Oma Elle menahan ransel bahan kulit milik Joanna yang menempel di punggung, membuat langkah gadis itu tertahan. Sedetik kemudian, ia menoleh ke arah neneknya sembari menyeringai.
Siapa sangka, Joanna yang tengah mengendap-ngendap keluar rumah, malah ketahuan.
“Jam sembilan malam mau ke mana Tuan putri?” tanya Oma Elle.
Joanna menelan saliva dengan susah payah.
“A-anu ....”
“Anu apa??” Suara neneknya terdengar lebih tinggi.
“Mau keluar sebentar boleh gak?”
“Kemana?”
Sesaat Joanna memejamkan mata, ia sangat hafal jika neneknya tidak akan berhenti menginterogasinya, sebelum merasa puas dengan jawabannya.
Gadis itu merengkuh kedua bahu sang nenek.
“Oma. Aku teringat ketiga anak yatim itu, entah dapat makanan atau nggak hari ini. Jadi, mau nengokin mereka sebentar boleh ya?” Joanna menempelkan kedua telapak tangannya.
Omma Elle terdiam dengan posisi membuang muka.
“Tadi Joanna sibuk, jadi baru sempat sekarang. Boleh kan?” sambungnya penuh harap.
Oma Elle tertatih melangkah menuju sofa, dengan sigap gadis itu membantunya untuk mendudukkan tubuh renta itu.
“Kamu tau kan, bukan soal Oma melarangmu berbuat baik. Tapi ini sudah malam, dan kamu seorang gadis. Oma khawatir.” Ia meremat daddanya.
Joanna mendekatkan wajah dan mengecup pipi wanita paruh baya itu.
“Jo janji, habis ini langsung pulang.” Joanna masih sibuk meyakinkan.
Jika sudah begini, Oma Elle tak bisa berkutik lagi. Apalagi tatapan sayu gadis itu membuat hatinya meleleh.
“Baiklah. Tapi naik taksi di depan gerbang rumah, jangan naik angkutan umum. Jika menolak juga, Oma gak izinin.”
Joanna tersenyum lalu menempelkan tangan di keningnya. “Siap, laksanakan!”
Setelah mengecup punggung tangan neneknya, ia bergegas keluar rumah.
****
Di kediaman rumah tiga tingkat bernuansa putih dan gold. Seorang pemuda tampak rapi dengan jas berwarna hitam.
Berapa menit lalu, Kennan mendapat chat dari Hans.
[Kita akan ketemu di restoran Chery Blossom. Langsung datang saja ke sana ya, sudah Papa siapkan meja khusus kok.]
Kennan merasa lega, artinya Hans sudah menunggu di sana.
“Anak mama sangat tampan. Gak terasa, sebentar lagi lulus sarjana,” cetus Rose.
Kennan tersenyum tipis, matanya tak lepas dari cermin standing di hadapannya. “Makasih. Oya, tolong pas nanti kita makan malam jangan sok kuat. Mama harus bilang, jika mama kangen papa, dan ingin lebih diperhatikan.”
“Iya Sayang, mama janji.”
“Ayo kita berangkat, papa sudah menunggu. Bi, tolong bawa kursi rodanya dan minta supir untuk memasukkannya ke bagasi,” titah Kennan pada bi Mui yang sedari tadi membersamai mereka.
“Baik, Den.”
Kennan menggendong ibunya menuruni anak tangga.
****
Langkah keduanya terus menapaki lantai marmer restoran bintang lima. Mata Kennan takjub, karena Hans memperlakukan ia dan Rose dengan istimewa.
Seorang pelayan restoran mengantarnya ke ruang VIP yang sudah dibooking Hans. Kennan mengekor pelayan itu sambil mendorong kursi roda.
“Ken, kamu bisa lihat kan kalau papamu sepertinya mulai berubah?” ujar Rose.
“Ya.” Kennan menyetujui ucapan ibunya.
Saat masuk, keduanya lebih takjub lagi dengan dekor dan tata ruang yang begitu istimewa. Aneka hiasan, bunga dan lampu warna warni tertata dengan rapi. Namun, manik mata Kennan tidak mendapati Hans di sana, padahal ia yakin jika ayahnya itu sudah lebih dulu masuk.
Dua pelayan menyuguhkan hidangan istimewa, namun mata Kennan masih tertuju pada ponselnya yang sibuk mengetik chat untuk Hans.
“Papamu, gak bilang jika sudah datang ke sini kan. Hanya mengatakan, jika kita harus datang berdua saja tanpa dijemput olehnya,” terang Rose. Ia bermaksud memberi pengertian agar anaknya tidak salah paham yang berujung konflik.
Kennan tidak menggubris, bahkan ia sibuk menempelkan benda pipih ke telinganya, karena Hans tak kunjung merespon chat darinya.
Lagi-lagi tak ada respon. Ia berdecak karena gusar.
Melihat itu, Rose pun mulai tidak tenang. Terlebih, ini sudah setengah jam yang lalu sejak mereka datang.
“Nak, makanannya keburu dingin. Sebaiknya kita makan duluan, mama yakin papamu gak keberatan. Lihat, beefsteak medium rare kesukaanmu, melambai-lambai minta dieksekusi,” seloroh Rose mencoba mencairkan suasana.
Kennan memasang wajah datar. “Mama sangat berisik! Jika mau, makan saja lah. Aku sudah gak lapar.”
Deg!
Ada yang ngilu di ulu hati Rose, mendengar kalimat dari anaknya. Namun, ia berusaha untuk biasa saja.
Klung!
Dengan sigap, Kennan meraih ponsel di meja karena ia melihat Hans membalas chat darinya. Kembali bibirnya tersenyum, namun sejurus kemudian wajahnya mendadak berubah merah padam.
[Ken, maafkan papa. Meeting-nya belum selesai dari perkiraan, kamu sama mama makan duluan ya. Janji, sebentar lagi selesai.]
Kennan menghela napas dengan berat.
“Papa masih meeting,” ujar Kennan sambil meraih pisau dan garpu, ia memotong daging dengan kasar, dan secara paksa memasukannya ke dalam mulut.
“Oh, pantas saja telat. Gak apa-apa, kita maklumi ya Nak.”
Muak!
Hanya itu yang dirasakan Kennan.
‘Apakah hati mama terbuat dari tahu? Lembek banget!’ batinnya kesal.
Satu jam berlalu, Kennan tak bisa menunggu lagi. Ia beranjak dari kursi dengan perasaan tak menentu.
Sejujurnya, ia tidak pernah berharap minta apa pun di hari ulang tahunnya sejak hubungan kedua orang tuanya retak. Tapi jika Hans berjanji untuk makan malam bersama, ia menyimpan harapan besar.
“Ayo Ma, kita pulang,” ucap Kennan lemah.
“Bagaimana kalau sebentar lagi? Kasihan papa jika dia datang, tau tau kita sudah pergi.”
Kennan tersenyum sinis. “Aku gak habis pikir, kenapa Mama bisa sepolos ini? Papa gak akan datang, terimalah kenyataan! Mama merasa gak enak jika kita pergi, tapi apakah dia memahami jika kita juga kesal menunggunya dari tadi!”
Napasnya mulai memburu.
“Aku beggo! Mau-maunya berharap dan menuruti ucapannya,” sambungnya.
“Jangan begitu Ken, biar bagaimana pun dia orang tuamu. Ayah yang berjuang mencari nafkah buat kita.”
Kennan menatap Rose dengan nyalang. “Seorang ibu, tidak cukup hanya melahirkan saja, atau seorang ayah yang hanya memberi nafkah semata. Tapi harus disertai dengan memberi kasih sayang, dan pengajaran. Tapi, aku gak dapat dari kalian! Sejak kecil hingga sebesar ini, seolah bi Mui lah orang tuaku. Kalau boleh meminta pada Tuhan, aku ingin orang lain saja sebagai orang tuaku.”
Ucapan Kennan, sukses menghadirkan bulir bening yang lolos di kedua netra Rose. Menyakitkan dari ucapan seorang anak, namun itu semua memang benar.
Ia merasa gagal menjadi seorang ibu, yang sejak dulu mengejar karir ketimbang mengurus dan mendidik Kennan. Bahkan setelah ia lumpuh, lebih sibuk mengurusi perasaannya yang terkhianati oleh Hans tanpa mempedulikan bagaimana hati Kennan.
“Nak, mama_”
“Cukup. Kita pulang.”
Kennan mendorong kursi roda hingga ke pelataran resto, dan meminta supirnya untuk mengantar sang ibu pulang.
“Aku mungkin pulang larut. Mama duluan saja.”
Bukk.
Pintu mobil di tutup, dan Kennan berlari menyeberangi jalan entah ke mana. Rose semakin sakit melihat keadaan itu.
****
Joanna masih dengan posisi berjongkok, sibuk menyeka air matanya dengan kasar. Ia berusaha menutupi kesedihan melihat ketiga anak itu dipukuli ketiga preman, gara-gara kurang setoran.
“Kalian ... gak bisa begini terus. Andai aku bisa bantu lebih.”
Ia membenamkan wajahnya di kedua lututnya, tubuhnya bergetar karena menangis.
Ketiga anak itu saling menatap satu sama lain dan berusaha tidak tampak sedih.
Tangan Anne terulur menyentuh bahu kanan Joanna lalu menepuk halus, sekedar menenangkannya.
“Kak. Kita gak apa-apa kok, jadi jangan sedih.”
“Iya, lagian uangnya berhasil kita sembunyikan. Jadi, malam ini bisa beli nasi bungkus,” ucap Cilla menimpali.
Si kecil Leon, mengangguk-anggukkan kepala. Wajah polosnya tampak kebiruan bekas pukulan.
Joanna tampak mengangguk, ia menarik napas untuk mencoba tenang.
“Kalian sabar ya. Kakak lagi ngumpulin uang, biar kalian bisa berhenti ngamen dan jualan cangcimen. Aku gak janji akan suatu hal, takut kalian ngarep. Pokoknya, kakak lagi berjuang buat kalian apa pun itu,” terang Joanna.
Ketiganya berjongkok dan memeluk satu sama lain hingga membentuk lingkaran.
“Kalian yakin kan, kita bisa?” tanya Joanna.
“BISA!!” kompak mereka menjawab. Tawa kecil mengiringi.
“Hei, kalian lagi main apa? Kok, gak ngajak-ngajak?”
Keempat orang itu menoleh pada lelaki bertubuh tinggi. Joanna lebih dulu berdiri diiringi ketiga anak itu.
“Aish, lo lagi. Benar-benar paparazzi profesional,” ujar Joanna. Dari cahaya remang, tampak hidungnya memerah bekas menangis.
Kennan terkekeh. “Mana kutau kalau kita bakalan ketemu lagi. Langkahku yang mengarah ke jalan yang biasa kalian kumpul. Ya, di sini.”
Joanna terdiam. Ia hanya sibuk memindai tubuh lelaki itu yang tampak rapi.
“Kakak ganteng abis, pake jas itu. Pasti baju ini mahal,” ucap Anne seraya mengelus sisian jas milik Kennan.
Pemuda itu kembali terkikik. “Aku habis makan malam keluarga.”
“Makan malam orang kaya begini ya? Mesti pake jas?” tanya Leon polos.
“Nggak. Hanya saja, tadinya malam ini spesial, jadi aku pakai jas.”
“Spesial? Lo lagi dinner sama pacar?” selidik Joanna.
“Pacar gak termasuk keluarga. Kan aku bilang, makan malam keluarga.”
Glek.
Joanna menggigit bibir karena malu.
Kruuuuk!
Entah perut siapa yang bunyi.
“Oh, ya. Makan malamnya tadi kacau lho. Aku gak sempet makan,” ucap Kennan sambil mengelus perutnya.
“Kok bisa?” tanya Joanna.
“Ceritanya panjang. Kalian, mau nemenin aku makan kan?”
“Mau!!” seru Leon.
Cilla menepuk bibir mungil Leon, membuat Kennan terkekeh.
“Bagus. Tapi, aku maunya makan di luar begini, kayaknya seru.”
Joanna menghela napas panjang. “Lo mau sombong dan bilang, kalau makan di jalanan begini belum pernah saking seringnya makan di resto?”
Kennan mendekat lalu menggelitik pucuk rambut Joanna.
“Jangan seujon, Sayang.”
“Ciee ... Sayang,” seru Cilla diiringi gelak tawa Anne. Sementara Leon, hanya menggaruk tengkuk karena tidak paham.
Joanna memukul bahu Kennan. “Jaga mulut! Banyak anak kecil,” bisiknya.
****
Mereka berjejer di bawah pohon, sambil memegang kotak nasi.
“Selamat makan!”
Leon, orang yang pertama membuka kotak putih itu. Seketika matanya terbelalak, dengan nasi dan lauk yang tak biasa.
“Rendang!” pekiknya.
Mereka tertawa kegirangan. Joanna dan Kennan saling pandang merasakan kebahagiaan mereka.
Namun, baru satu suap nasi masuk ke mulut mereka. Terdengar sirene polisi terngiang di telinga. Awalnya, Kennan abai karena tak tahu menahu. Tapi, Joanna sigap menarik pergelangan tangannya.
“Satpol PP. Lari!!” ujar Joanna memekik.
Reflek mereka membuang sembarang kotak nasi itu, dan berhambur berlari.
Leon menjerit, “Makananku!!”
Kennan menoleh, ke arahnya yang tiba-tiba berhenti berlari. Dengan cepat tangannya meraih pinggang Leon untuk ia gendong.
Dalam posisi masih berlari, Leon menangisi kotak nasinya.
Joanna seolah hafal ke arah mana harus menghindar, hingga mereka berhenti berlari setelah masuk ke gang sempit yang minim cahaya.
Napas mereka tersengal-sengal sambil membungkuk, berbeda dengan Leon yang sibuk menangis.
“Nasiku hu ... hu ....” ucapnya terisak.
Mereka saling pandang satu sama lain.
Joanna berjongkok, mengimbangi tinggi badannya.
“Kita bisa beli lagi, Leon.”
Anak itu menggeleng kuat. “Itu warung nasi terakhir yang masih buka di jam segini. Lagian, lauknya rendang, kapan lagi kita bisa makan lauk semahal itu.”
Kennan keluar dari gang. Setelah dirasa aman, ia menatap kios yang masih buka di tepi jalan, kemudian tanpa ragu menyeberang dan membeli beberapa roti serta minuman.
Tak lama, ia kembali dan membagikannya satu persatu tanpa suara.
Joanna mendorong halus tubuh Kennan untuk mengajaknya bicara.
“Makasih, tapi udah cukup,” bisik Joanna.
Alis Kenann bertaut.
“Maksudmu?”
“Lo nyaris tertangkap tadi. Gue gak mau melibatkanmu, menyusahkanmu. Bagi kami, dikejar satpol pp udah biasa, beda sama lo. Pulang gih!”
Kennan mematung.
“Kok masih diam?” tanya Joanna kemudian.
“Lo siapanya mereka?” Kennan balik bertanya. Sekilas ia menatap ketiga anak itu yang tengah asyik memakan roti.
“Bukan siapa-siapanya mereka kan? Jadi, lo gak berhak larang gue, buat bantu,” sambung pemuda itu.
Joanna membuang muka sambil menarik napas dengan kasar.
“Terserah!”
Kennan terkekeh pelan.
“Gitu dong! Lagian, besok-besok gue harus mentraktir mereka makan rendang, kasihan tadi kebuang.”
Tanpa sadar, Joanna menatap lelaki itu lekat-lekat dan dibalas dengan tatapan yang sama oleh Kennan.
“Kalau diam begini, lo cantik juga Jo!” ujar Kennan.
Joanna mendecih. “Jangan omong kosong, sana makan rotimu dan cepat pulang!”
Gadis itu beringsut dan duduk bersama ketiga anak itu. Kennan tidak tahu saja, jika Joanna tengah sibuk meredam rasa malunya.