Jakarta menyambut kepulangan pengantin baru ini dengan kemacetan yang luar biasa dan polusi yang seolah ingin menyaingi ketegangan di dalam mobil.
Green duduk gelisah, berkali-kali dia membetulkan letak kuncir rambutnya dan mengecek lipstiknya di cermin.
"Lix, lo inget kan? Di depan Nenek, lo adalah suami teladan. Don't you dare act like a hobo," bisik Green tajam saat mobil mereka memasuki gerbang rumah utama keluarga Atmadja yang asri namun megah.
Felix yang sedang menyetir hanya memutar bola mata. "Gue tahu, Greeny. Gue harus jadi Mas Felix yang penyayang, bukan Felix yang hobi nyolong handuk. Piece of cake."
"Dan satu lagi, lo jangan protes kalau gue … ya, lo tahu lah, pegangan tangan atau apa pun itu. We have to convincing." Green menahan napas.
"Wah, tawaran menarik. Gue sih nggak bakal nolak kalau lo mau glendotan di tangan gue. My pleasure, Wifey."
"DIEM LO! Jangan panggil gue gitu." Green bergidik ngeri.
Begitu pintu jati besar itu terbuka, aroma melati khas rumah Nenek Kiswa langsung menyapa.
Nenek Kiswa sudah duduk di kursi goyangnya, wajahnya yang penuh kerutan namun teduh langsung cerah melihat cucu kesayangannya datang.
"Nenek!" Green berlari kecil dan mencium tangan Nenek Kiswa dengan penuh rasa hormat.
“Cucuku.”
"Green kangen banget sama Nenek."
"Aduh, anak manis Nenek udah pulang dari Bali. Kok makin kurus? Felix nggak kasih kamu makan ya?" canda Nenek Kiswa sambil menepuk-nepuk pipi Green.
Felix maju dengan senyum paling malaikat yang pernah Green lihat.
Felix membungkuk sopan, mencium tangan Nenek Kiswa, lalu dengan gerakan yang sangat natural, dia merangkul pinggang Green dan menariknya mendekat.
"Nggak mungkin saya telantarin Green, Nek. Di Bali kemarin Green makan banyak banget, mungkin karena bahagia terus sama saya," ujar Felix dengan suara yang dibuat selembut beludru.
Green merasakan perutnya bergejolak. Ingin muntah.
Rasanya seperti ada jutaan semut yang merayap di punggungnya saat tangan Felix mendekap pinggangnya begitu erat.
Green memaksakan senyum lebar yang terlihat lebih seperti ringisan sakit gigi.
"Iya, Nek, Felix bener-bener uh, perhatian banget. He’s so sweet, I feel like I’m getting diabetes," ujar Green dengan tawa yang dibuat-buat.
"Baguslah kalau begitu," angguk Nenek Kiswa mengajak mereka duduk di ruang tengah. "Nenek buatkan teh hangat dan camilan favorit kalian. Green, coba sini duduk dekat Felix, Nenek mau lihat foto-foto kalian di Bali."
Sial. Green terpaksa duduk mepet dengan Felix di sofa kayu yang sempit.
Felix dengan sangat tidak tahu diri, justru merangkul bahu Green dan sesekali mengelus lengannya.
"Ini, Nek, pas kita di Uluwatu. Green cantik banget kan pake baju putih?" Felix menunjukkan ponselnya ke Nenek Kiswa.
"Cantik sekali. Kalian serasi," puji Nenek.
"Iya dong, Nek. Green itu ... she’s my everything now," bisik Felix, lalu tiba-tiba dia mencium pelipis Green dengan suara kecupan yang cukup nyaring.
CUP!
Mata Green melotot. HE DID NOT JUST DO THAT! Green merasa asam lambungnya naik ke kerongkongan.
Mereka harus akting, tapi ini sudah kelewat batas!
"Aduh, Sayang, jangan manja-manja terus ih, malu sama Nenek," ujar Green sambil mencubit paha Felix sekuat tenaga di bawah meja.
Felix meringis sedikit, namun dia justru membalas dengan menggenggam tangan Green dan menautkan jari-jari mereka.
“Habisnya kangen terus, walaupun kita barengan 24 jam."
Green menoleh ke arah lain, pura-pura batuk untuk menutupi ekspresi wajahnya yang ingin muntah hebat.
"Uhuk! Uhuk! Aduh, tenggorokan Green tiba-tiba gatel, Nek."
"Minum dulu, Green. Felix, coba pijit pundak istrinya, biar rileks," perintah Nenek Kiswa.
Felix dengan sigap berdiri di belakang Green dan mulai memijat pundaknya.
Pijatannya sebenarnya enak, tapi fakta bahwa itu adalah tangan Felix membuat Green merasa seperti sedang dipijat oleh tumpukan es batu yang berduri.
"Rileks, Sayang, jangan kaku gitu badannya. Relax your muscles, Honey," bisik Felix tepat di telinga Green, membuat bulu kuduk Green berdiri sempurna.
"Udah, Lix, udah enak kok. Thanks, Hubby!" Green memutar badan dan menepis tangan Felix dengan sopan, matanya memberikan kilatan peringatan. Berhenti atau Felix mati!
Nenek Kiswa tertawa kecil. "Kalian ini lucu sekali. Persis Nenek sama Kakek dulu. Berantem-berantem kecil tapi aslinya nggak bisa jauh."
"Nenek bisa aja," sahut Green sambil menelan ludah paksa. "Oh iya, Nek, Papa gimana kabarnya? Katanya Lita juga baru balik dari Bali ya?"
"Iya, Lita udah pulang. Dia terus-terusan mengeluh soal suami kamu, Felix. Katanya kamu sombong di Bali," ujar Nenek dengan nada menyelidik.
Felix tertawa ringan, dia kembali duduk dan merangkul Green lagi, kali ini lebih posesif.
"Sombong? Nggak kok, Nek. Saya cuma mau melindungi privasi Green dari orang-orang yang terlalu banyak tanya. Protecting my territory is my job, right?"
Green kembali merasa mual. Protecting my territory? Felix benar-benar sudah masuk ke mode aktor pemenang Oscar.
"Oh, jadi kamu cuma mau melindungi Green?" Nenek tersenyum puas.
“Iya, Nek,” angguk Felix.
“Nenek tenang kalau Green sama kamu. Tadinya Nenek khawatir karena kalian ini kan nikah mendadak. Takutnya pas nikah malah cakar-cakaran."
"Nggak mungkin lah, Nek. Masa cakar-cakaran sama istri sendiri. I’d rather kiss her all day than fight with her," celetuk Felix tanpa dosa.
Green langsung tersedak tehnya sendiri. "UHUK! UHUK!"
Felix dengan sigap menepuk-nepuk punggung Green. "Aduh, pelan-pelan Sayang. Are you okay, Babe?"
Green menepis tangan Felix dengan gerakan cepat namun tetap mencoba terlihat manis. "Nggak apa-apa, cuma kaget aja. Tehnya enak banget, Nek!"
Setelah satu jam penuh sandiwara yang menguras batin dan asam lambung Green, mereka akhirnya pamit pulang.
Begitu pintu mobil tertutup dan mereka sudah keluar dari area rumah Nenek Kiswa, Green langsung membuka jendela lebar-lebar dan menghirup udara sebanyak mungkin.
"HUEKKK! Gila, Felix! Lo keterlaluan!" teriak Green sambil memegang perutnya.
“Keterlaluan?”
"Cium pelipis? Protecting territory? Kiss all day? Lo mau bikin gue mati kena serangan mual, hah?!"
Felix tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar. "Loh, tadi kan lo sendiri yang bilang kita harus convincing. Gue cuma menjalankan tugas dengan totalitas, Greeny! Don't blame me for being a great actor."
"Totalitas lo itu menjijikkan! Gue berasa baru aja syuting film horor bertema romansa!"
"Tapi, Nenek percaya, kan? Misi berhasil, warisan aman. You should thank me," Felix menyeringai lebar sambil menambah kecepatan mobil.
"Gue bakal terima kasih kalau lo berhenti manggil gue ‘Sayang'. Rasanya kayak ada kodok nyangkut di tenggorokan gue tiap lo ngomong gitu!"
"Oke, Sayang. Siap, Sayang. Apa pun buat kamu, Sayang," ejek Felix bertubi-tubi.
"FELIXXXX!!!!"
Green meraih bantal kecil dari kursi belakang dan menghantamkannya ke wajah Felix.
Sandiwara mereka di depan Nenek mungkin sudah berakhir, tapi perang di dalam mobil ini baru saja dimulai kembali dengan level yang jauh lebih kocak.