Anggrek itu Berubah Layu

1166 Words
Gilgo gin yeohaengeul kkeutnae ijen doraga neoraneun jibeuro jigeum dashi, Way back home /Way Back Home__ By Shaun/ . Alunan lagu terdengar di telinga. Mood Kennan membaik setelah berbincang dengan Moreno. ‘Ah, andai aku punya ayah sekeren Mister Moreno.’ Ia bangkit setelah hampir setengah jam merebahkan tubuh, dan memilih menyalakan laptop. Dalam perbincangan itu, Moreno menawarkan kerja samanya untuk mendesain bangunan untuk property baru milik Moreno. Entah kenapa, bahkan Kennan bukan arsitek. Hanya menunjukkan hasil karyanya, lelaki paruh baya itu langsung menawarkan beberapa kerjasama. Mendesain property, dan menanam saham di perusahaan Rose yang akan kelak Kennan jalankan. Itu salah satu kerja samanya dengan lelaki paruh baya itu. Baginya, ia sudah cukup berleha-leha, dan bersenang-senang saat masih kuliah. Waktunya serius dan melakukan hal bermutu, apalagi ada Joanna yang harus ia prioritaskan. ‘Bahagiakan Joanna, titik.’ Ketukan pintu, menghentikan ketikannya. Seseorang masuk dan berdehem pelan. Mendengarnya, membuat Kennan mendesah kasar karena langsung tahu, siapa orangnya. “Malam, Ken. Sibuk?” tanya Hans. Ia langsung mendudukkan dirinya di sofa kamar Kennan. “Yeah, seperti yang Papa lihat. Tumben ingat pulang,” ucapnya sarkas. “Jangan mulai Ken, Papa ingin berdamai dan mengobrol santai denganmu.” Kennan tersenyum sinis seraya mengangkat bahu dramatis. “Oke, mari kita dengarkan,” cetus Kennan. Ia memutar kursi ergonomisnya, menghadap pada lelaki yang sangat ia benci. “Tidak sengaja, Papa dengar dari security rumah ini. Kalau tadi ada tamu datang.” Kennan mengangguk samar. “Apa benar, untuk bertemu denganmu?” tanya Hans kemudian. “Iya, Mister Moreno menawarkan kerja sama yang menggiurkan. Papa tahu kan, aku bisa saja kerja di perusahaan Mama dengan mendombleng nama kalian, tapi aku ingin melakukannya sendiri dengan kemampuanku.” Hans menarik napas panjang. “Semoga kamu tidak lupa keinginan Papa, waktu itu ken,” tegasnya. Kennan berakting seolah tengah berpikir. “Umm, yang mana ya? Soal ke Perancis?” “Ya.” Kennan terkekeh pelan, ia memutar ke kanan dan kiri kursi ergonomisnya. “Kenapa aku harus menuruti keinginan Papa, hm?” “Bukankah kamu sudah berjanji Ken?” Hans balik bertanya, tatapannya tajam menukik, seolah ada riak takut di sana, jika saja Kennan tiba-tiba menolak keinginannya. “Kapan? Ada buktinya? Sudahlah, Pa. Biarkan anakmu ini, melakukan hal yang kuinginkan, selama itu gak merugikan dan baik untukku. Soal menghormati dan mentaatimu sebagai anak pada orang tua, aku bisa melakukannya dengan hal lain, bukan?” Diam-diam, hans mengepalkan tangan kuat-kuat, rahangnya mengeras. “Aku punya banyak rencana di sini, termasuk pekerjaanku dan melanjutkan S2, tanpa melewatkan tugas menjadi anak yang baik untuk kalian. Lagi pula, jika aku tetap pergi, bagaimana dengan Mama? Beliau selalu sendirian dalam kondisi lumpuh, sementara Papa jarang pulang karena lebih memilih tinggal dengan Laura.” Hans berdecak kesal. “Jangan suka membicarakan hal yang sama berulang-ulang.” “Kenapa? Muak ya? Sama dong, aku juga muak sama Papa dan juga cewek jallang itu.” “Ken!!” bantak Hans. “Ssst! Papa sendiri yang bilang, kita harus mengobrol santai, jadi tenang aja ya,” ucap Kennan sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya. Kennan tidak bodoh, ia yakin. Sikap kekeh Hans yang memaksanya pergi ke Perancis, pasti hendak melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Hans bangkit dan tatapannya lurus ke arah Kennan. “Sayang sekali, kamu selalu berprasangka buruk pada Papa. Padahal, semua demi kebaikanmu. Ya sudahlah, obrolan ini tidak akan berjalan mulus jika terus dipaksakan.” Kennan bergeming, tidak berniat membalas kalimat ayahnya. Lelaki paruh baya itu keluar dengan raut wajah merah padam. Kennan kembali memutar kursi, dan menghadap layar laptop. Ia menghela napas, untuk berusaha kembali fokus. ‘Ganggu aja!’ batinnya kesal. **** Menjelang dini hari, larut dalam khayal berhiaskan mahkota mimpi. Merasakan aroma luka, berbalut rindu. Pintu kamar digedor sangat kencang, membuyarkan tidur lelap. “Den Kennan! Den!!” teriak seorang wanita. “Den!! Buka pintunya!!” Kennan terperanjat, ia menyingkap selimut dan melangkah walau secara bersamaan - sibuk mengumpulkan kesadaran yang secara paksa terguncang. “Bi Mui? Ada apa teriak-teriak?” tanya Kennan dengan suara parau. Ia memasang muka bantalnya. Jam menunjukkan pukul empat dini hari. “Nyonya ... nyonya .....” “Bibi yang tenang, ucapkan pelan-pelan. Ada apa dengan mama?” Bi Mui tampak menghela napas. “Nyonya Rose pingsan di kamar. Bibi tidak tahu sejak kapan, hanya saja tadi tidak sengaja melewati kamar beliau yang terbuka saat bibi mau mengambil baju-baju kotor,” terangnya dengan suara bergetar. Mata Kennan terbelalak. Ia berlari secepatnya, dan mendapati sang ibu tergeletak tak berdaya di lantai. “Mama!” pekiknya, ia menepuk-nepuk halus pipi Rose. Namun wanita itu masih bergeming. Kennan melihat, ada beberapa luka di bagian wajah dan lengan, seperti habis dipukul dengan benda tumpul. Rahangnya mengeras. Ia yakin, ini pasti ulah Hans yang kesal karena keinginannya tidak terpenuhi, mengenai obrolan mereka tadi malam. ‘Aku yang gak mau, kenapa mama yang jadi sasaran?’ batinnya bergemuruh. Ambulans datang, dan segera membawa Rose ke rumah sakit. **** Kennan meraup wajahnya dengan kasar. Emosinya menggunung, rasanya ia ingin sekali menonjok sebanyak-banyaknya wajah Hans. ‘Brengsekk! Orang tua toxic, otoriter!!’ umpatnya dalam hati. Ia bersumpah tidak akan tinggal diam, setelah apa yang ayahnya lakukan pada sang ibu. Setelah seharian menjaga Rose di rumah sakit, giliran Bi Mui yang menjaganya. “Tolong jaga mama dulu ya, Bi. Aku harus mandi dan berganti pakaian, habis itu ke sini lagi kok, dan tolong banget, jangan terima telepon dari papa. Ingat!” titah Kennan. “Baik, Den.” Hari itu sudah sore, ia bahkan lupa mengabari Joanna untuk membatalkan acara makan malam. Terlalu habis waktunya untuk mengurus Rose, ditambah terkurasnya otak, pikiran dan emosi pada makhluk yang bernama Hans. ‘Harusnya kamu dan si Laura musnah dari muka bumi ini!’ Kennan baru menginjakkan kaki di pelataran rumahnya, matanya tanpa sadar mengarah ke arah taman kecil di sudut depan rumah. Kennan melangkah, dan tatapannya tidak lepas pada tanaman anggrek cattleya putih. Namun, matanya membulat setelah melihat secara seksama jika tanaman anggrek itu mulai layu. “Ini jenis bunga epifit, yang hidupnya tergantung dan menempel pada pohon. Tapi bukan parasit, jadi gak merugikan si pohon, hanya saja ia butuh menempel untuk bisa bertahan hidup, menikmati sinar matahari yang cukup untuk terus berkembang. Perawatannya pun harus khusus. Jika tidak, maka akan mudah layu. Bunga ini ... mirip mama, Ken,” ucap Rose saat itu. Jujur saja, malam itu ia tidak terlalu tertarik dengan rentetan kalimat yang dilontarkan Rose. Namun entah kenapa, saat menatap bunga yang mulai layu itu, perasaannya mulai tidak enak. Kennan baru sadar, jika belakangan Rose sering berada di kamar, wajahnya pucat dan selalu tampak lemas. Kennan juga sudah jarang melihat sang ibu merawat anggrek kesayangannya. ‘Aku ... benar-benar luput memperhatikan mama,' batinnya. Kakinya mulai melangkah cepat, untuk segera membersihkan diri. Ia pikir, sudah saatnya memikirkan dan memperhatikan Rose. Jika bukan dia, siapa lagi? Guyuran air shower membasahi dan mendinginkan kepalanya. Pikirannya benar-benar bercabang. ‘Ken, baik buruknya Nyonya, beliau tetap ibumu. Kamu harus tetap baik dan taat padanya,” ucap Joanna suatu hari. Tiba-tiba saja, nasihat itu terngiang di kepala. Terlebih, selama ini sikapnya sebagai seorang anak, sangat tidak patut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD