Jimmy menepuk bahu Kennan, saat pemuda itu tengah asyik sendirian, memainkan bola basket dengan gaya dribble.
“Mata kuliah udah selesai kan? Makan ramyeon yuk! Gue nemu kafe cozy, asik kayaknya.”
Masih dengan napas terengah-engah, Ken mengangguk saja dan melangkah ke arah loker, mengambil handuk kecil dan sebotol minuman.
Jakunnya naik turun saat air itu mengaliri kerongkongannya.
“Lo gak bilang-bilang masuk tim basket lagi,” imbuh Jimmy.
“Baru mau ngomong.”
“Oh, jadi baru hari ini mulai latihan lagi?”
Kennan mengangguk. Ia lalu berlalu begitu saja ke arah toilet untuk mengganti bajunya.
****
Lalu lalang kendaraan terdengar bising. Kennan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, namun tetap membuat asap rokok yang diisap Jimmy cepat menghilang.
“Rokok?” tawar Jimmy menyodorkan bungkus kotak warna putih.
Kennan hanya mendelik, tatapannya kembali mengarah ke depan.
Gelak tawa terdengar. “Gue heran, lo makhluk apa sih. Kaku banget! Santai gitu, nikmatin hidup. Kalau lo gak mau merokok, jatuh cinta mau gak? Gue kenalin cewek-cewek cantik di luaran kampus.”
Rahang Kennan mengeras, andai tidak sedang mengendara, ingin ia bogem pipi Jimmy yang berjerawat itu.
“Tuh lihat! kalau gue bahas cinta. Pasti mukamu masam. Jangan-jangan lo g*y!!”
“Sintting lo! Itu mulut bisa dijaga gak?” bentak Kennan.
“Nah, kan ngambek. Lo kayak cewek gue pas dia lagi dapet, bawaannya ngomel mulu.”
Kennan hanya menghela napas dengan kasar. “Jatuh cinta gak ada dalam kamus gue! Jadi, stop bahas itu.”
“Huft! Kata itu lagi.”
Sesuai arahan Jimmy, mobilnya masuk ke pelataran Princess Caffe. Nuansa warna warni dan feminim mendominasi tiap sisi bangunannya.
Membaca nama kafe itu, alis Kennan bertaut.
“Lo bener-bener playboy sejati. Ke kafe aja, harus berbau cewek. Nyari mangsa ya?” desis Kennan.
Jimmy terkekeh.
“Jangan salah. Pegawainya kebanyakan cowok kok.”
Ucapan Jimmy semakin membuatnya penasaran.
Mereka masuk dan memilih naik ke lantai dua. Di sana keduanya dapat melihat pemandangan hutan bambu mini yang eksotis.
“Ken, gue gak asal ajak lo ke sini. Kita perlu bicara,” ujar Jimmy dengan nada serius.
Kennan mengecek kening sahabatnya, mungkin saja otak Jimmy tengah bergeser.
Jimmy menepis dengan cepat sambil bersungut-sungut, “Apaan sih! Jangan bikin gue malu di mata para pengunjung!”
Kennan tersenyum tipis. “Syukurlah. Gue kira, lo lagi salah makan obat. Emangnya, apa yang mau diomongin?”
Jimmy bersedekap. “Gue denger desas desus, kalau lo pernah ada hubungan sama bu Laura. Tapi sekarang udah putus. Bener?”
Kennan membuang muka, seketika mood-nya berubah.
“Ayolah Jim. Gak ada pembahasan yang lebih mutu?”
“Bagi gue penting. Gue kehilangan lo sejak tiga tahun terakhir.”
“Trus sekarang gue apa? Makhluk gaib?”
“Serius Ken. Lo udah kayak mayat hidup. Kita jarang main bareng, ketawa-ketawa. Jangan-jangan akibat dari putus cinta.”
Mata Kennan meredup.
“Benar kan, gara-gara si bu dosen itu? Pantesan lo gak mau jatuh cinta lagi, trauma ya?" cecar Jimmy.
“Please, Jim. Jangan bahas dia.”
Jimmy menyandarkan punggung ke bahu kursi. “Semakin mengelak. Gue semakin yakin, jika ucapanku benar.”
“Kalau pun iya. Bukan urusan lo,” tegas Kennan.
Mendengar itu, Jimmy tersenyum kecut.
“Iya. Lo berhenti main basket tiga tahun lalu, trus sekarang masuk tim lagi, bukan urusan gue, jadi gak berhak tau. Termasuk masalahmu dan juga apa yang dialami keluargamu. Beda banget, sama gue yang apa-apa aja, semuanya diceritain ke lo!”
Kennan menoleh ke arah Jimmy, sosok sahabat yang sejak sekolah menengah atas selalu membersamainya. Ia baru sadar, jika perubahan sikapnya membuat Jimmy tersinggung.
“Lo banyak berubah Ken. Gue kayak gak berarti dimatamu sekarang, serba gak tau apa-apa,” sambung Jimmy.
“Kok jadi baper, sorry Jim. Kalimat terakhir, yang bilang kalau lo gak berarti di mataku, itu salah. Maksudku tadinya, gak mau membebani siapa-siapa, termasuk lo.”
Oke, Jimmy mulai mampu memahami ucapan Kennan, dan ia sedikitnya bisa meredam emosi.
“Gue gak ngerasa gitu. Jadi, seneng-seneng aja kalau lo cerita apa pun," ucap Jimmy merendahkan suaranya.
Duk!
Duk!
Duk!
Sebuah nampan diketuk oleh salah satu waitress.
Keduanya sontak mendongak ke arahnya.
“Maaf Tuan-tuan. Di sini bukan tempat tongkrongan gratis. Saya menunggu dari tadi kalian memesan sesuatu, tapi kulihat malah sibuk bicara tanpa henti."
Kennan menatap tanpa mengedip sedikit pun ke arah waitress itu. Sementara Jimmy, sibuk menggaruk tengkuknya.
“Oeh, maaf Mas, kami terlupa. Saya pesan_”
“Jim!” bentak Kennan, membuat sahabatnya itu nyaris terlonjak karena kaget.
“A-apaan sih? Kaget tau!” sungut Jimmy.
Kennan membentengi mulutnya, dengan sebelah tangannya agar waitress itu tidak melihat gerak bibirnya.
“Dia cewek!” ucap Kennan tanpa suara. Sontak Jimmy melotot karena terkejut.
Keringat dingin mulai membanjiri, namun ia harus memberanikan diri menatap waitress itu.
“Ma-maaf, Mbak. Saya, salah sebut.”
Jimmy langsung memalingkan wajah dan menggigit bibir bawahnya.
“Mau pesan apa?”
“Kami pesan macchiato dua, itu saja,” ucap Kennan.
Waitress itu mengangguk dan meminta keduanya untuk menunggu.
“Anjim! Jantung gue mau copot. Lo tau dari mana dia cewek?” tanya Jimmy.
Kennan bergeming, ia sibuk menatap waitress itu yang semakin menjauh. Tanpa sadar, bibirnya melengkung membuat Jimmy semakin terheran.
****
Dua cangkir macchiato baru saja disodorkan, dan Kennan dengan sigap menangkap pergelangan tangan waitress itu.
Namun waitress itu menepisnya dengan cepat.
“Joanna. Jam berapa lo selesai kerja?” tanya Kennan.
“Untuk apa?” Joanna balik bertanya.
“Mau ngobrol aja sih.”
“Gak bisa. Habis ini, gue masih sibuk. Udah ya, gue gak bisa ngobrol lama-lama sama pelanggann, bisa-bisa dipecat!” Gadis itu berlalu begitu saja.
“Jo!” panggil Kennan tertahan. Raut wajahnya sedikit kecewa.
Kedua mata Jimmy kembali membola. “Demi apa. Kalian saling kenal? Satu hal lagi nih, yang gue gak tau. Nanti apa lagi?"
Kennan kembali menatap ke arah sahabatnya. "Gue janji, soal ini akan cerita ke lo. Tapi nanti."
Jimmy tampak bahagia. "Gitu dong! Barulah sahabat namanya."
Mereka dengan cepat menghabiskan minumannya.
“Cabut yuk!” Kennan beranjak sambil menggendong tas ransel dan melangkah untuk membayar bill.
Jimmy mengekor, sambil menelisik tatapan Kennan yang tak lepas memandang Joanna - di mana gadis itu tengah sibuk melayani pelanggann.
Tatapan berbeda itu, disadari oleh Jimmy dan ia membiarkan sahabatnya larut hingga tersadar dengan sendirinya.
“Ayo, pulang Jim," ucap Kennan akhirnya.
Jimmy mengangguk. “O-oke.”
****
Sore menjelang, Joanna berjongkok di pantry. Ia terus menggulirkan layar ponsel begitu lama - membuat rekan kerjanya, Ben. Menoleh ke arahnya.
“Kamu belum pulang Jo?”
Joanna mendongakkan kepala ke arah lelaki itu, lalu menggeleng.
“Sibuk apa sih?” tanya Ben kemudian.
“Lagi nyari info kerjaan tambahan.”
Ben menaruh gelas-gelas yang baru selesai ia cuci dan melap tangannya. Lelaki itu ikut berjongkok tepat di depan Joanna.
“Gaji di sini kurang?”
“Cukup buat makan, tapi buat biaya kuliah dan berobat nenek, kurang banget. Apalagi, aku baru selesai urus surat-surat pindah kampus," terang Joanna sambil meremat rambut mullet-nya.
“Lagian, gegayaan pake pindah kampus segala. Biaya lagi kan jadinya.”
Tampak Joanna mendengkus kesal.
“Ini semua gara-gara Oma Elle. Beliau kekeh ingin aku harus kuliah di sana, entah apa maunya. Tapi mujur sih, jaraknya lebih dekat dari rumah. Lumayan, jadi hemat bahan bakar,” kilahnya.
Ben berdecak sambil menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan jalan pikiran gadis itu.
“Kamu mau pekerjaan apa lagi? Pagi, kerjaanmu mengantar koran dan s**u ke pelanggann, lanjut masuk kuliah. Siang ampe sore, ada di kafe. Pulang dari sini, mengajar les privat melukis. Gila, udah full. Mesin aja ada istirahatnya.”
Joanna menatap lelaki yang empat tahun lebih tua darinya.
“Kalau kamu jadi aku, mau ngapain? Berdiam diri, membiarkan nenek sakit tanpa diobati?”
tanya Joanna.
Ben menelan saliva. “Ya, ng-nggak gitu juga sih. Mungkin kamu harus cari satu pekerjaan yang gak mengganggu kuliah tapi gajinya gede, cukup buat segala kebutuhanmu.”
Joanna tertawa hambar. “Hidupku, gak semudah bacotanmu. Mudah banget ngomong gitu, kalau ada pasti udah aku jabanin kali!”
Ben menyeringai.
“Iya juga sih. Coba deh, aku tanya temanku dulu ya, mana tau dia punya info-info buatmu.” Lelaki itu bangkit diiringi anggukkan Joanna.
Kemudian gadis itu masuk ke ruang pegawai untuk mengganti baju.