Sepanjang jalan menuju parkirkan, Dasya terus melirik ke arah Kennan yang sedari tadi diam, setelah perbincangan alotnya dengan Joanna.
“Ken, aku jadi gak enak hati sama kalian berdua. Mending, nanti ke party-nya sama Joanna aja, gak apa-apa kok,” ucap Dasya.
“Aku juga gak apa-apa kita pergi berdua. Kamu dengar ucapannya tadi kan, kalau dia gak bisa pergi karena harus menjaga Oma nya.”
Dalam hati, Dasya bersorak. Namun, ia harus tetap terlihat biasa.
“Kamu yakin?”
Kennan menoleh sekilas lalu mengangguk.
“Aku akan menjemputmu pas acara party, nanti kuhubungi lagi.”
“Oke, aku pulang dulu, ya Ken. Makasih banyak.”
Kennan kembali mengangguk. “Sama-sama.”
Ia memutar tubuhnya untuk kembali masuk.
Suasana hatinya sangat tidak karuan.
‘Mungkin gak sih, sikapku berlebihan sama Joanna, hanya karena dia nolak dibeliin baju? Ah, kayaknya nggak. Justru salah dia sendiri nolak rejeki, seenaknya kayak gitu. Huh!’
Ia sibuk menyalahkan sikap Joanna, tapi ia sendiri yang merasa tidak enak. Gimana sih, si gantengnya akoh! Jadi gemas ngetiknya. Hmm ....
****
Angin malam menghembus syahdu
Mengirimnya pada pohon-pohon
Dan membisikkannya di beranda rindu
.
[Pacar, kamu udah tidur?]
Sedetik kemudian, Kennan menghapus pesan itu.
‘Pertanyaan macam apa itu?’
Harusnya terlebih dahulu Kennan mengucapkan kalimat maaf atau semacamnya atas sikapnya tadi sore.
[Masih marah ya? Tapi, kamu salah juga sama aku, harusnya ....]
Hapus!
Ini untuk kesekian kalinya Kennan mengetik, dan kembali dihapus. Waktunya habis sia-sia dengan kening berkerut-kerut menatap layar yang berpendar cukup lama.
Tanpa sadar, Rose memperhatikannya dari tadi sambil senyam senyum melihat raut wajah anaknya yang terlihat kalut.
‘Masalah anak muda zaman sekarang begitu rumit!’ batinnya menahan tawa.
Kembali pada Kennan dengan segudang kegalauan.
[Jo ... kangen]
Hapus lagi.
“Aaarrgh!” Tanpa sadar, Kennan menggasak surainya dan membeku seketika saat matanya bersiborok dengan Rose.
“Kamu kenapa Ken? Teriak malam-malam, diusir perawat lho nanti,” tanya Rose sibuk menahan tawa.
Pemuda itu menyeringai sedikit meringis, campur senyum.
“I-itu, mau chat Joanna. Tapi gengsi.”
“Kenapa gengsi? Wong cuma tinggal chat doang kok.”
“Iya sih. Tapi harusnya, dia yang duluan chat, minta maaf ke aku, kan enak. Aku pasti maafin, dan lupain semuanya.”
Rose kini mengangguk paham, apa yang membuat anaknya gegana, gelisah galau merana. Tsahhh.
“Minta maaf kan gak mesti siapa yang salah duluan. Kalau kamu mau baikan, ngalah aja. Lagian, di mana-mana peraturannya begitu,” ucap Rose.
Ia masih dalam kondisi berbaring di ranjang, dengan cairan infus yang menggantung.
“Peraturan?” Alis Kennan bertaut.
“Iya, peraturannya di mana-mana, siapa pun yang salah, para lelaki harus minta maaf duluan ke perempuan.”
Kennan seketika menepuk dahinya. ‘Pasti yang bikin peraturan itu kaum perempuan itu sendiri. Semprul.'
“Oya, Ma. Besok lusa ada acara party, perpisahan di angkatanku. Aku diundang datang, boleh gak?”
“Boleh dong Sayang. Biar jadi kenangan buat kalian, habis wisuda pasti kan bakalan sibuk sama kegiatan masing-masing, jadi akan jarang ketemu lagi."
"Mama gak apa-apa aku tinggal dulu?"
Rose menggeleng lemah. "Kan ada Bi Mui, sama perawat juga, jangan khawatir. Tapi, biasanya suka ngajak pendamping, kamu pergi sama siapa?”
Glek!
Baginya, kenapa pula Rose bertanya seperti itu. Andai hubungannya dengan Joanna tengah baik, ia tak akan ragu untuk berkata pada Rose.
“Ajak aja, Joanna. Dia anaknya supel dan ceria, pasti kamu juga akan senang selama party berlangsung," imbuh Rose seolah mampu membaca pikiran anaknya.
Kennan menarik napas panjang. Rose benar, Joanna moodbooster buat semua yang mengenalnya.
“Ya, Ma. Nanti kupikirkan lagi.”
Pemuda itu bangkit, dan menaruh ponsel di atas meja.
“Gak jadi chat Joanna?”
“Nanti aja, aku mau keluar cari angin.”
Rose hanya berdecak lalu menggelengkan kepala.
****
_Di tempat lain_
Gerald mencoba menelepon Joanna.
“Halo?”
“Halo, Jo. Udah tidur?” tanyanya.
“Belum, baru beres mandi. Kenapa?” Joanna balik bertanya di seberang sana.
“Temenin minum kopi bentar, yuk! Di kafe dekat rumahmu.”
“Hah? Emang kamu di mana sekarang?”
“Depan rumahmu.”
Joanna langsung mematikan sambungan dan menatap lewat jendela.
Dokter muda itu tampak melambaikan tangan dan tersenyum padanya.
“Dasar!” Joanna tertawa kecil dan keluar dari rumah.
“Woi, jam berapa ini? Malam-malam ngajak ngopi!” seru Joanna melenggak mendekatinya, kedua tangannya berkacak pinggang.
“Jam sepuluh. Aku suntuk nih. Buruan!”
“Dih! Aku belum bilang mau apa nggak!” ujar Joanna, tapi lelaki itu membuka paksa gerbangnya dan menarik pergelangan Joanna.
“Harus!” ucap Gerald memaksa.
Gerald membuka pintu mobilnya, membiarkan Joanna masuk lalu ia mengitari kendaraan itu dan memasang seat belt.
“Beneran di kafe dekat rumah kan?” tanya Joanna. Bukan apa-apa, ia tidak pernah pergi selarut ini terlebih dengan lelaki dan bukan Kennan orangnya.
“Yup! Aku lihat tadi masih buka kafenya.”
Joanna hanya menghela napas panjang, dan mencoba rileks.
Tak lama, mobil sampai di tujuan. Gerald memilih kursi yang dekat dengan area live music.
“Minum apa?” tanya Gerald.
“Cappuccino.”
Gerald mengangguk. “Cappuccino satu, americano satu,” ucapnya pada waiters.
Sambil menunggu, mereka menikmati alunan lagu, musik jazz.
“Ger, jawab. Kenapa malam-malam, ngajak aku ngopi. Gak bisa lain hari ya?” tanya Joanna. Padahal, ia sangat merindukan kasur, lalu tidur dengan nyenyak.
Gerald terkekeh.
“Kurasa gak bisa. Saat kamu dan Kennan lagi berkonflik, itu jadi kesempatanku ngajak kamu.”
Joanna tertegun. Membuat Gerald kembali tertawa.
“Santai aja, aku cuma mau hibur kamu kok. Aku tau, kamu lagi sedih atas sikap Kennan.”
Joanna tersenyum. “Makasih, walau sebenarnya gak perlu kayak gini. Ngerepotin kamu aja.”
Minuman mereka datang, keduanya menyeruputnya hampir bersamaan.
“Nggak apa-apa. Aku senang melakukannya, mungkin ... karena aku suka sama kamu.”
“Eh?” Joanna merasa telinganya bermasalah. Sementara Gerald menatapnya lekat-lekat, menghadirkan desiran halus yang muncul tanpa permisi.
“Iya, aku suka sama kamu sejak pertama kita ketemu, saat di rumah Kennan.”
Suasana mendadak kaku seketika. Joanna kaget campur bingung.
‘Harusnya gak perlu dia jujur, bikin aku keki,' batin Joanna sambil menggigit bibir bawahnya.
“Tapi jangan merasa gak enak ya. Aku cuma jujur soal perasaanku aja biar plong. Lagi pula, aku seneng kok, kamu jadian sama Kennan, dia ceria sejak dekat sama kamu lho, jadi mana mungkin aku tega menikungnya,” terang Gerald. Hal itu melegakan hati gadis itu.
“By the way. Gimana soal acara party-nya? Kennan ada kabar ngajak kamu?” tanya Gerald kemudian.
Joanna menggeleng lemah. “Dia kan udah fix bakalan ngajak kak Dasya.”
Gerald mendesah kasar. “Itu karena kamu yang meminta. Coba tadi siang, diam dan duduk manis, aku yakin Kennan pasti ngajak kamu.”
Sebenarnya, lubuk hatinya menyesal telah mengucapkan kalimat itu. Tapi, ia hanya ingin merasa puas atas sikap Kennan yang cukup melukai hatinya.
“Biarin aja, lagian Kennan lebih cocok pergi ke pesta sama cewek itu dibanding aku.”
“Tuh, kan. Ujung-ujungnya minder, jangan dong.”
Joanna mengangkat bahunya. “Fakta.”
Gerald tampak mengetuk dagunya berkali-kali. Baginya, bagaimana pun Joanna harus datang ke party itu.
“Tapi kamu juga butuh hiburan, Jo. Di sana, bisa nonton langsung band terkenal, pihak kampus udah sewa penyanyi band. Kamu gak tertarik?” jelas Gerald.
Alis Joanna bertaut.
“Kok, kamu tahu?”
“Karena aku juga salah satu yang akan meramaikan party itu. Asal tau aja, aku pembawa acaranya di sana.”
Mata Joanna membulat takjub.
“Waah, aku baru tau.”
“Udah tiga kali berturut-turut aku jadi pembawa acara pesta perpisahan mahasiswa.”
“Tiga kali? Oh, berarti udah biasa ya.”
“Iya, tapi ....” Gerald menggantung ucapannya.
“Tapi apa?”
“Aku selalu gak punya pasangan pendamping. Pengen dong, sekali-kali punya, walau tugasku cuma pembawa acara.”
Joanna mengangguk-anggukkan kepala.
“Kamu benar. Kalau begitu, ajak aja teman dekat cewek atau pacarmu misalnya,” cetus Joanna.
Gerald seketika mencebik ke arah Joanna.
“Hei! Kamu lagi meledekku ya. Udah tau, aku punya pacar,” ujarnya sedikit kesal.
Joanna menahan tawa lalu meralat ucapannya, “Sorry, aku salah ucap. Lagian mana kutau kamu jomlo.”
Hening.
Gerald terus menatap Joanna yang tengah asyik menghabiskan cappuccino-nya.
'Cantik.'
“Jo, kamu barusan kasih saran biar aku ngajak teman dekat cewek kan? Kamu mau kan, jadi pendampingku di party nanti?”
tanya Gerald.
Glek!
Joanna membeku seketika. Ia tidak menyangka kalimat itu meluncur dari mulut dokter itu, dan sekarang ia merasa menyesal telah memberinya saran.
‘Dia hobi banget ngagetin aku,' batinnya.
“Diam artinya setuju. Besok, kita ketemu lagi untuk persiapan,” ujar Gerald kemudian.
Joanna benar-benar tak berkutik.