Febby. Dia menangis, tidak mau terjadi apapun pada keduanya. Namun, rasa-rasanya, tidak ada rasa iba apapun di dalam benak keempat pria itu.
Mungkin karena sudah kesal harus kehilangan ketiga anak itu selama tiga bulan ini, pria-pria itu sangat mensyukuri kesempatan kali ini.
"Salah satu di antara kalian harus menjadi jaminan hutang ayah kalian. Atau bos kami akan memenggal kepala kami jika tidak mendapatkan kalian hari ini," ucap salah satunya lagi. Lalu menarik tangan Febby, melepaskannya dari Intan.
"Jangan bawa adik ku pergi. Lepaskan dia keparat!!" Intan meronta. Dengan sisa-sisa keberaniannya, dia berani berkata kasar pada pria yang memaksa adiknya itu untuk pergi. Intan menarik kembali tangan Febby, tapi debt kolektor itu dengan kasarnya melepaskan tangan Intan. Tanpa nurani, Intan di dorong hingga tersungkur ke belakang.
"Jangan macam-macam. Atau adik mu yang manis ini akan jadi santapan buaya," kata pria ini menakuti Intan.
"Jangan bawa dia pergi!" Intan terus meneriaki pria ini.
Febby tidak bisa berbuat apa-apa, dia lemah. Dia bukan wanita jagoan, bahkan tenaganya kalah telak melawan pria ini. Sekalipun dia melepaskan paksa pegangan tangan pria kasar itu, tetap tak ada ubahnya. Tak berhasil.
"Tolong, biarkan aku bicara sebentar pada kakak ku. Setelah itu, aku janji. Aku akan ikut kalian," di hadapan pria yang memaksanya pergi, Febby mengiba.
"Hmm," pria ini mengurut dagunya. Dia menatap Febby, terlihat jelas tidak ada kebohongan di mata gadis ini. "Baiklah. Waktu mu hanya lima menit, setelah itu kalian tidak bisa bertemu lagi. Dan jangan berpikir atau coba-coba untuk kabur. Akan ku patahkan salah satu kaki kalian. Paham!" sentaknya mengancam.
"Terima kasih! Terima kasih," ucap Febby bersyukur di beri ruang gerak. "Aku akan bicara sebentar, setelah itu, aku akan pergi."
Karena waktu yang di berikan begitu terbatas, Febby dengan cepat menghampiri kakaknya, lalu mengatakan seluruhnya. "Kakak jangan khawatir tentang Febby. Febby akan baik-baik saja. Kakak dan Iqbal harus hidup dengan baik kedepannya." Febby memegang wajah Intan, dia menyeka air mata yang sudah berlinang menangisi keputusannya itu.
"Kamu bodoh," Intan menangis tersedu-sedu meratapi wajah adiknya itu. "Dia pria yang kejam dan kasar. Kenapa kamu mau mengikuti mereka."
"Kakak tidak usah memikirkan aku. Yang terpenting, kakak harus ke Kanada. Tinggalah di sana, lanjutkan pendidikan kakak dan Iqbal." Febby mengatakan keikhlasannya, walau sejujurnya dia tidak rela berpisah dari kedua saudaranya itu.
"Kak Febby bilang apa sih," Iqbal yang masih di pegang oleh Debt collector lainnya itu, menyahut. "Ingat pada janji kakak. Kakak nggak akan meninggalkan aku dan kak intan. Apapun yang terjadi."
Febby yang sempat menangis ini, menyeka air matanya yang keluar. Kemudian menatap Iqbal. "Kakak nggak punya pilihan lain. Ini lebih baik dari pada hidup hina kabur meninggalkan hutang," teriaknya pada Iqbal.
Iqbal sangat menyayangkan keputusan kakaknya itu. Walau bagaimanapun, mereka sudah mendengar desas desus mengenai pria tempat ayahnya meminjam modal perusahaan. Pria kejam dan angkuh.
Febby menatap wajah Intan untuk terakhir kalinya. Lalu menyeka kembali air mata yang keluar itu. "Di kamar kontrakan. Gaji Febby selama tiga bulan ini, Febby simpan di bawah bantal tempat tidur. Pakai uang itu untuk terbang ke Kanada. Jika kurang, kakak bisa jual laptop, handphone dan juga semua barang-barang Febby yang masih tersisa. Kalian harus selamat."
"Nggak!" Intan membantah. "Kamu nggak boleh pergi, Kakak tidak akan membiarkan kamu pergi." Intan menahannya, dia tidak rela adiknya meninggalkan mereka berdua.
"Waktu bicara sudah berakhir," sela Debt collector yang sudah menunggu perbincangan mereka berdua ini. "Katakan ucapan terakhir anda Nona. Tidak tahu kapan kalian bisa bertemu, entah hidup atau mati, kalian harus membuat kenangan indah." Pria ini menarik lengan Febby.
"Jangan bawa adik ku, keparat!" teriak Intan.
Terlihat jelas ini merupakan sebuah pukulan menyakitkan bagi Intan. Ibunya meninggal saat mereka masih kecil, tiga bulan yang lalu sang ayah meninggal bahkan meninggalkan hutang tanpa harta sepeserpun. Kini adiknya yang paling dia sayangi, juga harus meninggalkan dirinya.
"Jika kalian mau, bawa saja aku. Jangan bawa adik ku," Intan meronta, dia menawarkan diri.
"Maaf Nona," pria yang memegang lengan Iqbal dengan keras ini menyahut. "Tuan kami tidak butuh wanita jelek. Mata saja nggak bisa di urus, sok-sokan menawarkan diri, aku yakin. Setelah ini anda akan di buang oleh Tuan dari gedung kantornya, karena mendapatkan wanita yang menyakiti mata untuk di lihat." Pria itu meledek, tanpa perasaan.
Mendorong tubuh Iqbal hingga tersungkur, kemudian meninggalkan Intan dan Iqbal di gedung ini. Berdua saja, mereka di lepaskan oleh ke empat Debt collector itu. Hanya Febby yang mereka bawa.
Perlahan tapi pasti, bayangan punggung Dinda sudah menghilang. Hanya Iqbal dan Intan yang masih di dalam gedung tua itu. Intan menangisi kepergian adiknya itu, sementara Iqbal. Dia sangat menyayangkan kenapa kakaknya lebih memilih pergi bersama ke empat pria itu. Begitu kesalnya Iqbal akan kejadian ini, dia memukul-mukul tiang beton di depannya itu.
"Ini semua salah ku. Aku tidak bisa menjaga kakak dengan baik," katanya menyalahkan diri sendiri.
Intan yang menangis tersedu-sedu, menghentikan ulah sang adik yang menyakiti diri sendiri ini. "Hentikan," pintanya. "Kamu nggak oleh menyalahkan diri sendiri seperti ini."
Sekilas info mengenai tokoh:
Intan, Febby dan Iqbal adalah anak seorang pengusaha. Mereka tidak tinggal bersama sang ayah di Indonesia, tapi tinggal di Kanada. Iqbal adalah remaja SMA, sementara kedua kakaknya adalah mahasiswa di salah satu universitas ternama di Ontario.
Hampir genap tiga bulan ini mereka bersembunyi dari kejaran pria yang menagih hutang sang ayah. Dialah pengusaha bidang IT sekaligus pengusaha penanaman modal.
Daniel. Itulah namanya, pria yang tidak membiarkan ketiganya hidup tenang sebelum membayar lunas hutang ayah mereka. Selama melakukan pengejaran, ketiga anak-anak itu sering berpindah-pindah tempat demi menghindar dari kejarannya. Hal ini yang membuat dia geram, bahkan akan mematahkan salah satu kaki dari ketiganya, jika dia tidak menangkap mereka.
Dan selama tiga bulan ini pula Daniel secara tersembunyi menyelidiki identitas ketiganya.