"Jadi, Kak Edzard sudah menikah?" tanya seorang wanita yang terlihat marah.
"Iya, Nona. Dua Minggu yang lalu," jawab seorang pria membungkuk hormat pada wanita cantik itu.
"Siapa wanita yang menikah dengan Kak Edzard?" tanyanya dengan rahang mengeras yang terlihat jelas.
"Namanya nona Elea, Nona. Dia mahasiswa ilmu bisnis semester empat," jawab sang anak buah.
"Masih muda sekali?" ujarnya terkejut mendengar gadis yang menikah dengan Edzard masih duduk di bangku kuliah.
"Mereka dijodohkan oleh tuan Jeremy, Nona," jawabnya lagi.
"Baik, persiapkan keberangkatanku ke Indonesia. Aku ingin pulang dan menemui Kak Edzard," ujar perempuan itu.
"Baik, Nona Muda."
Wanita itu menyeringai licik.
"Kak Ed, aku datang. Kakak sudah ingkar janji pada Kak Naura. Padahal Kak Naura meminta aku yang menikah dengan kakak bukan wanita lain. Jangan salahkan aku, Kak. Aku merebutmu dari wanita itu!"
* * *
Elea tertegun mendengar ucapan suaminya. Benar saja lelaki ini mengajukan surat perjanjian kontrak. Apakah Edzard menganggap jika pernikahan hanya sebuah permainan? Ingin protes, tetapi Elea tak memiliki kemampuan.
"Iya, Kak."
Edzard tersenyum remeh. Gadis ini tidak hanya miskin, tetapi juga bodoh. Namun, bukankah itu hal yang baik karena Edzard tak perlu berepot-repot untuk berpura-pura baik di depan Elea.
"Eh saya lupa, kamu jangan pernah sentuh-sentuh barang saya. Paham?!"
"Iya, Om. Lea paham," sahut Elea penuh penekanan. "Oh ya, Om. Ini Lea kembalikan kartunya!" Elea menyerahkan kartu hitam yang diberikan suaminya kemarin.
"Ambil saja buat kamu," ujar Edzard. Rasanya Edzard tak suka saat gadis itu menolak apa yang dia berikan.
"Lea tidak butuh, Om. Berikan saja yang cast seratus buat jajan Lea besok."
Edzard menatap istrinya aneh. Wanita di dunia ini akan senang diberikan kartu hitam tersebut. Namun, Elea hanya minta seratus itu juga untuk jajannya.
"Buat beli kebutuhan kamu saja." Edzard tak mengambil kartu itu dari tangan Elea.
"Lea tidak butuh apa-apa, Om. Sudah diberikan makan gratis saja lebih dari cukup."
Entah kenapa ucapan Elea berhasil membuat hayo Edzard berdenyut sakit. Edzard tak tahu saja, dulu Elea harus mengerjakan pekerjaan rumah agar bisa makan. Maka, tak heran jika gadis itu berterima kasih walau hanya diberikan makan tanpa kemewahan.
"Lea simpan di sini ya, Om!" Lea meletakkan kartu itu di atas meja kerja Edzard. "Om, mana jajan untuk besok?"
Edzard mencebik kesal. Lelaki itu mengambil dompetnya, lalu mengeluarkan banyak lembaran yang berwarna merah. Sebenarnya dia jarang memegang uang cast dan selalu tersimpan di kartu. Namun, beberapa hari ini karena sering bersama Elea dan membelikan gadis itu jajanan, terpaksa Edzard menyimpan uang dalam dompetnya.
"Ini ambil semua!" Edzard menyerahkan dua puluh lembar uang berwarna merah.
Elea malah mengambil satu lembar saja dan hal tersebut sukses membuat Edzard terkejut serta heran.
"Lea cuma butuh satu lembar, Om," celetuk gadis itu. "Terima kasih, Om. Eh surat ini disimpan di mana?"
Edzard sampai melupakan surat perjanjian itu karena terkejut melihat sikap istri kecilnya.
"Iya sudah, kalau begitu Lea kembali ke kamar dulu ya, Om. Selamat tidur!" Gadis itu membungkuk hormat lalu berbalik.
"Tunggu!" panggil Edzard membuat langkah kaki Elea terhenti.
Gadis itu berbalik lalu tersenyum semanis mungkin. Walaupun hatinya sebenarnya begitu sakit setelah menandatangani surat perjanjian kontrak di tangannya.
"Kenapa, Om?"
"Tidak. Selamat tidur," ujar Edzard padahal bukan itu yang mau keluar dari bibirnya.
* * *
John keluar dari mobil. Lelaki playboy itu melepaskan kacamata hitamnya, lalu menatap mansion mewah Edzard.
"Kita beraksi!" serunya semangat empat lima.
Lelaki itu berjalan masuk, kedatangannya sudah disambut oleh para pelayan yang bekerja di sana.
"Elea, pagi..."
Elea yang tengah berkutat dengan peralatan dapur, sontak terkejut ketika mendengar panggilan dari John.
"Eh, Om John," balasnya.
John merengut kesal. Dia benar-benar tak suka saat Elea memanggilnya om. Apa dia terlihat begitu tua? Padahal usianya baru saja 33 tahun. Dia hanya dewasa, bukan tua.
Tampak di sana Edzard duduk di ruang tamu dengan laptop yang di pangkuannya. Pria itu tampak serius sehingga tak menghiraukan kedatangan John. Kebetulan hari libur dan dia hanya menghabiskan waktu di mansion dengan tumpukan berkas.
"Ada apa kamu datang ke sini?" tanya Edzard sinis.
"Tentu saja untuk melihat..." Sekilas John tersenyum melihat Elea yang berjalan ke arahnya dengan segelas jus segar. "Elea," sambungnya kemudian.
"Silakan diminum, Om!" seru Elea.
"Terima kasih, Cantik," goda John.
Ekspresi wajah Edzard langsung berubah. Apalagi Elea hanya membawa segelas jus tanpa ada niat memberikan pada dirinya. Padahal dia juga yang menolak dilayani oleh istrinya sendiri.
"Om, apa kabar?" tanya Elea.
"Sehat, Ya. Kamu apa kabar juga?" tanya John ramah. Ekor matanya melirik ke arah Edzard yang menampilkan wajah datar tanpa ekspresi. Sebagai laki-laki John tahu jika sahabatnya itu tengah kesal bukan main.
"Baik, Om," jawab Elea. "Om sudah sarapan?"
John menggeleng, kalaupun sudah sarapan dia akan tetap mengaku belum demi bisa makan masakan Elea.
"Bagaimana kalau makan sama Lea saja? Kebetulan Lea baru selesai masak!" tawarnya.
"Wah boleh banget!" seru John semangat.
"Ayo, Om. Makan!" ajak Elea.
John berdiri dari duduknya, sekilas dia melirik Edzard yang tidak bergerak sama sekali. Apa sahabatnya itu tak ingin makan?
"Kamu tidak sarapan, Ed?"
"Aku masih kenyang," jawab Edzard dingin. Padahal dia memang sudah bersumpah tidak akan tergiur dengan masakan Elea.
John menyusul Elea menuju meja makan. Lelaki itu meneguk liurnya melihat makanan lezat yang ada di atas meja. Dia sudah membayangkan saat makanan itu masuk ke dalam mulutnya.
"Ayo, Om. Makan!" Elea meletakkan piring berisi nasi di depan John.
"Wah terima kasih, Lea. Pasti ini enak," ujarnya.
"Tentu, Om. Lea kan jago masak," celetuknya.
Mereka berdua makan dengan lahap, sesekali diselingi obrolan hangat. John beberapa kali tertawa lebar ketika mendengar celetukan yang keluar dari mulut Elea. Kali ini, lelaki itu tak bisa berjanji hanya ingin membuat Edzard cemburu, tetapi sepertinya dia mulai menyukai sosok unik seorang Elea.
"Makan yang banyak, Lea. Supaya kamu cepat besar," ujar John terkekeh.
"Lea sudah besar, Om. Sudah dua puluh tahun!" ucapnya penuh penekanan.
Tanpa mereka sadari sedari tadi, sepasang mata melihat keduanya dengan marah. Dia adalah Edzard, lelaki dingin itu terlihat tak suka saat melihat Elea dekat dengan John. Padahal dia sudah mengingatkan Elea agar tidak dekat dengan pria bernama John itu.
Edzard berjalan ke arah meja makan. Wajahnya tampak datar tak berekspresi. Dia memang selalu begitu, sulit ditebak.
"Saya mau ikut makan!" Edzard langsung duduk di tengah-tengah antara John dan Elea.
Bersambung ...