Alsaeada (Kebahagiaan)

2259 Words
Kebahagiaan seakan tercurahkan dalam rumah tangga baru Naya dan Aditya. Sebuah rumah dengan konsep minimalis dua lantai dengan desainnya yang unik dan elegan, sudah dipersiapkan lelaki itu sebagai hadiah pernikahan untuk istri tercinta. Di hari kedua setelah pernikahan, mereka mulai menempati rumah baru yang sudah diisi furnitur dan perabot lengkap. Warna putih dan abu-abu mendominasi setiap ruangan berikut furniturnya. Variasi warna hijau dan biru muda menjadi perpaduan yang menarik. Warna kesukaan pasangan pengantin baru itu dipadukan, hingga tercipta warna yang segar dan hangat. Tak ketinggalan taman bunga menghiasi halaman depan dan belakang rumah. Berbagai jenis bunga aster turut mempercantik suasana. Di bagian belakang rumah terdapat kolam renang dengan gazebo di pinggir kolam. Rerumputan menjadi alas sepanjang taman dan berbagai tanaman yang tertata dalam pot, tumbuh di sebuah taman kecil di sudut halaman, semakin memperasri pemandangan. Suasana hunian yang indah dan nyaman dibuat untuk membuat betah penghuninya, karena berawal dari rumah, bahagia itu tercipta. Baiti Jannati, rumahku adalah surgaku. Orang tua mereka turut serta mengiringi kepindahan pasangan pengantin baru itu ke rumah yang letaknya tak jauh dari kampus tempat Naya mengajar. Sengaja dipilihkan rumah yang dekat dengan kampus agar sang istri lebih mudah melakukan rutinitasnya. Syukuran rumah baru pun digelar, sebagai wujud rasa terima kasih mereka pada sang Maha Pemberi Rezeki. Jemaah pengajian Nurul turut serta mengiring doa. Setelah selesai acara, orang tua keduanya pun pamit pulang. Mereka sengaja memberikan ruang untuk pasangan yang tengah mereguk indahnya pernikahan. Mereka pun berharap akan segera ada tangisan bayi yang melengkapi kebahagiaan keluarga besar Naya dan Aditya. Sepasang insan itu begitu bahagia dengan indahnya ikatan suci yang telah Allah anugerahkan dalam kehidupan mereka kini. Tak ada lagi batas antara kasih dan hasrat. Semuanya melebur menjadi satu. Mencintai karena Allah dan melaksanakan kewajiban sebagai suami istri juga karena-Nya. Dengan getar cinta yang telah Allah tumbuhkan dalam hati, menjadi penyatuan yang abadi. Menuntaskan hasrat dalam cinta kasih yang halal. Semerbak aroma membawa wangi surga dunia. Lantunan doa senantiasa mengiringi setiap deru napas. Mengharap tunas penuh keberkahan yang tertanam dalam benih. Malaikat bersaksi atas nama cinta dan kesucian. Mengaminkan setiap lirih doa kedua pasangan. Melewati malam panjang dengan rengkuh kerinduan. Mencari pahala dalam rida Sang Mahakuasa, untuk kebahagiaan rumah tangga yang berlandaskan cinta karena-Nya. Berjanji saling melengkapi setiap kekurangan yang ada agar terciptanya hubungan yang harmonis. Saling mencintai dan menggenggam tangan, apa pun yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga mereka kelak, menjadi landasan kasih yang suci. Dalam setiap sujud Naya yang berada di balik punggung Aditya, seraya mengucap syukur tak terhingga atas anugerah-Nya yang sempurna. Ia berharap, jodohnya hingga maut menjemput kelak. Sementara lelaki itu, ia lantunkan syukur atas bidadari yang telah Allah titipkan untuk dijaga dan dibimbing menuju surga-Nya nanti. Ia berharap, semoga Allah senantiasa menjaga pernikahan mereka dari setiap masalah, menyempurnakannya bersama ibadah, dan menjadikan keluarga yang bahagia dunia akhirat. *** Naya tengah menyeduh secangkir kopi untuk suaminya di dapur. Kopi Lombok alami tanpa bahan pengawet dan diracik oleh pengrajinnya itu, didatangkan langsung dari kota Selong, Lombok Timur. Aditya mulai jatuh cinta pada kopi itu sejak tiga tahun lalu, saat ia tengah mengunjungi salah satu sahabatnya yang tinggal di Lombok. Sahabat yang sudah dikenalnya sejak mereka kuliah di Prancis, memberikan oleh-oleh kopi buatan sang ibu. Cita rasa khas kopi yang nikmat dan tak membuat perut kembung, mampu membuat lelaki pecinta kopi itu berpaling dan menjadikannya sebagai kopi favorit. Terbuat dari biji kopi pilihan, diracik dengan cara tradisional dengan sedikit campuran beras, agar tercipta rasa yang berbeda sekaligus nikmat. Dikemas dalam bungkus plastik sederhana, tak membuat Aditya berpaling dari rasa kopi yang mampu membuatnya ketagihan. Sebelum menikah, mereka saling memberikan informasi mengenai hal-hal yang menjadi kesukaan dan ketidaksukaan masing-masing. Hal itu dilakukan agar di awal rumah tangga, tak ada lagi pertanyaan atau pemberitahuan mengenai kebiasaan dan cara yang biasa mereka lakukan. Naya sudah melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Tanpa bertanya dan tanpa harus diminta, perempuan itu segera membuatkan secangkir kopi panas untuk sang suami. Tak lupa, segelas s**u cokelat hangat dibuat untuk dirinya sendiri. Kebiasaan di setiap bangun pagi, sejak ia masih kecil, harus mengisi perutnya dengan s**u cokelat hangat. Kebiasaan itu berlangsung hingga sekarang. Kandungan Phenylethylamine pada cokelat bisa menciptakan perasaan nyaman dan memperbaiki suasana hati. Itulah yang membuat perempuan itu tak meninggalkan kebiasaannya minum s**u cokelat hangat. Naya terlonjak kaget tatkala sepasang tangan telah melingkar di perutnya. Ia mencium aroma sang suami yang sudah dikenalnya selama tiga hari mereka menikah. Perempuan itu bergidik saat Aditya mencium lembut rambut basahnya. Gelenyar aneh di perut mampu membuat ia bergeming. Merasakan sensasi yang berbeda. “Lepaskan, Mas. Aku sudah membuatkan kopi untukmu,” ujar Naya seraya menghindar. “Aku sudah mencium aromanya, Sayang." “Ayo diminum, nanti kopinya keburu dingin!” Aditya masih bergeming. Bahkan ia semakin membenamkan kepala di sela bahu istrinya. Embusan napas yang menerpa sebagian pipi, mampu membuat kedua mata perempuan berambut panjang itu terpejam. “Aku sangat bahagia bisa memilikimu, Bidadariku,” bisik lelaki itu, masih belum melepaskan pelukannya. “Aku juga bahagia, Mas. Aku berharap, kita akan seperti ini selamanya.” “Aamiin.” Selama beberapa saat mereka hanya diam dalam keheningan. Mengalirkan rasa yang baru direguk dengan penuh cinta. Naya membuka mata perlahan. Menyentuh pipi lelaki yang masih belum mau beranjak dengan sebelah tangannya. “Ayo kita sarapan dulu, Mas!” Aditya mulai merenggangkan ikatan tangannya, kemudian membalikkan badan setelah ia mencium pipi sang istri. Menarik kursi makan dan duduk seraya menatap wajah perempuan di depannya, menggoda. Naya memberikan secangkir kopi yang telah dibuat ke hadapan suaminya. Lelaki itu langsung mengambil cangkir kemudian meniup kopi perlahan. "Jangan ditiup, Mas!" Aditya mendongak. "Maaf, aku lupa," ucapnya tersenyum. Naya selalu mengingatkan hal-hal kecil yang terkadang tak sadar dilakukan suaminya. Seperti meniup minuman panas. Merupakan sunah Rasul untuk tidak meniup makanan dan minuman panas. Penjelasan secara medis pun menambah logika hingga masuk akal. Bila meniup minuman atau makanan panas, maka akan mengeluarkan gas karbon yang masuk ke dalam molekul air atau makanan, sehingga menjadi asam dan berpengaruh pada tubuh. Hal itulah yang dapat mempercepat terbentuknya radikal bebas. Perempuan itu menggeser kursi di dekat suaminya. Ikut meminum segelas s**u cokelat hangat hingga hanya tinggal tersisa setengahnya. “Sayang, aku ingin memberimu sesuatu,” ujar lelaki itu sambil meraih tangan istrinya. “Apa itu?” tanya Naya mengernyit penasaran. “Tutup matamu dulu," titah lelaki itu. “Kenapa harus menutup mata?” “Ini kejutan.” Perempuan itu menurut, menutup kedua matanya rapat. Aditya tampak mengambil sesuatu dari balik punggung. “Sekarang, buka matanya!” Naya membuka mata perlahan. Tampak sebuah amplop yang tengah dipegang Aditya terpampang di hadapannya. “Apa ini?” tanya Naya meraih amplop itu. “Buka saja,” titah Aditya sambil menyesap kembali kopinya. Perempuan itu membuka amplop. Betapa terkejutnya saat ia melihat catatan yang tertera dalam selembar kertas. Perjalanan umroh plus Dubai atas nama Kanaya dan Aditya. “Apa kita akan pergi umroh, Mas?" tanya Naya masih tak percaya. “Ya, kita akan pergi umroh sekaligus tour ke Dubai, Sayang” terang Aditya membuat Naya terpaku. “Kau senang?” lanjutnya menatap wajah sang istri yang tertegun tak percaya. “Tentu saja, Mas. Aku sangat bahagia." “Aku tahu hal pertama yang ingin kau lakukan adalah pergi umroh bersama suamimu." "Mas tahu dari mana?" "Bunda yang bilang." “Terima kasih banyak untuk hadiah ini, Mas.” “Untuk kebahagiaanmu, apa pun akan kuberikan.” Naya menghampiri Aditya, kemudian memeluknya dari belakang. Lelaki itu tersenyum senang bisa membuat istri tercinta bahagia. *** Menginjakkan kaki pertama kali di Madinah, Naya dan Aditya beserta rombongan umroh yang memakai jasa travel milik Ali-ayah Naya-, langsung menuju hotel untuk beristirahat. Melakukan ibadah di masjid Nabawi, mengunjungi makam Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya, dan melihat dari dekat museum Al-Qur'an yang siapa pun akan kagum dengan keindahan Al Qur’an terbesar yang ditulis dengan tinta emas, serta menjelajah beberapa museum lainnya, merupakan rangkaian acara selama di Madinah. Tak ketinggalan, mereka menyempatkan waktu untuk beribadah di tempat paling istimewa, Raudhah, disebut juga sebagai taman surga. Merupakan tempat yang berada di antara mimbar dan makam Rasulullah SAW. Hari berikutnya merupakan hari yang ditunggu, yaitu menuju kota Mekkah. Saat di perbatasan kota Mekkah, mereka berhenti di Masjid Bir Ali untuk mengambil miqat yaitu batas dimulainya ibadah haji. Baitullah begitu indah, bukan hanya dalam pandangan, dalam setiap jengkal jejak seakan menyatu dengan seluruh jiwa. Aromanya mengisi relung-relung yang begitu merindukan panggilan-Nya. Air merembes dari kedua netra Naya. Bisa menapaki satu-satunya rumah Allah yang paling mulia untuk kedua kalinya bersama sang suami tercinta, merupakan sebuah impian, dan kini menjadi kenyataan. Perjalanan umroh pertamanya ketika bersama Ayah Ali dan Bunda Nurul. Sebelum melanjutkan kuliahnya di Yogyakarta, Naya mengunjungi Baitullah, tempat yang selalu ingin ia kunjungi karena kecintaan pada Rabb dan Rasul-Nya. Genggaman tangan seakan tak pernah terputus, bukan karena baru mereguk indahnya pernikahan, tapi ingin saling menjaga dalam hiruk pikuknya manusia yang berebut meraih pahala. Sungguh indah kebesaran Sang Ilahi. Keagungan kiblatnya seluruh umat muslim di bumi, mampu menggetarkan hati yang selama ini haus akan cinta-Nya. Terlebih, menginjakkan kaki di tanah suci bersama orang terkasih, yang ingin sisa hidup dihabiskan bersama dalam setiap suka dan duka. Proses umroh dimulai dari memasuki Masjidil Haram dengan mencium Hajar Aswad. Tawaf sebanyak tujuh kali, lalu salat dua rakaat di depan makam Nabi Ibrahim, kemudian berisitirahat sambil minum air zam-zam. Setelah itu dilanjutkan dengan melakukan sa'i sebanyak tujuh kali, dimulai dari Bukit Shafa dan berakhir di Bukit Marwah. Sementara proses yang terakhir adalah bertahallul yaitu memotong rambut. Rangkaian acara diakhiri wisata religi dengan mengunjungi beberapa tempat seperti Jabal Rahmah, Jabal Tsur, Jabal Nur, Padang Arafah, Muzdalifah, Mina dan Masjid Ja’ronah. "Yaa Rabb-ku Yang Maha Agung, terima kasih kau telah sampaikan kami hingga ke rumah-Mu yang mulia ini. Jadikan kami hamba-Mu yang senantiasa bersyukur atas setiap ketetapan yang Kau berikan. Tolong jauhkan kami dari kesesatan, hindarkan dari kemungkaran. Kuatkan kami dalam menghadapi setiap ujian yang Kau takdirkan. Berikanlah kebahagiaan hakiki selama kami masih bernapas. Sempurnakanlah ibadah kami. Sehatkan kami selalu agar bisa menikmati hidup, melihat anak-anak kami tumbuh dan menjadi pribadi yang saleh dan salehah. Berilah kami waktu untuk bisa memperbaiki diri sebelum Kau memanggil pulang. Kami ingin berbenah, ingin berbekal amal saleh. Matikanlah kami dalam keadaan Husnul Khatimah, dan bisa mencium wangi surga serta tinggal di dalamnya. Berkumpul kembali dengan keluarga kami dalam kebahagiaan yang sebenarnya." Doa senantiasa dimunajatkan dalam setiap waktu sepasang kekasih halal yang baru saja Allah persatukan, tak pernah lepas memuji keagungan-Nya. Mengharap kasih sayang dan merindu rengkuhan-Nya. Di depan Ka’bah mereka bermunajat. Mengharapkan kesempurnaan dalam rumah tangga, dikaruniai putra putri yang saleh dan diberkahi dengan karunia-Nya. Begitu banyak kenikmatan yang sudah seharusnya disyukuri. Nikmat sehat yang paling utama, karena itu adalah pangkal dari segala sendi kehidupan. Aditya dan Naya adalah sebagian pasangan yang mencintai karena Allah, berikrar hidup dalam satu naungan rumah tangga juga karena-Nya. Berharap hidup hanya akan menuntunnya menuju jalan lurus, berujung Jannah yang begitu didamba. Selama kurang lebih sembilan hari, mereka melaksanakan ibadah umroh. Perjalanan dilanjutkan menuju Dubai yang merupakan negara bagian Uni Emirat Arab. Bak fatamorgana yang jadi kenyataan, pemandangan kota modern nan mewah memanjakan mata di pagi hari yang cerah. Gedung-gedung pencakar langit menyambut mereka yang tampak kagum akan keindahan kota emas ini. Dubai adalah salah satu kota kosmopolitan dan multikultural di dunia. Pada awal tahun biasanya negara itu mengalami musim dingin. Sehingga teriknya matahari tak menjadi penghalang mereka mengunjungi tempat-tempat istimewa di sepanjang kota. City tour ke Dubai diawali dengan mengunjungi Burj Al Arab. Sebuah ikon Dubai yang mendunia, karena bangunan itu berdiri di sebuah pulau buatan lepas pantai di Teluk Persia. Burj Al Arab berdiri kokoh dengan ketinggian 321 meter. Hotel itu sering disebut sebagai hotel bintang tujuh karena fasilitasnya yang jauh melebihi fasilitas yang ada di hotel bintang lima. Salah satu gedung tertinggi di dunia yang berada di Dubai adalah Burj Khalifah. Tingginya yang mencapai 828 meter itu memiliki ribuan unit apartemen berbagai tipe. Desain bangunan tertinggi di dunia itu terinspirasi dari bentuk bunga Hymenocallis yang ada di Yunani. Melanjutkan perjalanan ke Dubai Mal yang masih satu kawasan dengan Burj Khalifa. Di sana tidak hanya menyediakan tempat berbelanja, tempat itu pun menyajikan berbagai wahana hiburan, salah satunya akuarium dan underwater zoo. Para pengunjung mal bisa menikmati keindahan segala jenis ikan dari satu sisi dinding mal tersebut. Rombongan umroh menginap di The H Dubai, hotel berbintang lima di Sheikh Zayed Road. Wilayah itu merupakan pintu gerbang ke kota paling dinamis di Timur Tengah, tempat di mana penginapan kelas dunia, restoran yang menyajikan makanan lezat dan hiburan malam menjadi satu. Salah satu tempat di Dubai untuk mencicipi kuliner khas Emirat adalah di Sheikh Mohammed Centre for Cultural Understanding di Al Fahidi. Selain bisa merasakan kelezatan sarapan makanan khas Uni Emirat Arab, para pengunjung bisa tahu lebih banyak tentang budaya dan sejarah agama Islam di sana. Tempat terakhir yang dikunjungi adalah Masjid Jumeirah. Masjid itu merupakan salah satu tempat wisata yang wajib didatangi saat berada di Dubai. Keseluruhan bangunan Masjid Jumeirah terbuat dari batu putih berkualitas tinggi. Dilihat dari depan, penampakan masjid itu begitu anggun. Dua menara kembar yang menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri menampilkan nuansa arsitektur klasik Mesir di zaman keemasan Islam. Di sela-sela waktu bebas tanpa jadwal dari pihak travel, Naya dan Aditya mengunjungi apartemen milik keluarga Aditya yang tengah dalam masa perkembangan. Mereka menghabiskan waktu berdua dengan penuh cinta. Menikmati Dubai beserta keindahannya. Satu-satunya tempat yang tak sempat dikunjungi adalah Dubai Miracle Garden yang merupakan taman bunga terbesar di dunia. Meskipun begitu, sudah puas rasanya dimanjakan dengan umroh plus berwisata religi ke tempat-tempat yang mengandung sejarah keislaman yang kental, sekaligus menikmati keindahan Dubai beserta kemewahannya. Mereka bahagia dengan perjalanan kali ini. Siap kembali ke tanah air membawa pengalaman berharga yang takkan pernah terlupa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD