Sesuatu yang menggelikan adalah,
Jika seorang sahabat membencimu
Lalu menghasut orang lain
Agar ikut membencimu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Semua tugas makalah yang Joanna telah print, ia masukkan ke dalam ransel. Hari ini, harus segera ia setorkan pada dosen, karena sudah hari terakhir.
‘Semoga dapat nilai memuaskan.’
Kerja Freelance di yayasan milik Rose, ditambah mengurus Oma Elle, membuatnya nyaris tidak memiliki waktu untuk mengerjakan tugas kuliah.
Langkahnya terhenti, saat menatap Bella dan Dasya tengah asyik berbincang, di area kampus.
Keduanya sadar kehadiran Joanna yang hanya empat meter dari jarak mereka duduk, lalu secara spontan memindai tubuh gadis itu dengan tatapan, entah.
“Hai, Jo. Mau lewat ya? lewat aja,” ucap Bella santai.
Joanna tersenyum kotak, ia mengangguk dan melenggak melewati mereka. Dalam hati ia sibuk menenangkan diri, agar tak terlihat canggung di mata kedua gadis itu. Namun Dasya bangkit menahan langkahnya dengan tangan kirinya.
“Sendirian ya? Gak dianter Kennan?”
“Nggak, Kak. Mamanya masuk rumah sakit, jadi dia sibuk jagain.”
“Ya ampun, rumah sakit mana?” Dasya tampak terkejut, membuat Joanna sedikit aneh melihatnya.
“RSCM.”
“Kasihan Tante Rose ....” lirih Dasya dengan riak sedih.
Huff!
Joanna mulai gerah, bukan karena terik matahari. Tapi ia mulai tidak nyaman dengan rentetan kalimat Dasya.
“Trus, kamu mau ke mana?”
“Setor tugas, ke bu Vania,” jawab Joanna, pendek-pendek. Sungguh, ia malas menjawabnya.
“Kalau begitu, lewat perpustakaan dong?” Dasya kembali bertanya.
Joanna mengangguk ragu, entah kenapa perasaannya mulai tak enak.
Dasya memperlihatkan sebuah buku yang tidak terlalu tebal.
“Kebetulan. Aku kemarin pinjam buku Sains, titip simpenin ke perpus, please.”
Hanya masuk ke perpustakaan sebentar, lalu menaruh buku itu, bagi Joanna tidak masalah. Ia pun mengangguk.
“Asik, makasih ya. Sini, aku aja yang masukin ke ranselmu,” ujar Dasya.
Lalu, ia berputar dan berdiri di belakang Joanna. Tanpa disadarinya, Dasya dan Bella saling pandang penuh arti. Gadis berambut panjang itu memasukkan buku Sains yang dimaksud.
“Bukunya, aku simpan di kantong depan ya. Sekali lagi makasih ya, kamu baik. Silakan boleh pergi,” ucap Dasya.
“Bye, Jo! Sampai nanti,” seru Bella, basa basi busuk!
“Bye juga,” Joanna melangkah cepat, menuju bangunan empat tingkat itu.
Tap.
Tap.
Sepanjang jalan, seperti biasa beberapa mahasiswa menyapanya, karena Joanna dikenal asik dan ramah di kampus. Langkahnya kian cepat menaiki anak tangga, hingga sampai di perpustakaan. Gadis yang tengah memakai kemeja over size dan jeans hitam itu, langsung masuk ke perpustakaan dan membuka sleting kantong depan ranselnya. Sesuai ucapan Dasya, Joanna mengambil buku itu, lalu menaruhnya sembarang. Bukan apa-apa, ia sedang buru-buru karena harus mengecek Oma Elle, sebelum kembali melihat Rose di rumah sakit. Setengah berlari, ia pergi ke tujuan utama.
Setelah satu tarikan napas, Joanna mengetuk pintu dosennya. Dan terdengar seseorang mempersilahkannya untuk masuk.
“Kamu, Jo. Silakan duduk,” ucap dosen perempuan bernama Vania.
“Terima kasih Bu. Saya, mau menyerahkan tugas makalah yang tertunda, mohon maaf ya, terlambat.”
“Oh, iya mana?”
Joanna membuka ransel, dan membuka isinya. Betapa terkejutnya, saat makalah miliknya terkena tumpahan tinta spidol, bahkan nyaris menutupi semua permukaan akibat cairan hitam itu.
“Ya, Tuhan. Makalahnya kena tinta.”
Raut wajah dosen wanita itu langsung berubah. “Kamu main-main dan mempermainkanku, Joanna?!” bentaknya.
Joanna menggeleng. Wajahnya mulai pucat. “Tidak, Bu.”
“Lalu, kenapa bisa ceroboh begini? Ini artinya, kamu gak serius dengan tugas yang kuberikan.”
“Maaf Bu, saya serius kok. Bahkan sengaja, tadi mendadak print-nya, biar rapi. Lagian, saya gak bawa tinta spidol ke mana-mana, kenapa bisa tiba-tiba ada tinta ya?” Joanna tampak bingung.
Kini lututnya terasa lemas. Ia sudah susah payah membuat penelitian sendirian di tengah kesibukan, tapi malah zonk.
“Terserah apa pun alasanmu. Yang jelas, ini terakhir kamu setor tugas dan hasilnya malah mengecewakanku, jadi jangan harap mendapat nilai lebih. Silakan keluar dari ruangan ini,” tegas dosen itu tanpa menatap wajah Joanna lagi.
Gadis itu berjalan gontai keluar ruangan. Ia bingung, kenapa tinta sebanyak itu bisa nyasar dan tumpah di makalah miliknya, bahkan isi ransel itu terkena tumpahan sisa-sisa tinta.
Matanya membulat, saat mengingat kejadian yang sebelumnya.
‘Apa mungkin, pelakunya adalah Dasya?’
Langkahnya kembali cepat menemui Bella, karena gadis itu belakangan dekat dengan Daysa.
Di ruang kelas, tampak Bella sudah duduk rapi. Joanna mendekat tanpa ragu.
“Bell, mana kak Dasya?”
Belle berjengit. “Ampun Jo, jangan kenceng-kenceng napa. Bikin aku kaget. Ngapain tanya dia?”
“Jawab aja!” tegas Joanna.
Bella mendesah kasar.
“Joanna, dia kan udah gak kuliah lagi. Tadi ke sini karena ada urusan sama Dekan kampus, lalu nyempetin waktu buat ketemu sama aku, gitu doang,” terang Bella.
“Apa tadi, dia lagi pegang botol tinta spidol?” tanya Joanna.
Bella menggeleng samar, entah ia jujur atau tidak. Yang jelas, Joanna dibuat bingung karenanya.
‘’Hati-hati, Jo. Kamu gak boleh sembarangan menuduh tanpa bukti!” desis Bella.
Tak ingin memperkeruh keadaan, Joanna memilih duduk di kursi miliknya. Sesaat, ia menatap punggung Bella. Perasaannya benar-benar campur aduk
****
Untung saja, Joanna tidak membawa motornya ke kampus. Seharian ia dibuat tidak konsen karena kehilangan nilai.
‘Gue gak cantik, gak menarik. Minimal, bisa kuliah dengan nilai baik. Tapi kejadian tadi, bikin psikisku anjlok. Gue yakin, ada yang jahil,' batinnya bersenandika.
Ia merogoh ponsel dan menelepon Kennan.
“Halo, Pacar?” tanya Kennan di seberang telepon. Joanna tersenyum dibuatnya.
“Kamu lagi di mana?”
“Di rumah habis mandi. Mau OTW ke rumah sakit, mau ikut?” Kennan balik bertanya.
“Mau.”
“Oke, share lokasi ya, aku jemput sekarang.”
Sambungan terputus, Joanna pun menarik napas lega. Ia bersyukur memiliki Kennan dalam hidupnya.
****
Di tempat lain, Dasya sibuk cekikikkan membalas chat dari bella.
[Mukanya cengo abis! Wkwkwk] ucap Dasya.
[Ha ha ha, kasian ya]
[Iya, dan aku yakin. Joanna gak akan punya nilai.]
Bella menghela napas panjang setelah chat-an dengan Dasya, ia seperti orang yang munafik. Apa yang dilakukannya, merasa ini berlawanan dengan hatinya. Awalnya, ia menikmati kejahilan-kejahilan Joanna, namun lambat laun seolah dikejar rasa bersalah.
'Aku ... kayaknya gak bisa begini terus,' batinnya.