Penasaran

2228 Words
Harum semerbak parfum maskulin di tubuhnya, menyelubungi tiap jejak angin yang ia tinggalkan. Para gadis langsung berkumpul, dan semakin histeris meneriakinya. “Huwaa, Ken!” ucap salah seorang perempuan yang mencolek salah satu temannya. Mereka tengah berjejer di bawah pohon rindang area kampus. Para gadis itu semakin heboh saat pemuda itu menyibak rambutnya, namun Kennan tidak mempedulikannya, ia terus berjalan seolah mereka adalah makhluk tak kasat mata. “Bro!” suara Jimmy, satu-satunya sahabat terdekat Kennan di kampus. Ia berlari dan memegang bahu pemuda itu. Kennan menoleh sekilas, lalu kembali berjalan lurus dengan wajah datar. “Lo kemaren gak ikut kelas dosen Laura kenapa?” tanyanya yang terus menyamai ritme langkah sahabatnya itu. “Malas!” ucapnya ketus. “Lo aneh, jarang ikut mata kuliah dosen cantik itu. Oya, kemarin dia bilang, kalau hari ini ada ujian Akuntansi.” “Oh.” “Oh? Cuma gitu doang, lo gak kaget?” tanya Jimmy melotot. Mereka menghentikan langkah tepat di depan ruang kelas mereka. “Trus mesti gimana?” Kennan balik bertanya. “Lo kan tau ini mendadak. Mestinya kan tiga hari lagi.” Kennan mendecih. “Mau tiga hari lagi atau tiga bulan lagi, bagi lo sama aja, kan.” “Sama apanya?” tanya Jimmy bingung. “Sama-sama gak belajar!” Jimmy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil terkekeh. “Ya bagi gue sih, masalah. Wajar lah lo setenang ini, otak lo encer.” “Hidiih, ngeri. Tumpah-tumpah dong! Keluar dari hidung dan telinga!” seloroh Kennan. “Garing!” sungut Jimmy. Mereka masuk ke ruangan, diringi tatapan para gadis yang sangat biasa bagi Kennan. Dasya, gadis populer di kampus mendekatinya. “Ken, tau gak hari ini ujian praktek dimajukan?” tanyanya langsung duduk di kursi tepat di depan lelaki berhidung bangir itu. Mata dengan bulu lentik itu terus menatap Kennan tanpa kedip. Kennan hanya menganggukkan kepala. “Nanti kita duduk satu meja yuk!” “Ciee ....” sahut teman-teman kompak menggoda mereka. “Ayo, kalian berdua jadian dong! Bikin gemas aja!” ujar Naema sahabat Dasya. “Jadian! Jadian! Jadian!” ujar mereka kompak, membuat riuh ruangan itu. “Kaliaan ....” ucap Dasya dengan pipi bersemu. Kennan hanya menghela napas panjang. “Eh, Bu Laura datang!” ujar teman yang lain. Semua sibuk memperbaiki tempat duduk, dan ruangan menjadi senyap seketika. Dosen berpenampilan modis itu masuk, dan semuanya duduk di tempat masing-masing. Semua menatap wajah dosen itu, kecuali Kennan yang sibuk memainkan pulpennya. “Guys! Seperti yang ibu bilang kemarin, hari ini kita ada ujian praktek. Sorry, gak sesuai jadwal, karena yang akan menguji kalian yaitu dosen Richa dan dosen Tommy, jadwalnya padat banget alias sangat sibuk. Jadi, mereka ada waktunya cuma hari ini. Gak apa-apa ya?” terang Laura. Mereka mengiyakan dengan wajah pasrah. “Oke. Sekarang kita ke ruang tempat ujian praktek sekarang,” imbuhnya. Semua bangkit dan mulai keluar ruangan dengan tertib. “Ken!” Laura memanggilnya. Ia menoleh dengan rasa enggan, sementara Dasya pun ikut menoleh. “Setelah ujian selesai, kamu ke ruangan ibu ya. Ada hal penting yang ingin dibicarakan.” “Ya,” jawab Kennan dengan rasa enggan. “Saya gak dipaggil ya Bu?!” sahut Dasya bersemangat. “Gak usah. Saya mintanya hanya ke Kennan,” ucap Laura dingin. Dasya mendengkus halus. Kennan dan Laura pun menyusul mahasiswa lain ke ruangan ujian. Naema mendekati Dasya yang masih mencucu. “Dasya. Lo aneh gak sih, sama sikap mereka berdua?” “Aneh gimana?” Dasya balik bertanya. “Kayak orang pacaran lagi berantem.” “Dih, sok tau kamu. Masa Kennan pacaran sama tante-tante, yang bener aja. Udah ah!” **** Di ruangannya, Laura menatap intens wajah Kennan. Yang di tatap mengarah ke arah lain, pura-pura tidak tahu. Sesekali ia mengepak-ngepak sepatu hitamnya di lantai. “Ken, saya ingin bicara bukan sebagai dosenmu, tapi_” Laura menelan saliva saat Kennan tiba-tiba menatapnya dengan tajam. Wanita itu pun berdehem dan sibuk memperbaiki tempat duduknya. “Ok .. Emm, ka-kamu, jarang hadir mengikuti pelajaranku, susah buat kita bicara. Saya, ingin kamu lebih serius mengikutinya. Mengingat, sebentar lagi, kuliahmu selesai.” Kennan menghela napas dengan kasar. “Bukan urusanmu.” “Tapi papamu ingin kamu lulus dengan nilai terbaik.” “Papa lagi, bosan dengernya. Kamu meragukan kemampuanku? Bahkan aku bisa, walau gak mengikuti pelajaranmu, buktinya nilaiku selalu terbaik.” Laura menundukkan kepala. Ia paham, apa yang membuat lelaki muda di hadapannya enggan mengikuti pelajarannya, bahkan sekedar menatapnya saja seolah tidak sudi. “Sudah tiga tahun, sejak kamu pertama kuliah. Tolong maafkanlah,” ucap Laura pelan. Kennan mendecih, ia pikir perempuan berusia 39 tahun itu terlalu percaya diri. “Ini bukan tentang masa lalu kita, lagi pula sudah lama perasaan itu menguap entah ke mana. Mungkin aku bisa memaafkanmu, asalkan kamu mau pergi meninggalkan papa. Aku benci mengatakan ini, seolah lagi ngemis! Tapi ini semua demi mama.” Laura menggelengkan kepala. “Maaf gak bisa Ken. Saya sangat mencintai papamu.” “Kalau begitu suruh dia pergi dari hidup kami selama-lamanya! Agar mudah bagi mama untuk menjalani hidup normal tanpa bayang-bayang papa,” ujar Kennan dengan lantang. Jika mengingat hal itu, darahnya seketika mendidih. Terbayang bagaimana luka hati yang mendalam di hati ibunya, hingga wanita itu mengalami beban fisik dan psikis akibat perbuatan mereka. Laura tertegun. Kalau bukan Rose – ibunya Kennan yang menyumbangkan dana terbesar beasiswa di universitas itu, rasanya ia malas memohon dan meminta maaf pada Kennan. Gara-gara pemuda itu lah, ia harus ditegur oleh rektor kenapa Kennan jarang masuk kuliah. “Ken, kembali ke topik utama. Pikirkan masa depanmu, sebentar lagi lulus. Kalau kamu jarang masuk ke kampus bagaimana? Bisa saja saya tidak memberimu nilai." Kennan bangkit dari tempat duduknya. "Kamu berani?" Laura mengerjap, nyalinya ciut seketika. Sementara Kennan mendecih. “Sepertinya obrolan ini cuma sia-sia aja. Kamu sama sekali nggak menggubris ucapanku, jadi buat apa aku berlama-lama di sini.” Laura mencoba mencegahnya. “Please Ken! Oke, oke. Saya akan coba bicara dengan papamu, tapi kumohon kamu harus rajin masuk kuliah.” Kennan menyilangkan kedua tangan di d**a. “Jujur aku curiga, kenapa Papa gak mau ninggalin mama, tapi masih bersamamu?” Kennan mendekatkan wajah ke arahnya, membuat Laura sedikit beringsut dengan kaku. “Jangan-jangan, papa dan kamu mencoba mengambil semua aset milik mama. Setelah dapat, barulah pergi.” “Jangan asal tuduh, Ken!” ujar Laura setengah membentak, membuat pemuda itu tertawa hambar. “Takut sekali. Aku kan cuma nebak.” Laura gelagapan, ia lagi-lagi sibuk menata tempat duduknya. “Itu saja yang saya ucapkan, kamu boleh keluar dari ruangan ini,” cetus Laura kemudian. Lagi, senyuman sinis itu tersungging di bibir Kennan, sebelum akhirnya ia melangkah keluar dari ruangan wanita itu, sementara Laura menatap punggung pemuda itu dengan tatapan kesal. “Dasar bocah! Kalau bukan demi Hans, malas rasanya berurusan dengan dia,” ucapnya bersenandika. **** Hari mulai terik. Sebagian mahasiswa berhambur keluar. “Ken, kamu mau pulang?” teriak Dasya, ia berjalan cepat menghampiri pemuda itu di parkiran. “Ya,” jawabnya pendek. Mata Kennan menatap mobil Chevrolet Camaro berwarna silver miliknya. Niat hendak dikendarai ia urungkan. “Ikut nebeng pulang, ya!” pinta Dasya dengan nada manja, hampir saja dagunya berlabuh di bahu lebar Kennan. Namun lelaki itu sigap berpindah tempat. “Gak bisa. Mobilku mau kusimpan di sini.” Dasya mengerutkan kening. “Kenapa?” “Mau ke halte. Ada urusan lain.” “Hah?!” Dasya menatap heran. Tanpa ucapan lagi, setengah berlari Kennan keluar dari gerbang kampus menyusuri pinggir jalan menuju halte. Sebuah bus berwarna putih dicegat, ia sigap naik. “Bang, aku berhenti di lampu merah Harmoni ya,” ujarnya pada kenek. “Siap!” Kennan duduk di kursi penumpang sambil memeluk tas ranselnya. Senyumnya mengembang. Ia sangat antusias, karena ini pertama kalinya pemuda itu naik bus. Sambil menikmati suasana, pemuda itu menarik topinya menutupi sebagian wajah, sambil mendengarkan lantunan lagu lewat earphone. Bus kembali berhenti di halte berikutnya. Sebagian orang ada yang naik dan turun. Ada tiga anak kecil naik dengan pakaian lusuh, mereka kompak menyanyi sambil memegang gitar ukulele dan gendang yang terbuat dari paralon. “Permisi. Selamat siang menjelang sore, bertemu lagi dengan kami. Mohon maaf mengganggu perjalanan Anda dan kenyamanannya. Jangan bosan-bosan ya dengan wajah-wajah pengamen ini, Pak Bu, Om Tante, Mas dan Mbak, dari pada nyolong nyopet. Buat kami lebih baik ngamen,” ucap anak salah satu anak kecil. Jreng .... Anak jalanan kumbang metropolitan Selalu ramai dalam kesepian Anak jalanan korban kemunafikan Selalu kesepian di keramaian . Lantunan lagu terus menggema indah, membuat Kennan melepas earphone dan memejamkan mata menikmati suara merdu dari anak-anak yang masih polos itu. Seorang penjual perempuan mendekat ke arahnya. Orang itu menyodorkan botol minum berwarna biru pada Kennan. “Minumnya, Bang?” Kennan yang masih menunduk, mengangkat sebelah tangannya tanda menolak. Penjual itu melangkah dan menawarkan dagangannya pada penumpang lain. Namun, semakin mendengar pedagang itu menawarkan dagangannya, ia seolah mengenal suara itu. ‘Suara itu!’ Kennan sontak menoleh ke arahnya. Rupanya Joanna yang tadi menawarkan minuman padanya, ia pun menepuk dahi dan hendak menyusulnya. Namun keempat pengamen tiba-tiba mendekat ke arahnya, membuat jalannya terhalangi. “Yo! Oke, cukup sekian lagu dari kami. Mohon maaf bila kami bertiga kurang sopan. Tolong sedikitlah berbagi, dengan keikhlasan, buah partisipasi Anda.” Dengan terburu-buru, ia mengambil selembar uang berwarna merah pada salah satu anak itu. “Seratus ribu!” pekik anak laki-laki yang ditaksir berusia enam tahun. Kedua anak perempuan yang bersamanya membulatkan mata, sejurus kemudian mereka tersenyum gembira. “Makasih, Kak,” ujar salah satu dari mereka lalu merebut uang itu, sambil mencium aroma lembaran warna merah itu. “Hei! Buruan sini, kita mau turun,” ujar Joanna yang sudah berdiri di dekat pintu bus. Mereka bergegas berjalan. “Eh, tunggu!” ujar Kennan segera beranjak menyusul mereka. **** Pukul dua siang, matahari masih terik menyengat. Mereka turun tepat di samping pertigaan. Di sana, sudah banyak pengamen anak-anak hingga remaja berkumpul di bawah pohon rindang, masing-masing ada yang membawa gitar ukulele, gendang kecil dan kecrekan. “Kok bisa sih, gue ketemu lo lagi!” ujar Joanna saat sadar, jika ternyata Kennan lah yang ia tawari minuman dan memberikan uang pada ketiga pengamen cilik yang dikenalnya. Raut wajah gadis itu tampak kesal sambil mengibas wajahnya yang berkeringat dengan topi lusuhnya. Kennan tersenyum melihat penampilan Joanna yang memang seperti lelaki. Memakai kaos longgar, dan celana jeans robek-robek ditambah rambut kecokelatan model mullet. “Hei, jawab!” imbuh gadis itu. “Nggak. Gue naik bus karena baru pulang kuliah, kebetulan aja kita ketemu,” terang Kennan. “Lihat deh, Jo. Kak ganteng kasih kita uang seratus ribu!” pekik anak yang paling kecil di antara mereka. Kennan menggasak rambutnya. “Siapa namamu? Dan kedua temanmu ini?” “Gue Leon, dan ini kedua kakak gue Kak Anne dan kak Cilla.” Mereka kompak mengulurkan tangan hendak bersalaman, namun Joanna kompak menepis tangan-tangan mungil mereka. “Aish! Jangan mudah deket sama orang asing. Cukup bilang makasih, lalu pergi. Udahlah, kalian sana istirahat. Waktunya kakak pergi sekarang,” ujar Joanna kemudian. Kennan terpaku, masih penasaran pada keempat orang itu. “Oke Kak. Makasih buat hari ini,” ucap Cilla. Joanna mengangguk seraya menyerahkan dagangan dengan istilah cangcimen pada anak yang lebih tua dari mereka. “Tadi terjual lima botol air mineral, dan enam bungkus permen. Nih, gue kasih tambahan sepuluh ribu,” ujar Joanna. “Wah, makasih Kak,” ucap Anne sambil mengaitkan tali dagangan ke lehernya. Ketiganya berlalu, dan beristirahat di bawah pohon rindang bersama pengamen lainnya. Sementara Joanna merapikan topi dan mulai melangkah tanpa mempedulikan Kennan. Kennan mengekor gadis itu dengar rasa penasaran. “Jo!” Gadis itu berjengit karena kaget, ia langsung menghentikan langkahnya. “Hei! Lo masih di sini?” “Iya, lo nya aja yang gak sadar.” “Aish!!” Joanna mengusap wajahnya. “Gue orang sibuk. Bukan makhluk gabut macam lo, yang tiap hari ngintilin kaki orang kayak anak kucing kena air,” imbuh Joanna. Kennan tergelak. Jujur saja, ia tipe lelaki dingin yang untuk tersenyum saja mahal rasanya. Tapi, saat mendengar celotehan Joanna, gadis itu suskes membuat Kennan tertawa. “Sorry. Tapi gue penasaran sama apa lo lakuin tadi sama ketiga bocah itu.” Joanna mengerutkan dahi. “Yang mananya?” “Kamu nyerahin daganganmu, kirain itu punyamu.” “Oh, bukan. Gue cuma bantu jualin aja, hitung-hitung hibur mereka karena kerap diganggu para pemalak. Maklum, anak baru.” Kennan terdiam, masih belum paham maksud ucapan gadis itu. “Lo gak tau sih, dunia jalanan itu keras! Bisa dapat duit cuma mampu buat sekali makan aja, udah syukur. Belom diselimuti rasa takut sama pemalak atau satpol pp yang tiba-tiba muncul dan angkut mereka.” Mata Kennan mendadak memanas. Di saat ia dengan mudah makan apa saja yang diinginkan, sementara mereka belum tentu menemukan makanan keesokan harinya. Ia bahkan membayangkan mereka bekerja dari pagi hingga malam, untuk sekedar mendapatkan uang recehan. “Lo ngapain bengong?” ujar Joanna membuyarkan lamunannya, membuat pemuda itu tergagap. “Ng-nggak. Gue salut aja, sama mereka dan juga sama lo.” Joanna tersenyum kecut. “Gue? Kenapa?” “Lo baik. Mau bantu jualan dagangan mereka, kasih lebihan pula.” Gadis itu menonjok halus dadda Kennan tanpa ragu sambil terkekeh, membuat lelaki itu membulatkan mata. “Gak seberapa kali! Lo lebih banyak ngasih uang tadi, thank’s ya. Udahlah, gue masih harus pergi takut telat. See u!” Joanna langsung berlari meninggalkannya – menyeberang jalan. Padahal, Kennan belum sempat bertanya, mau ke mana gadis itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD