"Kenapa kamu terlihat kesal, Ed?" John melirik sahabatnya itu.
"Siapa yang kesal?" kilah Edzard yang tak mau ketahuan bahwa dirinya tengah cemburu.
"Oh ya, kalau dilihat-lihat ternyata Elea cantik juga ya. Jago masak lagi, benar-benar istri idaman!" seru John melirik Elea yang sedang berbincang-bincang dengan para pelayan. Baru kali ini dia melihat seorang majikan akrab dengan para pelayannya.
"Biasa saja," ketus Edzard. Padahal dalam hati dia mengakui bahwa Elea memang cantik dan masih sangat muda.
"Yakin tdiak tertarik?" John memincingkan matanya.
"Tidak sama sekali. Dia bahkan tidak sepadan dengan Naura!" jawab Edzard tegas.
"Kalau begitu boleh dong, aku dekat-dekat Elea. Siapa tahu saja kamu bosan dan nanti aku bisa Pepet dia jadi istri," ujar John tertawa lebar.
"Jangan macam-macam!" ancam Edzard melayangkan tatapan tajam.
"Tenang, Bro. Jangan emosi!" ujar John yang masih tertawa lebar.
"Pulang sana!" usir Edzard melempar bantal sofa ke arah sana.
"Om Jeremy meminta aku tinggal di sini!" seru John tersenyum penuh kemenangan.
Sejenak Edzard terdiam. Jika John tinggal bersamanya hal itu akan membuat John tahu bahwa dirinya tidak tidur sekamar dengan Elea. Bisa saja John mengadukan hal tersebut pada Jeremy dan penyakit paruh baya itu bisa kumat.
"Tidak menerima tamu!" tolak Edzard tegas.
"Memangnya kamu bisa melawan izin dari Om Jeremy?" John menaik turunkan alisnya menggoda sang sahabat.
Edzard tak menanggapi. Pria itu berpura-pura fokus pada laptop yang dia pangku. Padahal ekor matanya diam-diam mengintip Elea yang masih tampak asyik berbicara dengan para pelayan. Entah apa yang istrinya itu bicarakan? Terlihat seru karena beberapa kali Elea tertawa lepas.
"Sayang!"
Hingga panggilan tersebut membuyarkan mereka. Edzard dan John menoleh ke arah pintu masuk mansion begitu juga dengan Elea serta seluruh pelayan.
"Nayra?" gumam Edzard.
Tampak seorang wanita cantik memakai dress berwarna merah menyala selutut. Rambutnya bergelombang dengan kaca mata hitam yang bertengger di bagian hidung.
"Kak Edzard," sapanya berjalan masuk.
Elea menatap selidik wanita yang memangil suaminya sayang itu. Entah kenapa rasanya perih mendengar panggilan tersebut? Namun, Elea sadar bahwa pernikahan mereka memang tidak didasari dengan cinta. Pasti sebelum menikah dengannya Edzard sudah memiliki kekasih.
"Kak." Wanita itu malah memeluk Edzard yang masih terdiam mematung. "Aku merindukan Kakak," ujarnya lagi.
"Kamu dengan siapa?" Edzard melepaskan pelukan wanita itu. Dia sedikit canggung karena ada Elea di sana. Jika John mungkin sudah biasa, tetapi Elea gadis itu belum terbiasa dengan dirinya.
"Aku sendiri, Kak. Kakak tidak kangen aku?" ujarnya manja.
Edzard hanya diam. Bingung mau jawab apa, wanita ini adalah adik dari almarhum mantan tunangannya. Tentu saja semua hal yang ada pada adik tunangannya ini mengingatkan Edzard pada semua kenangan yang takkan bisa terulang kembali.
Elea mendekat dengan senyuman santai. Gadis cantik itu seolah tak merasakan apapun, walau dadanya serasa dihimpit ribuan ton batu.
"Hai, Kak John," sapanya.
"Apa kabar, Nayra?" balas John.
"Seperti yang Kakak lihat!" balasnya. Lalu wanita itu melirik ke arah Elea yang tampak tersenyum ramah padanya. "Kamu siapa? Pelayan baru Kak Edzard?" tanyanya.
"Dia..."
"Iya, Nona. Saya pelayan baru di sini. Perkenalkan nama saya Elea," ucap Elea memperkenalkan diri dan tak lupa gadis itu membungkuk hormat.
Edzard dan John serta para pelayan terkejut mendengar ucapan Elea. Gadis itu mengaku sebagai pelayan? Apa dia tidak tahu bahwa statusnya adalah istri seorang tuan muda.
"Oh, pantas wajahmu memang mirip pelayan," ucap Nayra tersenyum mengejek. "Tapi kenapa tidak pakai baju pelayan seperti yang lain?"
"Say–"
"Nayra, sebaiknya kamu masuk kamar saja. Aku akan minta pelayan menyiapkan makan siang untuk kamu," potong Edzard. Entah kenapa dia tidak suka saat Elea mengaku sebagai pembantu?
"Baiklah, Kak. Aku ke kamar dulu. Kamarku masih yang kemarin, kan?"
Elea lagi-lagi tertawa getir dalam hati. Wanita itu bahkan sudah memiliki kamar pribadi di rumah suaminya. Dalam hati dia bertanya-tanya, apa status wanita ini? Kenapa terlihat begitu akrab dan agresif dengan Edzard?
"Hem, Ed, sebaiknya aku pulang saja. Sepertinya suasana di sini mulai panas!"
"Pulang sana!" usir Edzard.
"Dih, jahat," ketus John. "Elea, Om pulang dulu ya. Kapan-kapan ajak Om sarapan lagi, Om suka sama masakan kamu," puji John sengaja mengusap kepala Elea di depan Edzard.
"Iya, Om," balas Elea dengan senyuman.
John segera pulang. Padahal niat hati ingin tinggal di sini beberapa hari untuk memantau perkembangan hubungan antara Edzard dan Elea, tetapi sepertinya suasana sedang panas dengan kedatangan Nayra yang secara tiba-tiba. Maka, John memilih pulang agar Edzard menyelesaikan masakannya sendiri.
Setelah kepulangan John, Edzard menatap Elea yang masih berdiri di depannya. Tatapan matanya tertuju pada wajah gadis cantik yang berstatus istrinya itu.
"Kenapa, Om? Mulai suka ya sama Lea?" godanya sambil mengedipkan mata jahil. "Hati-hati lho, Om. Jatuh cinta sendirian itu sakit, soalnya tidak ditanggung BPJS." Dia tertawa pelan menutupi luka yang terasa mengangga dalam d**a.
"Kenapa kamu mengaku sebagai pelayan?" tanya Edzard.
"Lah, Lea harus mengaku sebagai apa, Om? Sebagai istri? Bukannya kata Om tidak boleh ada yang tahu, apalagi tadi pacar Om kelihatan merindukan, Om. Kalau dia tahu Lea istri Om pasti, nanti dia malah meninggalkan Om."
* * *
"Bu, minta uang!" Seorang wanita menengadahkan tangannya.
"Minta uang terus kerja sana!" ketus Milly.
"Pelit amat, Bu. Jangan lupa aku punya hak atas uang penjualan Elea," ujarnya mengingatkan.
"Uang penjualan apa?" Kening Milly mengerut heran, melihat ke arah anak perempuannya itu.
"Jangan ibu kira aku tidak tahu. Bahwa diam-diam ibu minta uang bulanan pada tuan Jeremy," ujar sang anak.
Milly mendengkus kesal, jika masalah uang anaknya ini selalu cepat, tetapi kerja lambat.
"Ini!" Dia memberikan beberapa lembar uang.
"Wah!" Mata wanita cantik itu berbinar-binar melihat uang merah yang diberikan oleh sang ibu. "Oh ya, Bu, kenapa tidak minta tuan Jeremy saja untuk melunasi hutang-hutang kita di bank, supaya perusahaan itu bisa kembali lagi ke tangan kita?" saran Lisa — kakak tiri Elea.
Milly terdiam sejenak mencerna ucapan dari putrinya. Wanita itu tampak menimbang-nimbang dan mulai tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Lisa.
"Tapi tidak semudah itu karena tuan Jeremy tahu kalau hutang itu bukan punya almarhum ayahmu. Tapi, hutang kita," ujar Milly mendesah. Jeremy sepertinya bukan orang biasa yang mudah dibodohi, jika dia meminta hal tersebut maka akan banyak pertanyaan yang pria tua itu lontarkan padanya.
"Bu, kenapa Ibu tidak gunakan Elea saja? Paksa dia untuk meminta tuan Jeremy agar melunasi hutang-hutang kita, aku yakin jika Elea yang minta tuan Jeremy tidak akan menolak."
Bersambung ...