Untuk kesekian kali, Kennan tidak hadir di mata kuliah Laura. Ia lebih memilih berpeluh, menghabisi waktu bermain basket sendirian.
Matanya fokus pada keranjang sambil melakukan dribbling. Sejurus kemudian, ia melontarkan tangan untuk melakukan one-shot hand ke ring.
Clap clap clap.
Tepuk tangan membuatnya berhenti dengan aktifitasnya.
Seseorang datang melangkah, dan merebut bola dari tangannya. Masih terpaku, ia menatap orang itu melakukan dribble – mengarahkannya ke depan, lalu tubuh mungil itu melayang, terangkat ke atas.
Blukk.
Satu poin tercetak, orang itu berhasil memasukkan bola ke keranjang.
Dalam keheningan, mata keduanya membiarkan bola itu menggelinding menjauh dari mereka.
"Lo, jago juga main basket, Jo.”
“Gue punya waktu mendengarkanmu bercerita. Ayo ke kantin,” ucap Joanna mengalihkan obrolan.
"Lo gak ada mata kuliah?” tanya Kennan kemudian, ia melangkah mendekati gadis itu.
“Nggak. Dosen gak hadir, cuma kasih tugas nge-print.”
Kennan tersenyum. “Tapi gue gak punya cerita apa pun hari ini, Joanna Olivia Wyne.”
“Gue yakin ada, Kennan Alister Edberth.”
“Selain tukang kepo, lo tukang maksa juga ya.”
Joanna hanya menjulurkan lidah, dan mengisyaratkan pada pemuda itu untuk mengikutinya.
****
Pipi Joanna memerah. Sudah tiga mangkuk ia menghabiskan ramyeon pedas miliknya. Sementara di hadapan gadis itu, Kennan menyilangkan tangan di dadda seraya menggeleng-gelengkan kepala, antara takjub dan heran melihat cara makan gadis itu.
“Gue heran, tubuhmu mungil. Tapi bisa menghabiskan ramyeon sebanyak ini, semua makanan-makanan itu larinya ke mana, sih.”
Joanna hanya mendelik, dan lebih memilih menghabiskan sisa makanannya.
Setelahnya, satu gelas es jeruk ia teguk hingga tandas tak bersisa.
“Ahhh, perutku kenyang. Makasih traktirannya,” ucap Joanna sambil mengelus perutnya. Sementara Kennan sibuk menahan tawa.
“Oke, sekarang gue siap dengerin curhatanmu,” imbuhnya.
Kennan menggelitik pucuk kepala gadis itu. “Gak usah. Kita jalan-jalan mendingan. Udah selesai makan kan? Ayo.”
Pemuda itu meraih ranselnya, lalu berlalu begitu saja tanpa tahu pipi Joanna memerah akibat ulahnya.
****
“Gue pengen cepat lulus, lalu kerja dan punya tempat tinggal sendiri, dari hasil usahaku. Maunya, gak tinggal lagi serumah sama orang tua,” ucap Kennan saat mereka tengah berada di jembatan penyeberangan Senayan bernuansa artistik.
Cahaya lampu warna-warni menjalar menelusuri retina keduanya.
Beruntung, saat datang suasana tidak terlalu ramai, dan hanya beberapa orang yang lalu lalang atau sekedar berfoto sebentar.
“Kayaknya, lo tipe gak betahan tinggal di rumah ya? Beda sama gue, pengen terus tinggal sama Oma, jagain dia, mandiin, atau nyuapin. Tapi, malah nyaris gak punya waktu,” ucap Joanna seraya tersenyum getir. Matanya tertuju ke bawah, ke arah kendaraan yang melaju seperti semut.
Kennan menarik napas berat. “Beda kondisi lah. Lo, punya nenek yang baik, dan sedang sakit-sakitan. Wajar kalau lo pengen selalu bersamanya. Beda sama gue yang dikelilingi dua orang tua yang menyebalkan.”
Kening Joanna berkerut. “Apa salah mereka sampai lo bilang begitu Tuan sok tahu?"
Kennan mendelik tajam. "Papaku selingkuh, dan herannya ibuku gak mau cerai. Masih setia mencintai papa. Muak rasanya!"
Joanna mengangguk-anggukkan kepala.
"Apa itu alasanmu gak betah tinggal di rumah?"
"Tentu saja. Apalagi!" ujar Kennan menahan kesal.
"Mereka masih membersamaimu?" tanya Joanna kemudian.
"Iya, sih," ucap Kennan lirih.
"Bukankah itu lebih baik? Masalah mereka, biarlah itu urusan keduanya. Ngapain lo ikut pusing," ujar Joanna enteng.
Mendengarnya saja, rasanya Kennan ingin menonjok pipi mulus milik gadis itu. Sayangnya, Joanna seorang perempuan.
Kennan berdecak kesal. "Enak banget lo ngomong gitu!"
"Seenggaknya, mereka masih bertanggung jawab mengurusmu. Tugas lo simple aja, tetap taat sama mereka, enough!"
Deg!
Kennan merasa tertampar dengan ucapan gadis itu, mengingat ia selalu bersikap buruk pada kedua orang tuanya, termasuk pada sang ibu.
Sejurus kemudian, Joanna tertawa hambar.
“Orang tuaku lebih parah. Bokap gak tau di mana, mukanya aja gak pernah lihat. Nyokap ninggalin gue pas umurku delapan tahun, dia bilang katanya gue cuma beban dan aib baginya. Makanya, dia pergi gitu aja.” Seraut wajahnya seketika mendung, bahkan ada kaca-kaca bening di kedua iris hazel miliknya.
Kennan akhirnya mengetahui alasan kenapa gadis itu tidak ingin membahas di mana orang tuanya.
Joanna menatap ke arah Kennan, yang rupanya sedari tadi menatapnya.
Dan seperti kebiasaan Joanna, ia menonjok halus dadda pemuda itu.
“Bersyukurlah. Seenggaknya mereka masih hadir buatmu. Dan lo kaya, gak pernah pusing besok bakalan makan ataukah nggak. Beda sama gue kalau gak kerja, ya gak dapet duit buat makan," ujar Joanna mencoba mencairkan suasana.
Tanpa sadar Kennan tertawa dengan kalimat terakhirnya.
“Waaah, jarang-jarang nih, Tuan es batu ketawa!” pekik joanna.
“Rese lo!” seloroh Kennan. Mereka tertawa bersamaan.
Angin malam menyapu wajah muda mudi itu, dan mereka memilih diam dengan pikiran masing-masing.
****
Setelah keduanya pulang. Kennan belum bisa sempurna memejamkan mata, entah kenapa wajah polos tanpa riasan milik Joanna selalu terngiang di benaknya.
‘Lo ganggu tidur gue, Jo!’ batinnya.
Seseorang mengetuk pintu, dan ia pun bangkit menegakkan tubuh dan memintanya untuk masuk.
Rose memutar roda kursinya, untuk mendekat ke arahnya.
“Kamu sudah tidur?” tanya Rose.
“Belum.”
“Mama mau ngobrol-ngobrol sebentar. Boleh?"
Kennan hanya mengangguk.
Di tangan wanita paruh baya itu, tergenggam sekuntum anggrek ungu kesayangannya, bernama anggrek Cattleya. Namun bunga itu sudah layu mengering walau aromanya yang semerbak masih sedikit tercium.
Wanita bermata biru itu, memperlihatkan bunga yang layu itu.
“Kennan. Kamu tau kan, ini bunga kesayangan mama?”
Dalam posisi terdiam, pemuda itu mengangguk samar.
“Ini jenis bunga epifit, yang hidupnya tergantung dan menempel pada pohon. Tapi bukan parasit, jadi gak merugikan si pohon, hanya saja ia butuh menempel untuk bisa bertahan hidup, menikmati sinar matahari yang cukup untuk terus berkembang. Perawatannya pun harus khusus. Jika tidak, maka akan mudah layu,” terang Rose.
Kennan masih bergeming, mencoba meresapi apa maksud ucapan ibunya.
“Bunga ini seperti mama ....” lirih wanita itu.
Mendengarnya, Kennan menjadi antusias. Ia memperbaiki tempat duduk, dan mengamati wajah ibunya yang mulai muncul garis-garis halus namun tetap memancarkan aura kecantikan.
“Anggrek Cattleya, mirip seperti mama. Yang sangat menempel dan tergantung pada papamu. Mungkin kamu baru tau, kalau kami kenal saat masih sekolah dasar, artinya sudah lebih dari empat puluh tahun bersama. Jadi, dulu itu kami bersahabat dekat, hingga saat dewasa memutuskan untuk menikah.”
Rose kembali menjeda ucapannya.
“Mama sangat tergantung padanya, misal saat ada teman yang mengganggu, dia sigap menolong. Lalu mengajarkan mata pelajaran yang gak mama mengerti, papamu juga sering gendong mama di belakang kalau kami jalan kaki ke sekolah karena kecapean, dia juga suka ke rumah kalau pas mama sakit, dan masih banyak lagi.”
Wanita itu mulai terisak.
“Mungkin bagimu, mama begitu bodoh. Tetap bertahan walau papa berkhianat. Tapi mama pikir, akan lebih gak kuat lagi jika papa pergi meninggalkanku, sementara mama udah terbiasa dengan kehadiran papamu selama ini. Dan satu hal yang lebih penting dari itu, mama bertahan adalah demi kamu juga.”
Kennan menoleh ke arahnya.
“Ya, mama gak mau kamu kehilangan sosok dan figur seorang ayah buatmu. Biar pun papa mengkhianati mama, bukankah dia ayah yang baik buatmu?”
Rentetan kalimat itu membuat lelaki itu membeku seketika. Pikirannya menerawang, entah untuk yang keberapa puluh kali, ia menyalahkan ibunya atas apa yang dilakukan Hans.
Mungkin pemuda itu tidak bermaksud menyakiti sang ibu, namun sikap lemah Rose membuatnya sangat benci.
“Wajar kamu gak suka sama sikap mama. Maaf ya, tapi walau bagaimana pun, ini sudah menjadi pilihanku. Selama papamu gak menceraikanku, maka sampai kapan pun mama akan tetap bertahan dengan pernikahan ini. Entahlah ... mama yang bodoh ini, selalu berharap menantikan papamu suatu saat akan sadar dan kembali pulang,” ucapnya berharap.
Kennan menurunkan kedua kakinya dari ranjang, dan mengulurkan kedua tangan untuk memeluk ibunya erat-erat.
“Maafkan Kennan, Ma. Selama tiga tahun ini, kerap membuatmu terluka ....” lirihnya, ia tengah berusaha menahan sesak di dadda yang hadir tanpa permisi.
Sebelah tangan Rose bergerak lembut mengusap punggung anaknya.
“Mama paham, kamu bersikap begitu karena menyayangiku. Soal hati, biarlah jadi urusan mama ya, kamu fokuslah meraih masa depan. Jangan pikirkan soal mama atau bahkan pilihan papa, biarkan saja.”
Kennan hanya menunduk. Ucapan Rose, menguapkan kekesalannya pada sikap lembek sang ibu, namun tidak meluruhkan kebencian dan amarahnya untuk Hans dan juga Laura.