Cahaya matahari Bali yang terkenal sangat ramah, tapi tidak bagi orang yang sedang hangover menembus tirai tipis villa Uluwatu dengan sangat tidak sopan.
Green mengerang, merasakan kepalanya seperti dihantam oleh palu godam yang berdenyut seirama dengan detak jantungnya.
"Ugh ... my head feels like it’s exploding," gumam Green pelan, suaranya parau dan kering.
Dia mencoba menarik selimut untuk menutupi wajahnya, tapi dia merasakan sesuatu yang aneh.
Selimutnya terasa lebih berat, dan ada hawa hangat yang tidak berasal dari sinar matahari.
Green perlahan membuka satu matanya, mencoba fokus pada penglihatan yang masih agak kabur.
Hal pertama yang dia lihat adalah kulit. Kulit kecokelatan yang halus, luas, dan sangat dekat.
Green mengerjap. Dia mendongak pelan, dan jantungnya hampir melompat keluar dari tenggorokan.
Tepat di depannya, Felix sedang tertidur pulas. Pria itu tidak hanya ada di kasur yang sama, tapi mereka sedang dalam posisi yang sangat tidak berwibawa, tangan Felix melingkar santai di pinggang Green, dan kaki Green entah sejak kapan sudah nangkring di atas paha Felix.
Dan yang paling parah? Bantal guling pembatas yang semalam Green bangga-banggakan sudah tergeletak mengenaskan di lantai, seolah-olah dibuang secara sengaja oleh pelaku yang kejam.
"FELIX!!!!"
Suara lengkingan Green memecah kesunyian pagi di Uluwatu, bahkan mungkin sampai terdengar ke tebing-tebing bawah.
Felix tersentak bangun, matanya langsung terbuka lebar dalam mode siaga. "Hah? Apa? Kebakaran?! Ada Lita?! Mana uler?!"
Felix refleks terduduk, namun karena tangan Green masih tersangkut di kaosnya, Green ikut tertarik ke depan hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.
Green langsung mendorong d**a Felix dengan kekuatan penuh sampai pria itu terjengkang ke belakang.
"LO! LO NGAPAIN DI SINI?! MANA PEMBATASNYA?! WHY ARE YOU IN MY TERRITORY, YOU FREAK?!" teriak Green sambil menunjuk-nunjuk Felix dengan jari yang bergetar.
Felix mengusap wajahnya, mencoba mengumpulkan nyawa yang masih tertinggal di alam mimpi. Dia melirik bantal guling di lantai, lalu menatap Green dengan ekspresi malas yang sangat menyebalkan.
"Bisa nggak sih sehari aja nggak teriak? My ears are literally bleeding, Greeny." Felix menguap lebar. "Lo yang narik gue semalam. Lo lupa?"
"Gue? Narik lo? Don't you dare lie to me! Gue benci lo, inget? I would never let you cross the line!”
Felix menyeringai, tipe seringaian yang membuat Green ingin melempar vas bunga terdekat. "Oh ya? Semalam lo mabuk berat, Sayang. Lo nyemplung ke kolam, terus gue selametin. Pas gue bawa ke kasur, lo malah meluk gue kayak koala sambil bilang, Lix, jangan pergi, it’s cold. Ya sebagai suami yang baik dan nggak sombong, gue ya pasrah aja dipeluk."
Green membeku. Dia mencoba menggali ingatannya. Dia ingat minum sampanye di pinggir kolam. Dia ingat Felix datang tanpa baju. Dia ingat jatuh ke air?
"Gue ... gue beneran nyemplung?" tanya Green, suaranya mulai mengecil.
"Iya. Lo udah kayak ikan duyung stres semalam. Terus lo ngoceh nggak jelas soal warisan, soal Yudi, terus lo pingsan di bahu gue," geleng Felix menjelaskan sambil beranjak dari kasur, memamerkan punggungnya yang kokoh.
Green memegang kepalanya yang makin berdenyut. "Terus? Ada lagi yang gue omongin? Gue nggak ngomong yang aneh-aneh kan?"
Felix berhenti di ambang pintu kamar mandi, dia menoleh sedikit dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ada jeda beberapa detik sebelum dia menjawab. "Nggak ada. Lo cuma minta dipeluk karena kedinginan. That’s it."
Green menghela napas lega. Thank God. Setidaknya dia tidak membongkar rahasia memalukan atau menyatakan cinta pada pria menyebalkan ini.
"Ya udah! Sana mandi! Bau lo bau kolam renang!" usir Green, mencoba menutupi rasa malunya.
"Galak banget. Padahal semalam, ah sudahlah. Anyway, don't forget we have breakfast with Grandma’s friends at 10. Better move your butt, Green.”
Felix masuk ke kamar mandi, meninggalkan Green yang masih terduduk di kasur dengan perasaan campur aduk.
Green menatap pantulan dirinya di cermin besar di depan kasur.
Rambutnya berantakan, maskaranya sedikit luntur, dan dia terlihat benar-benar berantakan.
"Gila, Green. Lo beneran meluk dia? Ugh, I want to vanish from this planet right now," bisiknya pada diri sendiri.
Satu jam kemudian, mereka sudah berada di area restoran vila yang menghadap ke laut.
Green sudah tampil sempurna dengan sundress putih dan kacamata hitam besar untuk menutupi mata pandanya.
Felix? Dia hanya memakai kemeja pantai bermotif daun kelapa yang kancingnya dibuka dua di bagian atas. Sangat santai, sangat pengangguran gaya sultan.
"Bisa nggak kancing lo ditutup? You look like a hobo," kritik Green sambil menyesap kopi hitamnya.
"Hobo yang ganteng tapi, kan? Face it, Greeny. Your eyes were literally glued to my chest this morning," balas Felix sambil menyikat nasi kuningnya dengan lahap.
"Nggak usah geer! Gue cuma kaget liat pemandangan buruk pagi-pagi!"
Saat mereka sedang asyik berdebat, tiba-tiba seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi menghampiri meja mereka. Wajahnya terlihat sangat formal dan serius.
"Excuse me, Mr. Seno? Sorry to interrupt your breakfast."
Green langsung waspada. Ini lagi? Siapa lagi yang kenal Felix?
"Ya? Who are you?" tanya Felix dengan nada dingin yang tiba-tiba berubah 180 derajat dari nada bercandanya dengan Green tadi.
"I am from the management of the estate. There’s a slight issue with the … transfer from Berlin. We need your authorization for the additional security detail you requested."
Green hampir tersedak kopinya. "Security detail? Tambahan keamanan buat apa, Lix? Kita cuma di Bali, bukan di tengah hutan sss!"
Felix memberi kode pada pria itu untuk menunggu sebentar, lalu dia menatap Green dengan senyum santai. "Cuma buat mastiin nggak ada uler kayak Lita atau kecoa kayak Yudi yang ganggu liburan kita, Sayang. Safety first, right?"
"Tapi kenapa dia bilang transfer from Berlin? Lix, jangan bilang lo ngerampok bank di Jerman ya!"
Felix tertawa terbahak-bahak, lalu berdiri. "Duh, imajinasi lo kejauhan. Gue cuma punya tabungan dikit di sana. Wait here, okay? I’ll be back in five. Jangan kangen."
Felix berjalan menjauh bersama pria itu, meninggalkan Green yang penuh dengan kecurigaan.
Green memperhatikan cara Felix berjalan tegak, berwibawa, dan setiap staf yang berpapasan dengannya memberikan anggukan hormat.
"Nggak mungkin, nggak mungkin dia cuma pengangguran," gumam Green.
Green mengambil ponselnya, mencoba mencari nama Felix di mesin pencari dengan kata kunci Berlin Business.
Tapi hasilnya nihil. Felix seolah tidak punya jejak digital di dunia bisnis.
"Sial, dia pinter banget nutupin jejak," gerutu Green.
Tak lama, Felix kembali dengan wajah segar. "Udah beres. Everything is fine. Yuk, kita ke pantai. Gue mau liat lo pake bikini yang katanya sopan itu."
"Gue nggak bakal pake bikini di depan lo! In your dreams, Felix!"
"Lah, semalam aja lo nyemplung cuma pake piyama tipis sampai ... aduh!" Felix meringis saat Green menginjak kakinya dengan keras di bawah meja.
"Jangan bahas semalam lagi! Clear?!"
"Sensi amat. PMS?”
"FELIX!!!!"
Mereka berdua berjalan menuju area pantai sambil terus berdebat.
Dari jauh, mereka terlihat seperti pasangan pengantin baru yang sangat bahagia dan penuh energi.
Tapi di dalam hati Green, ada satu pertanyaan yang makin membesar. Siapa sebenarnya pria yang tidur di sampingnya tadi malam? Dan benarkah dia hanya memeluknya karena kedinginan, atau ada sesuatu yang lebih besar yang dia lupakan?
Green sempat merasa ada kilasan memori saat dia berada di dalam air kolam renang, sebuah bisikan, dan sebuah pengakuan.
"I’ve been in love with my favorite enemy for fifteen years.” Green berhenti melangkah.
Jantungnya berdegup kencang. Nggak. Nggak mungkin. Itu pasti cuma halusinasinya karena kebanyakan minum sampanye.
"Kenapa berhenti? Takut liat ombak?" tanya Felix yang sudah berada beberapa langkah di depan.
Green menatap punggung Felix, lalu menggeleng cepat. "Nggak! Gue cuma mau mastiin sunscreen gue udah rata!"
“Liar. Muka lo merah banget, Greeny. Are you sure you’re okay?”
"I’m fine! Stop analyzing me, you i***t!”
Green berlari mendahului Felix menuju bibir pantai, mencoba menjauh dari rasa deg-degan yang tidak masuk akal itu.
Sementara di belakang, Felix menatap Green dengan senyum tipis yang penuh rahasia.
"One step at a time, Greeny. One step at a time,” gumam Felix pelan sebelum akhirnya mengejar istrinya ke arah deburan ombak.