Dijebak

1442 Words
Teguran mentari pada awan hitam yang bergumul, membawa percikan hujan yang membendung terang. “Belum pulang Ken?” Dasya menyentuh bahunya. Pemuda itu tampak berdengkus halus, karena merasa perhatiannya terganggu. Ia hanya mengangguk samar. “By the way, supir pribadiku gak bisa datang, aku juga lupa bawa dompet. Mau mengantarku pulang gak?” Kembali, gadis berlesung pipit itu bertanya. Sebenarnya, Kennan tengah menunggu Joanna. Hatinya penasaran, bagaimana cara gadis itu pulang, di saat hujan deras seperti ini. Sementara beberapa terakhir ini, gadis tomboi itu tidak lagi memakai motor bututnya entah kenapa. “Ken!” panggil seseorang. Membuat keduanya menoleh berbarengan. “Ah, Jim. Kebetulan, lo mau antar Dasya pulang? Gue gak bisa antar, ada urusan lain,” ucap Kennan. Raut wajah Dasya langsung berubah, ia memang butuh tumpangan. Tapi hanya ingin Kennan yang mengantarnya. “Gak bisa ya kamu antar aku dulu? Rumahku kan, gak jauh-jauh banget dari kampus,” cetus Dasya. “Dasya bener. Lo antar dia dulu, baru ngurusin urusanmu. Gue harus jemput mama dari salon dekat sini sekarang, telat dikit pasti beliau ngomel-ngomel. Ya udah, cabut dulu ya. Bye!” “Eh!” lisan Kennan tertahan. Dasya tersenyum lega seraya melambaikan tangan ke arah Jimmy. “Bye, juga.” “Kalau mau kuantar, buruan!” ujar Kennan melangkah cepat membuat Dasya cukup terkejut dan berlari kecil mendekatinya. Sepanjang jalan keluar dari kampus. Iris mata Kennan sibuk mencari keberadaan Joanna, ia sangat penasaran gadis itu sudah pulang atau belum. “Ken, aku bawa payung mini. Kita pake ini ke parkiran biar gak terlalu kehujanan,” ucap Dasya. Kennan hanya mengangguk. **** _Di tempat lain_ Dua orang lelaki menyerat tubuh seorang gadis ke arah gang sempit yang sepi, hingga sampai ke sebuah lapangan tak terpakai. Sekelilingnya area kosong dan semak-semak, dengan rumput liar yang basah. Mulutnya tertutup kain, sementara kedua tangan dan kakinya terikat kuat. Derasnya air hujan, menyentuh tubuh mungil itu. Mereka berdua menghempaskan tubuh tak berdayanya di tanah basah, membuat gadis itu meringis menahan sakit. Lalu, kedua lelaki jangkung tadi membuka penutup wajah mereka, membuat gadis itu membulatkan mata. “Masih kenal kami kan? Gue, orang yang lo timpuk pake kaleng soda, dan lo tetiba muncul belagak sok jadi pahlawan menolong seorang gadis,” ujar Mark. Gadis itu menelan saliva susah payah. “Ini balasan, buat orang yang suka ikut campur!” desis teman lainnya yang bernama Sean. Mereka membuka ikatan di kedua tangan dan mulutnya. Lalu, dengan isyarat yang diberikan Mark, Sean merogoh sebuah wadah kecil dan mengeluarkan beberapa butir pil. “Makan ini!” bentaknya. Dengan kasar keduanya memaksa membuka mulut gadis itu, untuk memasukkan beberapa pil berwarna putih dan mendorongnya dengan sebotol air. “Hhhhmmmpptt!!” Sebesar apa pun berusaha berontak, terasa sia-saia saja. Pil-pil itu, telah berhasil masuk melewati tenggorokannya. Keduanya tergelak. “Ini hanya peringatan kecil. Kalau sampai lo ngadu ke si Kennan, atau bawa-bawa dia jadi tamengmu lagi. Bukan cuma lo yang akan kami buat hancur, tapi juga dia!” ujar Mark mengancam. Gadis itu sedikit berguling-guling merasakan sakit yang terasa lain. Ia masih bisa mendengar ucapan lelaki itu, sampai detik berikutnya pingsan seketika. Mark meraih ponsel dan mengambil fotonya beberapa kali, sebelum akhirnya dia ditinggalkan begitu saja. **** Sepanjang jalan, Kennan gusar dan gelisah. Ia terus mencoba menghubungi Joanna, namun tak kunjung diangkat. Membuat Dasya menoleh karena terheran. “Ken, kamu lagi sama aku lho. Tapi kok, kayak gak fokus gitu sih. Gak enak tau dianggurin, mestinya aku diajak ngobrol atau__” “Kamu mau turun di sini aja?” Sorot mata Kennan tajam ke arahnya, membuat Dasya terdiam seketika. Tak ada pilihan bagi Dasya, selain diam agar Kennan tidak nekat menurunkannya di jalan – sementara hujan masih sangat deras. Perasaan Kennan makin kacau, ia belum pernah segusar ini hanya karena telepon yang tidak diangkat. Apalagi, ia tipe orang yang tidak pernah peduli sebesar ini pada siapa pun. Hujan sudah mulai mereda. Sesampainya di depan rumah Daysa. Tanpa ba bi bu, pemuda itu tancap gas padahal Dasya ingin mengucapkan sesuatu walau sekedar ucapan terima kasih. “Ken, kamu bersikap aneh. Apa dan siapa yang membuatmu berubah?” gumam Dasya. Mobil pemuda itu melaju ke arah rumah Joanna, namun Oma Elle mengatakan, jika gadis itu belum pulang dari kampus. Tak berhenti, ia mencoba menunggu Leon dan kedua kakaknya di jalan Harmony, dan menanyakan Joanna, lagi-lagi mereka tak tahu di mana keberadaannya. Kennan terpaku diiringi wajah kalut. Leon, Anne, dan Cilla mendekat karena kebingungan. “kakak gak apa-apa?” tanya Anne. “Aku mengkhawatirkan cewek nyebelin itu. Harus cari ke mana lagi!” ujarnya frustasi. “Udah cari ke kafe tempat dia bekerja?” tanya Cilla. Kennan menepuk dahi seraya membuka sedikit mulutnya. “Ah, kamu benar. Gak terpikir tadi, oke aku ke sana dulu ya. Doain, dia ada,” ujarnya seraya mendekat ke mobilnya. Mereka bertiga kompak mengangkat ibu jari. “OKE!” **** Seorang waiters menyambutnya dengan ramah sambil sedikit membungkukkan badan. “Selamat datang di Caffe Princess. Silakan masuk, dan melihat menu-menu terbaru kami.” “Joanna.” “Hah?” Waiters itu kebingungan. “Emm, maaf. Saya ingin bertemu dengan pegawai kafe ini, namanya Joanna,” ujar Kennan. “Oh, dia. Biasanya dari tadi siang sudah datang, tapi kalau udah sore begini kayaknya gak kerja, Mas.” “Oh begitu? Sayang sekali.” Lagi, Kennan harus menelan kekecewaan. Waiters bernama Ben itu memiringkan wajahnya. “Apakah kamu Kennan?” Kennan mengangguk pelan, ia merasa heran dari mana lelaki itu tahu namanya. “Joanna sering membicarakanmu,” imbuh Ben. Blush! Tiba-tiba saja, wajah Kennan memerah dan menjadi salah tingkah. “Be-begitu ya. Oya, maaf Mas. Joanna gak izin ya, kalau hari ini cuti kerja?” Kennan berusaha menutupi rasa malu dengan mengalihkan obrolan. “Biasanya sih, izin walau sekedar kirim chat. Tapi hari ini gak ada kabar sama sekali.” Mendengar itu, Kennan merasa tidak harus berlama-lama di sana. Setelah mengucapkan terima kasih, ia berlalu dan kembali masuk ke mobilnya. Hatinya makin tak karuan, lebih dari sebelumnya. Gadis itu, benar-benar sukses merampas semua perhatian dan pikirannya. “Come on, Jo! Lo di mana?” seru Kennan dari dalam mobil. **** Malam meminang langit dengan kilauan bintang yang bertabur. Suara sirene ambulans berhenti, tepat di pelataran sebuah rumah sakit. Tak lama, sebuah brankart mendekat ke arah mobil itu dan dengan sigap beberapa tim medis mengangkat tubuh Joanna ke ruang UGD. Seseorang berlari dengan cepat diiringi kebingungan yang melanda. Demi apa, lelaki itu bahkan belum pulang sejak siang, melewatkan makan atau sekedar mengganti baju. Ia sibuk bertanya pada pihak resepsionis, sekedar memastikan apakah Joanna benar-benar berada di rumah sakit itu atau bukan. Lututnya lemas saat telah mendapatkan jawabannya. Satu sisi, ia bahagia akhirnya bisa menemukan keberadaan Joanna, namun daddanya terasa sesak saat tahu, gadis itu dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi tak sadarkan diri. Ia duduk menunggu di ruangan tunggu, sampai seorang dokter yang menangani Joanna datang mendekat. “Anda keluarganya?” “Saya Kennan, sahabatnya.” “Oh, apakah keluarganya sudah tahu tentang keberadaan pasien, tengah berada di sini?” tanya dokter lelaki itu kemudian. Kennan menggeleng. “Tidak, dok. Saya merasa ragu untuk memberitahu, mengingat Joanna hanya punya seorang nenek dan beliau tengah sakit. Biar, saya saja yang bertanggung jawab penuh,” ucap Kennan mencoba meyakinkan. Dokter itu mengangguk, menghadirkan kelegaan di hati Kennan. “Baiklah.” Dokter itu menurunkan kaca matanya. “Apa yang terjadi pada Joanna?” tanya Kennan begitu penasaran. “Awalnya, ada seseorang yang memanggil ambulans. Orang itu mengatakan jika ada seorang gadis pingsan di sebuah lapangan kosong. Lalu pihak kami sigap membawa nona Joanna untuk segera ditangani di ruang UGD,” terang dokter itu menjeda ucapannya. Kennan masih menyimak, kalimat apa lagi yang akan meluncur. “Kami pun berusaha menelepon Anda, sebagai seseorang yang terakhir dihubungi pasien Nona Joanna dari hp miliknya. Setelah saya periksa, pasien mengalami over dosis obat terlarang. Bersyukur masih bisa diselamatkan.” Mata Kennan membulat seketika seraya menggeleng kuat. “Gak mungkin! Dokter yakin?” “Tentu saja, Anda meragukan saya?” Kennan mengerjap. “Ng-nggak dok, saya hanya ... merasa tidak percaya jika sahabat saya mengkonsumsi obat terlarang, dia gadis yang baik.” Tampak dokter itu menganggukkan kepala. “Ini harus segera dianalisis, mungkin saja pasien tengah depresi sehingga terpaksa meminumnya atau ada hal lain.” “Perlukan saya hubungi polisi untuk diselidiki?” tanya Kennan. “Pikirkan terlebih dahulu, jika ternyata benar dia pengguna obat. Bukankah, pihak kepolisian akan menangkapnya?” Glek! “Saran saya, setelah pasien sadar. Cobalah bicara padanya sebaik mungkin, mudah-mudahan nanti ada jawabannya. Lalu, kita akan tahu langkah apa yang harus ditempuh,” terang dokter itu. Kennan mengangguk. Pikirannya, masih belum bisa menerima jika Joanna pengguna obat-obatan terlarang. ‘Apakah kamu sedepresi itu Jo?’ batinnya bertanya-tanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD