Makasih Jo

1163 Words
‘Jatuh cinta tidak ada dalam kamusku, sekali pun pangeran tampan datang dan bertekuk lutut. Adanya cinta, hanya akan membuatku cengeng dan itu membuang-buang waktu,' batin Joanna terus bersenandika. Ia nyaris tidak fokus melap kaca kafe, pikirannya terus menerawang pada wajah Kennan yang selalu muncul dengan lancang. Gadis itu memilih untuk tidak ingin jatuh cinta, karena dalam bawah sadarnya ia sangat takut terluka. Cukup sudah Joanna kecil, ditinggal sang ibu entah ke mana. Jauh sebelum itu, ibunya memang kerap kasar dan selalu membentak. Rentetan kalimat yang meluncur dari bibir ibunya, selalu u*****n dan penyesalan karena telah melahirkan dirinya. Ya ... kelahiran Joanna, tidak diharapkan sama sekali oleh ibunya. Beruntung, oma Elle selalu mendampingi setiap saat dengan penuh kasih sayang. Jika tidak, entah bagaimana nasibnya. Luka itu dalam tertoreh, hingga sudah tidak peduli lagi di mana ibunya sekarang. Lalu di mana sang ayah? Entahlah, telinganya selalu panas pada sayup-sayup suara tetangga, jika ia adalah anak haram. Istilah anak haram, kerap orang-orang ucapkan pada seorang anak yang lahir dari perbuatan zina. Padahal, dari siapa pun bayi lahir, tetaplah suci tanpa cela. “Hei, gue hitung sudah sepuluh kali kamu mendesah dengan berat,” ujar Ben sambil menyambar lap yang dipegang Joanna dan mengambil alih pekerjaannya. Entah berapa lama, gadis itu membersihkan kaca yang tak kunjung usai. “Rajin amat sampe dihitung segala.” Ben mengendikkan bahu. “Habisnya kedengeran sampe sini." Hening. “Kamu udah dapat pekerjaan baru?” tanya Ben. Joanna menggeleng lemah. “Rata-rata full time dan berpengalaman, atau yang udah lulus kuliah. Jadi, aku bisa apa dong.” “Susah juga ya. Usaha lagi besok, sekarang waktunya lo balik.” Joanna duduk di kursi pelanggan yang kosong. Sebelum pulang, ia mengecek ponselnya. Satu chat muncul dari nomor asing. [Ngamen kuy! Gue gabut. Ditunggu di Harmony ya, di tempat biasa.] Joanna mengerutkan dahi. Ia mengetik balasan. [Siapa ini?] [Kennan] Bibir tipisnya melengkung tanpa sadar. “Cie, senyum-senyum sendiri. Dari siapa tuh!” Joanna menjadi salah tingkah dan sibuk merapikan topi hitamnya. “Nggak. Bukan dari siapa-siapa, dahlah aku cabut dulu. Bye!” “Bye, hati-hati. Jangan sambil ngelamun.” Joanna mengiyakan dan berlari menuju halte. Sambil menunggu mobil angkutan umum, ia kembali membalas pesan dari pemuda itu. [Hei, tau dari siapa nomorku?] [Gampang. Tinggal nanya ke trio bocil, beres. Gimana, jadi mau nemenin kita ngamen gak?] Joanna mengetuk-ngetuk dagunya. Sebenarnya, ia masih harus mengajar lukis privat. 'Ck. Ah, sudahlah,' batinnya. Angkutan umum datang, ia dengan cepat masuk dan duduk di jok kosong. **** Kennan masih berdiri di tempatnya. Tatapannya masih pada layar ponsel miliknya. “Gimana Kak. Si kak Jo ikutan ngamen gak?” tanya Leon. Tampak Kennan menarik napas panjang. “Nggak ada balasan. Kayaknya, nggak deh.” Leon menyodorkan kecrekan miliknya. “Ya udah gak apa-apa, gue emang yakin kak Jo gak datang. Nanti, kakak nyanyi sambil pegang kecrekan ini ya, digoyang-goyang gini,” ucap anak itu sambil mencontohkan. Sementara Kennan masih penasaran dengan ucapan Leon. “Kenapa kamu yakin kalau Jo gak akan datang?” Leon menatap kedua kakaknya, mengisyaratkan mereka untuk menjelaskan. “Kak Jo itu, ngajar les privat melukis kalau habis kerja di kafe,” ucap Anne. Mendengar itu, Kennan tertegun. Membayangkan betapa capeknya gadis itu, dari pagi hingga sore untuk bekerja. “Kenapa ya, dia kok kerja keras banget?” Lagi, Kennan bertanya. “Buat biaya hidup dia dan neneknya, kan tulang punggung keluarga. Terlebih, kak Jo kan kuliah, sama membiayai pengobatan neneknya,” ujar Cilla. “Neneknya kenapa?” “Sakit kanker perut.” Kennan membeku seketika. Seseorang menepuk bahunya, membuatnya cukup terkejut. “Lagi pada ghibahin gue ya!” Kennan mencoba tersenyum, ia menatap Joanna dengan tatapan sulit diartikan. Saat ini, entah ia harus senang atau merasa tidak enak dengan kehadiran Joanna yang akan bergabung dengan mereka. Yang jelas, gadis itu telah mengorbankan pekerjaannya untuk mengajar karena mengiyakan ajakan Kennan. “Akhirnya Jo datang. Kami senang,” ucap Anne. Ia dan Cilla memeluk gadis itu erat-erat. “Oke, kita nyeberang yuk! Bus jam segini bentar lagi datang,” ujar Joanna. Mereka membimbing ketiganya untuk saling berpegangan, lalu menengok kanan dan kiri sebelum akhirnya mereka menyeberang. Joanna menatap Kennan yang sedari tadi hanya diam, ia pun menyikut lengannya. “Lo lagi sariawan?” Kennan hanya menatap sekilas, lalu menggeleng. Bahkan saat mereka menaiki bus untuk mulai mengamen, pemuda itu sangat dingin dan irit bicara. ‘Apakah ini, sikap asli Kennan?’ batin Joanna. Langit mulai gelap. Angin dingin mulai menusuk tulang, beruntung Kennan membawa jaket dan segera memakainya, namun ia heran pada ketiga anak kecil bisa melewati malam tanpa baju hangat. “Kalian tidur di mana? Biar kakak antar,” ucap Kennan. “Gak usah Kak, kami tinggal di perkumuhan padat penduduk. Apalagi datang malam-malam begini, bakalan bikin kak Ken gak nyaman,” ucap Anne. Anak itu berusia sepuluh tahun, dan merupakan kakak tertua dari Cilla dan Leon. Alis Kennan bertaut. “Kalian yakin?” Ketiganya mengangguk mantap. “Turuti ucapan mereka. Lagian rumah mereka udah deket dari sini, tinggal masuk ke gang belakang ruko itu,” cetus Joanna menimpali. Kembali ketiganya mengiyakan. Lalu, tak lama mereka meninggalkan Kennan dan Joanna menerobos kegelapan. Keheningan menyelimuti, dan itu terasa tidak nyaman bagi Joanna. “Lo kok banyak diam hari ini?” Joanna kembali berusaha memecah kesunyian. Entah siapa yang memulai, keduanya melangkah pelan di trotoar. Suara kendaraan menjadi teman perjalanan mereka. “Suasana hati gua emang lagi kurang bagus,” ujar Kennan. Ia memasukkan kedua tangannya di saku celana jeans. Joanna baru sadar, dengan model pakaian yang dipakai pemuda itu. Kemeja biru kotak-kotak yang terbuka tanpa dikancing, dengan dalaman kaos putih yang mencetak tubuh, membuat Joanna merasa pusing dan gemas ingin menutup dadda bidang itu. Gadis itu menoleh ke arahnya. “Hal apa yang bikin lo begini?” Kennan menghentikan langkah dan menatap dengan wajah datar, membuat gadis itu menggaruk tengkuknya. “Ka-kalau gak mau cerita juga gak apa-apa kok,” imbuh Joanna meringis. Sontak membuat lelaki di hadapannya terkekeh karena gemas. “Gue lagi kacau, malas pulang ke rumah karena tempat itu udah gak nyaman lagi seperti dulu. Tapi, ngajak lo juga bukan ide yang bagus, karena lo harus meninggalkan ngajar les. Sorry ya.” Joanna tergugu. Ingin ia bertanya lagi, apa yang dimaksud dengan ucapan Kennan yang seolah tidak betah tinggal di rumah. ‘Apa ini, alasannya untuk sering keluyuran malam-malam?’ “Santai aja kali. Gue cuma alihkan jadwal les, jadi jangan khawatir. Kalau lo mau, gue siap kok jadi teman curhat, kapan aja apa pun itu jangan sungkan-sungkan ya." Seolah ada kupu-kupu beterbangan di perut Kennan. Ia belum pernah seperti itu sebelumnya. "Makasih Jo." "Iya." Mereka kembali melangkah, dan tangan gadis itu terulur menyentuh jemari milik Kennan, membuat manik mata Kennan membulat namun berusaha bersikap biasa saja. “Ayo, ayunkan tangan kita ke depan dan belakang,” ujar Joanna di sela senyum. Sepanjang jalan, tangan mereka terus terayun dan berhasil menciptakan garis lengkung di bibir Kennan. Rasanya, ia patut berterima kasih sekali lagi pada gadis itu, sayangnya ia terlalu malu mengucapkan. 'Pokoknya, makasih Jo,' batinnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD