Greeny 7. skakmat

1710 Words
"Gue nggak mau. Titik. Nggak pakai koma, nggak pake tapi-tapian!" Green berdiri di tengah ruang tamu dengan napas memburu, tangannya mengepal erat memegang dua lembar tiket pesawat first class dan reservasi villa mewah di Uluwatu. Di depannya, Felix sedang asyik mengunyah keripik singkong sambil menonton siaran ulang pertandingan bola, seolah-olah kemarahan Green hanyalah backsound televisi yang tidak penting. "Lo denger gue nggak sih, Felix si Pengangguran?!" Green menyambar remote TV dan mematikan layarnya seketika. Felix menghela napas panjang, menatap layar hitam itu dengan duka cita mendalam. "Greeny, sayangku, istri kontrakku yang paling galak, itu tadi lagi seru. Lo mau gue kena serangan jantung gara-gara penasaran skornya?" "Bodo amat! Liat ini!" Green melempar tiket itu ke wajah Felix. “Ahh susah ngomong sama lo.” "Nenek gue beneran pesenin kita honeymoon di Bali. Seminggu, Felix! Seminggu!" Felix mengambil tiket yang mendarat di hidungnya, membacanya pelan, lalu menyeringai. "Wih, Alila Villas Uluwatu? Kamar tipe cliffside? Nenek lo emang selera sultan. Gue sih oke-oke aja. Kapan lagi pengangguran kayak gue bisa berjemur di villa yang harganya setara gaji manajer setahun?" "Masalahnya bukan di harganya, bego! Masalahnya itu cuma SATU kamar! Cuma ada SATU tempat tidur berukuran king size!" Green berteriak frustasi, menjambak rambutnya sendiri. “Terus?” "Gue nggak mau tidur bareng lo!" Felix bangkit dari duduknya, mendekat ke arah Green dengan langkah santai yang selalu membuat pertahanan Green goyah. "Terus lo mau bilang apa sama Nenek lo? 'Nek, maaf, Felix tidurnya ngorok jadi aku mau kamar terpisah'? Atau mau jujur kalau kita ini cuma partner bisnis warisan?" Green terdiam. Wajah Nenek Kiswa yang tersenyum tulus saat memberikan amplop itu tadi sore terbayang di benaknya. Beliau adalah satu-satunya orang di keluarga Atmadja yang benar-benar menyayangi Green tanpa pamrih. “Dih, ternyata nenek nyelipin ini ke tas gue.” “Terus gimana?” "Gue nggak bisa bohong sama Nenek gue, Felix. Beliau itu jantungnya keluarga ini," gumam Green pelan. "Nah, makanya. Pakai otak lo yang pinter itu, Greeny. Kita berangkat, kita akting, kita nikmatin fasilitas gratisan, terus pulang. Lo anggep aja gue itu guling bernapas. Gampang kan?" "Guling bernapas yang bau rokok dan nyebelin? Nggak, makasih!" "Heh, parfum gue mahal ya! Walaupun lo mikirnya gue dapet dari hasil ngerampok," ujar Felix mendengus, lalu menyambar koper besar dari pojok ruangan. “Dih.” "Udah, buruan packing. Pesawat kita besok jam 8 pagi. Kalau telat, gue nggak mau tanggung jawab kalau bokap lo curiga." *** Bandara Ngurah Rai menyambut mereka dengan hawa panas yang menyengat, namun tidak sepadan dengan panasnya hati Green saat melihat Felix sibuk menggoda pelayan di konter penjemputan hanya untuk mendapatkan handuk dingin tambahan. "Felix, jangan malu-malin gue! Fokus ke koper!" bisik Green tajam sambil mencubit lengan Felix. "Aduh! Sakit, Green! Gue cuma nanya rekomendasi tempat makan ayam guling yang enak, elah. Sensitif banget lo kayak kulit bayi," gerutu Felix sambil mengusap lengannya. Begitu sampai di vila, jantung Green hampir copot. Tempat itu terlalu romantis. Kelopak mawar merah bertebaran di atas kasur, handuk yang dibentuk sepasang angsa yang sedang berciuman, dan aroma terapi melati yang menenangkan. Pemandangan di luar sana adalah tebing curam dengan samudera Hindia yang biru membentang luas. "Wah gila. Ini sih kalau gue beneran jatuh cinta sama lo, gue bakal langsung minta anak tujuh," celetuk Felix tanpa dosa, melempar tasnya ke lantai marmer. "JAGA MULUT LO!" Green melempar bantal hias ke arah Felix. “Iya iya. Sensi amat sih!” "Gue bakal tidur di sisi kanan, lo di sisi kiri. Dan, di tengah-tengah harus ada pembatas dari bantal guling. Kalau lo ngelewatin garis itu, gue laporin lo ke polisi atas tuduhan pelecehan internasional!" "Internasional? Memangnya gue warga negara mana? Jerman?" Felix tertawa kecil, melirik Green dengan tatapan penuh arti yang membuat Green salah tingkah. Malam pertama di Bali dimulai dengan bencana. AC di ruang tengah mati, menyisakan suhu kamar yang dingin namun udara yang terasa lembab. Green sudah memakai piyama tertutup rapat dari leher sampai mata kaki, sementara Felix hanya memakai celana pendek dan kaos tipis. "Lix, lo nggak boleh tidur telanjang d**a ya! Gue tahu lo nggak punya baju bagus, tapi minimal pakai kaos!" perintah Green saat melihat Felix bersiap naik ke ranjang. "Panas, Green! Lo mau gue mati kepanasan?" "Mending lo mati kepanasan daripada mata gue ternoda liat tato-tato nggak jelas di badan lo!" "Tato nggak jelas? Ini seni, Greeny! Ini peta harta karun yang lo nggak bakal pernah bisa pecahin," geleng Felix menyeringai, sengaja mendekat ke arah Green yang sudah meringkuk di bawah selimut. Tiba-tiba, ponsel Green berdering. Panggilan video dari Papa Prabu. "Gila! Bokap telepon! Felix, buruan pake baju! Sini, duduk deket gue! Akting, Lix, akting!" Green panik, menarik kaos Felix dengan paksa sampai pria itu hampir tercekik. Begitu tombol accept ditekan, wajah tegas Prabu muncul di layar, di sampingnya ada Nenek Kiswa yang melambaikan tangan dengan riang. ‘Selamat malam, Papa. Halo, Nenek,’ suara Green mendadak berubah menjadi lembut, sopan, dan sangat berkelas. ‘Bagaimana Bali, Greeny? Felix memperlakukanmu dengan baik?’ tanya Prabu dengan nada menginterogasi. Felix langsung merangkul pundak Green, menariknya mendekat sampai pipi mereka bersentuhan. Green bisa merasakan detak jantung Felix yang tenang, berbanding terbalik dengan jantungnya yang seperti sedang ikut lomba lari maraton. ‘Bali sangat indah. Felix sangat perhatian. Dia bahkan nggak membiarkan Green angkat tas sendiri tadi,’ bohong Green sambil tersenyum manis ke arah kamera. ‘Baguslah,’ ujar Nenek Kiswa sambil terkekeh. ‘Felix, jaga cucu Nenek ya. Dia itu kalau tidur suka nendang, jadi kamu harus sabar.’ Felix tertawa lebar, menatap Green dengan tatapan jail. ‘Oh, tenang aja, Nek. Saya udah siapin tameng kalau Greeny mulai latihan kungfu di kasur. Iya kan, Sayang?’ Green mencubit pinggang Felix di bawah selimut, membuat pria itu meringis tertahan namun tetap menjaga senyum di depan kamera. ‘Iya, Nek. Felix sabar banget kok.’ Setelah panggilan berakhir, Green langsung mendorong Felix sampai pria itu hampir jatuh dari kasur. “LO! APA-APAAN TADI?!” "Apa? Gue cuma jawab jujur! Emang lo suka nendang kan dari SMP dulu kalau kita lagi lomba lari?" "ITU BEDA, BEGO!" "Sama aja. Sekarang mending lo tidur. Gue capek akting jadi suami idaman bokap lo. Capek tau, mukanya harus dibikin kayak malaikat padahal aslinya gue kan iblis buat lo." Keesokan harinya, Lita tiba-tiba mengirimkan pesan suara. Ternyata, dia juga ada di Bali untuk urusan calon tunangannya. Dia menantang Green untuk bertemu di sebuah beach club terkenal di Seminyak. "Gue nggak mau dateng, Lix. Dia pasti cuma mau pamer atau ngehina lo lagi," ujar Green sambil merapikan sunscreen-nya. "Loh, justru kita harus dateng," ujar Felix bangkit dari kursi jemur, memakai kacamata hitamnya. “Buat apa?” "Kita kasih dia pertunjukan yang dia nggak bakal lupain. Biar dia tahu kalau pengangguran pilihan lo ini jauh lebih oke daripada arsiteknya yang ngebosenin itu." "Lo yakin? Lo jangan buat malu gue ya, awas lo kalau makan berantakan di depan dia!" "Tenang, Greeny. Gue bakal bikin dia nyesel kenapa dulu dia lahir jadi saudara sambung lo." Sesampainya di beach club, Lita sudah menunggu dengan gaun desainer yang sangat mencolok. Lita tidak sendirian, ada beberapa teman sosialitanya. "Wah, pengantin baru yang hemat ya? Cuma dapet hadiah dari Nenek?" sindir Lita begitu melihat Green dan Felix. “Ya terserah lo aja.” "Kenalin, ini teman-teman gue. Mereka tanya, Felix ini pengusaha di bidang apa ya? Kok namanya nggak pernah ada di daftar Forbes Indonesia?" Teman-teman Lita tertawa kecil, menatap Felix dengan tatapan meremehkan. Green sudah siap meledak, namun Felix justru melangkah maju, meraih tangan Lita dan mencium punggung tangannya dengan gaya bangsawan Eropa yang sangat fasih. "Halo, Lita. Forbes Indonesia mungkin terlalu kecil buat saya," ujar Felix dalam bahasa Inggris dengan aksen Berlin yang sangat kental dan sempurna. “Apa?” Semuanya tertawa terbahak-bahak seolah Felix adalah bahan lucu-lucuan mereka. "Saya lebih suka bermain di pasar Frankfurt atau Berlin. Lagipula, orang yang beneran punya aset nggak bakal sibuk taruh namanya di majalah supaya orang tahu dia kaya, kan?" Suasana mendadak hening. Teman-teman Lita yang tadinya meremehkan, kini mulai berbisik-bisik. "Gila, aksennya bagus banget," "Dia beneran dari Jerman?" Lita mendengus, mencoba menutupi rasa malunya. "Halah, bahasa Inggris doang semua orang bisa belajar! Tapi gaya hidup nggak bisa bohong, Felix. Lo bahkan nggak sanggup beli mobil sendiri, kan?" Tiba-tiba, manajer beach club tersebut berlari menghampiri meja mereka dengan wajah panik sekaligus hormat. "Excuse me, Mr. Seno? I’m so sorry, we didn’t know you were arriving today. Your private deck is ready, and we’ve already chilled the 1996 Dom Pérignon as per your family’s standing order." Green melongo. Lita melongo. Teman-temannya apalagi. Felix hanya tersenyum tipis, seolah hal itu sangat biasa. "Terima kasih, Bli. Tapi hari ini aku cuma mau duduk sebentar di sini sama ipar saya yang sangat penasaran sama hidup aku ini." Lalu Felix menoleh ke Green, merangkul pinggangnya dengan protektif. "Ayo, Sayang. Kita pindah ke private deck. Di sini terlalu berisik, kasihan telinga kamu yang mahal itu." Green hanya bisa mengikuti langkah Felix dengan otak yang berputar hebat. Begitu mereka hanya berdua di area pribadi yang super mewah itu, Green langsung menyudutkan Felix ke sofa. "FELIX! JELASIN SEKARANG! Apa itu tadi?! Standing order? Dom Pérignon 1996? Lo nyuri identitas siapa hah?!" Felix tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair. "Gue nggak nyuri apa-apa, Greeny! Gue kan udah bilang, gue pernah kerja serabutan di Jerman. Serabutan gue itu, ya ngebantu orang-orang kaya di sana urusan bisnis. Mungkin nama gue masih nyangkut di sistem mereka." "BOHONG! Lo nggak mungkin cuma ngebantu kalau manajer tempat ini nunduk-nunduk kayak liat raja!" "Mungkin karena muka gue emang mirip pangeran yang hilang?" Felix mendekatkan wajahnya ke telinga Green, berbisik dengan nada yang membuat jantung Green berdegup tidak karuan. “Apa sih. Gak lucu!” "Daripada lo pusing mikirin siapa gue, mending lo nikmatin sampanyenya. Mahal loh ini, kalau lo jual bisa buat bayar cicilan tas Lita sepuluh tahun." Green mendorong d**a Felix, namun kali ini tidak sekuat biasanya. Green menatap mata pria di depannya, mencari kejujuran di balik seringai menyebalkan itu. "Lo sebenarnya siapa sih, Lix?" Felix tidak menjawab. Dia hanya mengambil gelas sampanye, memberikannya pada Green, dan bersulang. "Gue adalah orang yang bakal pastiin lo dapet warisan Atmadja, dan orang yang bakal bikin lo sadar kalau musuh bebuyutan lo ini, sebenarnya nggak seburuk itu." Satu minggu di Bali baru saja dimulai, dan Green sadar, dia tidak hanya sedang berlibur, tapi sedang masuk ke dalam labirin rahasia Felix yang semakin dia masuki, semakin membuatnya terjatuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD