Ucapan menyakitkan

1605 Words
Merentas sepi, dengan derai tawa. Melebur rindu, dengan kidung cinta. ~~~~~~~~~~~~~~~~~ Langkahnya meragu menuju ruangan VIP tempat Joanna dirawat, Kennan lah yang telah meminta pihak rumah sakit untuk memindahkan gadis itu ke ruangan tersebut, agar Joanna merasa nyaman selama masa pemulihan. Pemuda itu tegak berdiri - menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya masuk, dan mendapati gadis yang sejak kemarin ia khawatirkan tengah terbaring lemah. Setelah diamati lebih dekat, ujung bibir Joanna sedikit sobek dan bengkak, lalu beberapa lebam di pelipis dan salah satu lengannya. Bahkan, suster sempat mengatakan, jika bagian tubuhnya penuh dengan luka gores. Melihat itu, Kennan yakin seseorang telah memperlakukannya dengan buruk. Tidak mungkin Joanna dengan bodoh melakukannya sendiri. Hal ini pun menjadi pikirannya sejak semalam, bahwa over dosis yang diderita gadis itu, yakin bukanlah perbuatan Joanna sendiri. “Ken .....” Lirih Joanna yang sudah tersadar dan mendapati pemuda itu berada di sisi ranjangnya. “Ya.” Kennan bangkit dan mendekatkan telinganya ke bibir Joanna. “Gu-gue takut ....” Mendengar itu, Kennan tertegun. Ia menoleh ke arah wajah si gadis yang memucat dengan bulir bening yang menetes entah sejak kapan. Mungkin untuk pertama kalinya, ia melihat Joanna terlihat rapuh padahal biasanya dalam keadaan apa pun, gadis itu selalu tegar, kuat dan ceria. “Mau cerita apa yang telah menimpamu?” tanya Kennan kemudian. Joanna menggeleng lemah dengan bibir bergetar, seolah rasa takut tiba-tiba menjalar ke aliran darahnya. Itu sangat dirasakan Kennan, maka lelaki itu refleks menyentuh kening Joanna dan menyentuhnya dengan lembut. “It’s oke. Katakan sesuatu saat lo siap ya, dan yakinlah gue bakalan bantu lo,” sambung Kennan mencoba meyakinkannya. “Jangan kasih tau Oma ya, please. Bilang aja, gue ada kegiatan kampus yang mengharuskan gue pergi ke luar kota. Atau apa aja lah alasannya yang masuk akal, agar beliau gak khawatir.” Kennan terkekeh pelan mendengar rentetan ucapan yang meluncur dengan lancar. Untuk sesaat, ia merasa rindu ocehan Joanna dan itu langsung terobati dalam sekejap mata. “Waktu lo masih di periksa intensif, gue ke rumah dan mengatakan pada Oma, jika lo gak bisa pulang karena ada tugas mendadak dari dosen. Ya, entah itu masuk akal atau nggak yang jelas dari raut wajahnya beliau percaya.” Joanna tersenyum tipis. Ada kelegaan di raut wajahnya. “Merci. Nanti gue akan menelepon salah satu tetangga yang biasa dimintai, untuk menjaga Oma saat gue gak ada.” Kennan menganggukkan kepala. “Tenang aja, gue juga bakalan melihat oma lagi nanti.” “Sekali lagi makasih, gue ... berhutang sama lo.” “Ya, bayarlah nanti saat udah pulih.” “Siap. Hitung aja berapa totalnya,” cetus Joanna serius. Mendengar itu, Kennan kembali tergelak. “Gue maunya bukan dengan uang. Bisa?” Joanna menatapnya dengan kening berkerut. “Dengan apa?” “Dengan ....” Kennan menurunkan pandangannya ke arah bibir merah alami milik Joanna, tanpa sadar ia menelan saliva lalu membuang muka. “I-itu ... nanti saja gue pikirin,” ujar pemuda itu kemudian. Joanna mengangguk polos. Ia berusaha bangkit membuat Kennan reflek menahan kedua bahunya. “Mau apa sih, kenapa gak tidur aja?” Ingin Joanna jawab, tapi ia merasa malu. “Hei, malah diam,” imbuh Kennan. “Gue pengen pipis ....” “Ppft!! Kirain apa. Naik ke punggung gue.” “Hah??” “Naik, cepat!” ujar Kennan dengan posisi memunggunginya dan sedikit membungkuk. Joanna memejamkan mata kuat-kuat menahan malu, sebelum akhirnya tangannya terulur memegang kedua pundak lebar milik Kennan. “Ma-maaf ya,” bisik Joanna. “Lo kecil tapi berat. Kebanyakan dosa ya?” seloroh Kennan. Joanna mencebik kesal. “Lo, Afgan.” “Kok, Afgan? Jelas-jelas gue Kennan.” “Maksudku, sadis!” Lagi, pemuda itu hanya tertawa sambil kakinya terus melangkah ke arah kamar mandi. “Bisa buka celana kan, kalau nggak gue bantu pelorotin,” ujar Kennan santai. Tapi tidak dengan gadis itu, Joanna rasanya ingin menoyor kepala lelaki berhidung bangir itu. “Ngaco. Bisa lah! Udah sana keluar, awas kalau ngintip.” “Enak aja, gak selera gue,” kilah Kennan sambil membuang muka. Joanna kembali mencebik sebelum akhirnya menutup pintu kamar mandi. Suara ponsel Kennan berbunyi. Ada satu notifikasi chat dari Jimmy. [Bray, lo di mana? Kan sekarang bukan mata pelajaran bu Laura, gak ada alasan buat mangkir.] Kennan sigap mengetik balasan. [Gue di RSCM, Joanna masuk rumah sakit.] [Amboi, segitunya lo sampai bolos kuliah. Ini kayak bukan Kennan yang gue kenal.] [Berisik lo!] [Wkwkwk. Habis ini, gue ke sana boleh gak?] [Boleh, sambil beliin buah ya buat Joanna.] [Sip.] Kennan menghela napas dan memasukkan ponsel ke saku celana. Menit telah berlalu, namun Joanna tak kunjung keluar dari kamar mandi, bahkan di dalam terasa terlalu sepi. Walau ragu, ia mencoba mengetuk pelan pintunya. “Jo, are you oke?” Hening. Merasa ada yang tak beres ia menggedor pintu, kembali tak ada tanggapan. Lalu Kennan bergegas memencet bel nurse call dan mencoba mendobrak pintu. Matanya membulat sempurna, saat menatap gadis itu pingsan dalam keadaan terduduk bersandar ke dinding. Ia menggendong ala bridal style dan membaringkannya secara perlahan. Satu dokter dan dua staf medis lainnya datang mendekat. Kennan keluar, dan sempat mendengar obrolan dokter itu pada salah satu perawat. “Pernapasannya bermasalah, siapkan oksigen dan nasal cannula.” “Siap dok.” Kennan mundur teratur, ia mengusap wajahnya dengan kasar lalu duduk di salah satu kursi dengan perasaan was was. ‘Gue gak tau, gimana lo menjalani hidup sebelum mengenalku. Apakah sama sesulit ini? Sendirian?’ **** Seseorang menyentuh bahunya, membuat Kennan terjaga dari tidur. Ia menyipitkan mata dan menggeser tempat duduk, setelah tahu siapa yang membangunkannya. “Lo menghabiskan waktu di sini?” tanya Jimmy. Kennan mengangguk samar. “Pulang sih, sebentar. Buat mandi dan ganti baju, lagian gue makhluk bebas, gak pulang bertahun-tahun pun, kedua orang tuaku gak bakalan nyari.” Jimmy terkikik. “Ngenes!” Pemuda tinggi itu menoleh seolah mencari sesuatu. “Di ruangan mana Joanna dirawat?” Kennan menunjuk dengan bibirnya yang mengerucut. “Tuh, di ujung sana! Tadi pagi, dia dibawa ke ruang ICU, pernapasannya bermasalah akibat ....” Kennan tidak melanjutkan ucapannya, ia tidak mungkin jujur pada Jimmy, jika gadis itu over dosis. “Akibat apa?” “Ah, nggak. Cuma kecapekan aja, tapi udah bisa tertangani makanya tadi kembali dipindah ke ruang VIP.” Tanpa disadari mereka, Joanna keluar dari ruangannya untuk sekedar menghirup udara segar. Ia berjalan sambil mendorong tiang infus. Manik matanya menatap ke arah Kennan dan Jimmy yang duduk bersisian. “Semua biaya, siapa yang handle?” tanya Jimmy kemudian. “Gak penting buat lo tau.” Jimmy menepuk paha Kennan di sela tawa. “Artinya, lo kan yang membiayai? Gila, benar-benar bukan Kennan yang seperti gue kenal. Jangan-jangan, lo naksir sama itu cewek.” Mata Kennan membola. “Ngawur! Lo kan tau, gue malas jatuh cinta. Lagian, gue mustahil suka sama Joanna, dia cewek bar-bar, kasar, dan gak ada sisi lembutnya bagi seorang cewek.” Jimmy membeku, tatapannya mengarah ke arah samping di dekat Kennan, sejurus kemudian ia menyikut lengan sahabatnya. Berisyarat, agar Kennan membungkam mulutnya. “Kenapa lo? Gak percaya sama ucapan gue?” tanya Kennan. Untuk kesekian kali, Jimmy menyikut lengannya, sambil meminta Kennan menoleh dengan menggerakkan kedua bola matanya. Kennan pun menolah ke samping belakang, dan mendapati Joanna terpaku menatapnya. “J-Joana. Lo ... dari tadi?” tanya Kennan. Wajahnya memucat seketika. Joanna menyuguhkan senyum terbaiknya. “Nggak, baru datang. Eh, kamu yang waktu itu datang ke kafe tempat aku kerja kan?” tunjuk Joanna pada Jimmy. Jimmy bangkit seraya mengangguk. “Iya. Gue Jimmy, sahabat dekat Kennan. Manggilnya gue, lo aja ya biar sama-sama enak.” Joanna mengangguk. Sementara Kennan, masih tidak enak dengan ucapan yang telanjur keluar dari bibirnya. ‘Bagaimana bisa, gue mengucapkan kalimat itu tadi?’ batinnya. “Nih, buah buat lo. Cepet sembuh ya Joanna,” ucap Jimmy menyodorkan sekantong buah-buahan. Sebenarnya, banyak hal yang ingin ia ucapkan dan tanyakan pada mereka, namun Jimmy paham jika keduanya perlu bicara berdua, setelah kata-kata yang tadi Kennan ucapkan. “Makasih, Jimmy. Merepotkan.” “Gak masalah, gue seneng nambah teman baru. Tapi, ini udah sore, pulang dulu ya. Kalau lo masih dirawat, pas senggang gue ke sini lagi,” cetus Jimmy kemudian. “Oke. Hati-hati,” ucap Joanna. Kennan dan Jimmy saling tos, sebelum akhirnya sahabatnya itu pergi. Setelah itu, Kennan mencoba memberanikan diri menatap Joanna atas apa yang telah ia ucapkan. Ia sangat yakin, jika Joanna mendengar rentetan kalimatnya. Yang ditatap melemparkan senyum tipis dan melangkah mendekatinya. “Makasih Ken. Gue harap habis ini, lo pulang dan istirahat, karena sejak kemarin selalu di sini.” Kennan menggeleng. Tidak mungkin ia meninggalkan Joanna sendirian, bagaimana jika pingsan lagi seperti tadi? Joanna mendorong halus daddanya. “Pergilah, gue gak apa-apa. Asal lo tau, sejak usia delapan tahun, hampir seluruhnya gue melakukan apa-apa sendiri, termasuk saat sakit.” Joanna membalikkan tubuh, dan mulai melangkah meninggalkannya. Melihat itu, Kennan semakin yakin, jika Joanna mendengar semua ucapannya pada Jimmy. “Jo ....” Kennan meraih pergelangan tangannya. Joanna menoleh sekilas lalu pandangannya kembali mengarah ke arah tembok. “Gue tau, lo tadi mendengar apa yang kuucapkan. Itu_” “Oh, iya gak apa-apa kok. Apa yang lo bilang semuanya benar tentang gue, jangan ngerasa gak enak, santai aja kali,” ucap Joanna seraya menonjok halus daddanya. Membuat hati Kennan semakin mencelos dan tak karuan. “Pulang gih! Sebelum gue mengaum kaya singa,” sambung Joanna di sela tawa. Sebuah tawa yang terdengar dipaksakan di telinga lelaki itu. Ingin ia kembali menahan tubuh mungil itu, namun khawatir membuat Joanna merasa tidak nyaman. Yang bisa dilakukannya, menatap punggung Joanna yang kembali masuk ke ruangannya. “Beggo! Gue bener-bener beggo! Cuma karena gengsi, tega bikin Joanna terluka.” Ia meremat rambut cokelatnya kuat-kuat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD