Setahun berlalu dari pandangan. Naya dan Aditya melewati bahtera rumah tangga yang bahagia. Mereka nyaris tak pernah bertengkar, tak pernah juga saling menyakiti.
Hanya ada cinta kasih yang tercipta. Meski belum ada tanda-tanda kehamilan dalam perut sang istri, tapi Aditya tak mempermasalahkan hal itu. Mereka masih asyik menikmati indahnya pernikahan.
Hidup Aditya terasa lengkap dengan kehadiran perempuan yang mampu membuatnya menjadi suami teristimewa sekaligus paling bahagia. Naya merupakan bidadari yang dikirimkan Allah untuknya. Melengkapi setiap kekurangan hingga menjadi sempurna.
Bukankah pernikahan itu sejatinya kapal, seorang suami adalah nahkoda dan sang istri penumpangnya? Di mana suami memimpin akan kemana kapal itu berlabuh. Bagaimana ia mengatasi badai selama mengarungi lautan, dan selalu siap melindungi kapal beserta isi di dalamnya.
Aditya selalu punya alasan untuk segera pulang dari rutinitasnya di kantor. Ia tak ingin berlama-lama bergulat dengan pekerjaan yang tak pernah ada habisnya. Jika di hari biasa sebelum bertemu sang istri, bisa tahan hingga malam menyelesaikan pekerjaan, tapi berbeda setelah menikah. Ia selalu rindu melihat wajah bidadari dalam sebalut tubuh nan bersahaja. Naya adalah candu baginya untuk selalu ingin melihat dari dekat, tanpa sekat.
Rindu itu tak melulu soal jarak dan waktu yang terpaut jauh dan lama. Namun, rindu adalah ketika jarak dan waktu menjadi dinding di saat cinta tak pernah terkikis. Bahkan selalu bertumbuh seiring lompatan jarum jam. Memaknai sebuah cinta memang tiada habisnya. Pun ketika tak ada lagi kata yang bisa mewakili rasa. Hanya tindakan mengartikan isi di hati. Bahasa tubuh terkadang lebih dipahami ketimbang kata-kata puitis yang melankolis.
Seribu tahun takkan bisa mengurai cinta menjadi deretan alpabet yang teruntai indah. Karena cinta tak memiliki jarak antara hati dan dirinya. Ia ada dalam setiap embusan napas. Tak pernah tidur, selalu mengawasi.
Cinta selalu bertakhta di setiap jiwa. Tak pernah kalah, selalu ada di sana. Hanya saja, manusia terkadang menyerah mempertahankannya untuk tidak pergi.
“Mas, aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” ujar Naya pada suaminya, saat mereka tengah menikmati minuman cokelat panas di taman belakang rumah.
Mereka selalu seperti itu setiap kali di rumah. Berlangsung dari hari ke hari tanpa bosan. Selalu saja ada obrolan yang terlintas seketika. Entah itu rutinitas di hari itu, kejadian sepanjang perjalanan, tingkah laku orang di sekitar atau membahas masa depan. Selalu jadi topik yang tak pernah habis. Berulang dan tak menjemukan.
“Katakan saja, Sayang. Ada apa?”
Lelaki itu menatap lekat wajah sang istri yang duduk di depannya. Sebelah tangannya menggenggam lengan yang terasa berkeringat dingin. Perempuan yang mengenakan gamis bunga-bunga beraneka warna itu diam sejenak. Mencoba menata hati agar ia sanggup mengatakan hal penting pada suaminya.
“Aku mendapat beasiswa S3 di Kairo, Mas,” ucap Naya mampu membuat Aditya terdiam.
Lelaki itu menatap tajam netra sang istri, seakan ingin memastikan apa yang sudah diucapkannya.
“Kamu serius, Sayang?” tanya ia akhirnya.
Naya mengangguk seraya berkata, “Aku serius, Mas. Ini adalah impianku sejak lama.”
“Lalu?”
“Aku meminta izinmu.”
Lelaki itu terdiam kembali. Tampak ia menyugar rambutnya perlahan. Kedua tangan dilipat di depan d**a.
“Kalau aku tak mengizinkanmu?”
Naya tertunduk. "Aku takkan berangkat, Mas," lirihnya nyaris tak terdengar.
“Kurang lebih dua tahun untuk menempuh pendidikan S3, bukanlah waktu yang sebentar, Sayang. Apa kau siap menjalani long distance marriage?"
Perempuan itu terdiam. Ia tak berani menatap wajah suaminya. Di lain sisi, ia sangat memimpikan kuliah di Kairo dengan beasiswa yang diraih, tetapi di sisi lain, ia sadar akan kodratnya sebagai seorang istri yang harus patuh terhadap suami. Naya bimbang.
“Jika kau sangat menginginkan kuliah itu, ambil saja. Insyaallah, aku mengizinkanmu,” ucap lelaki itu lembut.
Aditya tak tega melihat wajah sang istri yang bersedih karena keinginan yang terhalang oleh izinnya. Ia mencoba ikhlas untuk melepas Naya meraih cita-citanya. Perempuan itu mendongak, menatap wajah yang meneduhkan di depannya. Terlihat senyum tipis di bibir lelaki yang tak pernah sekali pun marah.
“Mas serius?” tanyanya masih tak percaya.
“Ya, aku serius. Aku tak mau menjadi suami yang mengekang cita-cita istrinya. Kau berhak meraih impianmu, Sayang.”
Perempuan itu memeluk suaminya erat.
“Terima kasih banyak, Mas.”
Aditya mengelus punggung sang istri lembut. Ada rasa sesak tiba-tiba menghimpit d**a. Sanggupkah ia berjauhan dari Naya selama dua tahun lamanya? Sementara selama ini saja, ia selalu ingin segera pulang dari kantor hanya untuk melihat wajah cantik itu, dan menikmati setiap yang disuguhkan istrinya. Hal itu selalu membuatnya lebih bersemangat dalam menjalani hidup.
Semoga aku kuat menghadapi ketidakhadiranmu nanti, Sayang, bisik Aditya lirih.
***
“Kamu yakin akan melanjutkan S3-mu di Kairo, Sayang?” tanya Nurul ketika Naya datang ke rumah orang tuanya.
“Insyaallah, Bunda, Naya yakin."
“Apa Aditya mengizinkanmu pergi, Nak?” Hasan yang duduk di samping istrinya menatap sang putri serius.
“Tentu saja Mas Adit mengizinkanku pergi, Ayah. Ia memahami keinginanku dan ia tak ingin mengekang itu.”
“Kau harus ingat kodratmu sebagai seorang istri, Nak. Kini surgamu terletak dalam rida suamimu. Yakinkan lagi keinginanmu itu, apakah akan ada maslahatnya jika kau tetap melanjutkan kuliah di Kairo atau sebaliknya, akan timbul banyak kemudaratan."
Naya mencoba mencerna kata-kata Nurul. Dalam hatinya pun tengah bergejolak perasaan itu. Meski lebih berat memilih pergi, tetapi ia pun tak tega harus meninggalkan sang suami sendiri. Siapa nanti yang akan mengurus semua kebutuhannya selama ia tak ada? Perempuan itu resah memikirkan yang terjadi nanti.
“Jika itu yang terbaik menurut kalian, maka lakukanlah. Hanya kau harus ingat satu hal, Nak, peningkatan ilmu memang hak setiap orang, tapi kau juga harus memikirkan fitrahmu sebagai seorang istri. Sudahkah kau komunikasikan kembali dengan suamimu mengenai kepergianmu itu? Carilah titik temu agar dua kepentingan itu berdampak adil bagi kalian.”
“Ya, Ayah, akan Naya bicarakan lagi hal ini dengan Mas Adit.”
“Lakukanlah salat istikharah, Sayang. Insyaallah, akan ada jawaban yang tepat untuk permasalahanmu itu.”
Nurul mencoba mencari penyelesaian terbaik. Dari setiap pilihan sulit, selalu ada jalan keluar yang Allah berikan. Walau tak mudah menjalani, tetapi seiring waktu, hati akan bisa ikhlas menerima.
“Insyaallah, Bunda. Terima kasih karena Ayah dan Bunda telah memberikan jalan untuk Naya memikirkan kembali masalah ini.”
“Kau anak kami satu-satunya dan kami ingin yang terbaik untuk kebahagiaanmu, Sayang,” tukas Ayah menenangkan.
Perempuan itu mendekap gelisah. Meski sang suami telah mengizinkan pergi, tetapi tak begitu saja keputusan itu menjadi satu-satunya yang terbaik. Harus ada titik temu yang adil bagi kedua belah pihak, karena dalam sebuah pernikahan harus bisa membahagiakan keduaanya.
***
“Aku ikhlas melepasmu pergi, Sayang,” ucap Aditya, sesaat setelah mereka makan malam.
Naya kembali menanyakan itu pada sang suami. Ia ingin meyakinkan hati lelaki itu. Perkataan orang tuanya mulai menggoyahkan tekadnya.
“Aku ragu, Mas. Sebagai seorang istri, aku sadar akan fitrahku."
Perempuan itu menunduk. Ia tampak bimbang dengan perasaannya. Aditya meraih tangan sang istri, menggenggam dengan lembut. Sebelah tangannya mencoba mengangkat dagu sang bidadari hati. Kedua netra perempuan berkerudung abu-abu itu telah tergenang oleh air yang tiba-tiba menyeruak datang. Ia tak kuasa menahan rasa gundah yang melanda.
“Aku benar-benar ikhlas mengizinkanmu pergi, Sayang." Aditya setengah berbisik di dekat telinga sang istri. Diusapnya lembut pipi yang telah basah.
“Tapi aku merasa berat, Mas.”
“Lepaskan saja beban yang ada dalam hatimu. Aku selalu ada untuk menghilangkan beban itu.”
“Ini dilema buatku. Di lain sisi, aku sudah lama berharap mendapatkan beasiswa S3 di Kairo, tapi di sisi lain, aku juga sadar akan tugasku sebagai istri yang harus ada di sampingmu setiap waktu."
“Kau tak perlu khawatir akan hal itu, Sayang. Aku bisa sering mengunjungimu di Kairo."
“Aku tak mau kau meninggalkan pekerjaan di sini hanya untuk menemaniku di sana, Mas," ucap Naya tak enak hati.
“Wajar, kan, jika aku menemani istriku di mana pun ia berada. Bukankah tugas seorang suami itu selalu melindungi dan menjaga istrinya?” Aditya mencoba memberi alasan agar bisa menenangkan perasaan istrinya saat ini.
“Lalu, bagaimana dengan pekerjaanmu jika kau sering mengunjungiku di sana?”
“Aku bisa mengawasinya dari jauh. Mungkin saat tak ada di sini, aku akan menitipkan urusan perusahaan ke Papa.”
“Aku tak mau kau merepotkan Papa, Mas.”
“Tenang saja, Sayang. Aku sudah bicarakan hal ini dengan Papa dan Mama. Mereka mendukung apa pun keputusan kita.”
Naya sedikit lega mendengar apa yang dikatakan suaminya. Ia berpikir, jika saat inilah waktu yang tepat untuk menggapai cita-cita. Mumpung belum ada kehadiran anak dalam hidup mereka. Jadi, ia bisa lebih leluasa meraih impiannya selama ini. Perempuan itu berdoa dalam hati, semoga ini adalah jalan terbaik bagi kehidupan rumah tangganya.
Kegelisan yang selama ini menguasai, menguar bersama pelukan hangat. Diiringi rintik hujan yang mulai mengetuk genting. Mencipta petrikor yang menangkan jiwa.
Mereka terhanyut, memeluk malam yang kian dingin karena semilir angin yang berembus. Merenda cinta dalam remang cahaya. Membisikkan doa dalam lantunan rasa. Mendekap bahagia.
***
Bandara Soekarno-Hatta sepagi itu terasa begitu lengang. Kali ini, Naya tak pergi dengan suaminya seperti setahun yang lalu, saat mereka melaksanakan ibadah umroh. Lelaki itu menemani sang istri dengan setia. Ikut mengurus check-in di counter maskapai.
“Jaga dirimu baik-baik selama di sana ya, Sayang,” ucap Aditya sesaat sebelum istrinya pergi.
Air merembes dari kedua netra perempuan itu, mengalir ke pipinya. Aditya segera menghapus dengan penuh kasih.
“Jangan menangis, ini impianmu. Aku akan segera menyusulmu ke sana, Sayang.”
“Aku takut, Mas," bisik perempuan itu gelisah.
“Tak perlu ada yang kau takutkan. Aku akan selalu menemanimu dengan doa. Percayalah, semua akan baik-baik saja.”
“Jaga dirimu baik-baik, ya, Mas.”
“Tentu. Aku tak ingin kau cemas di sana karena memikirkan keadaanku di sini.”
Pemberangkatan ke Kairo sudah diumumkan. Aditya mengecup kening dan memeluk istrinya sebelum perempuan itu berlalu. Ada rasa berat mengiringi langkah Naya. Sesekali ia melihat sang suami yang masih menatap dari kejauhan. Lelaki itu selalu tersenyum kala sang istri menoleh ke arahnya. Tampak keikhlasan melepas kepergian perempuan yang begitu dicintai.
Naya menahan kesedihan yang tiba-tiba hadir menyeruak dari dalam d**a. Tak sanggup pergi meninggalkan sang suami sendiri.
Kembali terngiang perkataan kedua orang tuanya tentang fitrah sebagai seorang istri untuk selalu berbakti dan mengurus suami. Sungguh egois jika ia lebih memilih mementingkan impian yang dipikir akan membuatnya bahagia, sementara ia harus meninggalkan suami dan membiarkan mengurus kebutuhannya sendiri.
Naya menangis tersedu-sedu di ruang tunggu. Hanya beberapa menit lagi pesawat akan berangkat, tetapi hatinya mulai ragu.
Sudah berlaku tidak adilkah ia terhadap suaminya? Bukankah janji suci pernikahan yang pernah ia ucapkan itu mengandung arti yang mendalam. Di mana seorang istri harus mampu melayani suami dengan ikhlas. Menjadi istri yang salehah dengan memenuhi semua kebutuhannya.
Lalu, akankah ia meninggalkan semua itu hanya demi impian semata? Meskipun Aditya telah mengikhlaskannya pergi, tapi ia yakin dalam hati terdalam, pasti berat melepaskan. Perempuan itu menangis lagi.
***
Aditya baru saja akan menunaikan salat zuhur, ketika ia mendengar ketukan di pintu depan. Masih menggunakan sarung, lelaki itu melangkahkan kaki untuk membuka pintu. Betapa terkejutnya saat ia melihat sosok perempuan yang baru tadi pagi ia antar ke bandara, kini sudah tegak berdiri di ambang pintu, tepat di hadapannya.
“Naya ...,” panggilnya tak percaya.
Perempuan itu seketika menghambur dalam pelukan suaminya dan ia menangis di d**a bidang itu.
Aditya mengelus lembut punggung istrinya dengan penuh kasih. Ada setitik air menggenang di ujung mata yang segera ia hapus.
Selama beberapa detik, Naya menangis dalam pelukan sang suami, kemudian ia menarik diri hingga menatap wajah lelaki yang ia rindu sepanjang perjalanan dari bandara.
“Maafkan aku, Mas. Aku telah egois selama ini. Meninggalkanmu hanya untuk mengejar mimpiku semata,” ucapnya dalam isak tangis.
Kali ini, Aditya yang menarik sang istri dalam pelukan, kemudian ia memapahnya masuk ke dalam rumah seraya membawakan travel bag berukuran besar milik Naya. Lelaki itu menempatkan sang istri di kursi sofa. Membawakan segelas air putih yang segera diminum hingga hampir habis isinya. Ia menerima gelas itu, kemudian meletakannya di atas meja.
“Jadi, sekarang kau yakin tak akan melanjutkan S3-mu di Kairo, Sayang?” tanya Aditya meyakinkan istrinya.
Perempuan itu mengangguk pasti.
“Ya, Mas. Aku akan menjalankan saja fitrahku sebagai istri. Aku ingin menggapai surga dalam ridamu, Mas,” ucapnya lirih.
Aditya kembali merengkuh istrinya. Ia ingin menenangkan hati Naya yang tengah dilanda perasaan bersalah.
“Maafkan aku, Mas."
“Aku sudah memaafkanmu sebelum kau memintanya, Sayang. Sejujurnya, aku pun berat melepasmu pergi, tapi aku tak ingin membuatmu bersedih. Jika kepergianmu bisa membuatmu bahagia, aku akan merelakanmu menggapai cita-cita.”
“Tidak, Mas. Sekarang, aku hanya ingin menjadi istri yang selalu setia mendampingi setiap saat. Aku ingin kita mencapai kebahagiaan kita berdua."
Dikecupnya kening itu dengan perasaan cinta yang selalu tumbuh dalam hati. Ia percaya, keikhlasan itu akan mencipta kebahagiaan dalam hidupnya.
Dalam setiap rakaat salat zuhur, setiap bacaan dilantunkan dalam bisik penuh khusyuk. Ada doa dalam derai air mata di wajah perempuan yang duduk di belakang Aditya. Ia masih menyesali keegoisannya untuk pergi meninggalkan suami hanya demi mengejar cita-cita semata.
Menangis lirih dan bersimpuh mengharap ampunan Sang Mahakuasa. Meminta ketenangan agar hati bisa kembali mengemban tugas sebagai istri yang salehah.
Sementara lelaki yang duduk sebagai imam, diam-diam mendengar tangis lirih istrinya. Seraya mengucap istigfar, memohonkan pula ampunan pada Sang Khalik. Ia telah rida memaafkan Naya dengan segenap hati.
Aditya berbalik, meraih tangan perempuan yang masih tergugu dalam rasa penyesalan, menelungkupkan kedua tangan menutupi wajah. Dengan bersimbah air mata, Naya menatap suaminya .
“Lupakanlah yang sudah terjadi, aku sudah ikhlas memaafkan. Jangan biarkan hatiku ikut merasakan sakit karena melihat tetes air matamu yang jatuh. Aku tak ingin melihatmu bersedih.”
Perempuan itu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim, sementara Aditya mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.
“Aku benar-benar bodoh, telah dibutakan oleh hasrat yang tanpa disadari akan membawaku jauh dari surga-Nya.”
“Jangan berkata seperti itu, Sayang. Kita tak pernah tahu akan setiap ketetapan yang Allah pilihkan. Mungkin, Allah punya rencana yang lebih indah untuk kita belajar tentang sebaik-baiknya hidup berumah tangga. Aku harap, kau pun bisa mengambil hikmah dari kejadian ini.”
Perempuan itu mengangguk seraya mengukir seulas senyum. Aditya menatap wajah sang istri yang sudah mulai berbinar, kemudian direngkuhnya tubuh itu dalam pelukan. Saling mendekap erat tak terpisahkan. Mengeja lagi cinta yang sempat terbawa pergi karena keegoisan diri.
Naya merasa lega sekarang. Ia menyadari, apa yang terjadi dalam hidupnya merupakan sebuah pembelajaran yang berharga. Ia mulai memahami sedikit demi sedikit tentang arti sebuah pernikahan.
Dalam sebuah ikatan yang sudah Allah pilihkan, ada sebuah tanggung jawab yang tak bisa dianggap remeh. Saling menghormati dan menghargai adalah salah satu dasar sebuah hubungan.
Tugas sebagai seorang istri adalah berbakti, melayani, mendampingi dan menyenangkan hati suaminya. Ketika seorang perempuan sebelum menikah, ridanya terletak pada kedua orang tua. Namun, pada saat ia telah menikah, rida itu terletak pada suaminya.
Jika seorang istri mendamba surga, maka berbaktilah ia kepada suami dengan sebaik-baik pengabdian.
Tidak ada hak yang lebih wajib untuk ditunaikan seorang wanita, setelah hak Allah dan Rasul-Nya, daripada hak suami.
Naya mencintai suaminya karena Allah. Ia ingin Allah rida atas setiap apa yang dilakukannya, karena itu, dalam rida Aditya, ia akan mendapatkan rida dari Yang Maha Kuasa.