Kita Harus Bicara

1120 Words
Mereka menyusuri jalan yang agak sempit, hanya untuk satu orang. Jujur saja, itu membuat Joanna tidak nyaman. Pikiran buruk menerawang, mungkin saja Kennan mengajaknya ke tempat yang sempit nan sepi, ke semak-semak lalu melakukan hal yang tidak-tidak seperti yang hendak dilakukan lelaki itu pada Bella. “Tidaaakk!!!” teriak Joanna dalam keheningan. Langkah mereka terhenti seketika. “Ada apa Jo. Kamu mengagetkanku,” ujar Kennan. Joanna menelan saliva dengan kasar, ia memutar tubuhnya perlahan ke arah Kennan. “Ken ....” “Hm?” “L-lo ... nganggap gue cewek apa bukan?” Kennan mengerutkan dahi. “Maksudmu?” “Ya ... biarpun gue tomboi, tetap cewek kan?” Tawa Kennan meledak. “Ya iya. Kamu cewek yang manis yang pernah kulihat.” Blush! Pipi Joanna seketika memerah. ‘Ah, tidak-tidak! Ucapan itu hanya rayuan gombal, pasti dia lagi bikin perangkap buatku!’ batin Joanna berhati-hati. “Kita balik lagi yuk! Pasti Gerald dan Bella nungguin.” Kennan menahan kedua bahunya. “Kita udah mau sampai, buat apa balik lagi, ayo!” Ia memutar bahu itu dan sedikit mendorongnya, membuat Joanna tidak berkutik dan terpaksa melangkah. Akhirnya, mereka sampai di sebuah kebun stroberi yang dikelilingi pagar rapat yang rapi. Kebun itu tampak teduh, memakai sebuah atap khusus berwarna hitam yang menerawang. Kennan meminta Joanna duduk di kursi yang terbuat dari bambu. Sementara manik mata Joanna masih mengawasi pergerakan Kennan, takut-takut jika lelaki itu menerkamnya secara mendadak. Bahkan, diam-diam ia merogoh pisau cutter yang selalu dibawa ke mana-mana di ranselnya untuk berjaga. Kennan duduk di sampingnya dan mengeluarkan dua botol minuman teh lemon yang masih dingin. “Ambillah! Aku sempat mengambil minuman ini tadi.” Joanna yang sedari tadi kehausan, langsung menyambar salah satu botol dan meminumnya hingga tandas. “Ha-haus banget ya?” tanya Kennan terpukau atau lebih tepatnya terkejut. Glek! ‘Ampun. Dia lihat caraku minum yang slebor! Kenapa sih, gue gak bisa anggun sedikiiit aja,' batin Joanna. “Ngapain juga lo merhatiin gitu!” ucap Joanna menahan malu. Kennan terkekeh. “Nggak apa-apa, lucu aja.” Sekali lagi, wajah Joanna bersemu. “Wow, ini awesome ken! Stroberinya banyak sekali!” pekik Joanna takjub, seolah mengalihkan pembicaraan. “Kamu mau stroberi itu?” “Mau!” seru Joanna. Kennan mengangguk dan menggiring gadis itu mendekati buah kecil berwarna merah. Netra hazel Joanna, tak lepas dari buah ranum yang memiliki rasa manis campur kecut itu. Hingga tangannya terulur pada satu buah tak jauh darinya. Tapi, ada sentuhan hangat, menyentuh tangan Joanna. Bahkan jemarinya dicengkeram cukup kuat, membuat Joanna menatap ke arah Kennan. Hingga kedua pasang mata itu beradu tatap. “Ken, kenapa ....” “Jangan dulu dipetik Joanna. Caramu salah.” Mendengar itu, Joanna berdehem mencoba menahan rasa malu dan ge-ernya. “Sini, kuajari,” ucap Kennan. “Ribet amat sih! Tinggal petik doang, beres!” ujar Joanna protes. Pemuda itu hanya tersenyum, mencoba sabar. “Ada tekniknya Nona. Jika sembarangan memetik, kita akan merusak tanaman ini,” terang Kennan. “Sini, mana tanganmu?” ucapnya kemudian. Joanna menjulurkan jemari lentiknya. Sementara Kennan, menyambut dan memegang tangan gadis itu dengan halus. Entah kenapa, sebuah sengatan asing terasa menjalar ke aliran darahnya. Tangan kekar itu membimbing dengan telaten. “Caranya, capit tangkai stroberi ini, dengan telunjuk dan jari tengah. Lalu, pegang ujung stroberi menggunakan ibu jari, dengan mencapitnya ke bawah. Bisa?” tanyanya. Joanna mengangguk samar. “Biar kucoba.” Kennan melepaskan tangannya, membiarkan Joanna memetiknya sendiri, dan ... yes! Ia berhasil. Tawa pun memecah keheningan, meluruhkan rasa kecewa yang hadir beberapa hari terakhir ini. “Bagus! Itu baru benar Jo, kamu pintar. Silakan lanjutkan.” Ucapannya sukses membuat pipi Joanna untuk kesekian kalinya bersemu. ‘Ah, gue ini kenapa?’ Untuk meredam rasa malu, Joanna memakan dengan satu gigitan stroberi yang dipetiknya. Tanpa disadari, Kennan memperhatikannya, membuat lelaki itu tanpa sadar tersenyum. “Sambil makan, kita ke topik utama ya,” ucap Kennan. Joanna membeku. Ia hampir lupa soal itu, wajahnya tampak berubah. Kennan meraih kadua bahunya, agar mereka saling berhadapan. “Kita sahabat kan, Jo?” Joanna mengangguk pelan. “Bagus. Artinya, kamu percaya padaku, jadi tolong jawab dengan jujur pertanyaanku.” Hening. Joanna merasa penasaran, apa yang akan dikatakan pemuda blasteran Perancis itu. “Apa yang membuatmu berubah? Aku ada salah?” tanya Kennan. Ucapan itu, sontak membuat mata Joanna tiba-tiba berembun dan disadari oleh Kennan. Semakin yakin saja, bahwa ini pasti ada sesuatu. “Joanna ... jawab aku.” Gadis itu mengerjap, dan mengusap bulir bening yang lolos di matanya. Lalu mencoba tersenyum. Mulutnya terbuka hendak mengucapkan sebuah kalimat. “Hei! Kalian di sini rupanya!” seru Gerald. Kennan dan Joanna terkejut, dan saling mundur beberapa langkah. Tampak dokter muda itu berjalan mendekati keduanya yang tampak intim. Tentu saja, karena Kennan tengah memegang bahu Joanna dengan jarak yang cukup dekat. Baru sadar, jika Bella ikut berjalan di belakang Gerald. Dalam diam, Bella merapatkan bibirnya menahan gejolak emosi. "Aku bertanya pada salah satu pegawai. Katanya, kalian di sini," imbuh Gerald. “Oh, hai kalian. Kami, lagi petik stroberi, karena setauku Joanna menyukainya,” ujar Kennan berkilah, menatap Joanna yang tengah salah tingkah. “Aih! Kalian mencuri start, itu curang. Benarkan Bella?” seloroh Gerald mengalihkan pandangannya ke arah Bella. Bella mengangguk. “Iya. Kok, gak ngajak-ngajak, aku juga suka stroberi.” Joanna mengerutkan dahi atas sikap santai gadis itu, bahkan ada Kennan di sana. “Begitu ya? Maaf deh, aku kira kalian hanya akan naik kuda aja, jadi gak aku ajak,” cetus Kennan. “Ya udah. Sebelum berkuda, mari kita petik buah segar ini,” seru Gerald kemudian. **** Untuk kesekian kali, baik Kennan maupun Joanna diam-diam saling mencuri pandangan. Di hati mereka, tentu saja tersemat rasa penasaran karena percakapan penting itu, belum usai. Mereka berharap, ada waktu lain untuk bicara. Sementara di sisi lain. Kennan tak habis pikir, kenapa harus dibuat dua kubu hanya sekedar petik buah stroberi. Dan kenapa juga, sepupunya itu selalu ingin satu grup dengan Joanna? Bahkan ia bisa melihat keakraban mereka berdua di seberang sana, yang membuat hatinya membara. Bella sadar, jika sedari tadi Kennan terus menatap ke arah Joanna. “Kak Ken, mereka tampak akrab dan serasi ya?” Kennan hanya berdehem, kembali sibuk memetik stroberi yang ia masukkan ke dalam plastik bening. “Oh, aku ada ide. Gimana, kalau Joanna kujodohkan dengan dokter Gerald? Anggap aja, sebuah balasan kebaikan karena Joanna pernah membantu menjodohkan kita. Lagi pula, kulihat Kak Gerald menyukainya," seru Bella antusias. Kennan menatapnya dengan raut bingung. “Apakah kamu lupa Bell, kalau aku naksir sama Joanna? Kenapa mengatakan hal itu?” Deg! Bella benar-benar lupa, ataukah sengaja? “Owh, maaf Kak. Aku lupa.” “Sebaiknya kita cepat. Aku sudah pegal memetik buah-buah ini,” ucap Kennan dengan wajah kacau. Ia benar-benar muak melihat pemandangan tak mengenakan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD