Mobil Chevrolet Camaro silver, berhenti di depan halte. Suara klakson membuyarkan lamunan Joanna.
Gadis itu berlari kecil dan langsung masuk ke mobil.
“Eit! Biar aku aja yang pasang seat belt-nya,” ujar Kennan sambil segera memasangkannya pada kekasihnya.
“Aku kan bisa sendiri." Biar begitu, ia senang karena merasa terperhatikan.
Kennan hanya tersenyum dan mulai melajukan mobil.
"Kamu udah setor tugas makalah ke dosen?" tanya Kennan membuka obrolan.
Joanna menggeleng samar.
"Ambyar."
Kennan menoleh sekilas. "Why?"
"Kena tumpahan tinta spidol. Padahal, aku gak punya tinta refill, di tempat foto kopian juga gak kena tumpah, rapi-rapi aja."
"Kalau begitu, kira-kira kenapa?"
Joanna menghela napas sambil mengangkat kedua bahu dramatis. Tidak mungkin lah, ia ujug ujug menuduh Daysa yang melakukannya, karena tidak ada bukti.
Melihat raut wajah Joanna yang sendu, Kennan menggasak rambut mullet Joanna.
"Gak usah dipikirin. Itu bukan akhir segalanya, masih ada di lain kesempatan. kamu pasti bisa."
Joanna kini tersenyum. "Makasih, Ken."
Namun, Joanna baru sadar, itu bukan ke arah rumah sakit.
“Lho, kamu gak ngelamun kan, Ken? Arah rumah sakit, kan belok ke kiri.” Joanna sibuk menatap ke arah jalanan di balik kaca jendela.
“Emang bukan, kita ke rumah sakitnya nanti aja. Sekarang, mau culik kamu dulu,” seloroh Kennan.
Joanna tergelak. Entah kenapa, dirinya tidak takut sama sekali. Sepenuhnya ia percaya pada Kennan. Diam-diam, matanya melirik ke arah kekasihnya yang fokus menyetir. Senyumnya tersungging tanpa sadar, mengingat dulu pernah menyangka jika pemuda itu melakukan hal buruk pada Bella.
****
Kennan membawanya ke sebuah butik bernama Lovenza.
"Yuk turun!"
Joanna mengekor lelaki itu, membawa kakinya melangkah di pelataran butik. Ingin rasanya Joanna bertanya, tapi khawatir terkesan bawel.
Gadis itu yakin, butik itu cukup ternama di kota. Karena merasa sering mendengar nama butik Lovenza.
“Ini butik langganan mama,” ucap Kennan pendek. Mata dengan bulu lentik milik Joanna membola, cukup takjub dengan dekor toko yang mewah dengan gaya minimalis modern.
Sambil mendorong pintu kaca. Mereka langsung di sambut pelayan toko yang ramah.
“Selamat siang, Mas Kennan. Ada yang bisa saya bantu?" ucap pelayan toko.
Dari kalimat itu, Joanna yakin Kennan sering mengunjungi butik itu.
“Tolong carikan baju-baju khusus kerja, kuliah dan pesta.”
“Oh, baik. Sambil menunggu silakan lihat-lihat dulu yang lainnya.”
Joanna mencolek lengan Kennan.
“Baju untuk siapa?” tanya Joanna bingung.
“Untukmu lah, masa buatku. Di sini kan butik khusus cewek,” jawab Kennan sambil mengambil satu dress merah selutut dan mencocokkan di tubuh Joanna, sambil menatap cermin.
“Bagus ya, warnanya cerah. Pas di kulitmu yang putih,” ucap Kennan.
“A-aku ....”
“Kamu gak suka warna yang mencolok ya?” tanya Kennan.
Joanna menggaruk-garuk rambutnya yang tak gatal. Ia bingung harus bagaimana.
“Bagus, banget malah. Tapi, aku gak pantas pake baju sebagus ini. Gak usah beliin aku apa-apa, jenguk Nyonya aja yuk?” Joanna menarik pergelangan tangannya.
“Gak, apa-apa Sayang. Sini!”
Kennan menatapnya dari atas hingga bawah.
“Wait, kamu lebih suka gaya apa? Agak feminim, suka gak? Kalau harus jujur ... bajumu kurang fashionable dan agak kampungan gitu,” cetus pemuda itu.
Mendengarnya, Joanna tertegun. Mungkin sedikit tersinggung karena ia kira selama ini Kennan tidak pernah mempedulikan penampilannya.
Joanna lalu tersenyum hambar. Ia akui, baju kerja dan kuliahnya memang terkesan lusuh dan ketinggalan zaman, itu saja ia dapat dari baju-baju obralan atau diskon besar-besaran.
“Ken. Maaf, bukan aku nolak. Tapi, prinsipku sebelum menikah jangan sampai merepotkan kamu. Mending uangnya ditabung buat biaya pernikahan atau kepentingan lainnya, oke?” Wajah Joanna sebenarnya mulai memerah menahan tangis.
Setelah perbincangan yang cukup alot, Joanna pun berhasil keluar dari butik itu dan segera masuk ke mobil Kennan. Tak lama, pemuda itu menyusulnya dengan raut wajah kecewa, rupanya ia belum puas dengan kalimat-kalimat yang dilontarkan gadis itu dan masih ingin membahasnya di mobil.
“Kamu aneh, Jo. Cewek, biasanya seneng dikasih hadiah atau dibeliin baju. Lagian, sama sekali gak merepotkan kok. Kamu terlalu gak enakan!”
Mobil kembali melaju di jalan raya.
“Bukan begitu. Kan aku udah bilang, nanti kalau udah nikah aku pasti mau dibeliin ini dan itu. Ada waktunya Ken. Aku tanya, tujuanmu beliin baju-baju itu untuk apa? Kupikir, kamu bisa menerimaku apa adanya.” Joanna mendelik tajam.
“Lho, aku terima kamu apa adanya, kok. Jangan salah paham, Joanna!” Suara Kennan meninggi.
“Kalau begitu, buat apa tadi ajak aku ke butik?”
“Soalnya, aku mau ajak kamu ke undangan party perpisahan, lusa nanti. Kepengenlah kamu dandan yang cantik, wajar dong sesekali aku ingin kamu terlihat beda. Salah ya?”
Joanna terdiam.
Ucapan Kennan ada benarnya. Tidak mungkin kan, dia datang ke pesta dengan penampilan seperti yang dikenakan saat ini?
“Ya sudah, jangan ajak aku. Kamu bisa pergi sama temen cewekmu yang lain. Aku yakin, mereka gak akan nolak ajakan kamu,” ucap Joanna sedikit merajuk. Ia harap, semoga Kennan tidak memperpanjang perselisihan itu.
Sedetik kemudian, hanya helaan napas kasar dari Kennan. Ia seolah menahan kesal luar biasa.
****
Sepanjang jalan menuju rumah sakit, mereka di selimuti keheningan. Tidak ada satu pun dari keduanya membuka obrolan.
Sampai manik mata mereka menangkap pemandangan tak biasa.
Sesaat, Kennan dan Joanna saling menatap. Lalu kembali berpindah ke arah taman rumah sakit - di mana di sana Rose tampak tertawa bahagia dan di belakangnya ada Dasya yang mendorong kursi roda Rose dengan perlahan.
“Kak Dasya, kayaknya akrab sama Nyonya,” ucap Joanna pelan.
“Ya. Dulu pas masih SMA, dia suka ke rumah ngajak aku berangkat sekolah bareng. Dari situ, kenal sama mama.”
Joanna mendongakkan wajah ke pemuda yang lebih tinggi darinya.
“Kalian akrab ya?”
Kennan menelan saliva, langsung bisa membaca riak wajah gadis itu.
“Dulu akrab, tapi sebatas teman, gak lebih.”
Tampak Joanna mengangguk lega. Walau ia tidak bisa memungkiri, andai mereka sepasang kekasih, alangkah serasinya.
‘Haruskah aku nyesel, nolak dikasih baju-baju mewah tadi?’ batinnya.
Joanna kembali menarik lengan Kennan. “Ayo, Ken. Kita nimbrung ngobrol sama mereka.”
“Eh?”
“Nyonya. Bagaimana kabarnya?” sapa Joanna. Ia sesaat melirik Dasya dan mengulas senyum.
Seolah, ia melupakan kejadian tadi pagi di kampus saat makalahnya terkena tumpahan tinta.
“Baik, Jo. Makasih ya kemarin makananmu enak banget lo, saya sampai lahap memakannya,” ucap Rose.
“Oh, syukurlah kalau Nyonya suka. Tapi sekarang, saya gak bawa apa-apa,” ujar Joanna di sela senyum malu.
“Tidak apa-apa, Nak Daysa bawain makanan yang gak kalah enak kok.”
Deg!
Entah kenapa, mendengarnya membuat hati Joanna ada rasa celekit-celekit.
Sementara Dasya mengangkat sedikit dagunya ke arah Joanna.
“Hai, Ken.” Sapa Dasya.
“Hai, juga.”
“Kamu, ada rencana magang gak habis wisuda? kalau iya aku ikutan ya.”
Oke, di saat keduanya asyik berbincang, seolah Joanna merasa asing dan bukan siapa-siapa. Ia memilih melipir, dan mengambil alih mendorong roda milik Rose.
“Nyonya, mari kuantar ke ruanganmu,” ucap Joanna.
Bahkan saat Joanna mendorong kursi roda itu, Ken masih asyik berbincang dengan Dasya.
****
Setelah mengantar ke ruangan Rose. Joanna berjalan di koridor, ia masih menyempatkan untuk menatap Kennan dan Dasya yang seolah makin larut dengan obrolan, bahkan samar terdengar tawa mereka.
‘Jangan-jangan, Kennan masih kecewa karena aku menolak dibeliin baju.’
Ia terus berjalan, sampai sadar di kejauhan seseorang melambaikan tangannya.
Joanna tersenyum, dan menunggu orang itu berlari mendekatinya.
“Jo, kamu habis jenguk Tante?”
“Hai, Gerald. Iya, ini baru mau pulang.”
“Lho, kok pulang. Gak diantar Kennan?” tanya Gerald kemudian. Ia menggiring gadis itu untuk duduk di kursi besi panjang.
Joanna terkekeh pelan. “Aku bukan anak TK, yang mesti diantar pulang. Kan bisa sendiri.”
Gerald menarik napas panjang, raut wajah Joanna tampak lain.
“Kalian bertengkar?”
Joanna mengerjap dan menjadi salah tingkah.
“Hah? Aku sama Kennan? Nggak, kok.”
“Oh, kirain. Syukurlah kalau begitu. Kalau merasa perlu curhat, apa pun itu jangan sungkan ya, kita kan udah jadi sahabat,” cetus Gerald.
Joanna mengangkat ibu jarinya. “Oke, dokter!”
Mereka terkekeh, tanpa sadar Kennan dan Dasya melangkah mendekatinya.
“Kamu ada di sini? Aku cari ke mana-mana,” ujar Kennan dengan raut wajah datar.
“Tadi, kalian lagi asyik ngobrol aku gak mau ganggu, jadi mau pulang aja.”
Kennan mendecih. “Kalau mau pulang kenapa masih di sini, dan mengobrol dengan orang lain.” Kennan menatap ke arah Gerald dengan tatapan menghunus tajam.
Justru dari sikap itu, Gerald makin yakin jika Joanna dan sepupunya itu tengah sedikit berkonflik.
“Santai kali Bro. Gue kan bukan orang lain, tapi sepupu lo. Tadi, gue lihat Joanna jalan sendirian, jadi gak ada salahnya buat menyapa teman sendiri.”
Kennan menghela napas kasar. Tidak berniat membalas ucapan Gerald.
“Oh, ya Ken. Kamu, udah ada pendamping buat acara party?” tanya Dasya tiba-tiba, mungkin bermaksud mencairkan suasana, namun malah semakin terkesan awkward bagi Kennan dan Joanna.
Joanna sedikit melirik ke arahnya, ia tidak lupa jika Kennan tadi mengajaknya ke acara itu.
“Belum. Aku, lagi ngajak seseorang yang pantas aku ajak,” desis Kennan sambil menatap ke arah Joanna.
Joanna menelan saliva dengan getir, namun ia berusaha untuk tersenyum.
“Kak Dasya orang yang tepat untuk ke pesta itu!" seru Joanna.
Semua mata tertuju pada Joanna.
“Kak Dasya mau kan, ajak Kennan ke party itu bareng?"
"Lho, emang kamu gak bisa, Jo?" tanya Dasya.
"Iya! Aku gak bisa, soalnya harus jagain Oma. Lagian ... gak mungkin, aku datang ke pesta dengan penampilan aneh kayak gini,” ujar Joanna sarkas sambil tertawa hambar.
Gerald menyaksikan ini, merasa ada hal yang janggal. Namun, ia tidak berkewenangan untuk mengambil alih obrolan dan lebih memilih diam.
“Kamu serius Joanna?” tanya Dasya dengan mata berbinar.
Joanna menyikut lengan Dasya sambil tersenyum. “Ya iyalah, kalian cuople goals sebenarnya, lho! Bakalan seru nanti di sana semua akan bersorak melihat ke uwuan kalian. Have fun ya! Kalau gitu, aku balik dulu. Waktunya perawat Oma untuk pulang, dan gantian jagain beliau. Bye, semua!”
Joanna berlari sekencangnya dengan mata berembun.
Sementara Gerald menatap Kennan dengan tatapan heran.
“Ken, kamu gak niat susul Joanna? Kurasa, kalian harus bicara."
Kennan menggeleng. "Aku harus jagain mama."
Gerald mengangkat kedua bahunya. “Ya udah, jangan aja nanti merengek ke gue, nyesel atas sikapmu ini."
Kennan sontak menoleh tak mengerti. "Maksud lo?"
Gerald diam, dan berlalu meninggalkan keduanya.
"Ken, aku jadi gak enak," ucap Daysa.
"It's oke. Kamu mau pulang kan? kuantar ke parkiran."