Edzard keluar dengan membanting pintu mobil sangat kuat. Pagi ini emosinya terasa diaduk-aduk karen Elea. Gadis miskin itu berhasil membuat dirinya gelisah tak karuan. Apalagi saat dianggap pembantu oleh Nayra, dia malah biasa saja tanpa ada rasa tersinggung sekalipun.
Edzard, justru dia yang terbawa perasaan dan tak tidak terima karena Nayra menganggap Elea sebagai salah satu pelayan di mansionnya. Padahal harusnya dia senang karena itu bisa jadi salah satu alasan supaya Elea tidak bisa bertahan lama dengannya. Namun, kenapa dia malah marah dan kesal tidak jelas? Apalagi saat Elea beranggapan bahwa Nayra adalah kekasih Edzard. Hal tersebut sukses membuat dirinya semakin geram dengan kepolosan Elea.
"Pagi, Pak Boss," sapa John yang sudah menyetorkan senyuman manisnya.
"Mau apa?" ketus Edzard tak suka. Saat mengingat John yang suka dekat Elea, selalu saja membuat dirinya kesal.
"Wah, pagi-pagi tampaknya kesal pak boss ini," goda John duduk di kursi depan meja Edzard, lalu meletakan beberapa berkas di sana.
Edzard tak menanggapi ucapan John. Dia malah sibuk menyalakan laptopnya.
"Oh ya, apa Elea ada titip bekal buat aku?" tanya John sengaja ingin melihat reaksi Edzard.
"Bekal apa?" ketus Edzard.
"Soalnya Elea bilang mau buatkan bekal setiap pagi. Siapa tahu dia titip sama kamu," ujar John mendesah.
"Tidak ada bekal-bekal segala. Lagian kamu pasti sudah sarapan di rumah, lalu kenapa malah minta bekal sama istri orang?" protes Edzard.
"Cie yang sudah mengaku istri!" ledek John tertawa lebar, apalagi melihat Edzard salah tingkah.
"Jangan salah paham!" ralat Edzard.
John manggut-manggut. Namun, sepertinya dia akan semakin tertarik menggoda Edzard. Jika sahabatnya itu tidak mau memungut Elea sebagai istri, maka John siap saja mengambil gadis muda itu.
"Ed, kalau kamu benar-benar tidak mencintai Elea. Kamu bisa menceraikannya dan biarkan aku yang mendekatinya," ujar John. "Sejauh ini, aku merasa tertarik padanya. Gadis itu sungguh sangat lucu, ah andai saja dia istriku pasti akan kujaga seperti telur!"
Tanpa sadar tangan Edzard mengepal mendengar ucapan yang terlontar dari mulut John. Rasa panas seketika menjalar di seluruh tubuhnya. Ada perasaan aneh yang sulit dia jelaskan. Kenapa dia tiba-tiba merasa tidak suka dengan perkataan John? Bukankah dia juga yang mengajukan surat perjanjian nikah pada istrinya itu?
"Aku dapat bekas juga tidak apa-apa. Asal bekasnya itu Elea."
Setelah berkata, John langsung keluar untuk mengamankan diri. Apalagi ketika melihat wajah Edzard yang sudah naik pitam. Sebelum jadi bahan amukan sahabatnya itu, lebih baik dia kabur saja.
Edzard memejamkan matanya sejenak. Napas lelaki itu naik turun menahan emosi. Sejak kematian Naura dirinya memang mudah sekali terpancing dan marah. Kadang juga mengamuk tidak jelas.
"Tidak, aku tidak mungkin cemburu. Aku tidak menyukai gadis miskin itu. Sama sekali tidak!" kilahnya meyakinkan diri bahwa dirinya takkan pernah menyukai sang istri.
Sejenak Edzard terdiam. Hingga tatapannya tertuju pada foto usang di atas nakas. Dia raih foto itu dengan lembut. Lagi dan lagi, air mata tak mampu ditahan. Rasa rindu yang kian merobek d**a menyisakan sakit-sakit yang menghantam jiwa.
"Sayang," gumamnya menguap foto tersebut. "Andai kamu masih ada, aku pasti hanya akan menikah denganmu dan kita hidup bahagia selamanya..."
Kehilangan sosok yang dicintai memang terkadang meninggalkan luka mendalam. Untuk melupakan sosok tersebut, membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya. Bahkan ada yang memilih jalan lain dengan mengakhiri hidup. Edzard yang mungkin hidup, tetapi jiwanya terasa mati. Dia tak memiliki tujuan dan arah ke mana akan pergi dan melangkah.
"Maafkan aku yang sudah mengkhianatimu. Aku terpaksa menikahi gadis itu karena papa. Aku tidak mau papa sakit memikirkan aku. Papa satu-satunya yang aku miliki sekarang. Maafkan aku juga yang tidak menuruti keinginanmu menikahi Nayra. Sekarang, aku pria beristri walaupun aku tidak tahu bagaimana nasib pernikahan dadakan ini nantinya!"
* * *
Elea berjalan pelan sambil tampak berpikir dan mengingat perbincangannya dengan sang suami tadi.
"Om Edzard itu aneh, kadang perhatian. Kadang juga galak dan marah-marah tidak jelas!" Dia menghembuskan napas kasar. "Kalau tante Nayra bukan pacarnya, lalu kenapa panggilan sayang segala?"
Elea cemburu? Entahlah dia tidak tahu apa itu cemburu. Dia bahkan belum pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya. Usianya masih sangat muda, selain sibuk karena memikirkan kuliah. Dia juga tak memiliki kesempatan untuk mengenal kehidupan di dunia luar karena selalu dikurung oleh ibu dan kakak tirinya.
"Kata Om Edzard pernikahan ini cuma setahun. Lalu setelah ini aku akan jadi janda muda. Terus aku mau ke mana? Mau tinggal sama siapa? Kembali ke rumah...?" Terdengar helaan napas panjang, gadis itu terus saja bermonolog sendiri. "Lebih baik aku jadi gelandangan dari pada kembali ke rumah ibu!" Dia menggelengkan kepala menolak. Sebab, penderitaan yang dulu dia alami masih begitu membekas di dalam d**a.
"Yaya!"
Hingga lamunannya terhenti saat melihat Ryandra berjalan ke arahnya.
"Kak Iyan," balas Elea sambil tersenyum.
Lelaki itu menghampiri Elea dengan menyetorkan wajah tampan nan mempesona. Apalagi memiliki lesung pipi yang membuat daya tarik tersendiri.
"Sudah sarapan?"
Elea menggeleng karena dia memang belum sarapan tadi di rumah. Niat hati memang ingin mengenjal perut dengan selembar roti, tetapi selera makannya langsung hilang ketika melihat sang suami yang tengah sarapan berdua dengan seorang wanita yang Elea anggap dicintai oleh suaminya. Cemburu? Entahlah, bisa dikatakan cemburu karena lelaki itu adalah suaminya dan Elea sudah menjadi seorang istri. Istri mana yang takkan cemburu melihat suaminya berduaan dengan wanita lain. Walaupun tak ada cinta, tetap saja Elea wanita biasa.
"Bagaimana kalau kita sarapan bersama? Kebetulan aku juga belum sarapan!" ajak Ryandra.
"Ditraktir? Soalnya Lea tidak bawa uang, Kak," ujarnya jujur.
"Kamu tenang saja, aku yang bayar. Kamu boleh pesan makanan apa saja dan sebanyak yang kamu mau," ujar Ryandra terkekeh.
"Wah benar, Kak? Rejeki anak sholeh," celetuknya. "Ayo, Kak!" serunya menarik tangan Ryandra tak sabar.
Lelaki itu tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. Apalagi dengan Elea yang menggandeng tangannya, membuat dirinya salah tingkah.
Keduanya menuju kantin. Tampak para mahasiswa sudah ramai memenuhi masing-masing tempat karena biasanya tidak sempat sarapan di rumah. Sontak saja kedatangan Ryandra dan Elea menjadi pusat perhatian. Pasalnya, lelaki tampan dan populer itu selama ini jarang dekat dengan wanita manapun. Dia lebih suka menyendiri dan menghabiskan waktunya di perpustakaan kampus.
"Duduk di sini saja!" Ryandra menarik tangan Elea agar duduk.
"Iya, Kak." Elea menurut dan duduk.
"Lea mau pesan apa?" Lelaki itu membolak-balik buku menu di tangannya.
"Bakso iga tulang sapi, pakai mie kuning dan kuahnya banyak!" seru Elea.
Ryandra mengangguk lalu menyebutkan pesanan mereka berdua.
"Ya," panggil Ryandra.
"Iya, Kak?"
"Om Edzard itu benar om kamu? Kok wajahnya tidak asing, seperti pernah lihat. Tapi lupa, di mana?"
Bersambung ....