Perasaan

1580 Words
Keempat muda mudi, masih asyik memetik buah strobery, walau sesekali Joanna tanpa sadar menampar pipinya sendiri, karena matanya selalu spontan mengarah ke arah Kennan. 'Ini sangat menyebalkan!’ “Aaaaa! Kak Kennan!” pekik Bella, ia memeluk erat lengan Kennan. Ada yang bergemuruh di dadda Joanna, namun ia dan Gerald memilih bergegas mendekat. “Lepas Bell! Kamu kenapa?” Kennan melepaskan tangan Bella. Bella sibuk menatap ke arah bawah, bola matanya bergerak cepat. “Ular! Aku yakin ada ular di sini, tadi bergerak-gerak!” ujar gadis itu. “Hah?” Joanna dan Gerald kompak terkejut. “Mana, di mana?” Kennan ikut mencari-cari ke sekeliling, yang penuh dengan dedaunan kering berserakan. Tetapi, detik berlalu tidak ada sesuatu yang tampak bergerak. Hingga .... 'Crapp!!' “Aaakkh!” Joanna memekik tertahan, tubuhnya ambruk, sambil meringis. “Joanna!!” teriak Kennan. Ia meloncat mendekati Joanna. “Ka-kakiku ....” rintih Joanna. Di atas mata kaki, tampak kulitnya sedikit terkoyak. “Ya Tuhan! Joanna digigit ular,” ujar Gerald, matanya beredar pada hewan yang dengan cepatnya pergi. “Apa yang harus kita lakukan?” tanya Kennan, tubuhnya menegang. Gerald bisa merasakannya, ia menepuk bahu sepupunya. “Harus tenang. Buat Joanna rileks, kita masih punya waktu beberapa jam untuk menolong Joanna. Karena, dari bentuk luka, aku yakin ular itu bukan jenis berbisa. Tadi, aku pun sempat melihat binatang itu sekilas, sebelum pergi entah ke mana.” Tanpa bicara lagi, Kennan menggendongnya ke villa pribadi, masih di area peternakan. Ia menyandarkan tubuh gadis itu pada bahu ranjang. Menatap wajah Joanna yang semakin pucat, membuat lelaki itu semakin khawatir, tanpa sadar Kennan menggenggam jemari Joanna erat-erat. Melihat itu, wajah Bella merah padam menahan rasa cemburu. “Bella jam berapa sekarang?” tanya Gerald. Bella masih diam dengan tatapan mengarah ke Kennan. “Bella?” ujar Gerald lebih nyaring, membuat gadis berambut panjang itu tersadar. “Eh, iya Ger?” “Tadi aku tanya, jam berapa sekarang?” Bella melirik jam tangannya. “Jam sepuluh pagi kurang lima.” Gerald mengangguk, berusaha mengingatnya. Hal ini sangat penting bagi Joanna. Setelah itu, Gerald berlari keluar entah ke mana. “Jo, gimana perasaanmu?” Kennan tidak melepas genggaman itu sedetik pun. “Kepalaku mendadak pening, dan merasa semua terasa kebas,” ucapnya dengan keringat yang mulai membanjiri. “Maaf ya, harusnya aku lebih menjagamu tadi.” Joanna tersenyum tipis. “Ngapain? Lo bukan bodyguard gue.” Kennan menggeleng, tak habis pikir. Joanna masih sempat-sempatnya bicara seperti itu. Ia memilih bangkit, berjalan ke arah dapur mengambilkan minum untuk Joanna. Bella dengan cepat duduk tepat di sampingnya. “Kamu baik-baik aja Jo?” Joanna mengangguk lemah. “Tadi ... Kak Kennan terlihat sangat panik dibanding aku dan Gerald, kamu membuatku cemburu aja.” “Bu-bukan maksudku begitu, Bell__” Bella terkekeh. “Aku cuma bercanda Jo, santai aja. Tapi kuakui, kamu sangat handal,” ucapnya terdengar aneh. “Handal?” Joanna tidak paham maksud Bella. Namun tidak sempat dijawab karena Kennan muncul membawa segelas air putih dan selimut tipis. “Minum ya. Habis itu, coba berbaring, dan jangan banyak bergerak.” Joanna mengangguk. Pintu terbuka, dan Gerald setengah berlari mendekat. “Aku bawa alat dan obat. Kalian keluar dulu ya, biar kuobati.” Keduanya mengangguk. **** Entah untuk keberapa kali, Kennan menarik napas berat. Hal itu bisa didengar Bella, bahkan ia mulai muak mendengarnya. “Kamu kenapa Kak, tampaknya khawatir banget?” ucap Bella memecah keheningan. Keduanya duduk di rerumputan. Bella merasa, Kennan selalu bersikap dingin dan irit bicara. Sangat kontras pada saat lelaki itu tengah bersama Joanna. “Pastinya, khawatir sama Joanna. Dulu, awal ketemu aku lihat dia tomboi dan kuat. Tapi sekarang, saat cinta itu tumbuh kulihat dia rapuh, membuatku khawatir dan ingin melindunginya,” ucap Kennan sungguh-sungguh. Lagi-lagi, Bella dibuat gerah dengan kalimat pemuda itu, rasanya ingin sekali membungkam mulut itu kuat-kuat. “Bukannya, Joanna cuma digigit ular biasa ya? Kan kata Gerald gak berbisa.” Kennan menatap tajam ke arah Bella. “Oh, jadi kalau gak berbisa, oke-oke aja? Atau kamu mau ngerasain dulu?” desis Kennan. Bella mengerjap. “Ya, ng-nggak gitu. Maksudnya, kamu gak usah khawatir, Joanna pasti baik-baik aja.” Kennan mengalihkan pandangan. Ia merasa malas membicarakan sesuatu yang tidak ada nilainya, maka pemuda itu lebih baik membungkam mulutnya dan berdoa, mengharap Joanna baik-baik saja. Di kamar. Mata Joanna menyipit memperhatikan sekitar, dan mencoba bangkit dari ranjang. Saat kakinya dibius, ia tidak sengaja tertidur. “Aww!!” Gerald menahan kedua bahunya. “Hei! Apakah kamu lupa, kalau kakimu sakit?” Joanna terdiam. Mereka saling beradu pandang. Ceklek! Pintu kamar terbuka, dan menyajikan pemandangan mengejutkan bagi Kennan. Joanna menepis tangan dokter muda itu, lalu membiarkan Gerald bangkit. “Oh, lo Ken,” ucap Gerald. “Maaf, gue tiba-tiba masuk. Soalnya khawatir, tadi lo lama mengobati Joanna, jadi mungkin saja kesusahan atau terjadi sesuatu padanya.” “Nggak susah kok, walau gak beracun gue tetap kasih obat penetral dan juga obat analgesik. Namun, harus kupastikan dia baik-baik saja, makanya sengaja ditungguin dulu,” terang Gerald. Walau begitu, tidak membuat hati Kennan merasa tenang dengan penjelasan Gerald. “Makasih banyak ya. Apa gue boleh melihat Joanna sekarang?” Gerald mengangguk. “Boleh lah, sini masuk.” Kennan mendekat. “Gue sama beberapa pegawai mau ke kebun yang tadi dulu ya, lo sebaiknya antar Joanna pulang habis ini,” ujar Gerald. “Gue bantu?” “Gak usah, nanti gue bakalan minta bantuan petugas Damkar kok. Lagian, lo masih harus mengurus Joanna.” Kennan mengangguk paham. Setelah itu, Gerald keluar dari ruangan. Pandangannya beralih pada Joanna yang tertangkap tengah menatapnya lekat-lekat. “Hai, Nona sok kuat. Gimana kabarnya?” tanyanya lalu duduk di samping ranjang. Joanna mencoba tersenyum, wajahnya masih tampak pucat. “Masih sakit, kulitku sedikit terkoyak efek gigitan itu.” Kennan menggelitik pucuk rambutnya. “Gak usah khawatir, kamu bakalan cepat sembuh. Percayalah.” “Makasih, Ken.” “Kamu sudah minum obat?” “Udah. Pahit banget.” Kennan menggelengkan kepala. “Jelas pahit Nona. Namanya juga obat, kalau manis berarti kamu.” “Hah?” “Lupakan. Nanti hidungmu mekar, geli lihatnya,” seloroh Kennan. Mata Joanna membola mendengarnya, ia lalu mencubit perut Kennan. “Aww! Gila ya, sakit aja tenaganya kuat!” “Makanya, jangan suka mulai-mulai. Udah tau masih sakit, digodain mulu!” gerutu Joanna mencucu. Pandangan Kennan turun menatap bibir kecil nan penuh milik Joanna. “Kamu sih, yang mengundang.” “Aku, mengundang apa?” tanya Joanna tidak paham. “Mengundangku untuk menciummu.” Nyaris saja bibir itu beradu, namun tangan Joanna sigap membentenginya dan langsung mendorong dadda Kennan kuat-kuat. Raut wajah Joanna langsung berubah kecewa. “Kenapa Jo?” “Lo yang kenapa. Ngapain mau cium gue?” “Karena aku suka sama kamu.” Joanna mendecih. “Lo tau Ken, gue salah menilaimu selama ini. Kukira, lo lain dari pada cowok-cowok di luaran sana. Taunya sama aja, bahkan lebih parah!” Kennan terkejut sekaligus bingung. “Maksudmu apa? Maaf, kalau aku lancang. Tadi emang reflek.” Joanna tertawa hambar. “Reflek ke semua cewek ya?” “Kenapa gak langsung ngomong aja Jo, sepotong-sepotong kayak gini, bikin aku gak paham dan bingung.” Joanna memejamkan mata, ada air mata yang harus ia tahan agar tidak lancang keluar. “Ken, gue mengagumimu selama ini. Tapi ... kenapa tega menyakiti Bella. Kalau emang lo suka, lamar aja lalu nikahin, habis itu terserah mau diapain. Tapi ini, belum apa-apa aja, lo tega bikin anak orang rusak! Jahat lo!” Mata Kennan membulat sempurna, ia merengkuh bahu Joanna erat-erat. “Aku bikin anak orang rusak?” “Iya, walaupun gak jadi. Tapi sukses bikin psikis Bella kena, kenapa sih lo harus kayak gitu?” tanya Joanna. Matanya mulai berembun. Mendengarnya, cukup membuat Kennan paham kenapa Joanna menjauh darinya selama ini. “Katakan terus terang. Bella ngomong apa aja sama kamu? Tolong jawab?” cecar Kennan. Joanna menunduk. “Kamu ... mau menggagahi Bella kan? Walau dia balas cintamu, kenapa harus kayak gitu?” Walau di luar tidak sedang hujan, tapi seolah ada petir yang menggelegar. Kennan melepas rengkuhan itu dan bangkit dari duduknya. Ia tidak menyangka, jika Bella yang terlihat anggun dan baik, ternyata menyimpan kebusukan. “Sudah kuduga, sikapmu selama ini pasti ada sesuatu. Kalau gak punya bukti kayak gini, aku gak bisa jelasin apa-apa. Percuma, kamu belum tentu akan percaya,” ucap Kennan dengan raut wajah kecewa. Joanna memilih diam, karena bingung harus bersikap seperti apa. “Gak apa-apa, Jo. Aku paham kok, kita ikuti aja alurnya, dan lihat siapa di sini yang salah. Aku, atau Bella.” Joanna menatap lama wajah Kennan. Jika benar apa yang dikatakan lelaki itu, Joanna akan sangat merasa bersalah karena telah menuduh bahkan menjauhinya. Suara ketukan, menghentikan obrolan mereka. Kennan membuka pintu dan mendapati pegawai laki-laki di sana. “Maaf Mas. Dokter Gerald kasih kertas berisi resep obat yang harus segera Mas Kennan tebus, untuk mbak Joanna.” Kennan mengangguk paham sambil menerima kertas itu. “Baik, terima kasih.” Kennan menoleh ke arah Joanna. “Kamu dengar itu? Ayo, sekalian kuantar pulang ya.” Joanna mengangguk samar. Setelah semua barang dimasukkan ke dalam tas. Kennan kembali menggendongnya, menuju mobil. Bella dapat melihat itu, dan tampak Kennan mendekatinya. “Bella. Aku sudah memesan taksi untukmu, mobilku hanya muat untuk dua orang, sementara aku harus mengantar Joanna secepatnya,” ucap Kennan. Bella mengangguk sambil mengulas senyum. “Tentu. Jaga Joanna baik-baik ya, semoga dia segera pulih.” “Oke. Kamu hati-hati ya.” Bella menatap punggung Kennan yang semakin menjauh, namun tangannya mengepal kuat-kuat dengan getaran hebat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD