"Kamu..."
"Elea, Tante!" jawab Elea membungkuk hormat.
Wanita itu mendelik ketika Elea memanggilnya tante.
"Kenapa kamu panggil saya tante?" tanya Nayra dengan napas memburu karena kesal.
"Lalu Lea harus panggil apa? Tante 'kan pacarnya Om Edzard," ujar Elea.
Nayra tersenyum licik, ternyata Elea beranggapan bahwa dirinya adalah kekasih dari lelaki itu. Namun, bukankah hal itu bagus? Artinya dia bisa menyingkirkan Elea tanpa harus berepot-repot.
"Baiklah, panggil saja tante," ujar Nayra tersenyum. "Buatkan saya makan, saya lapar!" Wanita itu duduk di kursi meja makan. Tengah malam dia suka lapar, jadi kebiasaan bangun dan makan. Untung saja Elea masih bangun, jadi dia bisa menjadikan gadis itu sebagai suruhannya.
"Mau makanan apa, Tante?" tanya Elea sopan sambil membungkuk hormat.
"Terserah!" ketus Nayra.
Elea menuju dapur, gadis itu membuka pintu kulkas lalu mengeluarkan bahan-bahan makanan di sana. Sementara Nayra melirik Elea dengan tatapan jijik.
"Aku tidak habis pikir, kenapa Kak Edzard mau menikahi gadis udik seperti dia?" Wanita itu geleng-geleng kepala salut. Elea sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan almarhum kakaknya. Lantas apa yang membuat Edzard begitu tertarik pada gadis itu?
Tidak lama kemudian, masakan Elea sudah siap disajikan. Gadis itu meletakkannya di atas meja. Dia benar-benar seperti pembantu yang mengerjakan apa saja di mansion mewah suaminya. Tak apa, asal dia bisa tinggal di sini dari pada harus kembali pada ibu tirinya.
"Silakan dinikmati, Tante!" ujar Elea.
"Apakah ini enak?" Nayra tampak meledek masakan Elea.
"Silakan dicoba dulu, Tante," ucap Elea tersenyum manis.
"Awas saja kalau tidak enak. Saya pecat kamu," ancamnya.
"Jangan pecat Lea, Tante. Lea belum siap jadi gelandangan," ujarnya jujur.
"Kamu 'kan memang pantas jadi gelandangan," sindir Nayra tersenyum meledek. Dia tampak jijik melihat penampilan Elea.
Bukannya tersinggung Elea malah menguap beberapa kali. Sudah biasa dihina dan bahkan kebal baginya. Namun, walau begitu dia tetap manusia biasa yang kadang memiliki rasa sakit ketika diperlakukan tak berperikemanusiaan.
Nayra melahap masakan Elea. Dia akui, istri dari mantan calon kakak iparnya itu benar-benar pandai masak dan menyesuaikan dengan lidah.
"Enak, Tante?"
"Biasa saja," sangkal Nayra, tetapi makanan itu habis tak bersisa.
"Memang kadang jujur itu susah, Tante. Bibir berkata lain, tapi mulut tidak bisa berbohong," celetuk Elea tersenyum sambil menampilkan rentetan gigi putihnya.
"Kamu meledek saya?" Nayra menatap marah gadis itu.
"Tidak, Tante."
Nayra meninggalkan Elea dengan menghentakkan kakinya kesal. Dia dia jadi emosi berbicara dengan gadis itu? Niat hati ingin membuat Elea bungkam, tetapi kenapa dirinya yang serasa diejek.
Elea mengumpulkan peringatan kotor di atas meja. Seketika pipinya terasa panas. Gadis itu menegadahkan kepalanya sembari mengibas-ngibas mata agar air mata tidak jatuh dari pipinya.
"Biar Bibi saja yang cuci, Nona," pinta Bi Dewi.
Elea mengangguk. Gadis itu melenggang masuk ke dalam kamarnya dengan langkah lebar. Dia kunci pintu lalu bersandar di balik sana. Seketika air mata Elea tumpah ruah, sejak tadi dia mencoba kuat dan menahan air mata.
"Ayah, kata ayah ingin memberikan suami terbaik buat Lea. Tapi, kenapa suami yang ayah berikan malah menanamkan luka di hati Lea?" ujarnya.
Elea menekuk kedua kaki. Lalu kedua tangannya melingkar di sana dan dia telungkupkan wajahnya untuk menahan tangis.
"Lea tidak kuat!" renggeknya. "Lea ingin menyerah, Ayah. Lea tidak sanggup."
* * *
Elea sudah lengkap rapi dan bersiap berangkat ke kampus. Gadis itu keluar dari kamar sembari bernanyi ria seolah tanpa beban.
Langkah kakinya terhenti ketika melihat Edzard dan Nayra yang sudah sarapan di meja makan. Masih terngiang di kepalanya saat lelaki itu menolak untuk dilayani dan bahkan mengatakannya tidak enak.
"Eh, Pelayan!" panggil Nayra melambaikan tangannya pada Elea yang hendak melewati meja makan.
Edzard menoleh dan melihat sang istri yang sudah siap dengan pakaian rapi. Entah kenapa melihat tatapan sendu gadis itu, rasa ada luka di hatinya?
"Iya, Tante?" Elea mendekat ke arah meja makan.
"Saya suka masakan kamu. Tolong masakin buat saya!" pinta Naura.
Tanpa sadar Edzard mengenggam sendoknya dengan erat. Lelaki itu seperti tak terima ketika Nayra memperlakukan Elea seperti pembantu.
"Tolong buatkan s**u juga buat saya!" perintah Nayra lagi. "Dan... Ambilkan sepatu saya di kamar!" sambungnya kemudian.
Kesabaran Edzard sepertinya sudah habis. Lelaki itu memejamkan mata sejenak. Jangan sampai dia meledak dan hal yang membuat dia semakin kesal adalah ketika Elea malah menurut.
"Baik, Tan–" Elea terkejut ketika Edzard menarik tangannya dengan kasar. "Om!" Gadis itu mengikuti langkah lebar suaminya.
"Kakak!" Nayra berdiri dan membanting sendoknya kasar. "Kak, tunggu!"
Edzard membawa istrinya mendekati mobil. Dia membuka pintu agar gadis itu masuk.
"Masuk!" perintahnya.
Elea menurut dan masuk. Gadis itu terheran-heran melihat suaminya yang tiba-tiba marah tidak jelas.
Lalu Edzard menyusul masuk dengan membanting pintu kasar. Dia menjalankan mobilnya tanpa peduli dengan teriakan Nayra yang sedari tadi memangil namanya.
Tak ada suara yang memecahkan keheningan. Hanya deru mesin mobil yang terdengar menggema. Kedua orang di dalamnya seperti sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kamu tidak seharusnya mengaku sebagai pembantu!" tukas Edzard yang akhirnya bersuara.
Elea menarik napas sedalam mungkin. Kadang dia merasa aneh dengan sifat suaminya yang suka berubah-ubah seperti bunglon. Kadang kasar, kadang baik dan perhatian. Apa lelaki ini bermaksud membuat dirinya terbawa perasaan, lalu seenak hati meninggalkan luka tanpa jejak?
"Lalu Lea harus mengaku sebagai apa, Om? Keponakan? Pasti pacar Om tahu kalau Om itu tidak punya keponakan imut seperti Lea," ujarnya tersebut menampilkan rentetan gigi putihnya. Bukankah Elea memang cantik?
"Dia bukan pacar saya," tegas Edzard yang berbicara tanpa dia sadari.
* * *
Nayra masih terlihat kesal. Wanita itu melempar barang-barang yang ada di meja riasnya.
"Awas saja kamu, Elea. Kamu pikir bisa mendapatkan hati Kak Edzard? Hoh tidak akan pernah bisa karena Kak Edzard itu hanya milikku!" ucapnya penuh penekanan.
Nayra kesal setengah mati ketika melihat Edzard yang membawa Elea pergi begitu saja. Apa lelaki itu mulai tertarik pada istrinya? Apa Edzard sudah melupakan Naura dan membuka hati untuk wanita lain?
"Aku tidak akan terima kalau Kak Edzard suka sama Elea!" ucapnya dengan wajah gusar.
Nayra duduk di bibir ranjangnya. Wanita itu berusaha tenang dan tidak mau terlihat emosi dan gegabah. Dia harus bermain cantik tanpa meninggalkan bekas. Lalu dia melirik ke arah nakas kamarnya, terdapat sebuah figura yang hampir usang. Sudut bibirnya tertarik dengan lengkungan licik.
"Kak Naura, bersusah payah aku menyingkirkanmu dan wanita tua itu dengan harapan Kak Edzard akan menjadi milikku seutuhnya. Tapi, pelakor itu tiba-tiba datang dan menghancurkan segalanya. Lihat saja nanti, Kak. Jika gadis itu tidak juga pergi dari kehidupan Kak Edzard, maka aku akan melakukan hal yang sama, yaitu menyingkirkan Elea, selamanya!"
Bersambung ...