Dua Tawaran Penting

1545 Words
Cuaca sore itu cukup cerah, membiaskan rona jingga di langit. Joanna dan dua bromance, tengah asyik makan mie ramyeon langganann dekat kampus. Setelah penculikann Joanna, polisi belum juga berhasil menemukan siapa perempuan yang menyuruh Mark dan Sean, untuk menculik gadis itu. “Alasannya gak logis banget, masa katanya karena mereka terkena hipnotis cewek asing itu,” ujar Joanna pada Jimmy, mulutnya penuh dengan makanan. “Trus polisi percaya?” tanya Jimmy. Joanna mengendikkan bahu. “Mau gimana lagi, gak ada bukti kuat buat mematahkan alibi mereka. Tapi, keduanya akan ditahan. Sukurin!” “Serem juga ya, gimana kalau wanita bertopeng itu, kembali gangguin lo, Jo?” tanya Jimmy masih penasaran. Nyali Joanna menciut seketika, bukan apa-apa tatapan wanita di balik topeng itu, seperti psikopat yang sering ia lihat di film-film. Bulu kuduk Joanna merinding. “It’s oke, kamu berada dalam pengawasan polisi, jangan khawatir,” ucap Kennan menenangkan. Obrolan terus berlanjut sampai merembet ke rencana acara wisuda Kennan dan Jimmy, setelah beberapa waktu lalu, keduanya menjalani sidang skripsi. Semenjak mengetahui mana yang benar, Joanna tidak lagi dekat dengan Bella, ia banyak menghabiskan waktu dengan Kennan dan Jimmy. Kennan mengulurkan jemarinya ke punggung tangan Joanna. “Jo, aku undang kamu ke acara wisuda rabu depan, sebagai pendampingku. Datang ya.” Nyess! Aseek, kayak ada es-esnya gitu di dadda Joanna. Tapi malu lah, jika dia tiba-tiba meloncat-loncat seperti anak kecil. Terlebih, Rose sudah mengajarkannya bagaimana bersikap elegan dan anggun, walau ... yang sampai ke otaknya hanya lima puluh persen. Hfff. “Serius, kamu undang aku? Gak malu?” “Lha, kenapa harus malu? Malah akan aku pamerin ke orang-orang, kalau Joanna adalah pacarku.” Pipi Joanna bersemu karenanya. Kennan bukan tipe lelaki yang mengumbar keromantisan, namun setiap kata manis yang keluar dari bibirnnya, cukup membuat hati gadis itu melayang. Jimmy yang duduk berhadapan dengan mereka seketika mencebik. “Hilih! Dasar gak tau tempat. Gak kasihan apa sama yang lagi jomlo!” sungut Jimmy. Dua pasang kekasih itu hanya bisa tertawa kecil. “Lagian tumben raja playboy bisa jomlo. Biasanya putus, besoknya udah punya,” celetuk Kennan. Jimmy memajukan bibir sambil menghela napas berat. “Itu karena gue masih agak parno, habis dilabrak mantan-mantan yang ngajak balikan.” “Oh ya? Mereka kok gitu, kayak gak ada cowok lain aja sampai rebutan segala.kirain karena lo selingkuh, makanya dilabrak.” Glek! Jimmy menelan saliva dengan ucapan Kennan, karena sebenarnya ucapan sahabatnya itu memang benar. Namun gengsi untuk jujur, ditambah Joanna yang sibuk terkikik geli membuatnya semakin terpojok. “Ah, sudahlah. Kalian gak asik!” gerutunya. **** Jakarta, dengan setumpuk mimpi dan ilusi semu, menghamparkan hiruk pikuk yang bergumul setiap harinya. Mobil Kennan berhenti, tepat di depan gerbang rumah Joanna. Sebelum membuka pintu, gadis itu menoleh. Mata hazelnya meredup seketika. “Ken." "Hm?" "Aku ... gak punya apa-apa lho, buat hadiah kelulusanmu, tapi kamu tau kalau aku tulus menyayangimu.” “Hei, aku kan gak pernah__” “Ssst ... aku belum selesai bicara.” Kennan tersenyum, ia mengangguk dan memilih mendengarkan sambil menikmati pemandangan indah di tiap sisi wajah Joanna. “Aku tau, kamu paham. Tapi, tetap aja rasanya pengen kasih hadiah yang berkesan. Jadi, kalau kamu gak sibuk, besok malam datang ke rumah ya. Aku undang makan malam, ada Leon, Cilla, dan Anne juga. Kangen mereka kan?” Kennan terkekeh dan kembali mengangguk. “Iya, sangat-sangat kangen. Entah kapan bisa ngamen bareng lagi.” “Ya, mereka juga kangen sama kamu. Gimana, bisa datang gak?” “Bisa. Aku pasti akan datang, seneng deh!" Hati Kennan bersorak. Untuk sekian detik mereka saling beradu tatap. “Makasih, Ken. Aku masuk rumah dulu ya, sampai jumpa besok malam.” “Iya, pacar, salam buat Oma. Bye!” Joanna keluar dan melambaikan tangan, lalu ia memilih berdiri hingga mobil Kennan menghilang dari pandangan. **** Masih di perjalanan, ponsel Kennan berdering. “Halo, Ma?” “Pulangnya masih lama gak, Nak?” tanya Rose dari seberang sana. “Sekitar tiga menit lagi sampai.” “Ah, syukurlah. Ada tamu yang ingin bertemu denganmu.” “Siapa?” Alis Kennan bertaut. “Nanti kamu tau.” Setelah obrolan itu, Kennan menginjak pedal gas. Rasa penasaran menyeruak, siapa tamunya. Hari mulai gelap, dan pemuda itu dapat menatap mobil Rolls Royce Phantom terparkir anggun. Seolah baru melihat, bola matanya tak lepas dari mobil mewah berwarna silver mengkilat itu. Bukk!! Ia menabrak seseorang, namun untung saja tidak terlalu keras. Hingga mata keduanya beradu. “Maaf Pak,” ujar Kennan. Tampak tawa renyah terdengar di telinga, Kennan memindai tubuh tinggi berparas bule, memakai jas formal hitam tegak berdiri di hadapannya. Kedua pasang mata lelaki matang itu, tampak tajam dan teduh bersamaan. “Suka mobilku?” tanya lelaki bersuara bariton. Ditanya seperti itu, membuatnya malu setengah mati. Ia merasa sangat ‘norak’ menatap tanpa kedip mobil mewah itu. Sejujurnya, baru pertama ia melihat kendaraan itu secara langsung, biasanya hanya lewat internet. Tangannya terulur pada Kennan. “Hai, anak muda. Mari berkenalan.” Walau dilanda bingung, Kennan membalas uluran tangan itu. “Saya Moreno. Kamu siapa?” ‘Eh, eh. Siapa tadi? Moreno? Kalau gak salah, dia pemilik universitas tempatku kuliah dan juga pemilik beberapa perusahaan dan property. Benar kan? Dia ... pernah dibicarakan mama padaku,' Kennan sibuk bermonolog dalam dirinya. “Sa-saya, Kennan.” Tawa itu kembali terdengar, dan Kennan merasakan hal yang berbeda di hatinya. Sangat kontras jika ia berhadapan dengan sang ayah, Hans. “Jangan gugup, saya gak galak kok.” Seseorang muncul dari dalam rumah. “Ken, kalian sudah berkenalan? Ayo, bawa masuk tamunya. Beliau sudah cukup lama menunggumu,” ujar Rose di sela senyum. Barulah Kennan paham, akan kehadiran lelaki paruh baya itu adalah tamu yang Rose maksud. Ketiganya masuk ke ruang tamu, dan dihidangkan minuman dan aneka makanan. **** Setelah berbasa basi ringan. Rose meninggalkan Kennan hanya berbincang berdua dengan Moreno. Pemuda itu sebenarnya diam-diam sibuk menutupi rasa gugup. Bukan hanya karena Moreno adalah bos dari beberapa perusahaan dan yayasan pendidikan, tapi ... tatapannya seolah tidak asing entah kenapa. “Saya dengar, kamu sudah lulus dengan nilai Summa Cumlaude, selamat ya. Itu mengagumkan,” ucap Moreno. Kennan mengangguk hormat. “Terima kasih Mister.” “Itu artinya, kamu akan berpidato?” “Iya, mau tidak mau. Sepertinya, itu sudah kewajiban bagi yang memiliki nilai sepertiku,” jawab Kennan polos. Lelaki paruh baya itu tertawa kecil, Kennan bisa menilai jika lelaki di hadapannya orang yang hangat. “Baguslah. Saya pasti datang dan sangat menantikannya. Oya, setelah kuliah apa rencanamu?” “Itu ....” Wajah Joanna tiba-tiba muncul di pelupuk mata. “Akan bekerja keras demi masa depan. Saya, punya rencana untuk diri saya sendiri.” “Hmm, contohnya?” Kennan mendongakkan kepala, memberanikan diri menatap kedua mata biru milik lelaki itu. “Ingin menikahi seseorang, membawanya bersamaku, dan membahagiakannya.” Mata Moreno membulat. “Wah, apa itu tidak terburu-buru?” “Why not. Saya sudah cukup dewasa, dan bertanggung jawab pada diri sendiri.” Moreno tampak mengangguk-anggukkan kepala, entah kagum atau apa. “Benar kata mamamu, kalau dirimu lebih dewasa dari usia.” Kennan bergeming, hanya mengangguk samar. “Well. Mamamu pernah cerita sedikit tentangku?” “Itu ... iya, hanya sedikit.” Moreno menghela napas panjang. “Mulai hari ini, sepertinya kita akan sering bertemu. Karena, kedatangan saya kemari karena dua hal.” Lelaki paruh baya itu menjeda ucapannya. “Pertama, ingin menjalin kerja sama. Kedua menjaga seseorang.” Kening Kennan berkerut, mencoba mencerna ucapan lelaki itu. “Itu pun, jika kamu tidak pergi ke Perancis. Karena kudengar, ayahmu akan mengirimmu ke sana untuk melanjutkan S2. Betul?” “Oh, itu ... belum saya putuskan Mister. Karena, saya memang tidak ingin ke sana.” “Kamu bisa menolaknya kan? Bekerja sama denganku, bebas lho. Masih bisa bekerja sekaligus menjalani S2 di sini,” cetus Moreno. Kennan sedikit menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Tawaran lelaki berkarisma itu sangat menggiurkan. “Lagi pula, bukankah tadi kamu bilang ingin menikahi seseorang? Artinya, secepatnya harus bekerja. Namun jika kamu memilih ke Perancis, artinya kamu dan kekasihmu dituntut sabar, karena akan menjalani long distance relationship atau terpaksa putus hubungan, itu sebuah kenyataan walau pahit,” imbuh Moreno. Deg! Jangankan putus, membayangkan LDR saja, sudah membuat dadda Kennan terasa sesak. “Sebenarnya, saya sudah menolak permintaan papaku, Mister. Tapi beliau kekeh mengharuskanku ke Perancis.” Moreno menggelengkan kepala. “Papamu otoriter, tidak berubah dari dulu.” Mendengar itu, Kennan tercenung. Ia bisa menilai jika Moreno, sudah lama mengenal Hans. “Saya tidak bisa membantu banyak. Karena, kamu laki-laki jadi berusahalah sendiri. Yakinkan papamu, agar tidak mengharuskanmu pergi ke luar negeri. Bisa?” Kennan menelan saliva dengan susah payah. “Saya akan coba Mister.” “Bagus.” Moreno meraih kopi latte yang mulai dingin, dan menyeruputnya sedikit. Diam-diam, Kennan menelisik wajah lelaki paruh baya itu. Untuk kesekian kali, ia merasa mengenalnya. “Oya. Soal yang kedua, tentang menjaga seseorang. Siapa yang Anda maksud?” tanya Kennan, hal itu cukup membuatnya penasaran. Moreno tersenyum penuh arti. “Akan saya katakan kalau kamu tidak jadi pergi ke Perancis, namun jika akhirnya pergi ke sana. Selamanya tidak akan saya katakan, karena otomatis gugur,” cetus Moreno dengan penuh ketegasan. Sosok lelaki paruh baya di hadapan Kennan, membuatnya terpana. ‘Mama berhutang penjelasan padaku. Bagaimana mungkin, mama dan papa lama mengenal sosok Moreno, tapi aku malah baru mengetahuinya. Gak adil,' batin Kennan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD