Mr. Misterius

1178 Words
Joanna menarik napas lega. Apalagi kata dokter, operasinya berjalan lancar. “Syukurlah. Makasih banyak, Ken,” ucap Joanna. Namun, ia tiba-tiba teringat sesuatu lalu menepuk dahinya. “Haish! Aku kok lupa ya.” “Hm?” Kennan mengangkat dagunya. “Dari mana biaya operasinya? Setauku, itu ditanggung pasien.” Mata Kennan meredup, entah kenapa ia begitu enggan membahas ini. Takut saja, jika orang yang membantu biaya operasi Oma Elle adalah pengagum rahasia Joanna lalu gadis itu tersentuh dan balik menyukai lelaki itu. “Hallo, Mr. Ken. Are you there?” Joanna mengibas-ngibas wajah lelaki itu. “I-iya, aku di sini.” “Tapi pikiranmu nggak. Lagi mikirin apa?” “Gak mikirin apa-apa. Oya, tadi kamu nanya biaya operasi ya?” “Iya, Kennan Alister Edberth. Jadi, jawablah,” ucap Joanna gemas. Kennan terkekeh pelan. “Itu ... sudah ada yang melunasinya berikut biaya perawatan sampai Oma bisa pulang dari rumah sakit.” “Siapa?” Kennan mengangkat kedua bahunya, lalu membuka mulut hendak menjawab, tapi .... Grep!! Joanna meremat kemeja Kennan di bagian dadda, dan mencoba ditariknya ke atas. Matanya melotot karena emosi. “Jo?” Kennan terkejut, namun tidak berniat melepas cengkraman gadis itu. “Sejak kapan, lo jadi tukang bohong?!” bentak Joanna. Kennan paham sifat keras gadis itu, dan bukan ide yang baik jika mereka tetap berdebat di tempat yang salah. “Ini rumah sakit, gak boleh berisik. Kita ke taman yuk, bicara di sana,” bujuk Kennan. Joanna bergeming, tangannya masih meremat kain baju pemuda itu. Tangan Kennan terulur menggenggam kedua pergelangan tangan halus milik Joanna. “Ayo, Pacar. Kumohon ....” Joanna melunak, ia melepas cengkeraman itu dan mendahului Kennan melangkah menuju taman rumah sakit. **** “Apa? Kamu nuduh aku yang membiayai operasi Oma?” tanya Kennan setengah teriak. “Aku yakin sih, begitu.” Kennan mengusap wajahnya. “Bukan, Sayang. Bisa aja, aku minta uang ke mama, pasti beliau ngasih. Tapi gak mungkin, tau kenapa? Karena aku masih kuliah, belum kerja, bukan gayaku dikit-dikit minta ortu. Jadi itu fix, bukan aku. Walau, di hati ini pengen bantu kamu lebih,” terang Kennan. Joanna menundukkan kepala, cukup malu untuk kembali menatap netra elang Kennan, karena menuduh kekasihnya yang membiayai. “Maaf, Ken. Gak seharusnya aku ge-er dan nuduh kamu. Habisnya, yang kenal dan dekat sama aku cuma kamu.” “Nggak apa-apa.” Kennan mendudukkan dirinya di kursi, diikuti Joanna di sampingnya. Manik matanya, menatap wajah Joanna. “Jo. Aku malah takut, kalau yang membiayai semua itu, adalah orang yang diam-diam naksir sama kamu.” Joanna mengerutkan dahi. “Hah? Pemikiran dari mana itu!” Kennan memajukan bibirnya. “Ini jadi unek-unekku selama ini lho. Bukan sekali dua kali, kamu dibantu seseorang yang misterius. Aku yakin, dia orang yang sama.” “Misalnya benar. Emangnya ada ya, cowok yang diem-diem suka sama cewek, suka diem-diem bantu? Emang dia gak rugi apa?” Kennan merapatkan bibirnya lalu menyentil kening Joanna. “Ah, cewek mana paham. Ya ada alah pasti, cowok kayak gitu.” “Biar apa?” “Mungkin biar terlihat keren, sehingga cewek jadi takluk mau sama dia.” Joanna tampak menarik napas panjang. “Kenapa sih, cowok selalu berpikiran kalau cewek bisa dengan mudah luluh hanya karena dikasih hal-hal kayak gitu?” “Tapi jujur deh, kamu suka kan dikasih perhatian gini?” Kennan balik bertanya, ia ingin tahu apa yang ada di pikiran Joanna. Joanna menggeleng kuat. “Nggaklah, aku benci punya hutang budi.” Kennan tersenyum tipis. Walau tetap saja, jawaban itu tidak membuat Kennan lega. Jika terus menerus diberi perhatian, perempuan mana pun akan luluh. Ia memijat pangkal hidungnya, merasa pusing memikirkannya. Ditambah sejak pagi, ia harus sibuk menata hati karena terbakar cemburu oleh sikap Gerald. Kennan bangkit dari kursi. “Mau ke mana Ken?” “Pulang dulu.” “Pulang? Bahkan kita belum selesai bicara.” Joanna mengimbangi langkah cepat pemuda itu. “Udah selesai, emang mau ngomong apa lagi? Besok aku ke sini lagi kok, kabari aja perkembangan Oma ya. Sampai nanti, bye!” Kennan semakin cepat melangkah, tanpa menatap kembali wajah Joanna. Padahal, tadinya gadis itu ingin mengajaknya makan bersama, tapi malah tiba-tiba pergi. ‘Moga aja, aku gak salah ngomong yang bikin Kennan tersinggung.’ Gadis itu pun, memang merasakan bahwa ada seseorang yang diam-diam membantu. ‘Bahkan makanan yang dikasih buat Oma, itu khusus untuk VIP. Pasti ada yang membantu,' batin Joanna terus bersenandika. **** Mobil Kennan sampai diparkiran halaman rumahnya. Ia melenggang masuk, dan melewati ruang tengah. Rose tidak menyadari kedatangan Kennan karena ia sibuk menerima telepon dari seseorang. “Tentu saja bisa Mister, saya dan tim akan melakukan yang terbaik. Kalau begitu, sampai ketemu nanti.” Rose menutup sambungan telepon dan memutar tubuhnya. “Ken, kamu sudah pulang?” tanya Rose, ia memutar kursi rodanya untuk mendekat ke arah Kennan. “Iya, Ma.” Kennan duduk di sofa dan menaruh kunci mobil dan ponsel di meja. Rose memanggil Bi Mui untuk memberikan minum dan beberapa cemilan untuk anaknya. “Mama habis menelepon siapa?” “Oh, itu Mr. Moreno. Rekan bisnis mama sekaligus pemilik universitas tempat kamu kuliah.” Mata Kennan membola. “Serius Ma?” “Iya.” Kennan langsung teringat kejadian kemarin, saat ia dan Jimmy ke kampus malam-malam dan mendapati ada dua mobil mewah terparkir. Lalu, di universitas itu, semua lampu menyala karena ada seorang tamu kehormatan datang. Begitulah yang diucapkan seorang lelaki padanya malam itu. ‘Apakah tamu kehormatan yang dimaksud lelaki itu, adalah itu Mr. Moreno?’ tanyanya dalam hati. “Tapi, Ssst ....” Rose menempelkan telunjuk di bibirnya. “Jangan ada yang tau siapa pun ya Ken! Mr. Moreno, tidak ingin ada seorang pun yang tahu, kalau dia pemilik universitas itu,” imbuh Rose. “Aneh, kenapa gak ingin diketahui orang? Apa dia buronan?” Rose tertawa kecil. “Mr. Moreno pria baik-baik, Ken. Hanya saja ... dia punya masa lalu yang kurang menyenangkan. Dengar-dengar sih, saat ini lagi sibuk memperbaiki kesalahannya sedikit demi sedikit.” “Ooww, pria yang menarik dan misterius.” “Hmm, begitulah. Mama, cuma cerita hal ini ke kamu ya, jangan sampai orang lain tau.” “Oke, Ma. Aku bisa jaga rahasia ini.” Rose mengangguk lega. “Oya, bagaimana kondisi Oma Elle?” tanya wanita itu kemudian. Kennan mengangguk samar. “Lumayan. Doakan ya Ma, moga beliau makin baik pasca operasi.” “Pasti. Kasihan Joanna, dia gak punya siapa-siapa selain Omanya, mama lega operasinya berhasil.” Kemudian, ia menyodorkan ponsel, ada sebuah nominal yang tidak sedikit di sana. “Mama akan mengirimkan sejumlah uang buat dia. Gak banyak, tapi lumayan buat biaya pengobatan Oma nya.” Mendengar itu, Kennan sontak menahan tangan Rose. “Jangan Ma!” Rose berjengit karena terkejut. “Kenapa?” “Pokoknya jangan. Suasana hati Joanna lagi gak baik, ia kesal sama orang yang diam-diam bantu dia, kalau Mama tiba-tiba transfer, makin runyamlah urusan.” Wanita paruh baya itu kini tergelak. “Kalian anak yang manis. Baiklah, mama akan bantu Joanna lain kali. Tapi, mendengar dia ada yang bantu, lega deh dengernya. Gadis itu memang anak yang baik.” Kennan mengangguk setuju.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD